Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
KETAKUTAN SEORANG IBU


__ADS_3

"Buuuuu!" teriak salah seorang pemuda.


"Om Mardian?!"


"Apa kabar bu--ndan, astaga mama'e! Kehamilan ibu sudah besar rupanya. Selamat bu, ndan!" sahutnya senang, bisa kembali bertemu dengan kedua mantan atasannya ini terutama Fara.


"Baik Mar, terimakasih."


"Baik om, om Dian gimana kabarnya. Udah dapet pacar?!"


"Ya elah, bu---nanya Mardian, nih liat! Yang keren aja masih jomblo!" ujar Gentra dan Dilar yang masih berada dalam radar Fara.


"Itu mah derita loe! Rejeki orang mah gimana amal-amalan," sarkas Fara, mereka malah tertawa.


"Hayuk lah, di rumah bu Fan udah disiapin makan-makan, Ra!" ajak teh Gina dan yang lain.


"Asik!!! Makan-makan oyy!" seru Dilar.


"Huwaaakkkk! Fara rinduuuu!" serunya dirangkul teh Gina, dan mereka berjalan menuju rumah kapten Regan.


"Sama, teteh juga rindu!" balas teh Gina.


"Rindu nasi Padang, soto betawi sama kue keringnya bu Fani!" jawab Fara.


Teh Gina mendorong pelan kepala Fara, sementara Fani, Nasya dan Susi tertawa, "opo koe, Far--Far!"


Al Fath dan Fara menghabiskan waktu sampai malam di rumah bu Fani dan kapten Regan, namun mereka pulang ke rumah umi Salwa di ibukota. Sejak memegang kasus tanah Harris, Salwa dan Zaky baru 2 kali saja pulang ke Aceh, untuk selebihnya mereka disini mengawal kasus itu sampai tuntas.


Jika seperti ini kehidupan mereka begitu normal. Al Fath yang mengendarai mobil, namun bukan mobil perang, meskipun masih berplat merah.


Jalanan merujuk pada sebuah gerbang kompleks, dimana rumah-rumah berdiri kokoh nampak mewah dan besar-besar. Dua orang satpam berjaga di depan gerbang, bahkan pos satpam saja dilengkapi cctv menunjukkan jika perumahan ini adalah perumahan elit.


Sampai sekarang Fara terkadang masih belum percaya jika ia menikahi seorang anak konglomerat, padahal selama hidup ia jarang bersedekah paling-paling zakat fitrah yang tak pernah sampai terlewat setiap tahunnya.


"Umi pasti udah nunggu dari tadi, untung abang ngga bilang dari timur jam berapa."


"Iya, kalo bilang pasti udah cerewet dari tadi," balas Fara.


"Kamu udah cape dek?" Al Fath melihat wajah kantuk di muka Fara, ia mengusap kepala Fara dalam satu genggaman tangan.


"Iya," jawab Fara mengelus-elus perutnya.


Dapat Fara lihat jika mobil semakin masuk ke dalam blok yang isinya rumah-rumah dengan cctv. Laju mobil melambat dan terhenti di satu rumah cukup besar dengan pintu gerbang tertutup rapat berwarna coklat tua.


Tittt! Tiitt!


Al Fath dan Fara harus menunggu beberapa saat, entah mereka yang belum mendengar atau memang ini sudah malam. Al Fath merogoh ponselnya mencoba menghubungi orang rumah, disaat bersamaan Fara yang sudah tak kuat menahan kantuknya.


Gerbang rumah terbuka, menampakkan sesosok gadis dengan rambut panjang dan baju rumahan.


"Bang! Mana oleh-oleh buat Zahra. Zahra pengen baju yang dipake sama kak Fara ih, lucu!" ia meraih tangan kakanya lalu salim takzim.


"Ngapain abang bawa baju begituan kesini, lagian kenapa jam segini kamu belum tidur?" tanya Al Fath pada adiknya, mengingat ini sudah lewat dari jam tidur Zahra.


"Masih ngerjain tugas kampus, makin sibuk---makin padet!" jawabnya.


"Kak Fara mana?" tanya Zahra celingukan hanya melihat Al Fath keluar.

__ADS_1


"Tidur," abangnya ini memutari mobil dan membuka pintu mobil bagian Fara, "dek Zahra, tolong tutupin pintunya, sama kunci pintu gerbang!" pinta Al Fath membuka seatbelt dan menggendong Fara, kini istrinya itu lumayan berat tak seringan dulu, otot-otot tangannya sampai menonjol mengangkat Fara.


"Iya. Hm, kasian kak Fara sampe ketiduran gitu!"


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," sontak Zaky dan Salwa yang masih berada di ruang tengah dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing terkejut dengan kedatangan Al Fath.


"Kok ngga bilang umi, udah nyampe ibukota?!" manyunnya.


"Mi, Fara tidur. Nanti aja nanyanya!"


"Eh, oh iya sebentar. Umi buka dulu pintu kamar," Salwa membantu Al Fath membuka pintu kamar, kamar yang biasa ditiduri Al Fath dan Rayyan jika sedang berkunjung kesini, kamar yang menjadi saksi bisu pertumbuhan Salwa kecil hingga remaja.


"Dari timur jam berapa, naik pesawat apa?" bisiknya di ambang pintu kamar, masih saja bertanya.


"Sebenernya sudah dari pagi waktu setempat naik pesawat militer, tapi ke Makko dulu," jawab Al Fath menyelimuti Fara lalu menyusul uminya keluar kamar dan berjalan menuju ruang tengah dimana Zaky sudah menyimpan laptop miliknya, bergantian dengan Zahra yang kini berkutat dengan alat modern itu sambil nyemil.


