
Fara memang sengaja memakai pakaian casual biasa. Semakin hari gayanya bukan keibuan, malah semakin muda dan feminim, bikin Al Fath terkadang garuk-garuk kepala, garuk ketiak, pijit-pijit pangkal hidung dan pijit-pijit lainnya.
Apakah harus ia kurung saja bumil kece nya itu, mana mungkin?!
"Emang harus segaya itu ya? Kamu mau pake baju adat mana, waktu pengambilan video?" kunyahan sarapannya tak begitu enak, karena ia lebih fokus pada Fara yang masih sibuk berdandan di meja makan.
"Emhhh, ngga tau. Fara ngga punya baju adat. Tel anjang juga jadi kayanya!" kelakarnya tertawa.
"Jangan pakai baju kurung kemarin!" belum apa-apa Al Fath sudah mengancamnya.
"Iya ah, bawel!"
"Udah lah--kamu ngga usah masuk frame aja, di belakang layar!" finally keputusan bapak komandan ketuk palu juga.
"Ya ngga bisa gitu dong bang! Masa Fara ibu danyonnya ngga masuk kamera, kan Fara juga pengen ngerasain jadi bintang sampul---" Fara langsung membekap mulutnya sendiri karena keceplosan.
"Apa? Owwhhh i see---" Al Fath memicingkan matanya, lalu meraih ponsel.
"Rick!"
"Kalau istri saya---"
"Abang ih! Apa-apaan!" Fara langsung merebut ponsel Al Fath.
"Janji dulu ngga usah macem-macem?!"
"Engga lah. Fara ngga akan macem-macem!"
"Adek tau kenapa seharusnya wanita menikah itu berpakaian tertutup?" Al Fath memulai ceramahnya.
"Tau, aurat."
"Setiap helai rambut kamu itu aurat. Dan sekarang, iniiii semua--- hanya milik abang, bukan konsumsi para lelaki di luar sana!" tunjuknya ke seluruh inci badan Fara.
"Abang kok kalo ceramah jatohnya serem sih?! Bukan karena ucapan abang, tapi muka sama nada ngomongnya--mirip kaya malaikat maut!" ia kembali menutup mulut dan langsung membereskan make up, mengambil jurus langkah seribu menuju kamar sebelum lelaki itu semakin murka.
Fara dan Al Fath keluar dari rumah, meski nanti menggunakan kendaraan yang berbeda mereka berjalan bersama menuju kantor batalyon, bergandengan layaknya muda-mudi yang baru jadian, padahal di dalam perut Fara sudah ada janin yang hanya tinggal menunggu hari akan ditiupkan ruh.
"Kok yang ikut cuma beberapa orang?" tanya Al Fath, ia hitung hanya ada 6 orang istri prajurit, dan semuanya adalah istri danki.
"Sisanya kan nanti dikerjain di batalyon. Udah, bapak ngga usah banyak nanya, mau berangkat kan? Gih berangkat! Selamat bertugas pak komandan kami semua mendukungmu demi perdamaian negri! Ganbatte!!" Fara mendorong Al Fath menuju ke arah mobilnya, sementara Gentra dan Frederick terkekeh melihat aksi Fara.
"Tra, jaga ibu-ibu baik-baik---" pesan Al Fath, tidak hanya menitipkan istrinya saja.
"Siap bang!"
"Itu nanti stel saja kameranya, batre sudah saya cas full!"
"Oke bang! Don't worry. Meskipun amatiran, tapi bisalah nanti videonya masuk 10 besar video ter-kece badai!" ujar Gentra mengambil kamera-kamera Al Fath.
"Kamu janji jangan nyusahin orang!" kembali ultimatum itu jatuh untuk Fara.
"Iya! Fara nyusahin abang aja nanti!" balasnya, siapa yang tak ingin tertawa melihat interaksi menggemaskan mereka, yang satu datar dan kaku kebangetan yang satu sudahlah tak perlu dijelaskan lagi nakalnya.
"Fara pergi dulu!" ia masuk bersama para istri danki, Gentra dan Frederick.
"Iya,"
Lokasi yang mereka pilih demi membuat video tak terlalu jauh dari batalyon.
"Ibu-ibu harap hati-hati! Jalanannya licin!" teriak Gentra seperti guru-guru tk, yang khawatir pada anak didiknya.
__ADS_1
"Ibu Fara kalo untuk air terjun, baiknya jangan ngikut bu, khawatir ibu jatuh. Nanti bang Fath murka, dunia kiamat!" kelakar Gentra menegur dahulu murid paling nakal disini. Fara tertawa, suaminya apa memang semenyeramkan itu?
"Iya pak guruuu!" jawab Fara, Frederick ikut cengengesan.
