
"Bang! Rajin amat, ini dia calon-calon pejabat negri,"
Pemuda dengan tampang manis nan ramah itu tersenyum, kemeja berlengan pendek yang sudah rapi dimasukkan ke dalam pinggang celana bahan coklatnya. Rambut klimis rapi siap menyambut hari meski negri tengah dilanda krisis moneter. Dialah Harris, mahasiswa teknik sipil dan perencanaan kampus TriMandraguna.
"Iye Cak, lu jam segini baru bangun? Katanya mau jadi perwira, masa jam segini baru keluar sarang!" ia menjemur pakaian yang baru saja dicucinya tadi sambil mandi, sebagai anak kost keduanya dituntut untuk mandiri.
Wicaksono, mahasiswa kampus kuning jurusan hukum adalah teman kost Harris, pemuda itu memang bergaya lebih urakan, terlahir dari keluarga cukup berada dan banyak menuntut membuatnya lebih memilih hidup sendiri di kost-kostan. Keluarganya menginginkan ia menjadi seorang pengacara handal, namun Wicaksono lebih bercita-cita sebagai seorang perwira, katanya biar terlihat keren di mata dunia.
"Kopi dulu bray! Biar ngga panik, ngadepin duit jajan yang pas-pas'an!" ucapnya berjongkok di halaman bertanah merah dekat dengan tiang jemuran para penghuni kost-kost'an.
Harris menggelengkan kepalanya, "ngopi terus, sarapan dulu! Biar ngga numpukin asam lambung!" jawabnya duduk di depan Wicaksono, ia menyapu teras rumah dengan telapak tangan besarnya agar cukup bersih untuk dipakai duduk, seraya bersiap memakai jas almamater kebangaannya, berwarna biru tua. Jelas ia bangga, untuk pemuda kampung seukurannya yang hanya terlahir dari keluarga pas-pas an butuh perjuangan keras demi bisa berkuliah, gayanya tak neko-neko terkesan mirip si doel anak betawi asli, tampan dan keren pada masanya.
"Bang, si Fatimah anak tukang nasi uduk gimana?" Wicaksono menaik turunkan alisnya.
"Ck, taulah! Yang gua pikirin sekarang, kuliah yang bener, bikin bangga nyak babeh! Gimana caranya cepet ambil skripsi, terus cari kerjaan sesuai perjuangan dan pengorbanan, buat ngubah sistem pemerintahan yang arghhh, miris lah!"
Wicaksono menepis, "kalo bisa nih, lu harus punya tempat di Senayan sana! Dengan kemampuan otak dan hati nurani lu, lu pantes jadi wakil rakyat, biar negri ngga gini terus!" ujarnya.
"Nah, masalah keamanan biar gua yang urus!" kekehnya masih bau jigong, karena turun dari kasur pemuda ini malah langsung keluar ngopi tanpa masuk ke kamar mandi dahulu.
Harris mendorong kepala pemuda slengean itu, "mandi dulu sono! Tuh iler lu sampe kering, rakyat juga ogah punya aparat jorok kaya lu!" cebiknya, ia malah tertawa.
"Udah beli nasi uduk belum bang?" tanya Wicaksono, dirasa-rasa perutnya lapar juga semalam habis bergadang ngobrol-ngobrol dengan teman satu kampusnya.
"Udeh! Tuh masih ada sebungkus di kamar, ambil sono! Katanya orang kaya tapi kok bangkrut gini ?!" Harris cengengesan.
Ia berdiri semangat, "belum! Liat nanti!!! Selulus nanti, gua bakal daftar pendidikan militer, bakalan gua genggam dunia di tangan gua!!!" jumawanya.
"Woyyy berisik! Ngga tau apa semaleman gue ngerjain makalah!" kepala seorang pemuda lainnya melongok dari jendela kamar dengan mata yang masih menyipit menghalau sinar mentari.
"Bangun oy! Dunia aja udah terang begini!" sewot Wicaksono menyebalkan, padahal ia pun begitu jika ada orang yang mengganggunya tidur.
