
"Masih cukup lama. Jarak dari rumah kesini apa jauh?" tanya dokter Margareth.
"Cukup jauh dok," jawab Fara lemah, kemudian Fara merapikan kembali celananya, besar keinginannya untuk seperti wanita lain yang menangis, minta suami segera datang, bermanja-manja ria, meminta ini dan itu, lalu mengeluhkan semua kesakitannya, tapi Fara harus setegar karang dan sekuat batuan bumi.
"Kalau begitu saya sarankan untuk disini saja bu," disaat seperti ini Fara harus berfikir bijak, memikirkan baik dan buruknya keputusan yang akan ia ambil. Dokter membuka pintu yang langsung di sambut serbuan kedua ajudan Fara, keduanya melesak masuk ke ruangan dokter demi mengetahui kondisi sang atasan.
"Bagaimana dok?" tanya Kintan.
"Sudah masuk bukaan 4," Marcel menatap Kintan tak begitu paham dengan ucapan dokter.
"Berapa lama waktunya sampai bukaan lengkap?" tanya Kintan memalingkan pandangannya pada Fara yang kini sibuk bergelut dengan rasa sakitnya.
"Masih lumayan lama, sekitar 6 jam. Tapi jika memang jarak antara rumah dan rumah sakit jauh, saya sarankan untuk stay saja di rumah sakit, karena tidak menutup kemungkinan, persalinan bisa lebih cepat dari waktu perkiraan,"
Kintan mendekati Fara, tanpa persiapan dan peralatan apapun, ia pun sedikit kebingungan.
"Bu, bagaimana?" tanya Kintan.
"Saya stay disini, Ntan. Dok---" panggil Fara.
"Iya bu, kalau begitu saya siapkan--bisa minta seseorang ikut saya untuk proses administrasi data-datanya?" Fara meminta Kintan mengurus administrasi data dirinya.
"Bu, saya telfon komandan sekarang?"
"Jangan dulu om," Fara melirik jam di tangannya, "jam makan siang udah abis, itu artinya abang udah dinas lagi. Biarkan aja dulu, Fara mau minta tolong om Marcel! Bawa peralatan persalinan, sudah Fara siapkan di dekat ruang kerja abang, di dalem tas biru. Taro barang-barang dari mobil ke dapur ya om," ucapnya berlomba dengan rasa sakit.
"Tapi bu, kalau saya tidak melapor nanti komandan marah."
"Bilang saja saya yang minta," jelas Fara sesekali terpejam dan menyeka keringatnya.
"Bisa cepet kan om, ini bawahan Fara udah rembes. Basah---" mohonnya setengah merintih.
"Siap bu!" tak tunggu lama, Marcel setengah berlari keluar dari ruangan menuju tempat parkir, dan bergegas pulang. Ia tancap gas seperti orang kesetanan, menembus ramainya kota demi segera sampai di batalyon.
Al Fath menghubungi Marcel tapi sayangnya pemuda itu tak mengangkat panggilannya.
"Kemana ini orang!" dengus Al Fath kesal, seraya memegang ponsel miliknya. Al Fath beralih menghubungi bawahannya.
"Hallo!"
"Tis, coba tolong cek! Ibu sudah pulang atau belum, mobil sudah kembali atau belum? Segera laporkan pada saya," pintanya.
"Siap ndan!"
Tapi tak berapa lama Marcel yang lebih sadar akan tanggung jawab memutuskan untuk menghubungi atasannya itu.
"Ini orangnya!" decak Al Fath.
"Kemana saja kamu Cel?!" sentak Al Fath.
"Siap salah ndan! Maaf barusan panggilan komandan tidak sempat terangkat."
Kening Al Fath berkerut, "lalu istri saya dimana?"
"Lapor ndan, ibu sedang di rumah sakit. Diprediksi akan segera melahirkan, menurut dokter sudah bukaan 4!" lapornya.
"Apa?!! Kenapa kamu baru bilang sekarang!!" bentak Al Fath di ujung telfon sana.
