Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
AYOK BUAT LUBANG!


__ADS_3

Beberapa tubuh terbujur kaku dikumpulkan sejajar, dibariskan layaknya ikan yang sedang dipindang, termasuk Denawa. Diantara langit yang masih gelap, dan cahaya api unggun yang dibuat anggota pasukan demi bisa menghangatkan badan, dapat Fara lihat wajah-wajah pucat tak bernyawa yang kemudian dimasukkan ke dalam kantong-kantong jenazah.


Wajah itu, Fara mengingat setiap ujaran kebenciannya bernada celoteh rakyat.


"Kami hanya ingin hidup layak, disamaratakan seperti warga tanah lain. Katanya negri makmur, kaya raya, tapi lihatlah kami...." katanya sambil mendorong Fara, untung saja posisi jatuhnya tak sampai membahayakan perut atau area bo konk, karena respon tanggap kedua ajudan Fara, meski ujung-ujungnya mereka menerima perlakuan tak mengenakkan dari kelompok Denawa.


Ia menunduk lemas, "jangan dilihat lagi dek," Al Fath memasangkan baju loreng miliknya ke badan Fara, Al Fath tak rela jika kulit Fara tersentuh udara malam hutan, didekapnya tubuh Fara yang kini terbungkus baju loreng kebesaran hingga bersandar di dada, sementara Al Fath sendiri hanya dengan kaus putih bersih dilapisi rompi anti peluru.


"Pada dasarnya semua manusia ingin hidup layak bang, hanya saja cara tempuh mereka yang menjadikan mereka, baik dan buruk."


"Apa yang ia katakan?" tanya Al Fath, pembawaan yang serius namun sorot mata yang hangat bersinarkan cahaya kemerahan api unggun.


"Ngga ada bang, cuma pengen hidup mereka layak aja." Fara menghembuskan nafas lelah, karena ia memang benar-benar lelah, ia semakin memposisikan kepalanya supaya mendapat posisi dan sentuhan paling nyaman.


"Fara ngantuk bang, seharian lebih Fara terjaga cuma karena takut disentuh mereka."


Al Fath tak membiarkan tubuh itu berlarut-larut terjaga, ia memberikan seluruh akses dada bidangnya untuk Fara memeluknya dari angin malam agar istri dan anak yang ada dalam kandungan Fara merasa hangat.


Al Fath tersenyum, "kalo gitu adek tidur."


"Ini jomblo-jomblo ngga akan pada ngiri kan bang?" Al Fath terkekeh.


"Ngga tau. Coba tanya mereka," tunjuknya dengan dagu pada kawan-kawan unitnya beserta prajurit lain. Karena sejatinya mereka semua jomblo disini, terkecuali Fara dan Al Fath.


"Kencan kita antimainstream ya bang, di hutan! Waktu lagi perang pula, daebakkk!" ucapnya bangga.


"Katanya ngantuk, tapi kok ngoceh terus?"


"Iya---"


Setiap detiknya bertambah, membuat rasa kantuk itu semakin mendominasi Fara, hingga ia terlelap di dekapan Al Fath.


Ia tak bisa memejamkan mata, meski badannya sudah ia sandarkan di batang pohon besar. Ketakutan terbesarnya adalah Fara, ia tak mau jika Fara sampai kenapa-napa. Apalagi jika umi dan 'nyak sampai tau Fara disandera lalu disakiti. Mungkin besok deal, pesawat jet pribadi milik keluarga Kardashian di sewanya lalu Blang Padang dijadikan lahan parkir pribadi, tanah timur akan diamuknya seperti monster listrik dalam film ultramen.


"Fara tak apa-apa Fath?" tanya Bang Yo yang baru saja bergabung selesai berpatroli.


"Alhamdulillah, hanya luka sedikit saja," jawabnya.


Marcel yang tak bisa terpejam memilih ikut nimbrung, "mohon ijin bicara ndan, maaf saya dan Kintan belum bisa sepenuhnya menjaga ibu," sesalnya mencoba duduk dan mencari posisi nyaman.


"Kemarin saya mengantar ibu ke batalyon, beliau tak enak hati jika terus mangkir dari tugas. Tapi di jalan ternyata sudah kacau balau. Kelompok separatis turun ke pusat kota." Lapornya saat itu juga.


"Kamu sudah menjaga istri saya dengan baik Cel, terimakasih jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kamu istirahat saja, setiba di batalyon nanti minta surat rujukan untuk rontgen," Marcel menganggukan kepala paham. Melihat Fara tertidur lelap, Al Fath merebahkannya untuk tidur dialasi jas hujan hijau berbantalkan tas punggung miliknya, pria itu lantas melangkah menghampiri para perwira yang tengah berbincang agak sedikit jauh dari lokasi Fara.


"Lapor, kerusakan helikopter ada di tangki bahan bakar dan baling-baling ndan. Mungkin akibat serangan dari pesawat lain kemarin."


"Jadi?"


"Jadi tidak memungkinkan untuk digunakan," lapornya memeriksa keadaan helikopter yang diambil kelompok Denawa.


"Itu artinya kita harus menunggu bantuan datang untuk mengangkut beberapa personel yang cedera dan kantong-kantong jenazah?"