Harris tertawa dan beranjak, "ngga usah kebanyakan gaya dulu! Celana melorot tuh, beli dulu boxer baru, masa iya perwira pake boxer melorot!"
"Cak, gua berangkat ngampus dulu!" pamit Harris.
"Ngga mau bareng bang?!" teriak Wicak melihat Harris berlalu.
MEI '9X
Seorang mahasiswa lintas kampus berlari di pelataran gedung kampus TriMandraguna demi mencari seseorang.
"Lu kenal Harris anak teknik sipil?" tanya nya, pada beberapa orang yang ditemui, tapi beberapa orang menggeleng, "ngga liat!"
Ia terus mencari keberadaan sahabatnya itu, hingga ia menemukan Harris sedang berada di perpustakaan kampus seorang diri.
Ia bernafas lega, "gua kira lu ngikut di lapang bang?!" sapanya tanpa salam, kemudian ia duduk di salah satu bangku perpustakaan.
Harris menghela nafas, "ikut! Tapi gua inget tugas juga, jadi mampir dulu kesini,"
__ADS_1
"Lu mau ikut demo bang?" tanya Wicaksono.
"Ikut, demi tersampaikannya aspirasi rakyat. Harus ada perubahan, kita kaum terpelajar, sudah sepantasnya kita membela rakyat, bukankah begitu calon prajurit?" tanya Harris. Wicaksono tersenyum lebar, "Kampus kuning juga ngikut bang, gua juga ada disana nanti!"
"Oh iya bang, nanti bulan depan ada pendaftaran akmil! Gua mau ikut! Tapi gua minta tolong sama lu, boleh ngga bang?" pintanya, Harris mengerutkan dahinya, "minta tolong apa?"
"Bangunin gua tiap subuh, biar bisa lari pagi. Latihan biar lolos seleksi!" tawanya renyah, Harris menutup buku yang sedang dibacanya '*Aplikasi Matematika Analitas Untuk Bidang Teknik*'
"Makanya, jadi manusia tuh sholeh dikit! Solat tiang agama Cak, bangun subuh kok waktu ada perlunya doang!" omel Harris, ia malah tertawa tergelak, membuat para penghuni perpustakaan mendelik sinis dan berdesis.
🌟 Esoknya
Dugh--Dugh--!
"Cak! Subuh oyyy!" Harris mengetuk pintu kamar Wicaksono. Meski si empunya kamar susah untuk bangun, Harris tak menyerah, dengan setia ia mengetuk dan membangunkan sang sahabat, sampai Wicaksono terbangun.
"Ehhh, mau kemana lu?" seru Harris.
"Mandi! Solat, abis itu lari pagi, push up! Katanya bulan depan mau ngikut pendaftaran?!" lanjutnya.
"Bentar aja bang, 10 menit deh!" Harris dengan sadisnya malah menyeret sahabatnya itu ke kamar mandi dan mengguyurnya dengan air dingin, betapa tidak Wicaksono terkejut, matanya langsung melotot segar.
"Bang! Sadis lu!"
"Subuh!!" sengaknya meninggalkan Wicaksono agar pemuda itu bersih-bersih.
Dengan berbekal buku pelajaran di tangannya, Harris mengawasi Wicaksono saat berlari pagi, dari push up sampai sh-it up, ialah yang menjadi pendamping sang calon jendral ini berlatih.
"Stop rokok Cak! Apalagi minuman alkohol!" perintahnya.
__ADS_1
"Iya bang!" jawabnya di sela-sela nafas yang sudah terengah-engah.
"Bang!" nafasnya tersengal, Harris mendongak, menghentikkan bacaannya di teras berteman pisang goreng dan teh manis.
"Ntar rombongan kampus gua datang jam 10an bang ke TriMandraguna!"
"Hm," jawab Harris dengan deheman.
10.30 wib
Kampus TriMandraguna
Aksi damai civitas akademika universitas TriMandraguna yang bertempat di pelataran parkir depan gedung M dimulai dengan berkumpulnya segenap civitas TriMandraguna, mulai dari mahasiswa, dosen, pejabat fakultas, serta karyawan universitas.
