Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
SIASAT DENAWA


__ADS_3

Kaca-kaca gedung dan ruko pecah tanpa Fara tau sebabnya kenapa, entah ditembak atau dilempar. Pikirannya serasa melayang entah kemana, apa jiwa Fara sudah meninggalkan raganya duluan?


Bukan hanya Fara yang menjadi sandera, ada beberapa warga sipil lain bernasib sama. Entah kualifikasi apa yang mereka lihat secara acak untuk memilih sandera.


Anggota aparat berseragam coklat salah satunya, pegawai perkantoran, pedagang, dan 4 lainnya.


Yang Fara rasakan kali ini adalah mereka digiring masuk ke dalam salah satu gedung yang cukup tinggi, berjalan dengan todongan senjata di belakang kepala melewati sejumlah anak tangga.


Ia tak menghitung sudah berapa banyak anak tangga yang dilewati saking takutnya. Seharusnya sebagai hamba ia tau jika nyawa memiliki pemilik, jadi jika Tuhan memang punya niatan untuk mengambilnya maka ia harus ikhlas menerima takdir. Yang ia minta hanya satu, jaga selalu dia untuknya.


Mereka terus berjalan sampai tiba di atap gedung, Fara mengernyitkan dahi dan merasa heran, ia melirik ke arah Kintan seolah bertanya, bukannya itu helikopter milik kesatuan?


Kintan hanya mengulas senyum getir pada Fara.


"Tidak semua orang berhati murni bu," ujarnya. Mungkin maksud Kintan adalah penghianatan di tubuh kesatuan. Rupanya Denawa sengaja menyewa helikopter ini lewat kolonel Pamungkas sebelum ia tertangkap sebagai jalannya untuk melarikan diri jika rencana pemberontakan ini gagal, ia susupkan anak buahnya ke dalam resimen dibantu Pamungkas beberapa hari yang lalu.


Kini ia memiliki rencana lain setelah mendapat informasi dari anak buahnya di distrik perbatasan tempo hari, jika ada seorang istri komandan yang berinisiatif mengubah masa depan para pemuda timur, tentu saja itu akan menjadi ancaman besar untuknya, jika Fara sampai melanjutkan aksinya maka para pemuda akan membelot dari pemahaman separatis yang dudah tertanam. Ia tau setiap jadwal Fara dan segala tentang batalyon dari Arjuna.


Membawa Fara akan lebih banyak mendatangkan keuntungan untuk Denawa, selain dari dendam pribadi pada Al Fath karena telah mengobrak-abrik kelompoknya sewaktu di Born neo, termasuk membunuh Ampong, kaki tangan sekaligus sepupu Denawa.


Dengan memakai helikopter milik kesatuan, tak akan sulit bagi mereka melintas, meski harus berhati-hati.


Beberapa perwira mengerutkan dahi, "mohon ijin bicara ndan, sejak kapan helikopter serbu di operasikan di dekat pusat kota, mereka memasuki zona tempur?" mereka mendongak demi memastikan penglihatan.


Segera komandan mengontak beberapa perwira yang bertindak sebagai komandan, tapi diantara mereka tak ada yang memberi komando demi menerbangkan helikopter serbu.


Inilah kali pertama Fara terbang memakai helikopter, tetapi bukan pengalaman yang mengesankan. Bukan ini yang ia mau.


Melihat kejanggalan, komandan memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa.


"Lapor Ndan! Kelompok seperatis mengangkut sandera memakai helikopter serbu milik kesatuan !!!"


"Apa?!!!"


"What the f*ck!" ia sampai melempar baret miliknya ke meja.


"Hubungi para skadron di udara untuk menghadang, terbangkan tim terbaik dari angkatan udara!"


Al Fath dan kawan-kawan yang sudah melumpuhkan musuh di ring 2 mendongak demi melihat sebuah helikopter melintasi kepala mereka begitu mulus tanpa serbuan tembakan dari pihak musuh.


"Bah!!! Itu!"


"Ada yang ngga beres bang," ujar Al Fath, mendadak hatinya dilanda rasa tak nyaman.


"Segera meminta status Ndre,"


"Siap. Comando come in! Unit XXX meminta status, baru saja melintas helikopter serbu ke dalam zona tempur," ucapnya meminta balasan di alat komunikasi.


"All tim, waspada. Musuh mengelabui dengan helikopter serbu kesatuan membawa sandera! Tugas beralih, prioritaskan pembebasan sandera!"


"B4ng k3!"


Mungkin peleton infanteri dengan mobil amfibi hanya bisa menjangkau sampai sini saja, mengingat medan di depan mereka melewati tebing cukup curam dan air terjun.


"Mohon ijin melapor ndan, melihat medan, tak memungkinkan untuk kami melanjutkan dengan membawa kendaraan!" ucap danton pembawa mobil.


"Ijin diterima, bagi peleton yang berjalan, lanjutkan pertarungan!"


Akhirnya Al Fath bersama satu peleton dilengkapi unit r41 der melanjutkan perjalanan. Langkah mereka terampil seperti tak kesusahan, karena memang inilah yang di gen jot saat pelatihan dahulu, berjalan berhari-hari melintasi gunung dan lembah.


Sebuah kampung dengan rumah-rumah kayu menjadi pemandangan di ujung hutan perbatasan, mungkin perkampungan tertinggal dan tak terjamah. Entah kemana para penghuninya kini, hanya saja terasa sepi sekarang.

__ADS_1



Sepasang sepatu delta kotor dan lusuh berdiri di depannya, dengan tanggap Kintan menjadikan dirinya tameng.



Bugghh!



"Jangan!" Fara bukan tentara yang kuat fisik dan mental, pantas jika ia menangis sekarang, melihat kedua ajudannya selalu disakiti, dibalik tangguhnya Fara ada hati yang lembut untuk orang sekitar.



