Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
MISI KEMANUSIAAN


__ADS_3

"Abang! Mau kemana?"


"Abang mau liat hasil latihan tembak para perwira muda di arena tembak, kenapa?" tanya Al Fath.


"Siapa instrukturnya?"


"Andre sama bang Regan, sebelum mereka balik ke ibukota ada baiknya abang tugaskan mereka dulu untuk melatih para perwira, hitung-hitung berbagi ilmu. Sementara yang lain memimpin penyisiran area batas negara," jawab Fath.


"Oh, Fara ikut! Pengen jalan-jalan," pintanya. Al Fath menarik alisnya sebelah, "yakin? Ini latihan tembak dek, berisik! Bukannya kamu ngga suka?"


"Yakin! Insyaallah sekarang suka, sejak liat abang nembak,"


"Kandungan Fara udah masuk trimester kedua, udah segeran--dedeknya udah kuat,"


Al Fath merotasi bola matanya, lesunya aja bertingkah apalagi jika segeran begini. Tapi melihat matanya yang berkaca-kaca kaya permukaan agar-agar, mirip anak tiri yang dizolimi, akhirnya Al Fath mau tak mau mengajak si bumil.


"Ya sudah, yok!" Fara tertawa kecil dan melingkarkan lengannya di lengan Al Fath.


"Yeee!" ia berseru gembira, kaya mama si sinchan waktu dapet lotre.


Mirip-mirip anak smp pacaran, keduanya bergandengan tangan tak pernah jajan-jajan, sampai arena latihan tembak.


Al Fath memasangkan earphone di telinga Fara plus kacamata safety bening.


"Mulai!"


"Fokus! Jangan terburu-buru!" sentak suara tegan Regan. Jika sedang bekerja mereka memang keren dan dingin, tak sehangat saat di luar jam kerja.


Dorrr!


Sasaran yang terbuat dari bantalan dan papan tertembak meski banyak yang melenceng, namun tak sedikit pula yang tepat sasaran.


"Fokuskan di area vital!" teriak Andre.


"Malu! Komandan kalian adalah salah satu sniper terbaik yang dimiliki kesatuan. Maka kalian pun harus bisa melampauinya!"


"Apa iya?" Fara mengernyit meremehkan tak percaya memandang Al Fath mendengar ucapan Andre barusan.


"Kamu saja abang tembak langsung tepat sasaran kan? Masih ngga percaya?" wajahnya yang datar membuat Fara mengerutkan dahi berlipat-lipat bukannya tersenyum merona.


"Abang lagi gombal?" Fara tertawa kecil dan menepuk lengannya keras, "ngga pantes!"


"Nggak," gelengan kepala Al Fath, padahal dalam hati ia merutuki mulutnya sendiri karena malu.


"Sudah sejauh mana Ndre, bang Re?" tanya Fath.


"Sudah sedikit halus. Tapi masih jauh dari ekspektasi," jawab Regan. Ia tak pernah menutup-nutupi kenyataan jika mereka memang perlu banyak berlatih.


"Iya bang. Ekspektasi abang dan ekspektasi mereka berbeda," senyum Al Fath.


"Iya. Saya maklumi, mereka bukan satuan khusus seperti San dha. Tapi ada baiknya kamu turunkan ilmu mu Fath, termasuk sama istrimu tuh!"


Al Fath baru menyadari jika Fara ternyata sudah tak ada di sampingnya, melainkan ngerecokin Andre minta diajarin nembak.

__ADS_1


"Gini, om?" tanya Fara memposisikan senjatanya di depan, dengan tangan lurus ke depan.


"Gini bu, diangkat lurus sama lengan. Tarik nafas, bidik dulu sasarannya,"


Fara menurunkan pistol dengan kepayahan, "ah elah! Lama! Ini berat, tangan Fara sampe tremor gini?!" keluhnya menggerutu, Andre tertawa renyah.


"Masa ngangkat segitu aja udah tremor. Biasanya juga angkat beban hidup sekampung," Fara ikut tertawa, "yee! Beda itu mah, udah bawaan orok kalo beban hidup!"


"Jelasin dulu, baru Fara angkat senjata, berat soalnya. Fara kirain kaya pistol mainan!" kekehnya santai.


"Ini pistol beneran Ra, masa iya disamain sama pistol mainan Zidan!"


"Angkat, sejajarkan dengan lengan. Bidik dulu target, nanti tarik pelatuk. Tapi harus kuat pegangan kamu nanti gaya dorong dari lesatan peluru cukup menghentak kuat."


"Kok susah om?! Ini macet apa gimana?!" saat ia menarik pelatuknya.


"Itu jari kamu kurang kuat nariknya."


Dorrr!


Fara yang menembak tapi perempuan itu pula yang tersentak dan terpundur ke belakang, "yahhh! Itu nyasar kemana pelurunya?!"


"Ke warung Ra, ngopi-ngopi sambil makan gorengan!"


Fara tertawa renyah, "sa ae panci daging! Dah lah Fara ngga cocok megang pistol, belum apa-apa udah frustasi gara-gara pistol! Gagal keren lah, padahal kan keren tuh kaya lara croft di tomb rider!"


