Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
SYUKURAN ALA UMI SALWA


__ADS_3

"Abi sama Zahra mana mi?" tanya Fara meraih tangan mertuanya lalu mengecup sopan dan membawanya ke pipi, merasai kehangatan tangan wanita yang sudah melahirkan Al Fath untuknya.


"Abi di rumah dinas kalian, lagi istirahat! Tadi umi sama pak Sam, sama makhluk satu ini," tunjuknya pada Afrian.


"...Ke rumah dulu. Tapi ternyata kamu sama Fath ngga ada, jadinya umi susulin ke sini atas saran ajudanmu! Kalo Zahra kan di ibukota, ngga bisa ikut soalnya kuliah. Kemarin ada pulang tuh kebetulan lagi cuti kuliah,"


"Kamu ngga apa-apa kan? Coba umi liat abis jadi sandera apa yang kurang?" ia memutar, membolak-balikkan badan menantu pertamanya itu demi melihat keadaan Fara.


"Ngga habis pikir deh! Lakinya kemana sih, sampe bisa diculik segala?!" omelnya. Al Fath sudah tak heran di ghibahin uminya tepat di depan muka.


Afrian tertawa renyah, ia paling senang, jika Salwa sudah ngomel-ngomelin anggota keluarga cemara.


"Sal! Lakinya tuh anak loe!" balas Afrian.


"Diem loe!" sarkas Salwa.


"Tuh kan Fath, begitu tuh umi mu. Udah tua masih nyebelin, padahal udah bau tanah!" ujar Afrian, sementara Fara masih membaca interaksi umi dan sang om yang bagai kucing dan tikus, dapat ia simpulkan, umi Salwa memang mendominasi keluarga rupanya.


"Enak aja bau tanah, gue sumpahin Acha kecantol brondong!"


"Owwhhh, biar loe bisa affair sama gue ya Sal, ngerti gue!" kelakar Afrian yang memang sejak dulu senang menggoda Salwa.


"Dih, tembak dia Fath--tembak!" balas Salwa.


"Umi sama om kalo ketemu ya Allah bikin pusing!" Al Fath bersuara, Al Fath memang jiplakan abinya. Jika abinya sedang tak ada maka dialah yang berperan menjadi penengah umi baik itu dengan Afrian, Zahra ataupun Rayyan. Untung saja si bungsu dan adik lelakinya tak ada disini. Bila semua hadir, fix ia gila saat ini juga, ditambah istrinya yang satu frekuensi dengan para biang rusuh ini makin lengkap beban hidup Al Fath jikalau mereka bersatu.


Demi kedamaian dan ketentraman kantor, Al Fath akhirnya memboyong keluarganya itu ke rumah, Fara tak lepas dari rangkulan mertua kesayangan.


"Udah gerak dia nak?" tanya Salwa sementara ketiga lelaki itu berjalan di belakang membicarakan kasus yang kini sedang di proses.


"Udah mii, tadi banget loh mi!" seru Fara antusias.


"Ah syukur ya Allah! Tabarakallah," usapnya di perut Fara.


"Fath, kalo mantu umi sampe kenapa-napa lagi. Ngga akan nunggu sampe lebaran gajah, umi boyong Fara ke Aceh! Ada kewajiban perlindungan loh sama anak perempuan orang, ada cucu umi juga disini!"


"Mi, anak perempuan orang itu istri Fath," balas Al Fath.


"Kalo kamu ngga bisa jaga istri dan anak kamu, umi sama abi juga yang ikut tanggung jawab sama keluarga Fara!" debatnya tak mau kalah, Fara hanya cengengesan melihat suaminya dimarahi umi layaknya anak kecil.


"Tangan kamu emang dua! Tapi bisa dipake buat nyuruh bawahan buat jaga istri kamu, istri satu aja sampe di sandera, gimana kalo istri kamu selusin?!" omelnya lagi.


"Jangan dong umi, nanti Fara gimana kalo istri abang selusin?" bukan Al Fath yang membalas melainkan Fara yang tak terima.


"Nah kan, mulut loe Sal. Marahin aja mertua mu Ra, sompral!" Afrian ikut bersuara.

__ADS_1


"Ini tetangga julid ngga usah ikut ngomporin deh!" desis Salwa pada Afrian.


"Not bad!" gumam Salwa melihat hunian Fara dan Al Fath.



"Tuh abi di belakang!" seru Salwa melihat Zaky menunggu di kursi yang disediakan di bawah pohon matoa, suasananya sejuk nan asri, cocok untuk bersantai ditemani kopi dan kue lontar.



