
Fara menatap ke luar jendela mobil, tak sedetik pun ia mengalihkan pandangannya dari sana.
"Mau ambil di berapa tempat?" tanya Al Fath sesekali melirik Fara saat sedang menyetir.
"Yang indah-indah aja. Tempat yang punya ciri khas tanah timur bang. Kalo bisa kaya pantai, danau atau monumen tertentu yang bisa bikin orang pengen datang kesini!"
"Oh iya, kalo desa wisata ada ngga sih bang?"
"Ada, mau kesana?" Fara tentu mengangguk cepat.
Al Fath tersenyum senang, mungkin inilah waktunya. Bulan madu singkat ala letkol Al Fath di tanah timur.
Al Fath memutar kemudi dan langsung melesat membelah jalanan. Fara mengedarkan netranya ke sekeliling, sebuah tempat seperti lembah nan eksotis. Matanya berbinar sepaket senyum merekahnya.
"Abang ini---"
"Selamat datang di Wa m3na!" jawabnya menggenggam tangan Fara, mengajaknya menemui seseorang yang Al Fath kenal. Al Fath mengangguk sopan dengan senyuman ramah, begitupun beliau.
"Ini sa pu maitua, Faranisa."
"Dek, ini pace Fillindo. Salah satu guide disini, beliau sudah lama menjadi tour guide di desa wisata lembah ini!"
Fara tersenyum mengangguk sopan.
"Sa Fillindo mace,"
"Fara, panggil saja Fara." jawab Fara berjabat tangan.
"Sa pu maitua ingin melihat kampung disini pace,"
"Silahkan! Dengan senang hati sa antar!" jawabnya ramah mempersilahkan Fara dan Al Fath.
Fara sampai tak berkedip dibuatnya, rumah-rumah yang ada disini masih mempertahankan ke-aslian, ke-khas'an dan kenaturalan bangunan rumah yang terkenal itu, rumah Honai---dimana rumah-rumah dengan atap layaknya jamur berjejer rapi. Fara berjalan bersama Al Fath dan pace Fillindo masih dengan ekspresi kagumnya, specchless? Tentu saja, apalagi ia dapat melihat masyarakat asli sepaket dengan baju tradisionalnya. Jika dulu ia hanya bisa melihatnya dari buku pelajaran sekolah, kini ia dalat melihatnya secara langsung.
Perkebunan ubi jalar terhampar luas yang dibatasi dengan pagar dan penataan yang sangat rapi.
"Dulu sekali, awal nama kampung ini adalah Shangri-la," jelas pace Fillindo.
"Surga di bumi---" gumam Fara menyamai ucapan pak Fillindo.
"Mace tau?" tanya Pak Fillindo begitupun dengan Al Fath yang ikut menaikkan alisnya. Fara mengangguk, "Shangri-la surga di bumi dalam dunia dongeng. Untuk menggambarkan tempat yang terpencil namun menakjubkan dan indah bagai surga. Fara sarjana desain grafis, apapun yang berkaitan dengan keindahan dan khayalan sedikitnya tau pace," jelas Fara. Semakin erat saja genggaman Al Fath di tangan Fara.
Mereka berjalan lebih dalam lagi masuk, melihat beberapa hal yang menjadi iconic disini.
"Jika kam datang bulan depan, maka kam akan beruntung dapat menyaksikan festival Lembah Baliem" terang pak Fillindo.
"Yaa, kecepetan dong datangnya?!" pak Fillindo tersenyum, "datang saja lagi mace,"
Fara melihat beberapa ibu tengah membuat baju kurung dan rok rumbai, ia tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Ada beberapa larangan dan keharusan disini yang harus dipatuhi oleh para pengunjung mace," pak Fillindo menjelaskan beberapa poin penting itu.
"Iya pace, sa pernah membaca beberapa artikel di beberapa surat kabar."
Seorang warga yang sedang berkebun tiba-tiba menghampiri mereka, dan berbicara pada pak Fillindo juga Al Fath, Fara mengerutkan dahinya tak mengerti. Tapi setelah itu Al Fath mengeluarkan satu kotak rokok bersama beberapa permen dan memberikannya. Pantas saja tadi sebelum kesini, Al Fath menyempatkan diri ke minimarket untuk membeli rokok dan permen.
Tak tanggung-tanggung, ia memberikan sejumlah ubi jalar dengan ukuran besar-besar pada Al Fath dan Fara.
"Buat sa kah bapa?" tanya Fara padanya, pak Fillindo mengangguk mengiyakan.
"Terimakasih,"
Si ibu yang awalnya sedang membuat pakaian tradisional tiba-tiba mendekat dan mengajak Fara untuk bertandang.
"Sa kah mama?"