"Ru, kampus lain sudah bergerak melakukan long march dari gedung kampus masing-masing, info dari setiap senat kampus!" Dodi menginfokan pada ketua senat kampus TriMandraguna.
"Oke," Harris yang sama-sama berada di barisan sana menghirup nafas dalam-dalam. Bagaimana jika kedua orangtuanya tau ia terlibat aksi demo yang melibatkan hampir seluruh lapisan mahasiswa dan masyarakat. Ia hanya berdo'a semoga ada dalam lindungan Allah. Keonaran sudah terjadi dimana-mana, demi meminta pemimpin negara kala itu melengserkan jabatannya. Sekitar 6000 orang kini sudah berkumpul di depan mimbar demi memulai aksi orasi, berbagai kalangan hingga karyawan ada berbaur disini.
Langit ibukota mendadak murung, bukan karena akan turun hujan atau memang iklim sudah masuk musim penghujan. Melainkan karena ia tengah berduka untuk hari ini.
Terik matahari tak menyurutkan tekad massa demi meminta hak warga negaranya.
"Ris, turunkan bendera setengah tiang!" pinta Heru dan salah satu dosen.
Harris maju ke depan mimbar, menurunkan bendera hingga setengah tiang bersama beberapa mahasiswa dan dosen lainnya.
Mereka serempak menyanyikan lagu kebangsaan, saat dimana detik-detik bendera pusaka negara ikut merosot. Kemudian mereka mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat pada masa itu.
Orasi berjalan damai, hingga pukul 12.25 wib suasana mulai panas dipicu dengan kehadiran anggota aparat di dekat jalan layang dan menuntut mereka untuk melakukan long march menuju gedung wakil rakyat.
Harris dapat melihat begitu ketatnya penjagaan dari aparat, membentuk beberapa lapisan pengamanan, mulai dari aparat berbaju coklat, hijau loreng, pasukan bermotor beberapa batalyon kemiliteran dikerahkan dilengkapi dengan tameng, gas air mata, senjata api, Steyr, dan SS-1.
Seperti mereka sedang akan berperang melawan pasukan bersenjata lengkap, sementara mereka sendiri tanpa memegang apapun selain dari keteguhan hati.
"Ris, kamu ngga takut? Balik aja gimana?!" seorang teman fakultasnya berbisik, melihat para aparat sudah bersiap memukul mundur dengan senjata masing-masing. Ia tak mau mati konyol, hanya untuk membela nasib orang satu negara.
Harris tersenyum menyungging, "gua tak akan mundur, ada amanah dalam perjalanan belajar gua, Rip. Nyak babeh gua pengen gua jadi orang yang berguna buat nusa dan bangsa. Ada harapan kehidupan bernegara yang layak, yang dititipkan orang sekampung sama gua, Rip."
"Ada amanah yang harus gua perjuangkan sebagai kaum terpelajar," sumpah setianya, meski kening sudah berada di depan moncong senapan.
Ia tak gentar sekalipun menghadapi aparat bersama ribuan orang lainnya, termasuk Wicaksono. Sifat nasionalisme melekat kuat di diri Harris, jika Wicaksono menginginkan menjadi kaum berotot dan bersenjata, lain halnya dengan Harris yang lebih memilih bermain otak, itulah caranya mencintai negrinya, mencintai orang-orang di dalamnya.
Fara tak sekalipun mengeluarkan suara, tangisan meraung-raung ataupun sesenggukan saat jendral bercerita tentang pertemuannya dengan ayah Fara. Bagaimana masa muda mereka demi meraih cita-cita masing-masing yang ingin mengubah dunia, memperbaiki sistem negeri demi tanah kelahiran, hanya saja matanya sudah menitikkan air mata hingga menganak sungai di pipi yang bertambah chubby itu. Sesekali ia menyeka dengan punggung jari telunjuknya, dibantu Al Fath menepuk dan mengusap-usap punggung sang istri.
.
.
.
.
Maaf ngiklan dulu sebentar yeee barang 1, 2 bab kisah bapaknya Fara sama si jendral, biar nanti kisahnya tidak ambigu dan bikin bertanya-tanya 😉
__ADS_1