Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
ULAH BUMIL BIKIN GELENG-GELENG


__ADS_3

"Totalitas! Disini asik lah bu danyonnya! Gua mau ajuin perpanjangan dinas disini ah!" tawa Taufik. Meskipun pakaian jersey para ibu ini berbeda-beda dan terkesan tak nyambung dengan pertandingan yang akan ditonton Indo vs Vieth, tapi tetap satu jua--- tanah air. Yang satu pake jersey PERSIB, PERSIJA, PERSEBAYA, AREMA, BARITO, BALI UNITED, dan masih banyak lagi sesuai daerah mereka masing-masing.


"Minta disabet samurai sama bapak komandan!" Dude mengusap kasar wajah temannya.


Fara mencari dimana Al Fath, tak sulit menemukan si ganteng kalem-nya. Emang dasar jodoh dunia akhirat, hati tau dimana dermaga untuk berlabuh, tapi tunggu! Fara tidak menghampiri Al Fath. Ia justru duduk agak sedikit jauh dari posisi suaminya dan memilih duduk bersama istri prajurit lainnya. Mungkin di rumah ia adalah milik Al Fath, tapi disini ia milik para istri prajurit.


"Selembar daun salam punya-nya bu Nia!!" salam Fara. Gentra, Andre, Dilar dan Dude bahkan sempat membalas, "cakep!!!" sebagai sesama anak betawi, mereka tau betawi punya gaye.


"Selamat malam wahai dunia!" lanjut Fara. Bang Yo sampai menahan perut melihat ekspresi Al Fath yang sepertinya syok lahir batin melihat si cantiknya jadi kaya opie kumis.


Para warga batalyon bukan lagi! Mereka sampai mengabadikan aksi Fara di memori ponsel,, lebih tepatnya mengabadikan moment kebersamaan dan keseruan malam ini. Mereka jadikan status di sosial media masing-masing, mumpung dekat dengan kantor batalyon yang sinyalnya kuat. Hal ini benar-benar langka terjadi di batalyon mereka, memiliki seorang pemimpin yang caur, seru, cantik, multitalenta, dan....gokillll.


"Batarakala musuh semesta!!!"


"Cakep!!!"


"Batalyon komandan Al Fath, in your area!!!"


"Ea---ea--ea--!!!"


Fara ikut tertawa, melihat euforia yang diciptakan Al Fath tidak mungkin tidak ikut tersenyum.


"Ampun menantu si umi," benaknya.


"Asli kocak abis istri abang! Gokil!!" ujar Gentra pada Al Fath.


Waktu terus bergulir bersama kemeriahan acara nobar mereka. Memang benar ini moment yang teramat langka bagi mereka semua, bahkan belum pernah terjadi selain pada acara resmi seperti ulangtahun kesatuan prajurit ataupun hari kemerdekaan.


"Yaaa Feby Eka Putra menggiring bola---- bola diberikan pada Rachmat Irianto, dan kembali diumpankan pada Aulia Hidayat melewati pemain sayap dan bek dari musuh dan---goollllll!" teriak si komentator di layar sana.


Dughhhh


Dugghhhh


Dugghhhhh


Trakk!!


Trakkk!!


"Yeeeee!!!!"


Seolah 50 persen kemeriahan dunia adalah sumbangsih dari batalyon ini, begitu meriahnya suara teriakan dan pukulan dari botol bekas mereka tabuh saat para punggawa timnas dapat menjebol gawang lawan. Baru kali ini ibu-ibu dan bapak-bapak mampu menyatu tanpa berebut chanel televisi.



Fara sudah menguap beberapa kali, jika sudah begini maka ia akan mencari tempatnya bersandar. Ia bangkit dan berjalan ke arah dimana Al Fath duduk.



"Ra," sapa bang Yo.



"Dek, kenapa? Capek, teriak-teriak?" tanya nya mendongak mengikuti gerakan Fara yang duduk di dekatnya, sementara yang lain memberikan akses dan tempat untuknya. Fara hanya nyengir, "abang anterin Fara pulang dulu, kalo masih mau nonton nanti balik lagi aja," pintanya.



