Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
DATANGNYA BALADA PANCI


__ADS_3

Kendaraan Rantis komodo produksi dalam negri terhenti di zona hijau, beberapa lapis ring sebelum area tempur.


Al Fath turun dan langsung mendapat hormat dari para prajurit bawahannya. Ia masuk ke dalam tenda yang sengaja dibuat sebagai barak darurat para prajurit beristirahat, selain sebuah bangunan yang dijuluki safe house, dipakai sebagai ruang pertemuan darurat.


"Status situasi?"


"Sejauh ini aman ndan, Pembangunan jalan beraspal dan sarana seperti tower komunikasi terpaksa dihentikan sementara waktu," lapor salah satunya. Seorang prajurit lainnya masuk memberikan laporan terkini.


"Mohon ijin ndan,"


"Silahkan,"


"Kelompok separatis bergerak mundur ke hutan. Diduga, disana pula beberapa distrik yang berbelot berada. Laporan terakhir melalui pantauan udara oleh unit Garuda batalyon XXXXX ada sekitar 20 rumah dengan anggota keluarga lengkap."


Al Fath menarik nafasnya, ia tak bisa menyerang begitu saja tanpa perhitungan dan strategi khusus karena disana ada banyak nyawa yang tak tau apa-apa.



Pesawat militer mendarat di pangkalan udara markas besar angkatan darat di timur. Setelah melapor pada pimpinan, mereka bergerak menggunakan truk Reo menuju batalyon dimana Al Fath memimpin.



Sementara Fara dan Kintan sedang berada bersama para istri prajurit di batalyonnya.



"Jadi adakah usul ibu-ibu apa yang akan kita kirim untuk HUT nanti dari batalyon kita?" tanya bu Juna.



"Mohon ijin bicara bu, kalau mengirimkan produk khas timur bagaimana bu?" beberapanya mengangguk setuju.



"Setuju bu, demi mengenalkan pada negri produk khas tanah timur," kata mereka.



Fara masih diam mendengarkan usulan dari para anggota kumpulan, menimang baik dan buruknya, untung dan ruginya, sesekali ia menguap bak singa kekenyangan, kemarin saja ia menangis sampai ngesot-ngesot minta Al Fath jangan pergi, sekarang ia kembali ke stelan awal bumil pemalas, sepertinya ia harus dilempar ke kolam asrama agar segar.



"Ada usul lain?" tanya bu Juna, mereka diam.



"Boleh saya bicara?" bisik Fara pada bu Juna.



"Silahkan bu," balasnya, lagipula kenapa harus berbisik. Wong, beliau pimpinan, ko ya mirip netizen nyinyir mau ngomong aja mesti ijin lewat belakang.



"Saya hargai usul rekan-rekan anggota sekalian." Gayanya bicara sudah seperti politisi yang lagi debat harga sawit, biar dikata keren dan berwibawa, meskipun ujungnya selalu ambyar karena keabsurdannya.



"Dari usul yang sudah diutarakan, bisa saya simpulkan jika semua ingin timur negri itu terekspos dunia. Jika hanya mengirimkan produk timur saja itu tak cukup efektif dan ampuh untuk memperkenalkan tanah timur. Paling....hanya beberapa saja orang-orang yang tau dan merasakan. Itupun saya yakin jika sudah mengirim buah tangan khas timur, sudah pasti akan menguntungkan beberapa pihak yang serakah saja." Begini nih jika jiwa salesnya keluar, ngasih cuma-cuma aja berasa rugi.

__ADS_1



"Kalau menurut saya, di era yang orang serba apa-apa liat youtube, apa-apa liat tik-tok, dengan kata lain orang itu lebih tertarik dengan seni, hiburan dan teknologi, kenapa kita ngga bikin video musik tentang tanah timur dan negri yang kita pijaki? Sekaligus ngasih tau dunia kalau negri kita indah dan kaya, kan lumayan tuh ada nilai ekonomisnya, narik pelancong/turis juga iya, siapa tau juga diliat sama presiden dapet sepeda!" otak kaum emak-emak yang pintar, tak mau rugi bandar, pelit, mereki, apa-apa selalu pingin sekali dayung 10 pulau terlampaui Fara bekerja, hay ladiest tau ngga jika wanita itu ras terkuat dan terpintar di dunia?! Dan Fara buktikan itu sekarang.



"Mohon ijin menyela bu, caranya?"



"Kintan! Bisa tolong ambilkan laptop suami saya?!" pinta Fara, baru saja ia mendapatkan ide darurat demi mengatasi kebingungan para istri batalyon.