Tapi saat Fara menurunkan pistolnya, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, mengarahkan tangan Fara ke depan, "angkat. Arahkan, jangan terlalu pas dengan target, selain karena hentakan peluru, ada faktor angin dan lainnya yang bisa bikin laju peluru tak tepat sasaran."


Ia menaruh dagunya di pundak Fara, wangi aroma parfum Al Fath begitu memeluk Fara, bahkan satu tangannya sudah mengusap-usap perut Fara seolah memberikan sentuhan ketenangan untuk sang janin di dalam sana agar tak ikut kaget seperti ibunya, hal itu justru bikin konsentrasi Fara malah buyar.


Dorr!


Fara justru terkejut dengan tembakannya sendiri, "Haa?! Emejingggg!" justru peluru yang ini tepat mengenai sasaran meski melenceng dari area vital.


"Abang awas ah! Kalo belajarnya sama abang malah bikin konsentrasi buyar!" omelnya.


Regan dan Andre terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Orang-orang tuh pengen dilatih Al Fath, ini bininya malah ogah-ogahan!" sahut Andre.


"Iya, demi kesehatan jantung dan empedu om. Kan deg-degan gue-nya kalo sama abinya dedek!" Fara menyentuh dadanya yang mendadak gugup.


"Udahan ah! Mau pulang aja!" salah tingkahnya. Ia tak terbiasa dengan hal-hal berbau romantis yang Al Fath lakukan, membuatnya jadi gugup, meleleh, dan lemas seketika.


"Meleleh gue-nya om!" aku Fara membuat ketiganya tertawa, termasuk Al Fath, gemas melihat tingkah istri nakalnya. Suara rintikan hujan mulai terdengar jelas, hingga kelamaan menjadi deras dan begitu lebat.


Rupanya tanah timur sedang diguyur hujan lebat.


"Yah! Ujan bang," ia melihat keluar pintu arena tembak, terdengar pula suara petir menyambar beberapa kali.


"Iya, kita tunggu dulu disini sampai hujan reda." Titah Al Fath membawa Fara duduk, begitupun Regan dan Andre. Sementara para perwira yang tadi sedang berlatih, ada yang masih berlatih ada pula yang memutuskan untuk kembali ke asrama.


"Om Re, nanti Fara mau titip barang buat bu Fani, Zidan sama Kirani. Sekalian sama squad hot momy di Makko," Regan mengangguk, "boleh Ra,"

__ADS_1


"Squad hot momy?" tanya Al Fath.


"Teh Gina, bu Fani dan kawan-kawan."


"Hahaha badas! Di Makko punya squad, disini ada ?"


"Ada, Sajojo and friends!" jawab Fara.


"Cakep! Kayanya ntar kalo pindah tugas lagi, di daerah baru ada lagi,"


"Harus dong!" angguk Fara.


"Berkawan sama siapapun dek, masa kamu ketua ranting kaya gitu?"


"Itu grup arisan ibu-ibu kumpulan bang. Fara ngga membatasi siapapun yang ngikut. Bagi yang mau, ya silahkan! Biar ibu-ibu ada kegiatannya,"


Frederick berlari diantara derasnya hujan menuju arena latihan tembak.


"Mohon ijin mengganggu ndan! Lapor, desa dekat sungai timur diterjang longsor besar! Banyak rumah tertimpa runtuhan longsor, dan akses jalan kesana terputus karena jembatan penghubung satu-satunya putus dan rusak berat!"


"Apa? Segera siapkan personel untuk melihat keadaan!" ujar Al Fath.


"Siap ndan!" Frederick kembali tak peduli hujan besar yang mengguyur dirinya, pasalnya keluarganya ada di desa itu.


"Ya Allah! Dimana itu?"


"Fath, masukkan nama saya ke dalam tim," pinta Regan, sebagai tugas terakhirnya di bumi timur ia akan mengabdikan diri menjadi penolong.


"Iya bang. Dek, tunggu dulu abang disini. Abang mau ambil jas hujan buatmu,"


"Maaf ikut menyela ndan, kalau butuh jas. Pakai saja punya saya dulu, kebetulan saya membawanya," ujar seorang perwira yang sedang latihan.


"Oh boleh kalau gitu, terimakasih!" jawab Al Fath, dengan segera ia mengambil jas hujan ponco loreng miliknya dan menyerahkannya pada Al Fath.


"Siapa namamu boy?"


"Serda Danang, ndan!"


"Oke Danang, nanti ambil jas hujanmu ke rumah saya, ya?!"


"Siap ndan!"


Al Fath memakaikan jas hujan itu pada Fara, "abang mau liat tkp?"


"Kamu tunggu di rumah, jangan kemana-mana! Nyemil aja seperti biasa, abang lebih tenang saat denger kamu arisan dan ngemil."


See, disaat lelaki lain lebih tenang jika sang istri berada di sampingnya, Al Fath malah lebih tenang mendengar Fara arisan dan ngemil sambil rebahan di rumah. Karena memang pekerjaannya itu bukanlah pekerjaan enak macam abinya yang duduk santai di meja kerja.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2