Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
MISI RAHASIA


__ADS_3

Bersama ditangkapnya kolonel Pamungkas, menyeret sejumlah nama-nama penting diatas sana. Kasus suap yang dilakukan Denawa berbuntut panjang, setelah rekening gemuk kapten Arjuna terkuak kemudian rekening gemuk milik kolonel Pamungkas serta tindak pencucian uangnya pada sejumlah asset.


Berita ini menjadi viral beberapa hari ini, di setiap surat kabar, media cetak dan online, juga sosmed, tapi sampai saat ini Fara belum mengetahui hal itu. Ia terlalu sibuk dengan kegiatannya sebagai ibu danyon dan programnya bersama persatuan istri prajurit lain.


Al Fath terlihat serius menelfon nyak.


"Nyak kurang paham sama beginian Fath,"


"Biar Fath urus nyak, Fath pasti bilang Fara, tapi bukan sekarang...Fara sedang sibuk dan getol-getolnya jalanin program kesatuan, lagipun Fara sedang hamil--- tidak mungkin Fath mengijinkan Fara untuk bepergian bolak-balik antar pulau, tentunya akan menguras tenaga, waktu dan pikiran."


"Fath akan meminta om Afrian mengurus semuanya, termasuk menyewa pengacara dan mendampingi nyak disana nantinya, kalaupun nanti tanda tangan Fara dibutuhkan biar nanti om Afrian yang kesini," jelas Al Fath.


"Makasih Fath, gimana baiknya menurut elu deh. Nyak ngga minta apa-apa, yang penting keadilan buat keluarga kami."


Al Fath menutup panggilannya. Ia menyenderkan punggung di kursi untuk selanjutnya menelfon Afrian dan membicarakan masalah ini setelah meminta saran abi Zaky.



"Bukan mainn! Gede juga suap yang dikasih Denawa," gelengan kepala Dude.



"Dia juga menangkap satwa dilindungi dan menjualnya," jawab Al Fath.



"Ck--ck! Edyannnn, ngga tanggung-tanggung jarah kekayaan negara sampai dibabat habis. Oh iya, darimana kolonel Pamungkas bisa mengenal kapten Arjuna?"



"Dulu kolonel Pamungkas adalah danyon disini sebelum saya. Jadi beliau pasti mengenal Arjuna juga Denawa, Denawa adalah pemuda asal distrik ujung." Mereka mengangguk-angguk paham.



"Nasib sisa warga yang hendak melintas itu gimana?" tanya Taufik. Kini mereka sedang membuka obrolan santai di ruangan Al Fath.



"Ya bisa kau tebak lah! Dikembalikan ke distrik tempat mereka berasal dan diberi penyuluhan," pungkas bang Yo seolah sudah tau jalan pikiran pemerintah.



"Yup! Dan disinilah *bapak mateo* beraksi!" adu kepalan tangan dilakukan Gentra dan Dilar yang memang pernah melakukan tugas kemanusiaan di timur beberapa tahun ke belakang.



"Apa tidak takut jika mereka akan menumbuhkan bibit-bibit Denawa baru?" tanya Andre.



"Ya kau nikahi lah satu persatu warga perempuannya dan kau tanamkan sifat nasionalisme termasuk bibitmu," tukas Bang Yo lagi.



Mereka tertawa ditengah obrolan serius ini, "kamvrettt! Besok malem ada bola kan, bisa nonton ngga nih?" tanya Andre lagi.



"Bisa, tapi mesti buka layar. Biar semua kebagian nonton. Sinyal yang ketangkap hanya di dekat pemancar itu," tunjuk Al Fath ke arah luar jendela dimana tempat kemarin Fara mencari sinyal.



"Ya kau tunggu apalagi borr? Kau buat lah layar sekarang biar besok malam bisa nonton!"



"Sekalian cari cemilan bang, biar nontonnya makin seru!" ujar Gentra.



*Gedubrakkk*!



*Grusukkkk*!



"Se tan! Apaan tuh?!"



Mereka menoleh terkejut ke arah luar.



"Mamposs kan!" ia berlari duluan tanpa mau menolong Frederick yang barusan terjatuh dari tangga.



"Siapa tuh!"



Frederick yang baru bangkit belum sempat berlari karena keburu ketauan oleh semua yang ada di ruangan ini. Mereka keluar untuk melihat apa yang baru saja terjadi sampai menimbulkan suara nyaring nan keras.



"Frederick?!"


__ADS_1


Pemuda ini meringis, karena ketauan melakukan dosa. Dengan badan yang masih ngilu, ia bangun dibantu Dilar, "lagi ngapain bro?" tawanya melihat tangga dan tang yang dipegang Frederick mereka bukan tak tau jika junior ini sedang ingin mencuri koneksi jaringan, sinyal dan wifi batalyon.



"Kau mau mencuri boy?" tuduh bang Yo tepat sasaran, sontak saja Frederick menggeleng cepat tak terima, pasalnya ia hanya disuruh atasan saja.



"Kamu sedang apa Rick? Jangan berbohong, saya tau apa yang mau kamu lakukan?!" ucap Al Fath menusuk membuat Frederick tak bisa lari kemanapun dan berbohong.



"Ini ndan---maaf."