"Betul ndan,"


"Tidak mungkin juga pesawat dengan kapasitas besar seperti jenis hercules bisa mendarat disini mengingat tak ada tempat untuk mendarat yang cocok."


"Bagaimana Fath?" tanya Yosef.


"Kalau begitu prioritaskan saja bagi yang urgent, para sandera, personil dengan kondisi yang tidak memungkinkan melewati medan, dan kantong-kantong jenazah."

__ADS_1


Fara menggeliat, tangannya bergerak. Ia terkejut saat sapuan kulit halusnya menyentuh dedaunan kering dan batang pohon. Kenapa ia bisa sampai lupa jika saat ini sedang berada di hutan, Al Fath tak lagi memeluk tubuhnya, rupanya lelaki itu sudah meninggalkan Fara entah kemana sementara ia ditinggalkan dengan tas ransel miliknya bersama para prajurit lain yang tengah beristirahat.


Fara terbangun menatap langit yang mulai terang. Seumur-umur ia merasakan camping baru kali ini tanpa tenda dan nyanyian khas api unggun, malah berteman senjata juga mayat.


"Sudah bangun?" Lelaki itu....Fara mencebik, kenapa harus sekeren ini, jadinya kan pengen minta digendong.


"Bang, Fara mau pulang sekarang." Ia memang suka film tarzan tapi tidak berniat mencuri perannya di film.


"Iya, adek duluan dengan Kintan dan Marcel, juga bang Regan." Fara mengerutkan dahinya, "kok duluan--terus abang?"


"Abang berjalan sampai titik penjemputan berikutnya nanti, tidak semua bisa diangkut dengan helikopter, dek."


"Ngga mau, Fara mau pulang bareng abang!"


"Adek diprioritaskan, abang berjalan bersama prajurit lain." Kembali tambahnya. Fara menatap nanar dan gusar pada Al Fath, tapi kemudian matanya teralihkan pada lengan Al Fath, "Hhwaaa!!! Abang itu apa!" tunjuknya panik, Al Fath melirik arah telunjuk Fara.


"Pacet, mungkin tadi abang menembus ke semak belukar pepohonan disitu," Al Fath segera mengambil ranting pohon dan menyalakannya di sisa-sisa api unggun.


"Bang, ketempelan Pacet dimana?" tanya Dilar yang memang berada dekat api unggun.


"Di dekat pohon itu,"


"Ihhhh!" Fara bergidik geli.


"Lepas aja langsung siiih bang!" serunya ikut melihat hewan itu menempel di lengan Al Fath, lama-lama membesar karena menghisap darah.


"Ya ngga bisa dong dek,"


"Ngga bisa langsung di copot bu, pake api kalo ngga air garem, bisa juga pake air tembakau!" ujar Dilar, ia merogoh saku dan mengambil batang tembakau miliknya melarutkan itu ke dalam air.


"Abang buruan ih, itu malah makin gede!!! Ya Allah tolong suami hamba, nanti kalo abang kurus gimana?!" serunya malah panik bukannya membantu.


"Ha-ha-ha, ya ngga gitu juga bu Far konsepnya," Dilar menggelengkan kepala.


"Nih, kalo susah pake ini aja bang," Dilar menyodorkan air rendaman tembakau dari tutup termos kecilnya.


Al Fath menyambarnya dan menyiramkan air itu ke hewan yang sedang asik menempel dan menghisap da rahnya, lama kelamaan hewan itu menggeliat dan mau melepaskan his sapannya di lengan Al Fath hingga meninggalkan bekas.


"Nanti pasti gatal-gatal bang, baiknya minum obat dulu bang. Takut terjadi apa-apa nanti diperjalanan."



Lokasi ini tak jauh dari sungai, sehingga memudahkan mereka untuk beraktivitas. Sementara menunggu sampai helikopter dikirimkan untuk menjemput para personil.



"Abang, Fara pingin boker.." bisiknya.



Al Fath celingukan, kenapa disituasi begini istrinya itu begitu banyak keinginan.



"Abang antar ke sungai?!" Fara melotot, "IH OGAHH!"



"Kalo gitu kita cari rumah yang ada toiletnya?!" dan yang itu lebih mustahil lagi, karena rumah-rumah kayu yang dibangun sementara ini tak memiliki sarana mc\_k.

__ADS_1



"Ngga ada!" gerutu Fara kesal, begini nih susahnya camping di alam liar.



"Abis itu mau dimana? Abang bikinin lubang? Abang jagain!" ia kembali bergidik, "ngga ada pilihan lain yang lebih safety gitu?!"



"Adek pikir ini hotel?"



Pagi-pagi mereka sudah diributkan dengan masalah perut hanya beda inti masalahnya.



"Buru bang!!! Fara ngga kuat," ia memegang perutnya, Fara kini mengutuk dirinya sendiri karena makan terlalu banyak.



"Ya udah ayok abang anter!"



"Ahh lega!" Gentra baru saja kembali sambil mengusap perutnya.



"Tra, sungai banyak orang?"



"Ngga ada bang, masih sepi!" ia terkekeh sambil menaik turunkan alis, membuat Fara bergidik.



"Yuk!" ajak Al Fath di tangan Fara.



"Ngga mau! Bekas om Gentra? Ihhh---" cebiknya bergidik.



"Ya udah, abang buat lubang kalo gitu!"



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2