
Ternyata panik memang mematikan gaya, buktinya sekarang Al Fath dan Regan malah refleks berlari mengejar mobil yang Fara kendarai. Bukan--bukan hanya kedua perwira itu, melainkan beberapa prajurit yang ada disana ikut berlari mengejar bermaksud membantu menghentikan laju kendaraan taktis perang berlapis baja itu.
"Ibu!!! Injak pedal rem!" teriak mereka berlari, seperti meneriaki maling. Pagi-pagi batalyon sudah heboh oleh kelakuan kacroet (kacau) ibu danyon.
"Dek! Pedal rem yang tengah!!!" teriak Al Fath sambil berlari.
"Yang mana sih?! Ahhh bo do amat lah, gua injak semua!" gumamnya, mobil melaju lumayan cepat karena jalanan semakin turun menuju asrama para prajurit, belum lagi dengan bobot mobil saja hampir mencapai 8 ton dan mesin diesel besutan Renault bertenaga 220 tenaga kuda membuatnya semakin melaju cepat. Fara menginjak dari mulai pedal yang kanan, "eh!"
"Itu gas Faranisaaa! Allahuakbarrr!" teriak Al Fath melihat mobil malah menggerungkan mesinnya. Regan menghentikkan langkahnya, sementara bang Yo malah tertawa. Kejadian kamvrett ini menutup hari tugasnya di timur dengan suka cita.
Begitu banyak tuas dan tombol disini. Wajar saja ini kendaraan untuk berperang, buatan perusahaan dalam negri yang dilengkapi dengan alat komunikasi VHF dan HF, Intercom, GPS, Thermal Vision, dan tombol rudal mistral yang jika di aktifkan akan menembakan rudal dari bagian belakang kendaraan.
Fara kemudian menginjak pedal tengah dengan kuat seraya kedua tangannya memegang stir demi menstabilkan arah.
Mobil terhenti seketika, membuat sentakan di dalamnya sampai-sampai Fara saja terantuk ke depan. Dengan badan yang sudah gemetaran ia menancapkan kakinya begitu kuat di pedal rem, patah-patah deh tuh pedal! Diinjek pake tenaga sumo.
Al Fath mengencangkan laju larinya, ia sangat bersyukur mobil itu telah berhenti beberapa meter sebelum menabrak dinding asrama.
"Buka pintunya! Allahuuu!" sentak Al Fath dari samping.
"Tunggu dulu, ini Fara gemeteran!" ujarnya sedikit bergetar, ia mencari tombol membuka kaca jendela mobil.
"Tarik tuas rem tangannya, yang itu!" tunjuk Al Fath.
"Takut mobilnya maju lagi," rengek Fara.
"Engga. Tarik dulu!" Fara melepaskan satu tangannya di stir mobil, dan mencoba menarik tuas yang dimaksud Al Fath.
"Susah abang, ini keras!" ia hampir menangis dibuatnya.
"Tarik dek, yang kuat!" Al Fath memasukkan tangannya untuk membuka pintu mobil, lalu ia masukkan setengah badannya melewati Fara demi menarik tuas rem tangan.
"Kamu geser duduknya,"
"Ngga mau, nanti kalo di lepas kakinya, mobilnya langsung gelinding ke bawah, nabrak tembok?!" balas Fara kekeh.
"Sedikit-sedikit, langsung abang injak," Al Fath ikut masuk ke jok pengemudi, menggeser sedikit demi sedikit tubuh Fara meski hanya ada sedikit sekali celah kursi, kakinya ia pijak disamping kaki Fara yang ikut bergeser pelan-pelan.
"Lepas, abang udah injek remnya," pinta Al Fath, memiliki istri magic macam Fara, tak bisa ditinggal sendiri di dekat barang-barang berbahaya.
Setelah Al Fath menguasai pedal rem sepenuhnya, Fara dibantu Al Fath mulai berpindah posisi duduk ke samping kursi pengemudi.
"Kamu ini, dek! Ngga bisa ditinggal sendiri. Ga kebayang kalo abang ninggalin kamu di gudang bom nuklir, habis satu negara kamu ledakkan!" Al Fath mulai mengambil alih kendali mobil itu, mobil yang mampu bermanuver baik di medan terjal, sudut kemiringan 60 derajat dan jalanan berlumpur sesuai namanya komodo.
Bukannya merasa bersalah, Fara malah cengengesan menyadari aksi bandelnya. "Abang lari-lari tadi?" ia tertawa semakin kencang, dosakah ia menertawakan suaminya sendiri atas ulahnya. Jadi si ganteng kalem ini harus berolahraga sampai berkeringat pagi-pagi gara-gara dirinya.
Mobil itu sudah kembali ke tempatnya semula, bang Yosef tak hentinya tertawa, "alamak Tuhan! Ngga bisa berkata-kata lah aku, tertawa sampai terkencing di celana!"
"Kamu ngerjain satu batalyon Ra!" Regan masih duduk menuntaskan rasa lelahnya ikut mengejar Fara.
"Pagi-pagi para prajurit sudah kamu suruh berlari. Tak tanggung-tanggung, dengan komandan batalyonnya pun kamu suruh lari!" kekeh Regan.
