Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
NUTRISI TERPENUHI


__ADS_3

"Sebagian mace," jawabnya singkat, Fara menyadari ada yang tak beres. Takut merasa menyinggung, Fara akhirnya meminta maaf dan mengganti topik pembicaraan.


"Ah, maaf mama. Oh iya, ini tuh bikinnya gimana, siapa tau nanti di rumah saya bisa bikin!" tanya nya antusias bertanya resep makanan yang sedang dilahapnya, padahal sesampainya di rumah paling ia cuma minta tolong pada Al Fath dengan alasan hamil, takut kecapean atau asisten rumah tangganya.



"Woy!!" Salah satu prajurit berlari mengejar para pemuda yang mencoba mendekati mobil dan mengempesi bannya dengan pisau belati.



"Boy! Sudah! Jangan dikejar!" ujar Al Fath melihat kejadian itu.



"Kamu berseragam dan membawa senjata api, tak etis jika kamu melawan mereka! Biarkan, apa yang mereka rusak?" tanya Al Fath diekori Frederick.



"Lapor ndan, tidak ada! Eh--belum!" ralatnya.



"Sudah biarkan, jangan semakin kau gelapkan pandangan mereka terhadap aparat dan negara."



"Abang!" Fara menghampiri sambil melihat ke arah berlarinya para pemuda tadi sambil mengacu ngkan jari tengah pada aparat.



"Dek, jangan keluar sendiri. Mana Kintan?!" tahan Al Fath.



"Ada, di belakang. Mereka siapa bang? Abis ngapain?!" khawatirnya, hidup di tanah orang dengan beberapa warganya yang apatis dan tak jarang anarkis memang cukup membuat Fara deg-deg serr sekarang.



"Ngga apa-apa. Udah selesai makannya? Istri abang makin hari makin gembul?!" kekeh Al Fath.



Ia mencebik kesal, "Fara makan buat berdua bang, jadi ngga usah aneh!"



"Kira-kira boleh dibungkus ngga sih, makanannya?" bisik Fara membuat Al Fath mengangkat kedua alisnya.



"Tanyain aja kalo ngga malu?!" tawanya renyah, yang benar saja...dikira ini acara khitanan pake maen bungkus besek segala.



Tanpa Al Fath duga istrinya itu malah berbalik badan, "eh! Mau kemana?" tahannya.



"Katanya tadi disuruh nanyain! Gimana sih," dengusnya manyun seperti ikan mujair.



"Engga malu emangnya?" tanya Al Fath, ia salah menanyakan hal itu, jelas istrinya ini tak memiliki urat malu---salah! Urat malunya sudah digadaikan pada kucing.



"Ya engga lah! Ngapain harus malu, orang Fara mau nanyainnya begini, *maaf mama semua.. suami saya suka sekali sama rasa papeda ini, sampe-sampe mangkuknya aja dijilatin! Kiranya kalo ada sisa boleh saya bekal buat di perjalanan*?!" monolognya, Frederick bukan lagi menyemburkan tawanya mendengar niatan aksi gila ibu danyonnya, bahkan para prajurit yang bertugas menjaga ikut benar-benar melipat bibir demi tak tertawa dengan kelakuan Fara jika tidak mengingat Al Fath akan menembaknya satu persatu, mungkin mereka sudah tertawa.



"Itu namanya kamu umpanin abang!" Fara tertawa, "sepadan lah ngumpanin orang ganteng biar perut kenyang!" jawabnya yang sontak mendapatkan jiwiran hidung dari Al Fath, dimanapun Fara berada sudah pasti akan ditemukan orang-orang yang tertawa di circlenya.


__ADS_1


Mungkin sudah kue lontar ke 4 yang Fara masukkan ke dalam mulutnya, "disini itu masih jarang tower pemancar sinyal ada pun satu hanya dekat kantor border post, susah mendapatkan pekerjaan dari negara sendiri karena terkendala jarak dan transportasi, sehingga pengaruh dari negara tetangga lebih mudah masuk membawa perubahan negatif untuk para pemuda disini," keluh salah seorang mama saat mereka duduk bersama.


