
Meski tak sama dengan infrastruktur kota asal, tapi disini tak terlalu buruk seperti yang dibayangan Fara sebelumnya. Justru mungkin baginya yang penat dengan kesibukan ibukota, wilayah ini cukup cocok. Atau besok-besok ia harus ikut jika Al Fath masuk hutan, untuk bertapa? Dari bandara mereka bergerak lagi menuju batalyon tempat Al Fath menjejakkan tugas selanjutnya, tugas yang entah berapa lama, yang jelas mulai hari ini Fara resmi menjadi warga timur. Satu kata yang jelas terucap di benak Fara, dan ia akui itu.
"This is beautiful land!"
Mobil bergerak menuju jalanan dengan medan berkelok, dan menanjak juga turunan, mendaki gunung lewati lembah kaya ninja hatori. Terkadang mobil berguncang karena jalanan yang terjal belum terjamah dana anggaran pemerintah.
Barang yang mereka butuhkan sempat mereka beli tadi di jalan.
"Dari markas jam berapa ndan?" Frederick buka suara demi mengusir rasa canggung pada komandan barunya ini.
"Jam 9 Rick,"
"Saya kira komandan akan naik pesawat militer?"
Al Fath menggeleng, "saya lebih memilih pesawat komersil, biar istri saya tidak terlalu tegang!" ia menaik turunkan alisnya pada Fara.
"Bilang aja takut Fara muntah, malu-maluin abang nanti!" bisiknya, Al Fath meledakkan tawanya.
Langit senja yang cerah lembayung ini seolah menyambut penuh ceria Al Fath dan Fara, sambutan resmi nan ramah dilakukan keluarga besar korps darat untuk pimpinan baru dan istri. Sejenak Fara melirik Al Fath dengan sorot mata memuja, ada wibawa tinggi yang keluar dari diri suaminya, ia beralih menatap keseluruhan anggota dan para istrinya, dimana seragam yang sama dengan yang dipakainya nanti.
Bukan hanya warga asli saja yang ada disana bahkan kebanyakan perantau sepertinya.
"Selamat datang komandan dan ibu," sambut mereka. Fara mengangguk ramah.
Mungin sengaja sejak tadi pagi, mereka sudah menyiapkan sambutan macam menyambut anak raja. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini oleh orang lain, mengingat dulu ia hanya warga biasa dari sekian warga ibukota yang tinggal di pinggiran.
"Meriah banget bang?!" bisik Fara.
"Sambutan dan serah terima tugas mungkin besok, mengingat ini udah sore," jawabnya.
Fara dan Fath membaur sekedar beramah tamah demi mengenal seisi batalyon secara garis besar. Fara menatap ke sekelilingnya luas, disinilah tempat ia akan hidup mulai sekarang, menjalani hidup bersama keluarga kecilnya nanti.
"Maaf jika sambutan kami kurang berkenan di hati, pak, bu...tapi semoga bisa tetap diterima!" ujar wadanyon beserta istri ramah, membuat Fara merasa terharu.
"Alhamdulillah, saya dan istri mengucap syukur atas keramahan keluarga besar korps darat, semoga ke depannya kita dapat menjadi satu keluarga yang solid," jawab Al Fath, sedari tadi pandangannya tak berpindah dari makanan-makanan yang tersaji di atas meja panjang, hasil jerih payah para ibu kumpulan.
"Silahkan dicicipi bu, ibu bisa panggil saya dengan nama suami saya mayor Arjuna,"
"Siap, bu Juna!" jawab Fara. Sepertinya orang-orang disini baik-baik, mungkin sama-sama perantau jauh dari keluarga, membuat mereka jadi dekat satu sama lain.
"Sini-sini bu! Kita bergabung dengan ibu lainnya, sembari nyicip masakan kami," ajaknya, tak butuh waktu lama untuk Fara dapat berbaur.
"Ini to bu! Masakan ibu-ibu persit ranting kami, ya maklum lah jauh dari kota jadi hanya memakai bahan seadanya, tapi jangan salah bu...bahannya pilihan!" sahut seorang lainnya terkekeh.
"Iya, makasih semuanya!" mata Fara memicing pada satu menu mirip sate ayam, membuat saliva Fara naik turun.
"Saya coba ya ibu-ibu! Kayanya enak deh!" bu Arjuna ingin menahan menjelaskan namun si ibu danyon ini keburu mengambilnya, dan
Hap!
Fara memakannya, kunyahan Fara lama-lama melambat, alisnya mengernyit seraya lidahnya yang mencecap rasa, mengenali dan mensave rasanya di otak.
"Kenyal ya bu, emhhhh...asin--gurih ada sedikit krenyesnya, apa ini ya bu?" ia kemudian menelannya dan hendak menggigit kedua kalinya.
"Nganu to bu, itu sate ulat sagu, enak to?"
Fara langsung terdiam, giginya bahkan kini mengatup tak sempat menggigit, ia menaruh tusukan yang baru ia gigit di piring dan terbatuk.
"Ulet bu?" tanya nya memastikan.
__ADS_1
"Iya bu," sungguh ibu-ibu lain ingin tertawa melihat ekspresi ibu danyon mereka.
"Ulet sagu yang putih itu, yang geliat-geliat kaya bel atung itu?" katanya bergidik, demi menjelaskan hewan tak bertulang itu.
"Iya bu," ingin ia berteriak seperti orang dikejar kucing hutan namun ia urungkan melihat wajah tersenyum ramah ibu-ibu ini, tak sopan rasanya jika ia tak menerima sajian sang tuan rumah.
