Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
EXTRA PART & MY LOVELY PRESDIR FROM THE MARS


__ADS_3

Tak terasa Sagara sudah bertumbuh menjadi bocah laki-laki yang supel, meskipun memang benar kata orang---buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya, lalu pohon yang mana? Ya pohon yang berdiri paling tegak dan besar, abi-nya.


Abang Saga, begitulah panggilan seluruh anggota keluarga padanya meski ia masih duduk di bangku playgroup di usia yang masih terbilang sangat kecil.


"Abang punya adik!!!" Bocah itu mengernyit cool, diliriknya perut umi Fara yang rata-rata saja.


"Kenapa umi ngga gendut, kata abi, waktu abang tanya umi mengandung abang dimana. Lalu abi jawabnya disini!" tunjuk telunjuk mungil itu pada perut Fara.


"Terus abang tanya lagi abi, abang lahir gimana caranya?" tanya nya begitu kritis ternyata gen-gen Albert Einstein nempel di otak Saga, padahal anak bukan, cucu bukan, kenal juga kagak.


"Kata abi lewat jalur lahir yang cuma dimiliki perempuan, emangnya jalur lahir tuh yang kaya gimana sih umi, jalur itu apa?" tanya nya lagi.


Tik--tok---tik--tok.


Fara berdecak, kan--kan! Jadinya ia harus memutar otak bagaimana menjelaskan bahwa bayi itu lahir lewat dewi-nya. "Bang Fath kenapa ngga bilang kalo bayi tuh lahir dilepeh aja sih!"


"Jadi gini bang, Dedek bayi tuh dikandungnya di perut ibu. Tapi nanti keluar lewat...." Fara pun bingung menjelaskannya, ia sampai garuk-garuk kepala dengan kuku-kuku pendeknya, pengennya sih garuk pake garpu rumput. Pertanyaan Saga membuatnya botak mendadak.


"Abang ngga akan paham sekarang nak, karena belum waktunya abang mengerti. Umi mau jelasinnya susah, nanti otak abang muter kaya gasing. Kepentok koslet deh! Maksud umi adik yang ini bukan umi yang mengandung, tapi apacut sama ma cut Eyi punya dedek bayi. Nah, dedeknya apacut itu adiknya abang Saga..." jelas Fara.


"Oh ya? Kapan abang bisa ketemu?" tanya nya mulai terlihat antusias.


"Adiknya perempuan atau lelaki?"


"Perempuan,"


Saga terlihat sedikit merengut mendengar jawaban Fara, padahal ia maunya adik lelaki, sudah cukup anak-anak perempuan dari rekan dan bawahan prajurit abinya di batalyon mengejarnya, menginginkan anak danyon ini jadi ayah dari boneka'nya. Jangan sampai nanti adiknya pun begitu!


Wajah mungilnya begitu teduh, tampan, nan kalem wajar saja anak perempuan banyak yang kepincut.


"Kirain lelaki umi, abang mau punya adik lelaki!" tiba-tiba saja bocah ini merajuk ingin adik, sontak saja Fara heboh menenangkannya, "aduh abang---minta yang lain aja, jangan minta adek dulu, umi lagi sibuk-sibuknya bangun sekolah di perbatasan sama resimen. Bisa gagal total kalo umi mabok sekarang!"


Kintan tertawa melihat atasannya ini selalu dipusingkan dengan Sagara, padahal anak itu tidaklah hyperaktif, malah putra mahkota Al Fath ini terkesan kalem namun begitu kritis.


"Abang Saga," colek Kintan.


"Om Marcel bikin kuda dari pelepah pisang, mau ikutan nggak?" untung saja Kintan datang menjadi malaikat penolong Fara.


"Nah tuh! Bener, daripada ributin adik. Mendingan ikut om Marcel! Nanti umi bilang abi, kalo abang kepingin adik ya---tapi ngga sekarang nak, nanti minggu depan kita ke Jakarta buat nengok dek Cut Daliya Clemira Ananta. Abang harus kenalin diri kalo abang Saga ini abangnya," pinta Fara, bocah yang sedang merajuk itu mengangguk patuh, benar-benar mirip abinya. Fara bersyukur tak pernah dipusingkan dengan tingkah ajaib Saga kecuali segepok pertanyaannya yang bikin ia harus kembali ke sekolah lagi. Sagara adalah anugrah terindah yang ia dapat.


