
Fara sedang berada di rumah Lettu Dimar, sementara Nasya tersenyum menyeringai membentangkan sesuatu miliknya yang belum dipakai, bahkan masih ada price tag-nya.
"Ra, coba dulu nanti. Siapa tau cukup!" ujarnya duduk di sofa, sementara ekspresi Fara masih terlihat syok luar dalam.
Itu mah bisa masuk angin kalo semaleman dipake, gilakk saja! Mendingan sarungan!
"Aduh, kok ngeri sendiri ya mbak!" ujar Fara meraih dan membentangkan si motif bunga menerawang itu, hanya ada tali mie ayam sebagai penyambungnya.
Disaat yang lain tengah sibuk di lapang, Fara dan Nasya memutuskan untuk ke rumah dinas Lettu Dimar, suami Nasya.
"Coba--," Nasya mendorongnya. "Kalo cukup dan cocok, itung-itung hadiah buat kamu, mbak denger om Fath pindah tugas, kapan?" tanya nya mulai menunjukkan raut sedih, jika benar kabar yang ia dengar dari suaminya, maka teman baru yang pecicilan sekaligus menyenangkan ini akan ikut pergi, mendampingi suaminya.
"Iya mbak, ke perbatasan timur. Minta do'anya aja. Bikin grup yuk mbak, biar Fara tetep bisa hubungi kalian," serunya memohon.
Nasya mengangguk, "boleh!"
"Oh iya, sekalian nih! Pesen satu lagi deh Ra, biar punya corak warna lain, buat perbekalan nanti tugas disana. Kalo daerah sana kan susah mau belanja online gini!" usul Nasya.
Ia meringis mendengar usul Nasya, satu saja belum karuhan ia memakainya. "Emang tiap istri wajib punya ya mbak?" tanya nya sepolos roti tawar yang dibuang pinggirannya dan sekarang roti itu sedang diolesi selai coklat, strawberry serta taburan keju oleh para seniornya.
Dengan mantap Nasya mengangguk, "oh wajib! Senjata, kalo suami merajuk atau mulai pelit!" cengengesannya, Nasya melipat bibir ke dalam, merasa bersalah juga sudah memberikan bisikan ghoib dan mengajarkan Fara menjadi istri nakal.
"Udah ngga usah ragu! Bukan mau bikin kejahatan kok, udah ada labelnya halal," Nasya segera melipat dan memasukkannya ke dalam plastic bag agar dibawa Fara pulang.
Acara sudah selesai sepenuhnya, Fara sukses membuat markas berbangga hati. Tapi sayangnya si muka tembok masih mendiamkannya.
"Nyak," Fara tak sedetik pun melepas pelukan dari ibunya, mereka duduk di sofa rumah hijau. Selepas acara, 'nyak ikut menyambangi hunian anak dan menantunya disini.
"Nyak cuma mau bilang, nanti disana hati-hati. Lu berdua harus saling melengkapi, saling sayang. Saling ngertiin dan saling mengingatkan."
"Fath, 'nyak titip Fara ya. Selama lu berdua jauh disana, jangan lupa kabari 'nyak selalu!" wajahnya kini sendu melihat kedua anak mantu yang sebentar lagi akan pergi jauh.
"Nyak," rengek Fara melow.
"InsyaAllah bu, Fara istri Fath..sudah pasti bakal Fath jaga, ibu disini jaga kesehatan, Fath sama Fara bakal selalu kasih kabar," tangan yang mulai keriput ini terulur menyentuh bahu kekar Al Fath, lalu mengusapnya seolah-olah ia sedang mempercayakan Fara padanya.
"Baek-baek disana, do'a 'nyak selalu terucap buat lu berdua," katanya.
"Nyak jaga diri, jaga kesehatan. Kalo ada apa-apa selalu kabarin," kali ini Fara akan benar-benar pergi jauh dari ibunya yang hanya tinggal sendiri.
"Kalo gitu 'nyak balik dah. Udah mau magrib,"
"Fath anterin nyak, sebentar minta dulu anterin mobil sama Mardiyan kesini," Al Fath bangun dari duduknya dan menghubungi Mardiyan.
"Eh 'nyak, itu tasnya?" tunjuk Fara ke pojokan ruangan dimana tas kain cukup besar berada disana.
'Nyak menepuk jidatnya, umur tua membuatnya jadi mudah lupa, "subhanallah, ampe lupa!" ia beranjak ke arah tas itu, lalu membuka resletingnya, tangan tua itu mengeluarkan satu persatu barang-barang.
__ADS_1
Fara sampai menganga melihatnya, "nih! Ini kalo disana pasti bakalan susah nyari warung sayur!"
Satu toples terasi yang sudah matang, cabe bubuk, dan beberapa plastik ikan asin. Belum lagi barang-barang dan makanan kesukaan Fara yang pasti bakalan susah didapat disana.