"Siap bu,"



"Kira-kira di daerah sini yang sinyal dan jaringannya kuat dimana ya?" tanya Fara.



"Mohon ijin menjawab bu, sinyal kantor batalyon cukup kuat. Namun tak bisa dipakai umum, sifatnya privasi."



Fara melebarkan senyuman usilnya, "*ngapain ada anak desain grafis yang merangkap teknologi informatika disini kalo ngga bisa nyolong wifi batalyon*," benaknya berkata, seraya menganggukan kepala, mirip orang jahat kalo udah ketemu ide gokil.



"Ini kan untuk batalyon, bukan untuk saya pribadi bu, nanti coba saya bicarakan dengan suami. Untuk teknisnya sebaiknya ibu-ibu dandan saja yang cantik, belajar berpose seperti model video klip dan baju adat!"




Regan bersama kawan-kawan menjejakkan kakinya di depan asrama di sambut wadanyon dan ajudan.


"Sudah berapa lama komandan meninjau lapangan?" tanya bang Yo.


"Siap, sudah 2 hari!"


Mereka berohria masuk ke dalam asrama untuk menaruh barang bawaan.



Dorrr!



Dorrr!



Terdengar suara tembakan dari kejauhan, Al Fath yang berniat kembali ke batalyon cukup terkejut dibuatnya.



"Ndan---" tegur Frederick, bukannya masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir rapi, Al Fath malah berjalan ke area zona ring kuning. Dengan masih berbalut rompi anti peluru ia melihat dan mengintai posisi dan taktik menyerang kelompok itu.

__ADS_1



"Ndan, disini berbahaya!" Frederick ikut menyusul.



"Saya tau! Kalau bukan bahaya bukan tentara namanya! Kalau mau enak di rumah!" bentaknya dingin pada sang ajudan.



Melihat dan membandingkan kemampuan para juniornya membuat Al Fath dapat mengukur berapa jumlah barikade yang akan ia turunkan nantinya.



Al Fath segera kembali ke batalyon bersiap menyusun rencana, dari hasil pengamatan dan analisanya. Kelompok separatis itu ada kaitan erat dengan pemasok senjata api rakitan ilegal, "senjata dan taktik menyerang mirip dengan...."


"Denawa?" ia mencoba mengingat-ingat.


"Rick, coba tolong nanti siapkan data-data setiap pemberontak yang berhasil teridentifikasi,"


"Siap ndan!"


"Mohon ijin bicara ndan, barusan wadanyon menyampaikan jika detasemen bantuan dari markas besar sudah sampai di batalyon,"


"Ya," angguknya.


Mobil sampai di batalyon, ia langsung disambut Arjuna dan beberapa staf yang tinggal.


"Bagaimana bang?" tanya Arjuna.


"Not bad, masih bisa diatasi. Tapi saya yakin musuh sedang menyiapkan taktik tempur. Maka sebelum itu terjadi kita harus bergerak lebih cepat dari mereka, demi mengurangi resiko kehilangan nyawa," jawab Al Fath.


"Apa tidak sebaiknya abang pulang, ibu kelihatan cemas..." Al Fath mengangguk setuju, "Fara...terakhir ia tinggalkan istrinya itu nangis bombay.


"Mana karpet merahnya?!!!"


"Tega nian kau Fath, kami datang kau malah asik sendiri, tak ada sambutan atau tarian dan tuak!" teriak bang Yo tertawa dari pintu bersama Regan, Gentra dan Dilar.


"Wah! Selamat datang bang," sapa Al Fath tersenyum seraya menjabat tangan mereka.


"Bang Yo sama bang Regan doang nih yang disambut bang?" tanya Gentra terkekeh.


"Iya! Lu juga!" Al Fath menjitak kepala Gentra dan Dilar.


"Bang, betah nih di timur?" tanya Dilar berbasa-basi.


"Gimana ngga betah, Fara asik lagi bikin papeda bareng ibu-ibu kumpulan!" sela bang Yo.


"Loh, bukannya di daftar ada Andre?" tanya Al Fath melihat kekurangan personel unitnya.


"Andre lagi sama bang Dude dan bang Taufik di rumah abang, lagi pada makan papeda sama ibu-ibu.." jawab Gentra.


"Ck--- Juna, saya pulang duluan kalau gitu!" ujar Al Fath segera, ia tak mau rumahnya diobrak-abrik geng jomblo beraura duda kelam itu, jangan sampai nanti panci di rumah hilang semua dan Fara ngamuk-ngamuk.


"Siap bang!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2