"Saya coba usulkan dan bicarakan ini dengan kumpulan, siapa tau menjadi isue negara yang dinomor satukan dalam masalah pembangunannya oleh pemerintah," jawab ibu pimpinan. Awalnya Fara hanya duduk sebagai penyimak tapi lama-lama mulutnya segatal getah keladi jika tak ikut berbicara.


"Mohon ijin menyela bu, kalo menurut saya yang pernah merasakan menjadi orang muda, hanya menunggu tanpa kepastian jelas sangatlah memuakkan." Kintan sangat terkejut dengan bahasa atasannya ini, sudah berapa kali ia jantungan disini hanya gara-gara celotehan dan sikap nyeleneh Fara. Bisa-bisa ia mati mendadak jika Fara tak menjaga sikapnya.


"Lantas?" para istri komandan mengangkat alisnya seolah menantang Fara.


"Kenapa harus menunggu, jika kita sendiri bisa membuat suatu gebrakan, perubahan untuk diri sendiri! Negara itu udah keblinger, gumoh sama masalahnya yang segambreng, kalo cuma masukkin proposal di daftar tunggu, saya hitung, emhhhh..." Fara sejenak berfikir.


"Kiamat baru pemuda disini disuapin sama negara untuk dapat bekerja dengan penghidupan yang lebih layak! Mirip ngga sih, kaya kiamat? Udah banyak tanda-tandanya tapi ngga tau kapan waktu pasti turunnya?! Maaf bukannya sarkasme atau tidak sopan, tapi menurut saya dengan teknologi dan jaman yang sudah canggih para pemuda bisa kok bergerak tanpa harus menunggu negara bertindak, masa kalah cepat sama pengaruh dari luar, secara.. kan yang punya kedaulatan kita nih yang pengen maju bukan cuma negara tapi kita, yang harusnya banyak berpengaruh diri kita sendiri juga dong! Arahkan kaum milenial ke jalur yang benar, berprestasi dan mampu jadi sumber daya bermanfaat. Saya yakin kok, anak-anak muda disini tak kalah kreatif, pintar dan berwawasan, patut disejajarkan dengan para pemuda ibukota! Contohnya jadi konten creator may be! Dengan konten-konten yang berfaedah, enterpreuner dengan bisnis menjanjikan mungkin, karena saya liat dari tanah timur ini banyak kok kekayaan, entah itu kuliner dan lainnya untuk dieksplore, terlalu kaya malahan! Mengelola wisata dan kerajianannya bisa jadi, lebih dikoordinir lagi," Fara kembali melahap kue lontarnya. Ia begitu menikmati, "ini mirip kaya pie susu ya?! Enak banget!"


Rasanya semua yang ia lahap ia sebut enak, kapan ia menyebut tak enak?! Padahal di ujung sabang sana mertuanya tengah mengabsen satu persatu bahan makanan untuk dikirimkan ke ujung timur demi dirinya agar dapat terpenuhi nutrisinya.


"Huwaaaa!!! Abang, Fara kan cuma kasih usul! Kenapa Fara yang jadi staf pelaksananya gini?!" rengeknya, Kintan mengulum bibirnya, celetukan Fara ternyata dipikirkan keras oleh ibu pimpinan dan para tetua desa untuk memberikan pelatihan dan rancangan program kemajuan distrik, selain itu tanpa Fara sadari staf dari kementrian pembangunan negri ternyata ikut dalam rombongan.



"Makanya, kalo lagi makan ya makan aja, ngga usah ikutan ngomong. Nah ini, kalo makan sambil ngomong ya gini akhirnya," omel Al Fath.



"Fara lagi hamil bang, nanti kalo kecapean terus pingsan gimana?" seribu satu alasan ia pakai demi mengeluh.



"Ya digotong lah masuk klinik, emangnya kamu mau abang apain? Dilempar atau digelindingin?" jawab Al Fath si manusia dingin tanpa perasaan. Fara menghentak jalannya saat masuk ke dalam mobil, "kalian bisa jadi saksi ya, suami ngga berperasaan ya begini tuh! Kalo sampe nanti saya lapor, kalian harus jadi saksi," tuduh Fara, kedua ajudan ini mengangkat kedua tangannya tak ikut campur.