"Mace mau coba kah, kitorang pu baju?" tanya nya.
"Mau," senyum Fara.
__ADS_1
"Bang,"
"Ikut aja," suruh Al Fath.
Fara mengikuti mama tersebut, sementara Al Fath masih berada di luar bersama pace Fillindo dan bapak tadi.
"Hebat betul ko pu maitua, biasanya pengunjung disini sampai memohon-mohon dan bicara dengan tete dahulu untuk mendapatkan ijin, tak sedikit pula yang tak diijinkan. Tapi ko pu maitua langsung dipersilahkan!" ucap pace Fillindo.
Sekitar 10 menit Al Fath bercengkrama dengan keduanya, Fara keluar bersama mama dari salah satu rumah honai dan sudah berganti pakaian.
Al Fath menelan salivanya sulit, ia berdehem mengusir dahak yang mengganggu di tenggorokan.
"Cantik,"
"Hey bapa, ko pu maitua cantik skali pakai kitorang pu pakaian!" teriak si mama barusan.
Terang saja cantik, Fara yang menunduk malu-malu memakai baju kurung yang hanya sebatas dada dan mengekspos seluruh bahu, pundak, tulang se langka, rok rumbai yang sebatas lutut tanpa flatshoes ber-te lan jang kaki dan hiasan rumbai di pergelangan lengan dan kepala, dibuat dari bulu burung kasuari yang dikombinasikan dengan bulu kelinci dan ilalang.
"Mau abang foto?" tanya Al Fath.
"Boleh,"
"Abang minta ijin dulu," Fara mengangguk, terlihat Al Fath yang meminta ijin pada si bapak dan mama tadi, mereka mengangguk tersenyum.
"Jangan pernah pake foto-foto ini di video kamu, abang ngga ijinin foto kamu yang ini diekspos di depan umum, foto-foto ini hanya untuk konsumsi abang aja," bisiknya mesra yang langsung berhadapan dengan Fara yang mendongak ke arahnya.
"Pace Fi, bolehkah sa minta tolong fotokan kitorang berdua?" tanya Fara pada pace Fillindo.
"Boleh," jawabnya meraih kamera milik Al Fath.
"I love you," gumam Al Fath, membuat si cantik burung kasuari ini tersenyum manis dan tersipu malu, pas sekali dalam jepretan lensa kamera.
"Love you too," balas Fara.
Tak perlu liburan jauh-jauh ke luar negri dengan hotel berbintang atau mansion mewah. Bagi mereka cukup menghabiskan waktu berdua menjelajahi bumi pertiwi dalam keromantisan cukup untuk memupuk rasa.
Setelah puas berjalan-jalan disana, termasuk melihat sesosok mumi tetua desa disana, Fara dan Al Fath pamit untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain.
"Ngga apa-apa bang. Udah banyak juga kan, barusan ke danau, pantai, udah cukup lah. Sisanya tinggal dibikin di batalyon aja bang. Soalnya pasti sebagian tempat bakalan kena proses editing!"
"Oke,"
"Dedek udah cape ya?" usap Al Fath di perut Fara.
Fara terkekeh, "beli cemilan dong bang! Cemilan di rumah udah mulai surut tuh!"
"Makan terus! Tambah endut kamu, dek!" jiwir Al Fath di hidung Fara.
Mata yang sedari tadi melihat keindahan kini terpejam karena rasa lelah. Tak jarang Al Fath mencuri-curi pandang melihat istrinya sambil tersenyum-senyum sendiri, serasa setiap harinya ia jatuh cinta pada Fara. Suara dering ponsel memecah rasa kasmaran yang menyelimuti hati,
"Om Afrian?" Untung saja suara dering itu tak cukup mengganggu tidur Fara.
__ADS_1
"Assalamualaikum?"
(..)
"Ya. Mungkin memang sudah saatnya, nanti Fath kabari secepatnya om. Kapan kalian bisa kesini," jawab Al Fath.
(..)
"Waalaikumsalam,"
Ditatapnya si cantik kasuari itu. Tangan besar Al Fath mengusap lembut kepala Fara, "sebentar lagi sayang, tanah bapak bakal kembali jadi milikmu dan ibu. Dan orang yang bersalah memang sudah seharusnya dijebloskan ke dalam penjara, setidaknya nama bapak akan bersih meski tak akan bisa mengembalikan bapak ke pelukan kamu sama ibu," ujar Al Fath pelan.
.
.
.
Note :
\* Sa : saya
\* Kitorang : kita
\* Kam : kalian
\* Pace/bapa : bapak, ayah.
\* Mace/mama : ibu.
\* pu : punya
\*Maitua : istri
\* Tete : kakek.
__ADS_1
\# Ralat jika mimin salah ya guys 😍🙏