"Siap salah! Ibu yang minta untuk tidak mengganggu komandan saat sedang dinas."
"Sekarang berikan telfonnya pada istri saya!" ucapnya, terdengar jelas nada bicara khawatir dari Al Fath.
"Ibu di rumah sakit ndan, sementara saya sedang berada si jalan menuju batalyon untuk mengambil perlengkapan persalinan," jelas Marcel.
"Ya sudah. Saya matikan telfonnya untuk memangil Kintan!"
Wajah boleh saja datar nan dingin, tapi tangan dan hatinya sudah tremor, "Rick! Setelah dari sini, kita langsung ke rumah sakit. Saya minta info dulu sama Kintan!" lelaki itu dilanda panik, seraya sambungan telfon sedang memanggil Kintan.
"Siap ndan!"
"Mana ibu?" tembaknya langsung saat Kintan mengangkat panggilan, belum Kintan mengucap salam, Al Fath keburu memotongnya. Terdengar olehnya Kintan memanggil Fara, "bu, komandan menghubungi."
"Assalamualaikum abang," jawabnya lemah. Dan seketika seluruh tenaga yang dimilikinya terasa hilang entah kemana mendengar suara lemah disana.
"Dek Fara di rumah sakit mana?"
"Udah selesaikah kerjaannya? Abang udah makan siang?" bukan jawaban yang Fara berikan melainkan pertanyaan. Al Fath memijit pangkal hidungnya yang sudah terasa panas.
"Udah dek."
"Sekarang adek dimana?"
__ADS_1
"Rumah sakit---"
Al Fath segera melesat bersama Frederick menuju rumah sakit, tanpa bertanya apapun lagi setelahnya. Yang ia pikirkan selepas pekerjaan berakhir adalah segera mendampingi Fara. Diliriknya jam tangan hitam di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul 4 sore waktu setempat. Jika lebih lama lagi bisa-bisa jantungnya meledak saat ini juga akibat merasakan degupan yang tak menentu. Untung saja ia tidak sedang dinas di luar kota.
Bukan lagi berjalan, ia hampir setengah berlari mencari ruangan dimana Fara berada, kalau bisa akan ia ledakkan dari luar dengan granat agar semua dinding hancur dan akan lebih mudah menemukan istrinya.
Ceklek, tangan besar itu membuka handle pintu ruangan bernuansa putih, hijau mint, dan beraksen pink baby.
Hanya ada Marcel disana, namun terdengar jelas di balik pintu kamar mandi dua orang wanita sedang bicara.
"Maafin saya ya Ntan, jadi merepotkan, sshhhhhh!"
"Tidak apa ibu, sudah jadi tugas saya."
"Tapi ini diluar tugas administrasi kantor,"
"Saya tidak keberatan, bahkan saya senang melakukannya jika itu ibu orangnya."
"Ibu di kamar mandi, ndan." basa-basi Marcel demi mengurai ketegangan.
"Dek," panggil Al Fath di balik pintu kamar mandi.
"Abang," Wanita tangguh itu bergetar, matanya begitu sayu. Al Fath langsung mengambil alih Fara dan mengecup lembut keningnya yang terasa sedikit asin karena keringat.
"Maaf baru datang, apanya yang sakit dek? Mau abang gendong ke ranjang?"
Fara menggeleng, "kata dokter disuruh jalan aja. Biar dedek cepet nemu jalan, astagfirullahal'adzim--sshhhh," rintihnya berjuang menahan sakit, demi apapun yang ada di bumi dan langit, kalimat istighfar itu seolah granat yang meledak di telinga Al Fath.
Tanpa sadar ia mendekap Fara di dalam pelukannya, "abang memang tak bisa merasakan apa yang adek rasakan, tapi melihat kamu begini---abang tau jika ini sangatlah sakit,"
Fara mencengkram kuat seragam loreng Al Fath sampai kuku-kukunya memutih, ia bahkan mendesis dan meringis lebih intens sekarang seolah sedang mengadukan rasa sakit yang sedang ia rasakan. Bagian bawah yang sudah dipasangi jarik oleh Kintan tadi hanya bisa menutupi hingga bagian betis saja.
