
Di depan teras rumah sudah berjejer kebutuhan sembako yang sudah diletakkan anak buahnya sewaktu ia pergi barusan.
"Saya bantu ndan," ujarnya berinisiatif. Melihat Frederick membantu, membuat Kintan tak enak jika diam saja.
"Saya pun,"
"Kamu temani saja ibu, mulai siapkan saja modul untuk nanti pekerjaannya." pinta Al Fath, dia bukan tipe laki-laki pengecut, yang mengandalkan tenaga wanita hanya untuk sekedar mengangkat-angkat begini.
Pekerjaan Kintan bukanlah kuli angkut atau asisten dapur.
"Siap ndan," Kintan mengekori Fara masuk ke dalam rumah.
"Ndan, asisten rumah tangga mulai besok sudah bisa masuk?!" kembali lanjut Frederick.
"Oh, iya. Terimakasih. Biar nanti ketemu istri saya langsung. Besok saya agak sedikit sibuk,"
"Siap!"
Fara kembali ke dapur bersama Kintan, "Ntan, disini aja. Fara mau liat abang, biar hafal tempat sembako," ia hanya mengomandoi suaminya menaruh karung beras beserta teman-temannya. Fara membungkuk demi mengacak-acak isi keresek yang dibelinya tadi sewaktu di jalan.
"Iya bu," Kintan membuka sebundel map dan modul dalam laptop untuk memperkenalkan tugas ketua perkumpulan ranting.
"Besok akan ada art buat bantu kamu beresin rumah,"
Fara mengangguk, "iya," tapi hatinya sudah tak sabar ingin segera icip-icip buah di depan rumahnya.
"Abang udah dong, om Rick udah abis jam kerjanya!" seru Fara gatal juga tak angkat bicara, sejak barusan ia tak hentinya ngemil, rasa mual muntah yang dirasakan Fara mungkin tak terlalu parah, hanya di pagi hari saja ia merasakan mual namun selepas dzuhur ia kembali segar.
"Kintan, ini tuh keripik apa ya namanya?" tunjuknya di depan wajah, tapi kemudia kembali ia memasukkanya ke dalam mulut, begitupun kue lontar dan sagu lempeng.
"Itu keripik keladi bu,"
"Talas dek," bantu Al Fath, sementara bumil itu berohria, Al Fath menggelengkan kepalanya, ia bisa tersenyum lega, Fara tak seperti di bayangannya, buktinya dimanapun ia...perempuan ini justru betah-betah saja, asyik-asyik saja. Tak cengeng, tak manja, yang jelas tak merengek minta pulang jadi ia tak perlu khawatir.
"Ini emang cuma rasa ori doang ya, padahal kalo dipakein bumbu macem-macem rasa enak tuh! Kalo di ibukota pasti laku abis, pake tampilan kemasan yang sip mantap lah buat jadi pendapatan ibu-ibu kesatuan!" lanjutnya.
Al Fath sesekali menoleh pada ibu danyon yang anteng berbicara sambil ngemil itu, sepertinya tak akan lama membuat Fara jadi kasur air, lihat saja dalam waktu 3 sampai 4 bulan perempuan itu akan sulit dibedakan dengan bapau isi daging.
"Bisa bu, bisa diusulkan lewat kumpulan nanti, tapi pemasaran sama pengirimannya?"
"Gitu aja repot! Sekarang kan udah serba online, ngga usah kaya orang susah ntan!" ucapnya enteng, tau deh!!! Yang anak generasi kinihhhh, maenannya online.
"Abang coba deh bang! Ini tuh enaknya dicelup kopi! Keras ya, tapi bikin kenyang!" tunjuknya pada lempengan sagu.
"Iya, satu saja kenyang. Tapi abang heran, kenyangnya kamu berapa?" Frederick dan Kintan menyemburkan tawanya, pernyataan bermakna cibiran.
Fara langsung manyun menaruh lempengan sagu ke 2 yang sudah habis separuhnya, "ya udah ngga jadi lah!"
"Ck--- makan aja sayang, kenapa harus dsimpen? Mubadzir!"
"Kata abang Fara rakus?!"
Al Fath mendebat, "loh, kata siapa? Memang saya bilang istri saya rakus Rick?" tanya Al Fath meminta pembelaan.
__ADS_1
"Engga," jawab Frederick, Al Fath berjalan melewati Fara menuju kamar, demi mengganti pakaiannya yang sudah tak nyaman.
"Engga secara langsung tapi nyindir!" manyun Fara.
"Rick, Kintan...silahkan kalian pulang saja. Jam kerja sudah habis kan? Terimakasih sudah banyak membantu!" ujarnya sebelum benar-benar menghilang di belokan.
"Siap ndan,"
"Om Rick jangan lupa!" sahut Fara mengingatkan.
"Oke bu!"
Fara berlari kecil menyusul Al Fath, tangannya sudah terampil membawakan baju ganti untuk suaminya.
"Bang, Fara mau kasih tau 'nyak kalo Fara hamil sambil video call'an," ujarnya, Al Fath menyambar handuknya.
