Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
KLAN MAMA-MAMA TANGGUH


__ADS_3

"Sumpah! Itu moment paling kamvrett yang pernah Fara lakuin seumur hidup tau ngga, malu banget sama malaikat!" dumelnya. Jika biasanya pengalaman hidup akan dengan bangga diceritakan kelak untuk anak cucu nanti, tidak dengan yang ini. Pengalaman ini akan ia skip seumur hidup. Al Fath sampai tertawa melihat Fara, istrinya ini benar-benar konyol, ingat betul ekspresi Fara saat tengah melakukan dosa ternikmat tadi.


"Abang kalo ketawa sekali lagi, Fara mau pulang aja ke ibukota!" ancamnya.


"Oke, abang diem!" jawabnya namun bibirnya terus berkedut.


"Iuhhh, seumur hidup baru kali ini seorang Fara nanem saham kaya orang mau nge-hanyutin emas hasil curian!" cecarnya.


Al Fath menggelengkan kepala dengan tangan masuk ke dalam saku celana, istrinya ini memilih berjalan duluan di depan tak mau di gandeng, Fara bilang tangannya bergelimang dosa.


"Nggak mau sekalian mandi, dek?"


Cling! Mata Fara mendelik tajam, setajam suriken Naruto, "abang ngga usah pulang ke rumah!" jalannya dipercepat meninggalkan Al Fath.


Lelaki itu tertawa kecil, tapi kemudian langkah mereka terhenti dan mendongak demi melihat helikopter melintas diatas kepala, angin yang dihasilkan mampu membuat semua daun kering beterbangan, suara bising dari mesinnya cukup mengganggu pendengaran.


Dedaunan riuh, bergerak panik akibat putaran baling-baling helikopter angkut.



Fara berdiri menatap Al Fath yang sedang menerima laporan dari pilot, gerakan hormat militer terlihat jelas di matanya.



Sandera lain masuk satu persatu untuk diangkut sampai pangkalan darurat, hingga tiba saatnya bagian Fara naik bersama Regan, Kintan dan Marcel. Fara melepas pakaian loreng milik Al Fath dari badannya lalu memasangkan kembali di badan tegap suaminya, "Fara tunggu abang di rumah," ucapnya seraya merapikan baju.



"Iya, jangan kemana-mana. Setelah di batalyon ada Frederick yang akan bantu kamu sampai abang kembali," Fara memajukan bibirnya, sendu.



"Baru ketemu udah harus pisah lagi, berapa lama abang balik?"



"2 hari kalau tidak ada hambatan berarti," jawab Al Fath.



"Abang jaga diri, jangan kena cium pacet lagi."



"Insyaallah," tangannya tak lepas mengusap kepala Fara, membawanya demi bisa mengecup pucuk si kepala. Adegan manis itu tak lepas dari sorot mata beberapa orang.



"Baik-baik jaga dedek," Al Fath mengusap perut Fara sementara Fara sendiri mengecup punggung tangan Al Fath, sebagai tanda bakti.



"Fara pulang bang, assalamualaikum."



"Waalaikumsalam,"



"Yaaaa, bu--ini ransum masih ada loh?!" kelakar Dilar.

__ADS_1



"Buat om aja! Fara mau makan mie instan!" tawanya berteriak seraya berlari kecil menuju pintu heli mendapatkan tatapan tajam Al fath, ia dibantu beberapa prajurit untuk naik. Fara merasa seperti seorang putri, meski tidak dinikahi oleh pangeran. Ia merasa seperti ratu, meski tidak dinikahi oleh raja, dan ia merasa seperti berlian meski bukan berasal dari logam mulia di bawah lapisan bumi sana, jawabannya adalah karena ia dicintai oleh Teuku Al Fath Ananta, seorang prajurit negara.



Fara melambaikan tangannya pada Al Fath, sebelum benar-benar ditutup oleh badan kekar tentara lain, lambat laun namun pasti, helikopter naik mengudara meninggalkan jejak berserakan.



"Bu Fara pergi, kok gue ikut sedih ya?!" ujar Gentra.



"Yoi, berasa ada yang hilang!" tawa Dilar.



"Lu berdua belum ngerasain di lempar ke tebing sama suaminya kan? Lempar Fath, nih anak 2!" sahut bang Yo yang tiba-tiba bergabung langsung menjitak kepala Gentra dan Dilar dengan mata menatap helikopter yang sudah mengangkasa.



"Ah, bang Fath-nya aja biasa-biasa ae. Bang Yo kali, suami posesif!" kelakar Gentra.



"Wajar! Bini kesayangan," jumawanya mencolek hidungnya sendiri.



"Tapi sayangnya bang Yo bukan laki kesayangan!" seloroh mereka bertos ria.




"Si@\_lan! Gua adalah orang yang bakalan ketawa paling kenceng kalo lu berdua kawin, terus nanti pusing ngadepin bini!" imbuhnya mendorong kedua kepala mereka cukup keras sampai terhuyung ke depan, namun keduanya malah tertawa.