"Yuk tante Kintan!" bocah itu menautkan jemari kecilnya di tangan sang ajudan.


"Yuk! Ijin membawa Sagara bu,"


"Iya, hati-hati. Jangan lupa jam 4 langsung pulang ya Ntan, soalnya kalo sampe bang Fath pulang, Saga belum di rumah suka marah, kloningnya ilang!" Fara terkekeh.


"Siap bu," Kintan ikut tertawa.


"Abang Saga, peluk sama sun dulu umi! Abang jangan kelamaan, nanti sore pulang, mandi, jangan sampai abi bilang abang bau acemmm---lanjut ngaji sama abi!"


"Iya umi,"


Fara menyunggingkan senyumannya melihat sosok kecil itu berjalan menjauh bersama Kintan, ia tumpahkan semua do'a yang ia panjatkan untuk Sagara.


Meski keduanya sibuk, tapi Saga tak pernah kehilangan kasih sayang. Segala kegiatan Sagara selalu terpantau kedua orangtuanya, Fara pun tak lepas membawa putranya itu kemanapun ia pergi, selama itu memungkinkan, begitupun dengan dunia ayahnya, itulah yang membuat Sagara banyak mengeksplore berbagai hal.


"Abi!" teriaknya menyerbu seorang gagah di depan kantor saat berjalan bersama ajudannya. Kintan bahkan sampai berlarian mengejar Saga.


Sepasang tangan kekar itu meraup sang anak dan menggendongnya, "abang kenapa disini?"


"Tadi habis main pelepah pisang sama om Marcel, terus mau pulang. Tapi liat abi, jadinya abang kesini!"


"Ya udah, kita pulang. Kasian umi nungguin jagoannya di rumah sendiri!" balas Al Fath tersenyum.


"Iya abi,"


"Jadwal sekarang hafalan surat apa?" tanya Al Fath.


"Al Quraisy!" serunya menjawab.


"Abi masih hutang kisah nabi Yusuf sama abang---" mata bening itu menatap penuh harap pada sang ayah.


Al Fath menyatukan keningnya dan kening Saga, dan menggosok pucuk rambut lembutnya, "oke jagoan! Setelah hafalan abi lanjut cerita," jawab Al Fath. Saga memang lebih interest bersama Al Fath, entah karena satu frekuensi atau memang karena abinya ini memanglah panutannya. Pokoknya ketimbang ibunya, ayahnya ini lebih serius jika menjelaskan. Maklum lah otak ibunya itu separo ditinggal di mushola ngga tau dapet nyicil di tukang kredit. Ditanya nabi Yusuf siapa aja, jawsbnya orang paling ganteng di dunia! Kan ambyar.


Hay guys! Cuma mau kasih info doang nih, bagi peminat 3 bersaudara Ananta, monggo mampir di kisah si bungsu Zahra



![](contribute/fiction/5695702/markdown/13905313/1672148372333.jpg)

__ADS_1



\*\*cover sewaktu-waktu bisa berubah, cek profilku dengan judul karya diatas



πŸ‚ Bab 1



Sebuah sumpah di hadapan Tuhan dan PPNI dengan disaksikan sekian ratus orang telah ia ikrarkan.



Pelukan sayang nan bangga keluarga mengelilingi Zahra, profesi yang ia ambil melengkapi sederet profesi mulia ketiga bersaudara Ananta.



πŸ‚ Beberapa waktu kemudian



STR sudah ia genggam, surat penempatan mengabdi pun sudah diterimanya.



"RSCM, great! Paling enggak masih di ibukota, jadi gue bisa mantau!" ujar Rayyan, setua apapun Zahra ia tetaplah gadis kecilnya keluarga Ananta, apalagi bagi kakak-kakaknya.



Satu layar pipih itu terbagi 4 kolom, Markormar, Batalyon timur, Sabang, dan rumah diiringi lattar berbeda saling bersahutan.



"Kamu masih bertugas di ibukota dalam jangka waktu lama Ray?" tanya Fara.