"Biar sehat om! Biar perutnya tetep sixpeck!" jawabnya santai.
__ADS_1
Al Fath menggelengkan kepala tak habis pikir dengan kelakuan istrinya, besok-besok Fara harus ia rantai di kamar agar tak berulah lagi.
Fara dan Al Fath melepas kepulangan para tim San dha. Masa bertugas mereka sudah habis disini.
"Yahhh, semoga bisa cepet ketemu lagi bu!" Gentra dan Dilar si duo racun ini begitu menyenangi Fara yang tak segan akrab pada keduanya, mereka sudah seperti memiliki kakak perempuan yang satu frekuensi saat bersama Fara, padahal usia mereka lebih tua dibanding Fara.
"Salam buat bu Fani, Kirani sama Zidan, om Re!"
"Iya. Akan saya ceritakan tingkah kamu itu yang sering bikin geleng-geleng kepala sama sobatmu itu!" kekeh Regan.
"Wah, nanti bu Fani pingin nyusul kesini dong?!" balas Fara.
"Hati-hati di jalan, salam untuk semua di ibukota!" ucap Al Fath.
Perpisahan memang tak ubahnya sebuah kebiasaan yang terulang setiap waktunya untuk mereka.
"Semoga sukses disini,"
Sosok mereka hilang bersama kendaraan yang membawa para perwira itu.
Kehidupan kembali normal setelah itu, dengan Fara yang semakin hari semakin terbatas ruang geraknya.
Nyut---!
Ia meringis dan menegakkan sikap duduknya terkadang ia bisa berdiri selama kumpulan dikarenakan gerakan aktif sang janin, kalau sudah begitu ia hanya bisa mengusap-usap bentukan perut yang jadi seperti jelly bergoyang.
"Sudah bulan ke 6 ya bu?" tanya salah satu istri danki saat mereka berjalan bersama keluar ruangan kumpulan.
"26 minggu tepatnya," jawab Fara.
"Wah, lagi aktif-aktifnya itu," sambar istri lainnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah," jawab Fara tersenyum meringis menahan ingin ke kamar mandi.
"Mohon ijin bu, jadwal pertandingan yang akan diselenggarakan untuk menyambut dirgahayu saya tempel sekarang ya bu?!"
Bukan Fara yang mengangguk setuju, namun Kintan dan istri wadanyon. Tau akan kepayahan Fara sekarang, mereka tau posisi tidak semua keputusan harus selalu langsung dari mulut Fara.
"Bu, untuk urusan batalyon tidak usah ibu khawatirkan, ada kami---"
"Makasih, iya bu. Akhir-akhir ini udah ngga enak diem, abang juga udah nyuruh jangan terlalu sibuk!"
"Kami mengerti bu, ibu baiknya pikirkan saja kondisi dan persiapan persalinan," balas istri wadanyon dan sekertaris kumpulan.
Fara dan Kintan berjalan berbeda arah, berpamitan pada istri prajurit lainnya.
"Ntan, tolong kabari ibu resimen. Sepertinya mulai sekarang saya ngga bisa ke distrik buat kasih pelatihan dulu. Mau ambil cuti hamil deh," pinta Fara.
"Siap bu, ibu resimen juga pasti mengerti. Ibu danyon lain bisa membantu menggantikan dengan pelatihan keahlian lain. Lagipula para pemuda disana sudah mahir mengoperasikan windows," Fara mengangguk. Yup! Setelah program itu Fara canangkan, tak tunggu lama mereka langsung bergerak memberikan pelatihan untuk mengembangkan distrik.
Al Fath terlihat menyusul Fara yang akan pulang, ternyata jam pulangnya hampir berbarengan dengan selesainya perkumpulan istri prajurit.
Fara menghembuskan nafasnya sejenak, berjalan agak jauh membuat kakinya terasa pegal dan nafasnya tersendat-sendat.
"Dokter menyetop dulu susu bumil kan, termasuk sesuatu yang dingin, berlemak. Si boy di dalem udah besar dek, harus dijaga berat badannya." Suara itu memecah nafas yang dihirup.
"Ntan, kamu boleh pulang. Biar dari sini saya yang temani ibu," titah Al Fath.
"Siap ndan!"
"Mohon ijin undur diri bu, ndan?!" Fara dan Al Fath mengangguk.
"Iya, Fara tau!" ketusnya.
"Badan kamu udah kaya bola-bola ubi," kekehnya, mata Fara mengilat melihat Al Fath lalu memukulnya kencang di bagian punggung.
"Ini juga gara-gara siapaaaa!!!!" kesalnya.
"Gagal kan mau ikutan miss universe!" jeritnya.
"Ngga usah jadi miss universe, jadi aja ibu dari anak-anak abang, ngamar yu dek! Sore-sore kayanya enak buat ngamar sama calon miss universe!" cibirnya mengedip genit.
"Ih amit-amit!! Ini suami Fara bukan sih?!" pukulannya lebih kencang lagi.
Drrtttt
Drrttt
"Nyak?!" alis Fara berkerut saat melihat nama di ponselnya memanggil.
.
.
.
__ADS_1
.