"Nyak, Fara bukan mau tinggal di hutan belantara," gumamnya spechless, memang wokehhh si enyak! Sampe terasi segala kepikiran buat dibawain.
Fara mengunci diri di dalam kamar mandi, bukan karena sembelit tapi karena mendadak gugup.
"Aduhhh," keluhnya membentangkan jala ikan nila, bukan merk mahal sekelas Victoria secret's, karena untuk ukuran kantong istri pejuang seperti mereka, sayang rasanya uang hasil jerih payah dibelikan barang semahal itu, toh makenya juga ngga sampai berjam-jam, dipake cuma buat dilempar dan di sangkutkan diatas tv atau teronggok di lantai, kan unfaedah!
Ia menanggalkan kaos dan celana rumahnya lalu memasang jaring laba-laba di badan, berulang kali ia melirik badan indahnya. "Ini kalo sama 'nyak udah dibikin buat saringan air dari kran, biar ngga keruh!"
Sampai Al Fath kembali ke rumah selepas mengantar 'nyak pulang, Fara masih di dalam kamar mandi. Manusia memang tak ada yang sempurna, begitupun Fara. Ia boleh saja pintar nan cantik tapi sayang ia ceroboh.
Al Fath masuk mengucap salam, tapi dari dalam tak ada sahutan.
"Dek," Fara yang asik sendiri tak menjawab, Al Fath membuka jaketnya di sofa dan melangkahkan kaki mencari Fara, mulai dari kamar lalu ke dapur, tak ada Fara disana.
Apakah ia sungguh keterlaluan marah pada istrinya itu? Dengan mencueki Fara hampir seharian.
"Dek," Al Fath memanjangkan lehernya ke arah belakang rumah, hanya satu ruangan yang belum ia cari, kamar mandi.
Tangan besarnya terulur membuka handle kamar mandi, dan pintu terbuka pertanda tak dikunci.
Ceklek
Kedua pasang mata ini membelalak, terlihat jelas si tubuh mulus itu hanya dilapisi kain bolong-bolong berwarna merah menyala dan rambut yang terburai sedikit acak, satu yang ada di dalam otaknya sexy...
"Ahhhh! Abang!!!"
Blughhh!
Pintu tertutup denga kencang karena dorongan Fara dan tarikan Al Fath.
Bukan hanya Fara, Al Fath juga terkejut. Tapi sejurus kemudian secara bersamaan reaksi mereka berubah, Fara yang malu dan Al Fath yang mengulum bibirnya.
"Abang main buka aja!!" omelnya sambil memukul pintu kayu penghalang keduanya.
"Abang cari kamu, kamu lagi ngapain dek?"
Wajahnya semakin panas, semburat pink menghiasi pipi Fara. Mau bohong bagaimana jika Fath sudah kepalang basah melihatnya memakai pakaian, bukan--bukan--- tapi saringan produksi tahu.
"Dek," sebagai seorang lelaki normal tak mungkin Al Fath tak tergiur, mendadak jiwa lelakinya bangun.
"Apa?!" sengak Fara dari dalam, ia kembali memakai baju rumahnya.
Pintu terbuka menampilkan sosok Fara dengan wajah sengitnya, "kenapa nyariin, udah bosen sama Flora?! Masih inget punya istri?!"
Al Fath mengangkat alisnya sebelah, "Flora?"
"Ngga usah belaga be go, tadi pagi Fara samperin, abang malah pergi. Eh taunya lebih milih ngobrol sama Flora," Fara menabrak lengan Al Fath merajuk, mengingat kejadian tadi di lapang.
"Kalo Fara salah tuh bilang! Bukannya main pergi gitu aja,"
"Ibu pimpinan tadi cuma mau ucapin makasih atas kerja keras kamu, sekaligus ngucapin perpisahan, masa iya orang mau bilang makasih sama salam perpisahan abang tinggal," jelasnya mengekori Fara.
"Alesan doang! Ngapain ngucapinnya sama abang, kenapa ngga langsung sama Fara," sewotnya masih sengit.
"Mereka juga bakal ucapin perpisahan secara resmi nanti waktu pertemuan, tapi yang ini mungkin cuma secara pribadi dahulu, soalnya tadi kamu masih foto-foto kan sama fans-fans kamu?" kini berbalik Al Fath yang kesal.
Ia menghempaskan dirinya di atas kasur, niatan membeli ranjang belum terlaksana tapi mereka sudah akan pergi lagi.
"Fans apa? Abang ngaco!" serunya sewot.
__ADS_1
Al Fath melirik Fara yang ikut duduk di tepian ranjang, "asik ya joget-joget sampe lupa minta ijin suami,"
"Kan Fara udah ijin sama abang," debat Fara mendesis.