"Masih kak, gue baru balik dari luar kemaren," wajahnya sedikit kusut dan menguap beberapa kali, mungkin Rayyan baru saja tertidur beberapa jam saja selepas pulang dinas dari luar negri, tapi ada yang membuat perhatian seluruh anggota keluarganya tertawa tergelak.




"Lo ubah style rambut bang?" tanya Zahra tergelak. Bagaimana tidak, perwira dengan badan atletis dan tegap itu memakai bandana kelinci berwarna pink, belum lagi jepitan love dan candy yang entah macam apa menempel cantik di atas rambut kiri Rayyan dan parahnya ia pasrah saja sedang di dandani gadis kecil berusia hampir 3 tahun itu.



"Sejak kapan playboy ubah haluan. Kalo siang Rayyan kalo malem jadi Rayyana!" puas sekali mereka mencibir dan mengejek perwira 2 anak ini.



"Cimoy liat ma cut! Cimoy ma cut punya coklat loh! Kalo cimoy mau tinggal sama ma cut, tiap hari ma cut kasih coklat!" seru Zahra pada gadis yang asik mendandani ayahnya itu, saking gemasnya Zahra selalu ingin menculik anak gadis abangnya itu, wajah Cut Daliya Clemira Ananta itu begitu cantik, menggemaskan, dan lucu perpaduan Rayyan dan si cantik Eyi, model tanah air rasa Paris.



"Jangan mau nak! Coklatnya ada racunnya!" timpal Rayyan.



"Engga ih!" seru Zahra manyun.



"Abi---abi liatnya sini belum dipakein eye shadow! Abi mulutnya gini!" ia melipat dan mengecup-ngecup bibirnya sendiri demi memperagakan tutorial meratakan lipstick yang benar pada Rayyan.



Fara bahkan sudah berlinang air mata, "ha-ha-ha, Fara udah pipis! Ya Allah, kapan sih kalian ke timur?!!"



"Abang cimoy belum dikasih minum abis makan, tolongin dulu ih! Eyi lagi cebokin dulu Panji---" teriak Eirene.



"Minum dulu nak, cimoyyy! Nanti cegukan," sahut umi menimpali, melihat cucu perempuannya yang begitu menggemaskan dengan rambut hitam seperti Rayyan yang diikat 2 samping kiri dan kanan namun bergelombang di bagian bawahnya itu berasa pengen langsung terbang ke Jakarta dan ngekepin cucu, bocah ini tengah centil-centilnya, menjadikan ibunya yang notabenenya mantan model sebagai suri tauladan.


__ADS_1


"Panji udah sembuhkah diare-nya, Ray?" tanya umi.



"Kasih oralit bang, kalo ngga cairan isotonik buat gantiin cairan tubuh, biar ngga dehidrasi!" sahut Zahra.



"Udah mi, dek Ra. Abang Saga sudah mau masuk SD kan kak? Mana dia?" tanya Rayyan.



"Udah--udah, lagi belajar ngaji sama abang Fath tuh!" Fara mengedarkan layar ponselnya pada si ganteng kalem bersongkok hitam dengan bordel emasnya. Saga merupakan jiplakan abi dan abba-nya begitu teduh nan menyejukkan sesejuk air, seperti namanya Sagara.



Terdengar lantunan surat pendek dari mulut mungil dan suara syahdu khas anak kecilnya di telinga orang-orang.



"Abang Caga, lagi ngaji ya umi Fala? Itu sulat At-tin kan?!" tanya cimoy.



"Iya sayang,"



Melihat interaksi lucu keluarganya, Zahra merasa semua sudah lengkap untuknya, tapi bagaimana dengan nasib kisah cintanya? She doesn't care!



Tapi beberapa bulan setelah panggilan terakhir mereka, tiba-tiba saja umi dan abi memanggilnya ke rumah di ibukota, Yap! Semenjak bekerja, Zahra memilih nge-kost di kawasan dekat dengan rumah sakit.



"Apa?!!!! Dijodohin?!!"


