Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
HUKUMAN ABI-NYA DEDEK.


__ADS_3

Al Fath diam sejenak memandang satu lapang penuh warga batalyon. Sementara Fara mati-matian melipat bibirnya ke dalam agar tak tertawa, nih pelajaran buat kaum posesif tuh gini caranya! Daripada cuma bisa merhatiin terus marah-marah di belakang kan lebih baik langsung di sampingnya biar kalo Fara ataupun ada laki-laki yang macem-macem bisa langsung berhadapan sama bapak suami.


"Ayo pak, mau nunggu sampe anak buahnya pada jadi ikan asin karena dijemur lama?" ajak Fara.


Mau tak mau Al Fath melangkahkan kakinya meski berat, segala dumelan sudah ia lancarkan di depan istrinya, "awas kamu dek, abis kamu di rumah!" bisiknya.


"Kebetulan hari ini Fara ngga ada rencana mau pulang, Fara mau camping aja di deket kantor abang," balas Fara tak mau kalah.


"Komandan!"


"Komandan!"


"Komandan!"


"Ayo ndan! Digoyang!" seruan para peserta senam termasuk yang paling kencang adalah kawan-kawan Al Fath. Matanya memicing seperti mata burung garuda, menandai mangsanya satu-satu.


"Abang sejajar sama ibu-ibu danki ya. Biar nanti kalo Fara udah cuti senam abang bisa gantiin istrinya buat pimpin ibu-ibu kesatuan!" ucapnya.


"Pimpin jidat kamu, dek." Omelnya membuat Fara ingin meledakkan tawa, pokoknya hari ini ia harus puas dahulu mengerjai suami galaknya ini. Karena Fara tau, sekecil apapun nanti kesalahan Fara sudah dipastikan Al Fath akan membalasnya dengan hukuman, maka daripada ia rugi dihukum tanpa merasa melakukan kesalahan, ada baiknya ia puas-puasin saja bikin dosanya.


"Om Rick! Musikkkk!"


"Siap bu," Frederick meringis melihat komandannya dibully habis-habisan oleh istrinya sendiri.


Berkali-kali bang Yo meledakkan tawanya, "Waduhhh, Fath---awas nanti encok kau!"


"Goyang ndan!!!" seru mereka benar-benar sakit perut karena tertawa.


Al Fath kewalahan mengikuti gerakan Fara yang menurutnya terlalu ribet karena bervariasi, dan jatuhnya gerakan Al Fath mirip robot karatan, lebih baik ia melewai halang rintang 100 kali balikan saja ketimbang harus senam begini. Untung saja gerakan senamnya bukan goyang gergaji, jika tidak mungkin Fara yang ia goyang dengan gaya ngebor sampai gumoh. Bukan dirinya yang ia khawatirkan akan ditertawakan atau malu, melainkan Fara yang terlalu aktif.


"Dek!" tapi suaranya tak cukup kencang memanggil Fara.


Matahari sudah tergelincir semakin terik, seiring dengan berakhirnya acara senam pagi. Cukup membuat mereka berkeringat pagi ini.


"Dek," Al Fath menarik Fara setelah menutup acara.


"Eh!" Fara ikut terbawa karena Al Fath menariknya tanpa aba-aba meskipun tak kencang, ia membawa istrinya ke ruangan kantornya.


"Bisakan jangan terlalu aktif?" kini suami posesif ini menyabet gelar abi posesif juga. Al Fath mengusap lembut perut Fara, khawatir jika juniornya di dalam sana sawan mengikuti semua aktivitas sang ibu yang di atas normal. Lalu ia meraih kotak tissue di meja kerja demi mengelap keringat istrinya dengan tissue. Bukannya kesal atau marah, Fara justru melebarkan senyuman, ia bisa lihat perhatian penuh yang Al Fath berikan untuknya meski caranya sedikit galak. Mungkin memang cara orang kaku perhatian ya begini, nyebelin, banyak ngatur, ngga jelas, judes, galak, posesif, dunia terasa sempit, tak ada ruang gerak, tapi jika ia melihat lagi dari sisi baiknya Al Fath begitu berusaha untuk protektif.


"Dikasih tau malah senyum-senyum sendiri," Al Fath membukakan botol air mineral yang sejak tadi sengaja ia bawa lalu memberikannya pada Fara.


"Minum dulu,"


"Makasih abang sayang," ia meraih dan meneguknya.


"Udah--ngga usah senam-senam gini lagi, abang ngilu liatnya!"


"Iya, cuma kali ini aja kok buat ngerjain paksu aja!" akui Fara, membuat Al Fath mengerutkan dahinya.


"Buat ngerjain suami yang posesif kaya abang!" tawa Fara cengengesan mengalungkan kedua tangannya di leher Al Fath.


"Jadi menurut adek, abang posesif?" tanya nya.