"Ngomong yang bener!" teriak Al Fath membuat mereka tersentak.



"Siap salah ndan! Saya hanya ditugaskan bu Fara!"



"Pffttt!" mereka hampir menyemburkan tawanya, istri danyon itu--- benar-benar tak bisa jika tak bertingkah sehari saja.



"Ibu kenapa?!" bentaknya lagi tegas.



"Lapor ndan, ibu meminta saya memasang ini di pemancar. Katanya jangan lapor bapak, karena ini misi rahasia!" jelasnya lalu menelan salivanya sulit, keringat mengucur dari kepala dan pelipis dibawah teriknya matahari.



"Bahh--"



"Ha-ha-ha, ampun bu Fara! Misi rahasia, nyolong wifi!" mereka kembali tertawa, si kaku Al Fath akhirnya mendapatkan pasangan seorang Fara yang magic.



"Sekarang istri saya dimana?" tanya Al Fath.



"Tadi----" Frederick menunjuk ke arah....kosong?!




"Ampun bini Al Fath!"



🌟 Di halaman rumah



"Hoffttt! Selamet," Fara mengipasi wajahnya yang panas. Memang susah berlari disaat sedang hamil begini. Padahal dulu ia adalah juara marathon saingannya tak tanggung-tanggung para w4ria jalan Ma\_luku.



"Om Rick gimana ya?" ia malah terkikik sendiri atas kelakuan nyelenehnya.



"Anak buah kamu sudah tertangkap, sekarang abang tinggal nangkap bosnya!"



Seperti petir di hari yang cerah! Fara terkejut bukan main, mendengar suara Al Fath sudah berada di belakangnya bersama Frederick yang menunduk.



"Bujuggg! Kaget!"



"Abang, apa sih! Fara ngga ngerti?!" kilahnya.



Para perwira itu penasaran dengan drama rumah tangga yang akan dimainkan selanjutnya, apakah akan berakhir dengan k.o nya si wanita atau justru lelaki bucin yang akan mengalah layaknya bang Yo, mereka mengintip di belakang di balik pohon.



"Ngga usah pura-pura ngga ngerti. Bukti dan saksi sudah di tangan, dek. Jadilah pemimpin yang bertanggung jawab?!" cecar Al Fath tersenyum miring.



Fara memanyunkan bibirnya, dengan dahi yang mengkerut masam, "Fara mau ngerjain tugas ibu-ibu ranting ih! Abisnya disini susah sinyal!"



"Kenapa harus nyolong, kenapa ngga ijin?" tuduh Al Fath.


__ADS_1


"Fara ngga nyolong! Lagian kalo perlu Fara ganti pake uang abang nanti, repot amat!" balasnya, sudah salah sewot..ya begitulah sifat dasar emak-emak satu ini termasuk authornya 🤣.



"Terus apa namanya kalo bukan mencuri, ambil dan nempelin tanpa ijin?!" tanya Al Fath.



"Itu namanya numpang, bang!" alibinya sudah cocok jadi seorang pengacara.



Al Fath menggelengkan kepalanya tak habis fikir, ada saja jawaban istrinya.



"Numpang make jaringan sebentar, abis itu udah---janji ngga retas atau ambil data apapun dari batalyon. Janji deh!" ia menunjukkan kedua jari--bukan...bukan keempat jari tangannya di udara membentuk 2 peace.



"Kamu kan bisa minta ijin baik-baik ngga usah kaya gini, kasian Frederick,"



"Iya maaf, om Rick maafin saya ya," sesal Fara.



"Iya bu, tak apa." jawabnya.



"Terus, abang ijinin ngga? Kalo diijinin Fara mau ngedit sama terima email?!"



"Dari siapa?" Al Fath menaikkan alisnya sebelah mulai curiga.



"Temen di ibukota!"



"Laki-laki, perempuan?!" tanya jya lagi.



Fara mengernyit, "emang penting ya?"



"Penting!"



"Cowok! Temen Fara yang biasa ngerjain project bareng Fara dulu! Mau minta tolong,"



"Engga! Kalo gitu adek ngga boleh pake," Fara melotot menaikkan alisnya, "kok gitu?!"



"Ngga apa-apa, abang ngga mau aja kasih kamu," wajah Fara semakin kecut dibuatnya.



"Om Rick! Panjat lagi tiangnya! Biar kita orang kasih tau nih bapak komandan yang sombongnya ngalahin malin kundang, kalo dia tak mau kasih itu jaringan Wifi..sa bisa ambil sendiri!" cerocos Fara mendesis tajam nan galak, sedikit banyaknya mengerti bahasa timur meski banyak salahnya.



"Ohhh, mau nakal ya?!" Al Fath menghalangi jalan Fara.



"Minggir!" sengak Fara mendongak sambil berkacak pinggang menantang pria-nya.



Al Fath dengan sengaja menggendong si nakal kesayangan nya membawa ia masuk ke rumah, "Abanggggg!!!!!"



"Tuh bang! Bang Fath lebih cerdas ngendaliin singa galak. Kalo bini lagi ngambek tuh gendong!" ujar Gentra pada Yosef.



"Mau gendong gimana Tra, belum apa-apa udah dihantam duluan!" tawa Dilar puas disusul tawa Andre.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2