Hampir seharian mereka ber-keliling, hitung-hitung sambil liburan, meskipun ujung-ujungnya mereka bermuara di wisata kuliner dan itu tak luput dari bidikan lensa kamera, karena memang itulah tujuan mereka.
Gentra mengarahkan kameranya bak kameramen profesional, mengambil gambar dan video sesuai kebutuhan.
Meski posesif, tapi Al Fath bukan tipe lelaki yang setiap saat harus terus menghubungi istrinya. Disaat bekerja maka ia adalah milik negara.
Seharian ini hanya sekali ia menghubungi Fara menanyakan keadaan dan lokasi. Mereka memang sedang kasmaran, tapi usia dewasa tak menjadikan keduanya seperti anak kecil yang mesti berkabar setiap saat sampai telinga panas.
Senja menyapa, Fara bersama rombongan sudah kembali ke batalyon. Dan Al Fath sudah pulang duluan disana, sepertinya memang sudah agak lama, itu terbukti dari adanya gelas kopi yang telah surut setengahnya, dan puntung rokok di asbak.
Fara turun dari mobil dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"Makasih bu traktirannya!" ucap para istri danki berlalu pamit pulang.
"Hm, udah kaya punya geng ya?" Ternyata Al Fath disana dengan teman-temannya, ia kini menghampiri Fara.
"Assalamualaikum abang!" senyumnya selebar kue ketawa.
"Ko timur gelap gini sih bang?!" kelakarnya, baru saja sampai ia sudah bikin orang-orang menaruh atensi.
Byurrr!
Regan sampai menyemburkan kopinya, hanya celetukan receh dan unfaedah tapi sukses membuatnya tersedak.
"Kacamata kamu dek, astaghfirullah!" Al Fath menarik kacamata yang dipakai Fara.
"Ampun gusti! Gagal keren atuh bu!" ucap Taufik.
__ADS_1
"Nah gitu atuh ketawa, mukanya ga usah pada tegang, serius gitu kaya lagi ujian SIM aja!" tembak Fara.
"Bu, nih!" Gentra menyerahkan kamera.
"Waduhhhh, ini serdadu lagi pada ngopi nih! Makan gaji buta!" bukannya balik ke asrama Gentra malah ikut bergabung dengan para rekan seperjuangannya.
"Pulang dulu dek, sore. Bersih-bersih dulu, istirahat!"
"Iya, abang kalo masih mau ngopi ngopi aja. Fara pulang sendiri!"
"Emangnya siapa yang mau anter kamu pulang?" tanya Al Fath menggoda, seketika wajah Fara kecut menjadi hiburan para perwira disana.
"Becanda, jangan terlalu tegang dong! Kaya mau lagi ujian SIM aja," Al Fath terkekeh bisa membalas Fara.
"Balik aja bu! Ngga usah dibukain pintu nanti kalo pulang!" teriak bang Yo.
"Jahat ih, ya udah Fara balik dulu!" ia meraih punggung tangan lelaki itu san mengecupnya.
"Abang tangannya kok bau oli?!" sewot Fara.
"Lah adek maen cium aja, abang baru benerin mobil barusan sama yang lain?!!!" tunjuk Al Fath ke belakang, pada sebuah mobil jeep yang memang sedang terparkir dengan kap mobil terbuka.
"Ihhhhhh!" Fara menepiskan tangan Al Fath seraya mencebik, Al Fath kembali terkekeh melihat kelakuan Fara, wanita itu menghentak dan berlalu menuju rumah dengan mengomel.
Beberapa hari ini Fara memang disibukkan dengan pekerjaan kesatuan bersama ibu-ibu kumpulan. Bahkan ia tak segan melibatkan prajurit-prajurit muda yang waktunya sedikit luang demi membanti Fara.
"Oke! Om Gentra camera roll---action!"
Saking totalitasnya mengerjakan project, dua orang prajurit muda sampai harus naik ke atas pohon di sisi kanan dan kiri lalu menjatuhkan dedaunan kering bersamaan di bagian bawah seorang lainnya menyalakan kipas angin agar mendapatkan efek angin menerbangkan dedaunan dan mencolek-colek gemas si model video.
Bang Yo dan Regan tertawa melihat aksi Fara bersama ibu-ibu kesatuan.
"Udah mirip syuting sinetron!"
"Totalitas kalii! Itu prajurit kau, sampai harus panjat pohon cuma untuk buang-buang daun!"
Bukan perkara mudah meminta ibu-ibu untuk bergaya, berlenggak-lenggok di depan kamera karena sejatinya mereka bukan model dan pemain sinetron.
.
.
__ADS_1
.
.