Kulitnya gelap, jika ia baik dan terawat mungkin ia manis. Tapi sayangnya itu tidak berlaku sekarang, di wajahnya banyak luka codet bekas sayatan. Kulit wajah berminyak dan dekil membuat Fara membuang mukanya dari sang pimpinan.



Bau asap tembakau sekaligus apek ruangan begitu pekat di penciuman Fara. Rumah ini begitu berantakan dengan semua barang di dalamnya, bukan rumah...lebih seperti gudang atau kandang hewan.



"Ucapkan! Negara ini sam%@^\#&! Negara ini @&\#%!$!" mereka tertawa padahal tak ada yang lucu, dapat Fara lihat wajah-wajah ketakutan dari sandera lain, wajah meringis yang mulai pias dari mulai pak pol dan kedua ajudannya.



"Argghhh!" Fara memejamkan mata tak ingin melihat kekerasan yang terjadi, meski di telinganya tetap saja terdengar erangan kesakitan dan suara hantaman. Begitu keji!



Ia sudah terke ncing di celananya. Tak akan ada yang mendengar jeritan mereka disini.




"Jangan sentuh ibu!!" masih saja Kintan dan Marcel membela Fara meski keduanya sudah terkapar.



Di sudut kanan bendera negri telah dirusak sampai koyak, bahkan setengahnya terbakar.



"Ooooo! Ini rupanya mace komandan yang so pintar itu!!! Yang mampu memancing atensi para pemuda timur karena ide briliantnya?!!!!"



Plak!!!



Pipi Fara kebas, berdenyut dan memerah. Tanpa permisi air matanya lolos akibat sengatan yang membuat pipinya mendadak tebal.



"TAK ADA YANG BOLEH MEMBUAT MEREKA MAJU BERSAMA NEGARA!!! MEREKA MILIK TANAH TIMUR!!! BUKAN MILIK NEGARA!" teriaknya di depan wajah Fara membuat perempuan itu memejamkan mata dan menunduk. Fara melihat dirinya dulu di diri Denawa meski tak seanarkis Denawa, tapi sekarang, melihat kelompok ini menghina negaranya ada rasa sakit di hati Fara, ia mengingat jendral Wicak, bu Fani dan kawan-kawan, almarhum bapaknya, umi Salwa, senyum-senyum anak negri, keramahan warga negri, rekan-rekan perjuangan Al Fath, dan tentunya suaminya Al Fath... picik rasanya jika satu negara harus turut menerima getahnya, pelampiasan amarah atas kelakuan bejat segelintir orang.



"Apa yang akan mereka dapatkan, sakit hati! Saat mereka tak berguna negara tak peduli, membuang mereka, tetapi saat mereka berguna maka negara memanfaatkannya!" ia masih berteriak berpidato layaknya seorang jendral besar, padahal di belakang sana Fara sedang mengejeknya. Tangan Fara mengepal namun tak cukup berani untuk melawan, kedua ajudannya mewanti-wanti Fara untuk diam.

__ADS_1



"Picik!" gumam Fara dengan mata mendelik.



Dinding kayu yang bercelah-celah seolah menjadi saksi bisu lelaki ini mengumandangkan ikrar kebenciannya. Hari mulai gelap, perut lapar bahkan tak berselera untuk diisi. Matanya sudah lelah untuk menangis, terdengar isakan dari yang lain meminta pulang.



Da rah akibat penyiksaan mungkin sudah kering dengan sendirinya, diantara para sandera lain hanya Fara yang diistimewakan tanpa drama penyiksaan, entah mungkin ia adalah makanan penutup untuk mereka. Yang jelas satu untuknya, *jaga anakku ya Allah*!



Cahaya hangat mentari perlahan ikut meninggalkan Fara dari celah-celah rumah kayu. Apakah hari ini adalah hari terakhirnya?



Kedua kelopak matanya terlalu lelah untuk sekedar terjaga, tapi demi mempertahankan marwahnya ia memaksakan diri untuk tetap bangun.



"Bu, ibu baik-baik saja?" Marcel bahkan sudah terbatuk-batuk dengan mengeluarkan cairan kental merah, Fara menitikkan air mata, sebegitu pengabdian pemuda itu pada Fara dan Al Fath. Ia mengangguk cepat, "om harus kuat, sampai militer kesatuan datang. Fara yakin sebentar lagi," tangisnya begitu lirih di telingan Kintan dan Marcel.



"Saya perintahkan kalian untuk selamat, pleaseeee." Baru kali ini Fara menangisi orang sampai memohon.



Setelah puas menjadikan Marcel, Kintan dan sandera lain jadi samsak tinju, Denawa dan kawan-kawan keluar dari rumah kayu itu.



"Siap laksanakan bu," meski terbata-bata.



Sayup-sayup terdengar oleh Fara, tepat di samping rumah dua orang bicara, "malam harus lebih waspada, mereka hantu rimba. Bagaimana mama dan adikmu Lay? Kapal angkut sudah sampai pantai kah?"



"Yang sa dengar kapal dihadang militer. Tapi entah lah, itu jadi urusan panglima, semoga mereka baik-baik saja," balasnya.



"Bagaimana dengan pasokan logistik mereka?" bisik Regan, rupanya tim San dha sudah sampai di arah 2,5 km dari lokasi Denawa.


"Sudah ditemukan di sekitar 1 km barat daya dari lokasi mereka berada."


"Kita istirahat disini dulu dengan mode senyap."


"Siap ndan!"


Para prajurit muda mengistirahatkan diri dengan hati-hati penuh kewaspadaan mengingat jarak yang dekat.


"Satu jam lagi kita berangkat, bersiaplah!" ucap Al Fath.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2