"Ibu suka? Gimana bu, enak kan?" tanya mereka.
Fara mengangguk-angguk cepat, "enak," jawabnya susah payah, sambil bergidik seperti orang menahan pi pis.
"Puji Tuhan, ibu suka! Itu artinya kami berhasil, mengenalkan makanan khas disini pada ibu," ujar seorang istri berambut keriting sebahu, dengan kulit coklat manis. Fara mencomot menu lainnya demi mengusir rasa tak nyaman, bentar lagi muntah deh gue, gara-gara ulet! Anggap aja lagi ngebolang Faraaa, jadi host jejak si cewek petualang, yang sering ditonton 'nyak.
"Sebentar ya ibu, saya mau ajak suami saya ikut cicip!" Fara berlari kecil menghampiri Al Fath yang tengah berbincang dengan beberapa danki dan danton.
"Abang! Sini dulu bentar," ajaknya.
"Om-om sekalian, saya pinjem danyonnya sebentar ya!" ucap Fara menarik Al Fath ke depan meja berisi ibu-ibu kumpulan.
"Apa dek?" Fara mengambil sate yang tadi sempat ia gigit.
"Coba! Tadi Fara makan ini," Al Fath mengerutkan dahinya, memang ada apa dengan makanan ini.
Al Fath menurut dan memakannya, wajah Fara menatap penuh harapan, "gimana?"
Sementara wajah Al Fath biasa-biasa saja, "enak." Jawabnya mengunyah sampai habis dari tusukan.
"Abang tau dari apa itu?"
"Tau, ulat sagu kan?!"
"Kyaaaaa! Fara makan itu tadi!" hebohnya, sontak membuat ibu-ibu kumpulan tadi meledakkan tawanya.
"Apanya?" balas Al Fath datar, seharusnya Fara tau Al Fath sudah terbiasa dengan makanan-makanan begini, ia bahkan sering mengunyah si ulat berprotein tinggi ini sewaktu si ulat masih menggeliat di dalam hutan sana, apalagi yang sudah diolah dan dibumbui begini.
"Ini ulat loh bang!!!"
Ia mendekatkan mulutnya ke arah telinga Al Fath, "sumpah Fara geli bang, mau makan lagi Fara ngga kuat, kalo ngga diabisin nanti dikira ngga ngehargain, mubadzir! Jadi abang aja yang makan sisa Fara," bisiknya, membuat Al Fath tertawa.
Sebuah rumah sudah bersih dan rapi, peninggalan danyon sebelumnya, Fath menyeret koper dibantu ajudan barunya Frederick.
Diliriknya rumah yang cukup besar dari rumah lainnya, dengan halaman ditanami beberapa pohon peneduh di kala panas. Karena hari yang sudah semakin gelap, Fara dan Al Fath memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Rick, terimakasih untuk hari ini. Sudah malam sebaiknya istirahat saja, biar besok kita mulai aktivitas!" titah Al Fath.
"Untuk asisten ibu, mungkin besok sudah datang kesini," ujar Frederick.
"Siap ndan, selamat beristirahat." ia pamit undur diri.
"Coba tolong buka kuncinya dek," Fath memberikan kunci rumah yang akan ditinggali mereka pada Fara.
"Loh, Fara punya asisten juga bang?" tanya nya.
"Iya lah, untuk membantu pekerjaan administratif ibu danyon nantinya." Fara mengernyitkan dahi, kerjaan apose?
"Perasaan Fara ngga lamar jadi tentara bang," jawabnya belum cukup menerima kenyataan.
"Welcome to the club, madam!" kekeh Al Fath.
Gleuk! Fara menelan salivanya, belum apa-apa ia mengingat kembali tanggung jawab sebesar gunung yang menanti. Suhu udara disini tak terlalu beda jauh dengan ibukota, membuat Fara dapat menyesuaikan dirinya.
__ADS_1
"Kamu belum makan malam, makan dulu, tadi ibu-ibu ranting sini kan sudah berbaik hati memasakkan makanan, masa ngga dimakan," ucap Al Fath duduk di tepian ranjang yang sudah di isi kasur, rumah ini sudah lumayan cukup terisi barang, tak terlalu kosong melompong.
Pria itu duduk tak mau diam, "abang lagi ngapain? Ngetes ranjang apa gimana?" akhirnya ia risih juga dengan sikap Al Fath yang kekanakan kaya lagi am_beien.
"100 buat bu danyon! Masa nanti tempur bobrok lagi," jawabnya kini bangkit melewati Fara di ambang pintu menuju dapur.
Pria ini membuka makanan yang dibungkus oleh ibu-ibu ranting karena Fara yang tak makan tadi.
"Dek!"
"Makan dulu, apa mau abang suapin?" Fara menggidikkan bahunya, masih mengingat kegelian tadi. Rasa mual kembali menyeruak dari dalam perutnya.
"Jangan sama yang tadi tapinya!" teriak Fara ikut turun.
"Katanya magic?!" tanya Al Fath.
"Fara ngga biasa dikasih yang ekstrem-ekstrem gitu bang, hidup Fara aja cobaannya udah ekstrem banget lah!"
Fara membuang nafasnya gugup demi melihat benda pipih di tangannya yang sudah ia celupkan dan diamkan di air urine.
Matanya melotot, mulutnya tertutup telapak tangan syok.
"Abangggg!!!!"
"Ini garisnya 2!" teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Alhamdulillah," Al Fath mengusap wajahnya di akhir do'anya, lalu ia melipat sajadah.
"Siang ini kita ke rumah sakit," balas Al Fath.
.
.
.
.
__ADS_1