"Iya,"



"Bang, Ndre, semuanya saya antar istri dulu!" pamit Al Fath.



"Ya Fath, sudah malam juga ini." Bang Yo melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam waktu timur.



"Balik lagi ngga bang? Apa mau langsung bikin sarang?" kelakar Dilar.



"Kekepin bini atuh Lar!" sahut Taufik.



"Apalah gue yang cuma bisa ngekepin sarung!" balas Dude memelas.



"Om-om semua saya pamit duluan ya," pamit Fara.



"Iya bu,"


__ADS_1


Sepanjang jalan menuju rumah, tangannya tak lepas memeluk lengan Al Fath.


"Abang besok ibu-ibu kesatuan boleh pinjem kendaraan ngga?" tanya Fara, udara malam memang begitu dingin disini, membuat Fara semakin menempelkan badannya di tubuh kekar Al Fath.


"Buat apa? Mau kemana?" tanya Al Fath mengeratkan genggamannya di tangan Fara.


"Mau hunting tempat yang pemandangannya bagus ditemenin om Frederick, sekalian foto dan video shotting."


"Hm, boleh. Kalau memang untuk keperluan kesatuan."


"Iya. Om Regan gimana kabarnya bang, Fara jadi kepikiran bu Fani sama Zidan--Kirani.." ucapnya menghembuskan nafas lelah.


"Alhamdulillah semakin baik. Besok abang bersama batalyon lain ada rapat, jadi ngga bisa temenin adek hunting tempat," Al Fath menoleh seraya menghentikkan langkahnya membuat Fara ikut berhenti dan mendongak.


"Engga apa-apa, kan ada om Frederick. Tadinya sih, Fara mau minta tolong abang buat jadi kameramen, tapi kalo emang abang ngga bisa ngga apa-apa--"


"Maaf dek. Kalo abang minta tolong sama Gentra gimana? Dia juga punya hobby yang sama dengan abang," seketika wajah Fara berbinar, "boleh! Siapa aja deh yang penting bisa make handycam sama kamera abang,"


"Bisa. Dia bisa kok. Biar nanti abang yang minta tolong."


"Makasih abang!!!! Suami Fara emang baik hati dan tidak sombong," senyumnya semanis tebu.


"Kata siapa gratis?!" balas Al Fath, tentu saja senyuman manis si cantik itu langsung hilang.


"Apa-apaan?!"


"Di dunia ini ngga ada yang gratis nyonya!" Al Fath tersenyum miring.


Fara menatap killer, "abang tau ngga, kadar nyebelin abang tuh melebihi Ph!" Al Fath terkekeh.


"Adek tau ngga kadar gemesin dek Fara kalo lagi marah gini tuh melebihi Ph!" tirunya. Fara melepaskan tangannya dari lengan Al Fath, "udah sana balik! Fara mau pulang sendiri aja! Fara tarik kata-kata Fara kalo abang baik hati dan tidak sombong!"


"Tarik aja, ngga bikin abang rugi." bisiknya di telinga Fara lalu mengecup pipi Fara tanpa permisi.


"Abang ihhhh! Nyebelin banget abi-nya dedek!" teriak Fara saat Al Fath malah meninggalkannya berjalan duluan.


"Bener-bener nih laki-laki!! Ck--"




"Abang Fara senam dulu!" ketuknya di pintu kamar. Sengaja ia memilih pergi sebelum Al Fath keluar dari kamar agar lelaki itu tak menahannya.




"Udah ya bang! Sarapan udah Fara siapin di meja, ibu-ibu kumpulan udah nunggu Fara! Fara pergi dulu love you!!!" ia langsung pergi.



"Dekkk!!!"



Fara tertawa pecicilan keluar dari rumahnya. Bumil ini tak ada kapoknya mengganggu singa ganas.



"Abang meleng, adek ilang dengggg!" tawa istri nakal itu.



"Ini ada apaan bang, rame-rame?" Dilar menyeka keringatnya selepas lari pagi.



