
Para jurnalis hanya bisa berdiri di zona hijau saja, saling berebut demi mendapat tangkapan lensa kamera yang ciamik untuk liputannya. Jika memang memungkinkan, mereka akan menerobos barikade pertahanan dan ikut berperang di dalam sana.
Suara dentuman bom dan tembakan sesekali terdengar dari ujung belantara sana.
Al Fath melirik arah netranya ke bawah jendela heli, dimana nuansa kehijauan hutan timur terbentang luas. Negri ini indah jika tak ada perselisihan dan saling berpegang tangan.
Jangan disangka ketinggian pepohonan hanya sebatas 2 sampai 3 meter saja. Karena yang akan mereka temui di lapangan adalah pepohonan menjulang setinggi-tinggi tower, hewan-hewan liar dan kekurangan pasokan makan minuman, bukan dalam hitungan menit atau jam, bisa jadi sampai berhari-hari mereka berada di dalam hutan. Inilah perjuangan sesungguhnya para prajurit dibalik seragam gagahnya.
Pasukan Skadron X sudah menetralisir tempat mendarat.
"Aman!" teriaknya di tengah deru suara baling-baling helikopter.
Satu persatu para pasukan mulai melakukan sling load atau turun dari helikopter dengan merosot memegangi tali, ke daerah perbukitan.
"Titik penjemputan aman disini, kami patroli setiap jam 3 sore!" pesan sang pilot, Al Fath mengangguk lalu turun paling terakhir.
Akhirnya kaki Al Fath menjejak tanah, menaruh senjata dalam posisi waspada siap menyerang.
Suara alam liar menyambut para pasukan ini, bersama hilangnya suara bising helikopter. Mereka berlari bak cheetah namun senyap tanpa suara menembus rimbanya hutan seperti hantu.
Bukan medan lurus nan mulus seperti kulit Fara. Bebatuan runcing, tanah yang tak stabil juga licin dan kontur jalanan terjal menjadi bagian kecil dari perjalanan.
"Belum ada tanda-tanda?"
"Zero," disini mereka diusahakan untuk berbisik atau bahkan hanya sekedar gerakan mulut saja.
Sudah hampir 3 jam mereka berlari kecil namun belum menemukan target sasaran atau ring penjagaan luarnya. Sementara dari arah penyergapan lain beberapa kali terdengar suara tembakan namun jauh dari jantung musuh.
Gemericik air sungai terdengar sayup-sayup.
"Istirahat dulu, saya belum solat!" ucap Al Fath. Disaat-saat begini do'a adalah hal penting.
"Siap ndan!"
"Saya jaga," ucap bang Yo yang non muslim.
"Bang, mata lu harus jeli, siapa tau nemu cewek semox..." kekeh Gentra.
Plokkk!
Yosef menggeplak helm Gentra, "setan. Lu mau?"
Diraupnya air sungai saat kaki besar itu menginjak bebatuan besar sungai.
"Nawaitu...." ia mengusapkan air. Disaat Yosef mengarahkan senjata ke segala penjuru bersama Dilar dan Andre. Mata mereka menyipit, melihat pergerakan.
__ADS_1
"Ssstt.."
Keduanya menoleh, "arah jam 3," Yosef menunjuk kedua matanya bergantian ke arah mata mereka.
Andre menargetnya dengan kaca pembesar diatas senjatanya, men-zoomnya demi mempertajam penglihatan.
"Ayam bos!" ujarnya terkekeh.
"Itu artinya kita sudah dekat. Jika ada sumber makanan dan air tentulah mereka ada di sekitarnya."
Al Fath dan yang lain sudah selesai melaksanakan solatnya, "laporkan titik koordinat sekarang, beserta statusnya."
Al Fath membalut senjata dan sekujur badan dengan tanaman rambat demi menyamarkan dirinya, begitupun yang lain. Tapi disaat mereka sedang melakukan itu, Dilar menepuk pundak Al Fath.
"Ndan, di 1,5 km ada pergerakan aktif lain."
"Siaga!"
Taktik berkamuflase adalah taktik cukup ampuh yang biasa dipakai untuk mengelabui musuh demi mengintai. Dengan bergerak sedikit demi sedikit, mereka berhasil menjangkau jarak yang cukup dekat. Berteman semut Rang-rang, pacet, ulat bulu, bahkan ular mereka menyatu dengan alam.
Beberapa orang bersenjata terlihat mengawal beberapa warga desa mengambil air di sungai. Netra mereka menyisir sekeliling sama-sama waspada.