"Iya, tapi Fara suka! Ada perasaan seneng tersendiri buat perempuan. Meskipun kadang suka kesel, tapi Fara mau abang tetep posesifin Fara! Larang-larang Fara, cemburuin Fara," jelasnya menyeringai genit menggoda.


"Apa senam bikin kamu jadi aneh, dek?" Fara tertawa padahal ia sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Al Fath, niat pengen romantis di minggu pagi, biar kaya orang-orang kiss in the morning at the office malah berakhir pertanyaan ambigu Al Fath.


"Abang mah! Selain tukang tembak, tukang rusak suasana juga!" Fara mencebik.


Al Fath terkikik, "jangan di kantor! Kalo diliat bisa jadi skandal! Kalo mau kita terusin di rumah, seharian full tanpa jeda iklan!"


"Itu sih maunya abang! Udah ah, Fara mau pulang mau mandi," Fara sudah hendak melangkah keluar, tapi Al Fath menahannya, sesuatu masih mengganjal di pikirannya tapi ia masih ragu untuk bicara.

__ADS_1


"Apa sih bang, Fara lagi sibuk-sibuknya ini! Belum urusin musik video buat wakilin nama batalyon terus dikirim ke resimen, belum program pelatihan di distrik perbatasan bareng ibu ketua lain. Terus lomba-lomba di batalyon kita buat menyambut kemerdekaan," jelas Fara, akhirnya Al Fath mengurungkan niatannya untuk bicara. Fara benar, istrinya itu terlalu sibuk, masalah ini biar ia urus dulu bersama Nyak, dan om Afrian sampai nanti Fara siap untuk tau.


"Abang cuma pesen, adek jangan terlalu capek. Kasian dedek!" jawab Al Fath menelan salivanya berat mencoba tersenyum di tengah kebimbangan.


"Iya abang, astagfirullah abinya dedek cerewet ih!" omelnya keluar dari ruangan Al Fath.



Al Fath bukanlah manusia pendendam, tapi terkadang sifat manusia itu harus ada sanksinya agar tak seenak jidat dalam bersikap.



"Satu! Dua! Tiga!"



"Ha-ha-ha-ha-ha-ha!" tawa bang Yo puas melihat para perwira muda itu dihukum Al Fath push up dengan satu tangan sebanyak 10 set.



"Bang! Tega amat !" keluh Gentra, Al Fath ingat dialah yang berseru paling keras tadi.



"Mengejek pimpinan itu perbuatan tercela bagi seorang prajurit! Bukan perilaku seorang ksatria!" terang Al Fath membalas pertanyaan Gentra.



"Gua ksatria baja hitam bang," gumam Dilar.



Kembali Bang Yo adalah orang yang paling keras tertawa melihat kedua junior dzolimnya menderita.




"Lagian kan bu Fara yang mulai. Sebagai seorang bawahan dan rekan yang baik, gua mah nyorakin ngasih semangat bang!" alibi Dilar.



"Heh! Ngga usah bawa-bawa orang lain dalam masalah kalian!" ujar bang Yo memojokkan.



"Bang, elah! Ngga usah ngompor-ngomporin komandan atuh!" seru Taufik ikut berkomentar, sejak tadi telapak tangannya sudah pegal padahal baru separuh hukuman.



"Abang!" Fara mendekat dengan sudah berganti pakaian, Al Fath sampai tak berkedip, baru kali ini bumil yang menurut Al Fath semakin yahud ini memakai dress selutut berwarna kalem dengan rambut yang sengaja ia gerai juga flatshoes dan tas selempang nampak manis kaya es krim sundae dipakein marshmallow.



"Bu Far! Tolongin atuh bu," pinta Taufik, Fara mengernyit, "ini om-om lagi pada ngapain? Lagi adu otot?"



"Dihukum sama *abinya dedek*!" jawab Dude setengah tertawa.



"Brukkk!"

__ADS_1



Yang lain ikut ambruk mendengar celetukan Dude yang meniru gaya bicara Fara.



"Se tan!! Langsung lemes otot gua!" sarkas Andre.



"Fara mau ijin hunting foto sama om Rick."



"Yakin? Abang kira besok? Kalo sekarang mendingan sama abang aja!" tak ikhlas lahir batin ia membiarkan istrinya pergi bersama Frederick.



"Om Gentra," panggil Fara.



"Iya bu?"



"Abang udah bilang belum?" tanya Fara.



"Belum dek," tukas Al Fath cepat, Gentra mengangkat kedua alisnya bingung, "bilang apa bu? Abang mana, *abinya dedek*?"



"Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"



"Si-@lan. Hukuman buat lu gua tambah Tra!" desis Al Fath.



"Mamposs lu!" Bang Yo tertawa puas.



"Ah elah bang!" sergah Gentra.



"Duh! Romantisnya kalian!" ucap seseorang membuat mereka menoleh.



"Bang Re!" mereka langsung bangkit demi menyambut Regan.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2