"Astaghfirullah, sshhhh---" Fara memejam, ia sampai menggigit bibir bawahnya dan terisak dalam diam, beginilah pertaruhan nyawa seorang ibu. Cengkraman Fara berpindah ke tangan Al Fath, keduanya saling menggenggam dengan Fara yang mencengkram kuat melampiaskan rasa sakit.
"Allahuakbar," dalam hati Al Fath menangis, tak kuasa melihat Fara yang sedang berjuang demi si calon buah hati, begitu tangguhnya seorang perempuan melewati ini semua.
"Adek sudah makan?" Fara mengangguk, "tadi sempat makan ransum militer."
"Mau nyemil?" Fara menggeleng, seleranya mendadak hilang entah kemana.
__ADS_1
"Fara cuma mau ngomong sama nyak sama umi," jawabnya.
Al Fath menaruh ponsel di depan meja samping ranjang dengan Fara yang berdiri di depannya, sementara Al Fath memijit bagian pinggang Fara atas permintaan calon ibu ini.
Derai air mata tak bisa terelakkan saat wajah kedua ibu hadir di layar ponsel.
"Assalamualaikum, umi--nyak. Fath dan Fara minta do'anya demi kelancaran persalinan. Kata dokter sudah di bukaan 4 tadi jam 1 siang waktu timur," ucap Al Fath, karena Fara tak kuasa menahan sakit dan haru.
"Ya Allah Ra!" nyak terhenyak melihat Fara, sementara umi..
"Cepetnya, umi kira masih lama. Kalo gitu umi harus batalin semua janji, umi coba telfon abi buat berangkat besok. Bu Fatimah, siap-siap saya jemput besok pagi!"
"Mi, ngga apa-apa. Jangan sampai mengganggu bisnis umi dan abi, kalau memang sudah terjadwal,"
"Ngga-ngga! Memang kami sudah free untuk minggu ini. Sengaja umi lakuin soalnya umi tau persalinan kadang suka melenceng dari hpl," Al Fath sampai lupa perempuan itu sudah pernah melahirkan 3 kali, tentulah ia lebih berpengalaman.
"Iya mi,"
"Fara, yang kuat neng. Nyak tau Fara perempuan kuat, apapun yang Fara hadepin, seberapa sakitnya itu--nyak tau Fara bakalan bisa!" ucap nyak sudah terisak di sana, tak tega melihat wajah Fara yang pucat.
Fara ikut menangis, seketika suasana berubah jadi haru di ruangan ini, begitupun Kintan yang setia disana bersama Frederick dan Marcel.
"Nyak, Fara baru tau rasanya lahiran. Sakhhitttt---maafin Fara yang suka bikin nyak nangis, bikin nyak kesel dan marah-marah. Fara minta do'a nyak,"
"Iya neng. Maafin nyak ngga bisa nemenin elu disana waktu Fara lagi kaya gini,"
"Ngga apa-apa, sshhhhhh," terasa cengkraman itu kuat, Fara lelah--sudah 3 jam lebih ia begini.
"Fara, umi tau Fara adalah wanita kuat, Fara adalah wanita tangguh yang cocok jadi mantu umi, jadi istri seorang prajurit. InsyaAllah, Allah akan permudah jalannya, do'a kami selalu tercurah buat Fara, Fath dan cucu umi disana."
"Makasih umi, maaf Fara masih terlalu banyak kekurangan jadi mantu umi---" cicitnya semakin lemah dan parau. Mereka memang tidak berada disana, namun tetap hadir demi menguatkan Fara.
Waktu terus bergulir, "makan dulu! Abang suapin ya?!" Fara mengangguk meski tak memiliki nav ssuu sama sekali, tenaganya sudah hampir habis terkuras, jangan sampai nanti tak tersisa untuk mengejan.
.
.
.
__ADS_1
.