"Udah, lu berdua ini Tra--Lar, senior nih---" lerai Al Fath sembari menepuk-nepuk pundak bang Yo. "Kalo udah berantem, mirip pedagang sama konsumen!" lanjutnya.



"Apaan bang?" alis Dilar berkerut.



"Sama-sama ngga mau ngalah. Yang satu kekeh nawar yang satu lagi kekeh ngga mau rugi," tambah Al Fath melengos pergi.



Fara menatap pemandangan di bawah jendela heli untuk kedua kalinya, hutan dengan warna kehijauan yang masuh segar, alam indah yang patut untuk diperjuangkan juga dipertahankan sampai titik da rah penghabisan. Jika kemarin ia begitu takut sekarang ia begitu rindu, padahal baru beberapa menit mereka berpisah.


"Ntan," panggil Fara.


Kintan menoleh, "iya bu?"


"Cepet-cepet kamu sembuh, kerjaan kita belum dimulai. Saya kepengen sebelum lahiran nanti, kerjaan saya udah beres."


"Siap bu!"

__ADS_1


Regan yang sudah memejamkan matanya hanya menyunggingkan senyum, Al Fath memang tak salah memilih wanita. Fara bukanlah wanita cengeng nan lemah, jika orang lain akan memilih memberikan tanggung jawabnya pada orang lain setelah kejadian ini tidak dengan Fara. Menjadi istri prajurit terutama tim khusus memang tak mudah, begitu berat resiko dan tanggung jawab yang harus ditanggung, ia jadi semakin rindu Fani juga anak-anaknya. Tapi sebelumnya ia harus kembali sehat jika ingin bertemu dengan mereka, tak mungkin ia pulang dengan kondisi yang mengkhawatirkan begini.


Helikopter mendarat dengan sempurna di pangkalan darurat, bukan hanya prajurit dan komandan yang menunggu kedatangan, rupanya awak media, jepretan lensa kamera juga antusias warga sudah berebut untuk menyambut.


Selama Fara disandera ternyata semua berita di linimasa ramai oleh daftar sandera kelompok separatis, wajah juga data dirinya bersama sandera lain mendadak jadi sampul berita viral selama 2 hari ini.


Seketika jantungnya meleleh, "umi--'nyak?" gumamnya mengingat ibu dan mertuanya, sudah dapat dipastikan jika mereka tau bahwa Fara disandera kemarin.


Fara menunduk, berjalan cepat saat sudah mendarat. Dilindungi badan tegap beberapa perwira muda, Fara tak mau sampai wajahnya tersorot kamera demi menjaga perasaan kedua ibu, pasalnya luka-luka di wajah, kaki dan lengannya masih sangatlah segar.


"Selamat datang kembali, bu!" Frederick menyambut Fara bersama beberapa prajurit lain dan sekertaris ranting di batalyonnya.


Di luar ekpektasi, respon baik dan perhatian berlebih ia dapatkan dari ibu ketua kesatuan beserta istri danyon lainnya.


Beberapa karangan bunga dan bingkisan dikirim ke batalyon demi menyambut Fara, membuat Fara merasa punya keluarga baru. Tak kalah hangatnya di batalyon, ia disambut begitu penuh haru.


"Ibu!!! Selamat datang kembali!" seru para anggota persatuan istri prajurit. Ini memang rumah, dimana semua orang tersenyum hangat menyambutmu, dimana kehadiranmu sangat di butuhkan dan haru biru menyelimuti saat kamu kembali dari kepergian. Meski Al Fath masih disana, tapi ia tak kesepian. Regan, Kintan dan Marcel juga beberapa prajurit yang terluka langsung mendapatkan perawatan di rumah sakit.



Sudah 2 hari Fara berada di rumah sejak kejadian itu, ia selalu memantau berita, melihat para prajurit menurunkan kantong-kantong jenazah dari heli, sampai para jenazah itu diidentifikasi dan di otopsi, lalu dimasukkan ke dalam peti.



"Mama, makanan semalam dihangatkan saja. Masih banyak kan, sayang--daripada mubadzir," pintanya pada asisten rumah.



"Iya mace," balasnya.



"Permisi bu, mohon ijin menaruh karung beras ke dapur," ijin Frederick dibantu beberapa prajurit.



"Oh, iya om. Masukkin aja. Buka dulu pintu garasinya om dari dalem," suruh Fara, ajudan suaminya ini mengangguk paham dan melaksanakan perintahnya.



Ponsel Fara bergetar, "klan mama-mama tangguh?" alis Fara berkerut, sejak kapan ia membuat grup whatsapp alay seperti ini?



Fara mengangkat telfon itu, meski ia harus berjalan aga jauh sedikit menuju kantor batalyon.



"Fara!!!!" Fara langsung menjauhkan telinganya dari telfon.



"Umi--- 'nyak?!"



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2