"Iya, kalo mau video call, dekat kantor saja biar sinyal dan jaringannya bagus, kalo disini takutnya banyak terhalang pohon," saran Al Fath.
"Besok dong?" tanya Fara.
"Kalau mau sekarang, ya dek Fara harus jalan sampai kantor," balasnya, lelaki ini jika bicara memang tak pernah menunggu lawan bicaranya selesai menyimak, pasti langsung ditinggal.
"Kantor? Jalan kaki gitu? capek----" keluhnya berogah-ogah ria.
Al Fath masuk ke dalam kamar mandi, pada saat yang bersamaan dengan beberapa orang mengetuk pinti rumah, bukan lewat pintu depan namun pintu belakang dekat garasi, dimana ada satu teras belakang terbuka dekat dengan si pohon matoa berada.
"Sore bu! Permisi!" Fara langsung tersenyum lebar, kawan-kawan seperjuangan sudah tiba.
Mereka datang dengan tangan kosong, beberapa pemuda batalyon ini menyalami Fara takzim bak sungkeman disaat lebaran tiba, "loh! Bambu buat ambil buahnya mana om?"
"Oh," mulutnya berohria.
"Ya udah om, ambil deh!" Fara menghampiri mereka.
"Kumpulin di keranjang aja om!" teriaknya masuk ke dapur mencari keranjang dan membawanya kembali keluar.
Para pemuda batalyon sudah mulai memanjat, sebenarnya tangan Fara gatal ingin ikutan, tapi ia ingat dengan kehamilannya.
"Yang itu om!" tunjuk Fara mendongak pada segerombol buah berwarna coklat kemerahan menggoda iman yang sudah goyah.
Terdengar gelak tawa serta teriakan Fara dan prajurit muda disana, membuat Al Fath mengerutkan dahinya, "kok ramai? Ada siapa?" ia menyegerakan aktivitas mandinya.
"Yang itu om!"
"Ini bu?"
"Bukan--bukan--ck!" Fara yang gemas akhirnya mendekati pohon mencoba menaikkan kakinya.
"Eh--jangan bu!"
"Dek!" suara menggelegar itu bak petir menyambar awan kejinggaan senja.
Bukan Fara saja yang menoleh, bahkan prajurit muda yang berada di puncak pun sampai membungkukkan badannya demi melihat sumber suara.
__ADS_1
"Allahuakbar!!!"
"Kalian nyuruh istri saya naik sendiri apa gimana ini?!" gemuruh suara geledek itu mendengungkan telinga para prajurit muda.
"Siap, bukan ndan! Maaf!"
"Abang ih bukan gitu! Fara yang undang mereka ke rumah buat ambil buah ini, lagian dari tadi mereka yang ambil bukan Fara!"
Al Fath dengan wajah keruhnya mendekat siap meledak pada istrinya, "terus barusan kamu ngapain?!" tanya nya tegas tak ada lembut-lembutnya.
"Refleks bang, bawaan gemes salah terus! Fara maunya yang itu tuh yang deket kaki om siapa namanya tuh bajunya item?!"
"Lain kali ngomong yang jelas, jangan asal naik aja!" timpal Al Fath.
"Iya, maaf!" bibirnya mengerucut.
"Lanjutin guys!" pinta Fara pada para prajurit muda.
"Saya kasih waktu 15 menit lagi, setelah itu kalian turun. Bagi yang muslim silahkan siap-siap magrib, bagi yang non muslim, bersiap untuk makan malam!"
"Siap ndan!" jawab mereka serempak dengan suara baritonnya. Kemudian mereka mempercepat kerja tangan dan kakinya, demi mengejar waktu.
"Ih, kaya penjajah--orang mau enak-enak pesta matoa. Ehhh, londo dateng!" omel Fara.
"Anaknya nih mau matoa," Fara mengusap perut yang masih rata.
"Anak abang ngga banyak maunya, masih kecil ngga ngerti namanya matoa, itu mah kepengen ibunya! Yang suka mauuuuu... aja kalo liat makanan," balas Al Fath membuat Fara skak mat.
"Fara ngidam bang!" jurus perempuan hamil jika memiliki keinginan.
"Ngidam itu mitos sayang, silahkan tanya pada dokter kandungan, abang kasih 100 juta jika dia bisa membuktikan kalau permintaan aneh-aneh bumil yang tak dituruti itu jadi penyebab anaknya ileran," ia memungit matoa di dalam keranjang dan ikut memakannya.
"Man! Itu yang disebelah kananmu sudah matang! Arah jam 2!" teriak Al Fath dari bawah.
"Yang ini ndan? Siap!" angguknya meraih segerombol buah yang rasanya seperti lengkeng namun berbau durian itu.
Ponsel Al Fath berdering cukup kencang panggilan telfon biasa dari Aceh, "umi?" ia mengerutkan dahinya.
Karena banyak yang penasaran sama buah matoa, mimin kasih gambarnya ya
Matoa Kelapa
Matoa Papeda
.
.
.
__ADS_1
.