Frederick menggeret speaker setinggi pinggangnya ke dekat lapang menyambungkan kabel speaker ke dalam kantor administrasi batalyon, ruangan paling dekat dengan lapang. Sementara ibu-ibu, istri para prajurit, dimulai dengan istri danki, istri danton maupun yang lain sudah bersiap berkumpul di tengah lapang dengan pakaian khas orang senam.



Daerah penugasan boleh di pelosok, tapi gaya dan kebiasaan tak boleh kalah dengan ibu-ibu persit di daerah kota metropolitan.



"Owhhhh, ibu Fara ngadain senam!" Gentra berohria saat ikut kembali ke dalam batalyon.



"Ikutan lah! Bareng ibu-ibu!" Dilar ikut bergabung di barisan belakang yang ternyata sudah ada Dude, Taufik dan Andre.



"Kamvreett, ini udah duluan aja!" Gentra menepuk pan tat Andre dengan handuk kecil di lehernya.



"Lumayan olahraga kan ngga mesti lari melulu!" jawabnya.

__ADS_1



"Bilang aja mau liat ibu-ibu senam!" sahut Dilar.



"Sekali-kali atuh Lar, biar ada semangatnya dikit. Ntar lu liat meriahnya kalo ibu-ibu senam, asik!" imbuh Taufik.



Bang Yo yang baru saja keluar dari asrama menyeduh kopi pagi harinya, alisnya berkerut saat tak menemukan dimana para junior luknutnya.



Para istri prajurit melakukan pemanasan, dipimpin Fara di depan. Fara meminta para istri danki di belakangnya agar minggu selanjutnya dapat menggantikan Fara sebagai instruktur.



Musik dinyalakan, kembali... batalyon diguncang kehebohan oleh ibu danyonnya. Selama ini para istri prajurit jarang mengadakan kegiatan yang bermanfaat macam ini.



"Satu---dua---- mundur! Gerakan dorong ke kiri dan ke kanan!"



"Buat gerakan lempar tombak, bu-ibu!"



"Sambil buang nafas buang semua rasa kesal-nya!"



"Aaaaa!"



"Raih bintang kanan-kiri---2,3,4! Sekali lagi!"


Gerakan mereka seirama dengan musik beat yang menghentak.



Para prajurit muda dan perwira mengikuti hebohnya ibu-ibu senam aerobik. Al Fath yang semulanya ingin mengejar istri nakalnya itu malah dikejutkan dengan para prajurit juga perwira yang ikut senam aerobik.



"Bahhh! Ini kenapa jadi begini?!" Bang Yo sampai melongo dibuatnya lalu kemudian ia tertawa.



"Fath, kau tak ikut juga kah? Lihat istri kau di depan!" tunjuk Bang Yo.



"Ck--nakal! Ngga kapok rupanya," gumaman Al Fath tak melepaskan sosok Fara di netra hitamnya, lihatlah calon ibu centil yang sedang menjadi instruktur satu batalyon dengan legging hitam dan rok mini senada juga kaos kebesaran menantang si mata garuda untuk ngobrak-abrik jala ikan nanti malam.



Al Fath berjalan mendekat agar posisinya dapat terlihat sang istri, ia melipat kedua tangannya di dada lalu berdiri macam jin tomang di sudut kanan dekat kantor, menjadi bodyguard para bawahannya kalau-kalau ada mata jelalatan memandang istri nakalnya itu. Fara memalingkan pandangan tepat ke arah Al Fath yang melihatnya tajam. Tapi ia tak kehilangan akal. Fara meminta Frederick menjeda musik.



"Karena ini minggu pertama kita resmi mengadakan kegiatan rutin senam aerobik di batalyon! Maka tak lengkap rasanya jika tidak ditemani bapak komandan batalyon, Letnan kolonel Teuku Al Fath Ananta! Kasih dulu tepuk tangannya!!!"



"Woaahhhhh!" Tepukan tangan menggema menyambut Al Fath.



Seketika Al Fath menganga dibuatnya, istrinya itu benar-benar menguras habis kesabaran.



"*Mana bisa saya senam, Faranisa*!!!!"



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2