"Kalau kalian berdua jadi saksi, saya pastikan sebelum bersaksi, kalian akan berakhir di liang lahat," ancam Al Fath, kedua ajudannya itu beralih menatap horor pada Al Fath.



Bugh!



Bugh! Bugh!




Ponselnya bergetar, wadanyon Arjuna menghubungi dari batalyon. Wajah Al Fath mendadak serius, membuat Fara khawatir.



"Ada apa bang?"



"Kita pulang sekarang! Ada masalah yang harus segera abang selesaikan," jawabnya dengan raut wajah datar nan dingin, jika sudah begini Fara tau ada sesuatu urgent yang tadi disampaikan Arjuna.



Di perjalanan pulang, ada raut wajah yang tak bisa Fara gambarkan.


"Rick, bisa dipercepat kah mengemudinya?!"


"Kenapa harus buru-buru sih bang, emangnya ada apa?" tanya Fara, Al Fath segera mengganti air mukanya, "ngga ada apa-apa dek, ngga ada yang serius."


"Kalo masalah sepele, om Juna kan ada..kenapa harus sama abang?"


"Beliau butuh berkoordinasi dengan abang, tak bisa gegabah mengambil keputusan," jawabnya lugas secara garis besar.


"Bukan abang yang mau pergi kan?" tanya Fara, jiwa egoisnya ikut keluar. Entah kenapa disaat hamil begini, ia tak mau Al Fath ikut-ikut bertempur seperti sebelumnya, katakanlah ia mulai ingkar dengan janjinya, tapi apakah salah, jika ingin memiliki Al Fath untuknya dan anaknya?


"Dek, jantong hate abang...jangan khawatirkan apapun. Abang ngga kemana-mana, tidak ada masalah serius...abang yakinkan adek," bujuknya.


Pagi tadi pasukan pengawalan dari batalyon yang Al Fath pimpin, diserang beberapa anggota separatis. Ada baku tembak yang terjadi menyebabkan beberapa pekerja kontruksi, warga sipil terluka. Kompi bantuan pun sudah dikirimkan untuk membantu mengevakuasi dan melumpuhkan lawan, namun hanya berhasil menangkap beberapanya saja.


Pembangunan infrastruktur jalan dan sarana masyarakat terhenti sementara. Beruntung tak ada korban jiwa ataupun pihak yang disandera.

__ADS_1




Mobil memasuki batalyon dengan penjagaan serambi oleh prajurit berseragam di kedua sisi.



"Rick, langsung bawa istri saya pulang bersama Kintan. Nanti kamu balik ke markas taruh mobil dan lekas kesini!"



"Siap ndan,"



"Dek, kamu pulang duluan saja. Nanti abang menyusul kalau urusan sudah beres," usapnya lembut di kepala Fara.



"Iya,"



Terlihat dari kaca jendela mobil Al Fath membenarkan jas dinasnya memasuki kantor.



"Om Rick, ini ada apa sebenarnya?" tanya Fara.



Frederick melihat Fara dari kaca spion, "kurang paham bu, bapak tidak bilang apapun!" jawabnya.



"Oh iya, bu.." Kintan mencoba mengurai rasa penasaran Fara.



"Kenapa?"



"Dalam rangka menyambut hari kemerdekaan nanti, batalyon kita akan mengadakan apa?" tanyanya.



"Emhh, nanti saya pikirkan lagi."



"Biasanya bu, dari batalyon pusat sering mengadakan lomba, lalu dikirim langsung ke ibukota nanti untuk mengisi acara di perayaan kemerdekaan selepas upacara di istana negara,"



"Hemmm," Fara mengangguk-angguk.



"Saya ingin sesuatu yang beda Ntan, nanti saya coba pikirkan. Sekarang saya ngantuk!" memang dasar penyakit orang pribumi, kalau sudah kenyang bawaannya ya ngantuk.



Benar saja, yang bumil satu ini lakukan sesampainya di rumah adalah tidur, di cuaca panas nan terik, sejuknya angin sepoi-sepoi, enaknya tuh rebahan sambil meremin mata. Masa kalah sama kucing, kalo siang-siang tidur.


.



.


__ADS_1


.


__ADS_2