"Nah yang ini mah bagusan dari rumah dinas yang kemarin, bener kan bi? Layaklah buat calon cucu umi main-main disini! Nanti umi kirim satu set taman bermain disini---" tangan mulus bertahtakan cincin berlian mini itu menunjuk halaman dekat dengan pohon matoa.



"Iya mi cocok disini!" tanpa di duga, Zaky yang biasanya paling kalem, bijak, malah menjawab setuju dengan usul istrinya Salwa, apakah naluri seorang kakek yang sayang cucu mulai keluar dari diri Zaky? Al Fath dan Afrian sampai menganga tak percaya.



"Terus umi kirim perosotan yang safety, karpet empuk seluas ini--- sepeda, kolam bola---" ia lantas menoleh cepat ke arah Al Fath, "disini kapasitas listriknya berapa Fath?"



"Buat apa?" tanya Al Fath mengerutkan dahi curiga.




Afrian tertawa tergelak, "busettt! Kenapa ngga sekalian loe gusur mall sama karnaval kesini Sal?"



"Edyannn nih calon grandpa sama grandma, heboh amat--lahiran aja belum! Bang Za juga ikut-ikutan gila lagi!" lanjut Afrian, Fara hanya bisa ikut tertawa mendengarnya.



Definisi orangtua lebih sayang cucu memang benar terjadi rupanya di kehidupan Al Fath. Jika sultan sudah bicara, maka sisa butiran nasi mah minggirrr!



"Umi udah makan? Makan siang dulu yuk!" ajak Fara.



"Iya nak, kamu masak?" tanya Salwa.

__ADS_1



"Iya umi. Abang ngga akan makan masakan orang lain, kalo bukan masakan Fara," akuinya, Al Fath menggaruk kepalanya, kenapa disaat seperti ini Fara begitu jujur.



"Manja kaya abi-nya," desis Salwa, tapi tak banyak berkomentar lain seperti biasanya yang akan sepanjang jalan kenangan.



Mereka duduk bersama di sebuah meja makan lonjong dengan panjang sekitar 2 meter.


"Maksud kedatangan abi sama umi membawa serta om Afrian dan pak Sam kesini untuk membicarakan masalah hak almarhum ayahmu, Ra." Jelas Zaky seraya menikmati makan siang buatan Fara khas tanah timur, sedikit demi sedikit ia dan Fath bisa beradaptasi dengan makanan disini meskipun tak bisa menghilangkan kebiasaan makan nasi dan sambalnya.


"Iya bi, abang udah bilang tadi."


"Di ibukota sana, firma hukum milik om Afrian sedang mendampingi ibu demi mendapat keadilan dan hak yang seharusnya milik kalian," Salwa menggenggam tangan Fara diatas meja, "jangan pernah merasa sendiri."


Tak tanggung-tanggung, mereka mengerahkan beberapa advokat untuk mengawal jalannya kasus ini.


"Makasih umi, abi, om Afrian, pak Sam."


"Sama-sama."


"Kami kesini pun atas permintaan umi-mu," Zaky melirik Salwa yang sejak tadi tak berhenti melahap kuah ikan kuning pelengkap papeda.


"Ah, iya! Kebetulan kandungan Fara sudah masuk 4 bulan. Umi mau ngadain syukuran dan pengajian bagi yang muslim," jelasnya. Sungguh belum terpikirkan baik itu oleh Al Fath ataupun Fara tentang hal itu.


"Harus ya mi?" tanya Fara.


"Buat umi penting, usia 4 bulan Allah sudah meniupkan ruh pada si janin. Patut disyukuri, meminta do'a pada semua demi kelancaran kehamilan sampai kelahiran, mulai sekarang, jaga lisan, tingkah laku karena dia dapat mendengar dan merasa---"


Al Fath hanya mengangguk saja, tak mengerti dengan masalah seperti ini.


"Oh gitu, nanti biar Fara undang beberapa aja mi," balas Fara.


"Oh engga-engga. Kita adain satu batalyon! Berbagi kebahagiaan komandannya, masa pilih-pilih--ngga adil dong!"


"Satu batalyon?!!" Seru Al Fath terkejut, pasalnya satu batalyon itu umatnya bukan cuma puluhan, yang benar saja! Melebihi syukuran anak menteri. Al Fath menepuk jidat, dompetnya menjerit demi mendengar itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2