Mereka membuntuti para anggota separatis itu dari belakang, yang harus dilakukan adalah menyebrangi sungai dengan arus deras.
"Turun,"
Tak peduli dengan baju yang basah, mereka terus berjalan menerjang luasnya hutan.
"Kalo nanti selamet, gantian kerokan Lar," seloroh Gentra berbisik.
"Setuju!" balas Dilar.
Sesuai perhitungan dan prediksi Al Fath, hanya berjarak 1,5 km dari sungai terlihat ring pertama pertahanan kelompok ini. Bukan main, persenjataan mereka cukup lengkap. Amunisi peluru mereka sampirkan layaknya sarung. Bahkan terlihat pelontar bom dan bazzoka. Jelas saja, backingan mereka adalah seorang perwira prajurit.
Gentra berniat melangkah maju, namun Al Fath menahannya dengan senjata yang ia pegang, gerakan mata dan jari Al Fath mengarah ke bawah, "ranjau."
Gentra menggelengkan kepalanya, "edyaannnn,"
Regan mengamati situasi dan kondisi, cukup lama demi mengambil keputusan.
"Saya prediksi gudang logistik dan amunisi berada tepat di pusat, mereka tidak akan gegabah."
"Itu artinya kita harus mengobrak-abrik setiap lapisan pertahanan?"
"Iya,"
__ADS_1
"Kalau hanya kita itu tidak mungkin, amunisi peluru tak akan cukup, Gan?" bang Yo bersuara.
"Insyaallah bisa, sampai pasukan infanteri datang," jawab Al Fath.
Mereka memutuskan untuk membuka ransum makanan terlebih dahulu sebelum tenaga mereka terkuras nantinya. Memang tak seenak masakan Fara, ia memejamkan matanya mengingat Fara, begitupun Regan yang mengingat sang istri.
"Inilah bini gua yang setia bang, PT. Jangkar Pertiwi...perusahaan pembuat ransum militer," kelakar Dude pada Regan dan yang lain, mereka menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Di tengah hutan tak ada kehangatan keluarga menemani apalagi masakan hangat istri atau ibu. Senyuman istri, ibu, ayah, anak hanya cukup mereka bayangkan dalam sanubari.
Di Rumah hijau, Fara menyuapkan makanan ke mulut tanpa ada semangat, jika tidak mengingat anak dalam kandungannya mungkin Fara memutuskan untuk tak makan.
Matanya jatuh pada foto nikahnya bersama Al Fath yang selalu ia pajang di rumah dinas manapun berada, rasa rindu menyeruak. "Abang udah makan belum?" gumamnya.
"Bu, besok jadwal bertemu dengan ibu ketua kesatuan," ujar Kintan.
"Iya, memangnya pemerintah belum membatasi aktivitas warga timur?" Kintan menggeleng, "belum bu, bisa jadi 3 hari ke depan."
"Iya, saya sudah sekali mangkir dari janji. Tidak mungkin besok mangkir lagi,"
"Sebenarnya bisa saja bu, ibu ketua juga pasti bisa memaklumi dengan situasi daerah konflik," usul Kintan.
"Ngga apa-apa, lagipula besok saya ngga kemana-mana. Daripada bosen, inget suami terus. Mendingan menyibukkan diri," jawab Fara membawa piring kotor ke wastafel.
"Mace, biar sa saja yang mencuci." Pinta asisten rumah Fara.
"Iya , terimakasih mama." Fara lebih memilih membuat susu bumilnya di meja.
Begitu posesifnya Al Fath, semenjak ia hamil, Fara tak boleh melakukan aktivitas bersih-bersih di rumah.
Malam menjelang, disaat inilah biasanya kewaspadaan manusia mulai goyah. Dan disaat ini jugalah para pasukan senyap ini beraksi, keuntungan mereka bergerak di malam hari.
Bergerak perlahan demi mendeteksi ranjau darat.
"Clear!" Taufik mengangguk memberi isyarat.
Seperti biasa mereka mulai melancarkan aksi dengan menarget satu persatu kelompok itu.
Mereka memasang posisi, beberapa di antara semak belukar, pepohonan, sementara Andre dan Bang Yo memilih memanjat pohon dan menyerang mereka di posisi ini.
Tembakan pertama diawali oleh Dilar, "dorrr!"
"Tentara!!!!!!" teriak mereka, suara tembakan mulai bersahutan saling berbalas.
.
.
__ADS_1
.
.