"Bi," Al Fath salim takzim pada Zaky.


"Sehat kamu bang, gimana di timur sekarang, aman?"


"Alhamdulillah aman, bi."


"Bang, bang Rayyan mau merit, beneran?! Si playboy ada hubungin abang?!" tembak Zahra. Al Fath mencapit pangkal hidungnya.


"Apa Rayyan sudah menghubungi umi dan abi?" tanya Fath.


"Umi ngga mau!" penolakan keras diberikan uminya sambil bersidekap.


"Kalian kan tau, umi paling ngga suka sama publik figur!" tebas Umi dengan mata yang tajam.


"Mi, jangan gitu. Jodoh, maut, rejeki kan di tangan Allah," bujuk Al Fath, jika sudah begini akan susah membujuk Salwa. Al Fath dan Zaky harus berusaha keras meluluhkan hati salah satu perempuan mulia di rumah mereka.


"Dek, gimana kalo memang jodoh Ray adalah seorang publik figur? Itu artinya kamu menentang kuasa Allah? Mempersulit jalan jodoh anakmu sendiri?" Salwa masih bersikukuh, wajahnya tak menunjukkan tanda-tanda akan meluluh.


"Mi, selama ini kita tau Rayyan begitu. Tapi umi tau anak-anak umi melebihi siapapun. Rayyan tak akan sampai berani berbuat hal buruk. Jika tak serius, ia pun tak akan sampai meminta-minta begini."


Memang betul, senakal-nakalnya Rayyan ia tak akan sampai berani berbuat sesuatu yang buruk, apalagi menjatuhkan abi dan uminya ke dalam api neraka. Baru kali ini ia bersikeras meminta menikahi Erirene 'Lovely', padahal selama ini Rayyan tak pernah serius dalam berhubungan apalagi sampai meminta restu menikah.


"Gini deh, umi minta ketemu sama orangnya---umi nilai bagaimana Eirene, kasih beberapa hari umi satu rumah dengan Eirene biar bisa tau Eirene pantas atau tidak jadi mantu umi."


"Umi mau dia berenti jadi publik figur! Kalo memang dia serius juga sama Rayyan!" tukas umi.


"Ya pasti berenti lah mi, masa iya jadi istri prajurit dia sibuk sendiri berkarir," timpal Zahra.


"Umi ngga ngerti deh! Apa sih yang bikin Rayyan ngebet sama dia?! Cantik, model?!" dengusnya mencecar.


"Dek, mungkin hanya dengan Eirene, hati Rayyan tergerak untuk serius--" karena jujur, dalam lubuk hati Salwa yang paling dalam, ia belum bisa melepas Rayyan apalagi dengan seorang perempuan publik figur yang terkadang ia tau sifatnya seperti apa. Ada ketakutan dan rasa sayang tertentu yang gak bisa Salwa ungkapkan, karena hanya seorang ibu saja yang akan mengerti perasaan itu.


"Dia itu publik figur dengan pendapatan besar, kenapa mau-maunya sama prajurit macam Rayyan yang gajinya aja ngga sebanding sama pengeluaran dia, jadi buat apa dia mau sama Rayyan?!" umi masih mencoba mencari suara.


Tiba-tiba terdengar isakan dari Salwa, "umi cuma takut pernikahan mereka gagal. Umi cuma takut Rayyan tuh malah ngga keurus sama istrinya, umi takut Rayyan belum siap menjadi seorang imam, umi tuh takut perempuannya ngga bisa terima kondisi, pekerjaan anak umi umi---" Zaky meraih istrinya ke dalam dekapan.


"Abang tau apa yang adek takutkan, lepaskan semuanya. Ingat, anakmu butuh kebahagiaan, insyaallah kita bimbing mereka, dampingi Rayyan dan Eirene seperti kamu mendampingi Al Fath dan Fara saat ini, ketakutanmu sama saat Al Fath akan menikah dengan Fara," Salwa terisak semakin dalam.


"Tapi yang ini beda bang Za," ucap Salwa diantara isakan dan dekapan Zaky.

__ADS_1


"Kalo udah gini Zahra suka sedih, umi tuh heboh bang, absurd, kadang galak dan nyebelin. Tapi umi tuh--- sampai segitunya sama kita," gumam Zahra memeluk lengan sang kakak, ia hampir tercekat dengan ucapannya sendiri.


Al Fath tersenyum, bila perlu setiap hari ia akan membasuh kaki sang ibu dan menciuminya, "makanya belajar yang bener! Jadilah kebanggan keluarga, jangan suka ngelawan sama umi sama abi," ucap Al Fath mengusap kepala Zahra sayang.




Fara terbangun dari tidurnya, ia mandi, melakukan kewajibannya sebagai hamba, lalu turun ke lantai bawah.



"Assalamualaikum umi,"



"Waalaikumsalam, eh--sini, sini nak! Umi sudah memasak sesuatu," perempuan berjilbab instan itu mengajak Fara bergabung ke meja makan. Ia ditemani asisten rumah tangga sudah memasak sejak subuh.



"Ya Allah, Fara telat bangun ya umi? Umi udah masak banyak gini?"



"Engga juga, umi baru mulai. Ini cuma ngangetin yang kemarin."



Dapat Fara lihat begitu banyak menu tersaji, yang keseluruhan adalah makanan khas Aceh, ada mie Aceh, ayam tangkap, kuah pliek, Asam keueng, kuah sie Iteuk, Ruti Cane, martabak Aceh.



"Al Fath paling suka Kuah Pliek," lanjut umi.



"Jadi ngiler, Fara coba semua ya umi!" serunya antusias.



"Boleh--boleh!"



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2