"Dek Fara memang ijin sama abang, tapi apa abang sudah ijinkan? Abang belum kasih ijin tapi dek Fara langsung naik," balas Al Fath.
"Tau ngga kalo dalam pendidikan, bertindak tanpa ijin itu kesalahan fatal? Dan sudah pasti kena hukuman," tatap Al Fath dengan alis menukik seolah sedang memberikan sanksi pada bawahannya.
Sontak perempuan itu menatap horor tak terima, "Fara bukan taruna!" potongnya dengan cepat.
"Tapi kamu hidup diantara lingkungan taruna, tentara, perwira dan kedisiplinan." Alibinya.
"Terus? Abang mau hukum Fara juga?" tantangnya, jangan panggil Fara jika ia merasa ciut, bahkan seorang sniper macam Al Fath saja ia tak takut, yang ia takuti adalah jika uang jajannya dipangkas Al Fath sementara ia tak bekerja.
"Iya, kamu itu seorang istri. Tau ngga kalo ijin suami itu yang paling penting?" Fara diam tak menjawab, ia lebih melipat kedua tangannya di dada, apa yang dikatakan Al Fath memang benar adanya, lama-lama bibir merah nan lembab itu mengerucut. Matanya mencuri-curi pandang pada Al Fath yang masih setia menyorotnya, sampai kedua tangan itu saling meremas, kedua telunjuk Fara saling beradu, sorot matanya luluh.
"Iya maaf, lain kali Fara tunggu ijin dan mandat abang dulu!" cicitnya.
"Ngga kedengeran, kaya ngga tulus," balas Al Fath, sontak saja mata Fara membola, Al Fath tidak sedang mengalami gangguan pendengaran kan?
"Ih,"
"Iya maaf! Lain kali Fara nunggu ijin sama mandat abang dulu!" ucapnya setengah berteriak di dekat telinga Al Fath, "kedengeran ngga? Atau perlu Fara bawa pengeras suara?"
"Maaf diterima, tapi hukuman tetap berlaku!" jawabnya menyebalkan, Fara baru tau jika suaminya ini gila hukuman.
"Abang ih, jangan disamain sama taruna!" manyunnya.
"Abang mau liat kamu pake yang tadi," Fara membeo, "ya?"
"Yang barusan kamu pake di kamar mandi," tak dipungkiri, fantasi liar itu terus membayangi pikiran laki-lakinya, tak akan berdosa selama yang ia bayangkan adalah istrinya sendiri.
"Ngga ah, Fara malu!"
"Abang udah liat semuanya, abang cuma mau liat lebih lama sambil neliti kalo bagus dan cocok dipake sama kamu nanti kita beli," tanpa Fara duga jawaban si laki-laki sholeh ini meruntuhkan pikiran alimnya.
"Idih,"
"Abang tau kamu masih pake, cuma kamu double pake baju!" Al Fath melirik tali mie yang mengintip keluar dari sisi leher baju Fara.
Fara sontak menutupi cepat-cepat bagian yang dilirik Al Fath, "sini abang bantu bukain," modusnya mendekati istrinya sementara Fara mengelak, "jangan bang ih!"
"Sini, dek!"
"Jangan abang! Fara dingin!" tolaknya masih halus.
"Abang hangatkan, nanti juga kepanasan," paksanya.
"Abang maksa ih!" tepuknya di lengan Al Fath, seharusnya drama yang terjadi adalah moment romantis, tapi yang terjadi malah sebaliknya seperti drama pemaksaan dan pel3 ce han.
"Terus ngapain kamu pake, jangan pikir abang ngga tau," matanya mulai berburu, seperti saat sedang mengintai musuh dan siap menembaknya dalam jarak dekat.
"Ish, dibilangin cuma..."
"Abangggg!!!!" Al Fath sengaja mengalihkan perhatian Fara agar ia lengah, lalu Al Fath dengan mudah melumpuhkan target.
Dengan diplomasi yang kuat nan alot, penuh tipu daya juga bujuk rayu, Fara akhirnya mau membuka pakaian dan jadi wanita nakal semalam Al Fath.
Lekukan tubuhnya akan tersimpan di memory otak sang suami, benar saja tak sampai dua jam busana kurang bahan itu teronggok menjadi saksi bisu pergulatan panas sepasang insan, bahkan malam ini Fara lebih mendominasi berada di atas Fath.
"Cocok, beli 3! Tanya umi, beliau pasti tau merk bagus, jangan yang itu..bahannya kasar di kulit kamu," ucap Al Fath, Fara mendongak tak percaya jika si anak baik ini mengusulkan saran menyesatkan, "kok umi, malu lah!" balas Fara tak mau.
"Lagian banyak banget! Di timur banyak nyamuk ngga? Nanti Fara bentol-bentol!"
.
.
.
.
__ADS_1