Al Fath yang baru sampai karena panggilan darurat umi dan abi sempat syok mendengar perjodohan Zahra, gadis itu bukan lagi. Sementara Rayyan? Ia anteng saja nyemil kacang salut gula di ruang depan. Sejenak suara kunyahan Rayyan menjadi suara satu-satunya yang terdengar disana.


"Emang umi udah dapet calon?" tanya Ray.


"Ada, temen tk nya Zahra dulu!" jawab umi Salwa.


"Enggak--enggak! Umi, abi--ini tuh udah ngga jaman lagi jodoh-jodohan dikirain anaknya ini segitu ngga lakunya!"


Baik Rayyan maupun Al Fath sudah mengusulkan beberapa kandidat calon untuk Zahra dan tentunya setelah melewati beberapa poin kualifikasi tersendiri standar mereka, tapi Zahra menolak, ia tak mau memiliki pasangan abdi negara yang harus siap di nomor dua kan. Padahal ia sendiri pun nakes yang sudah bersumpah. Pun sudah pasti menomor dua kan pasangan juga keluarga.


"Pokoknya Zahra ngga mau!" gadis itu menghentakkan kaki dan bersidekap dada.


"Bukan dijodohin, tapi ta'aruf. Dicoba dekat dulu. Kalau memang nggak sreg ya udah kita batalkan, umi cuma mau yang terbaik buat anak-anak umi,"


"Padahal calon pilihan gue tuh bekas taruna gue dulu, sekarang udah pangkat kapten, cakep pula. Dia mirip bang Fath lah, ubin mushola!" ujar Rayyan tanpa disaring, yang sontak dihadiahi tatapan killer abangnya.


"Sorry bang, maksud gue cocok buat jadi pendingin dek Ra yang heboh!" ralatnya membenarkan kosa kata yang memang sebagian besar menusuk empedu. Kalau bisa jangan sampai seperti dirinya dan Eirene, sama-sama sengklek dan heboh akhirnya boom, kemana-mana dunia selalu diguncang gempa. Cukup mereka saja pasangan yang bisa membuat para penghuni langit lempar batako ke bawah bumi saking berisiknya.


"Begini saja umi, abi---dicoba saja namun tidak memaksakan. Kalau dek Ra tak mau ya sudah kita batalkan tanpa menjanjikan hubungan ke jenjang berikutnya terlebih dahulu pada keluarga calon?" usul Al Fath, diangguki Rayyan, "gue mah iya aja lah!"


"Zahra, abi ini sudah tidak muda lagi. Merupakan tanggung jawab abi menitipkan kamu pada orang yang tepat, demi membimbing kamu ke jannahnya Allah, pergaulan jaman sekarang bikin abi sama umi ngelus dada. Umurmu juga sudah cukup matang untuk menikah, kalau memang kamu nantinya tidak cocok dengan pilihan umi dan abi, juga abang-abangmu, maka silahkan kamu pilih sendiri dengan membawanya pada kami," jelas abi Zaky.


Zahra menghirup nafas dalam-dalam, ia sendiri bingung di usianya yang sudah bukan usia remaja lagi belum juga memiliki kekasih, ditambah...sepertinya syarat lulus kualifikasi dari keluarganya pasti akan sulit, bukan tidak mungkin nanti calon yang ia pilih akan gugur sebelum menginjakkan kakinya di rumah, apalagi melihat kedua abangnya, belum apa-apa sudah pi pis duluan di celana.


Zahra tau maksud keluarganya itu baik, intinya---umi sama abi kepengen cepet-cepet nikahin Zahra, biar ada yang jagain apalagi kalau dinas malam atau mengharuskannya keluar di malam hari, fisik yang sudah tak muda lagi membuat Salwa dan Zaky tak bisa untuk selalu memantau si bungsu ini, mengingat perjalanan dari rumah yang jauh.


Tak ada penolakan sampai kabur, ataupun mewek sampe bentak-bentak orangtua. Umur yang sudah lewat dari usia remaja, membuat Zahra memiliki pemikiran yang dewasa.


"Oke, Zahra coba." umi tersenyum lebar.


"Tapiii! Kalau Zahra ngga cocok, Zahra ngga mau lanjut!"


"Oke!"


.


.


.


.

__ADS_1


See you thereπŸ‘‹


__ADS_2