Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
OLEH-OLEH


__ADS_3

"Ini teken nih bang?" tanya Fara.


"Iya dek," jawab Al Fath.


"Disini?" tanya nya terkekeh menunjuk kolom tanda tangan dengan pulpen, bermaksud usil.


"Iya, setengah masuk ke materai."


"Setengah masuk ke materai, apa setengah keluar dari materai?" bukankah sama saja, hanya ia yang pandai bersilat lidah. Tak taukah semua orang sedang menunggu nya dengan harap-harap cemas.


Al Fath melirik dengan mendelik, "bukan! Keluar dari Nusantara sana dek," ia tau Fara paham betul, tapi sifat usilnya itu loh!


"Santai pak, ngga usah ngegas. Nanya doang kan ngga lucu kalo tiba-tiba salah teken," balas Fara tertawa kecil, dibalas tawa Salwa, "tos!"


Afrian tertawa, "satu aliran nih sama mertuanya! Fix, ini keluarga paling abstrak bentukannya di muka bumi!"


"Loe yang abstrak!" desis Salwa.


"Kalian berdua bisa diam?" tanya Zaky pada Afrian dan Salwa, lebih seperti sebuah teguran. Jika abi Zaky sudah bicara, meskipun tanpa dibumbui emosi semua langsung diam termasuk umi.


Fara sudah menandatangani, "Puji tuhan, semoga kita bisa menyelesaikan kasus ini dengan sukses," ucap pak Sam.


"Aamiin," jawab Zaky dan semuanya menggumam.


Alisnya berkerut, sesekali menukik tajam demi melihat layar laptop di depannya, Bibirnya ikut berdecak saat hasilnya kurang memuaskan.



"Yang ini mesti diedit lagi nih. Belum halus keliatan banget boongnya!" jemari lentik itu bergerak lincah diatas keyboard laptop.



Suara dentingan sendok beradu pada dinding gelas memutar seiring tercampurnya susu coklat.



"Udah selesai?" Fara menggeleng dengan wajah frustasi.



"Diminum dulu," komandan batalyon itu tak malu menjadi pembuat susu untuk istrinya.



"Makasih," Fara menyambar susu itu selagi masih hangat, dia memang dingin nan datar tapi sikapnya mampu mengalahkan kehangatan susu coklat yang sedang diminum Fara, mata itu sesekali melirik Al Fath yang ikut memeriksa hasil kerja Fara. Awalnya wajah Al Fath terlihat terkagum-kagum dengan hasil kerja istrinya, memang tak dapat dipungkiri kemampuan Fara begitu epic.



Video berdurasi 15 menit itu dimulai dari seorang anak yang berlari masuk ke gudang dan menemukan sebuah buku cerita berjudul '**Nusantara the Wonderland**', lalu si anak membukanya yang ternyata buku itu adalah buku ajaib, bisa bergerak nan hidup, musik pengiring sengaja dibuat dengan percampuran alat musik tradisional dan modern menjadi salah satu nilai plus video ini. Keindahan tanah nusantara dibuat sedemikian rupa layaknya wonderland atau negri dongeng.



Para penonton seakan diajak menjelajahi adat, culture, seni, tari, lagu hingga pakaian tradisional dari berbagai suku daerah yang ada di bumi pertiwi dengan modelnya para ibu-ibu persit. Para pejuang berdaster ini seketika berubah menjadi model kelas internasional dengan tampilan cantik berbalut pakaian tradisional, tidak lupa Fara memasukkan pula foto-foto keindahan wisata yang berhasil terabadikan oleh lensa kamera Gentra, sebagian lainnya dari file milik Al Fath.



Potret keramahan orang-orang pribumi dan tak lupa foto-foto perjuangan para prajurit saat sedang bertugas yang tersimpan rapi di dalam album milik Al Fath, tak luput Fara masukkan.



Di 5 menit terakhir ia memasukkan lagu nasional wajib bersama video yang memperlihatkan para ibu-ibu persit tengah menghormat pada bendera negara di antara deburan ombak bibir pantai, bahkan anak-anak yang ada di batalyon ia libatkan pula demi melengkapi video hormat pada bendera yang berkibar. Salah satu video pelepasan para prajurit tangguh saat akan bertempur di medan perang sangat mampu menggedor jiwa patriotisme, dimana rasa mengharu biru menjadi penutup video musik itu. Bendera negara berkibar yang setengah transparan menjadi latar tulisan ucapan dirgahayu negri dari batalyon yang dipimpin Al Fath.



Raut wajah Al Fath dan Fara berubah. Yang satu harap-harap cemas sambil menggigiti bibir gelas, sementara yang satu mulai berdehem tak nyaman, dibolak balik sampai 5 kali pada menit ke 5, masalahnya bukan di musik 'Sajojo' tapi siapa model dan pakaian yang dipakainya.



"Hapus!"


__ADS_1


Darrr!



"Abang ih, abisnya ngga ada lagi foto Fara pake baju adat! Masa Fara ngga masuk frame, lagian cuma beberapa detik aja," jawabnya mencoba membujuk sang mata garuda.



Al Fath mengeluarkan layar dari tab yang sedang Fara kerjakan dan menggerakan kursor pada sebuah file.



"Ngga bisa liat ya, ini tulisannya apa?"



...***Area Al Fath***...



Dimana isinya adalah foto dan video Fara saat mereka ke Wam3n4.



"Abaaa..nggg, please sekali ini aja. Ini videonya udah jadi cuma tinggal polesan dikit di akhir aja. Fara sampe ngga tidur siang 3 hari buat ngerjain ini," mohonnya pada suami.



"Ini besok udah harus di kasiin, batalyon lain udah kirim ucapan selamat ulang tahun buat negara, cuma batalyon kita aja yang belum, batalyon orang bahkan sampe kirim-kirim hampers buat petinggi sama pejabat."



"Terus kenapa ngga ikutin kaya gitu?" tanya Al Fath, daripada harus bersusah-susah ria membuat video musik.



"Jadi followers orang gitu? Idih ogah! Maaf Fara bukan pengikut siapapun, uang sama barang itu hanya bisa memuaskan beberapa orang aja. Sementara project Fara itu untuk mendatangkan uang, bukan buat keluarin uang!" Al Fath tersenyum tipis dalam hati, wanita ini memang berbeda dengan yang lain hanya saja dibalik berbeda itu selalu terselip hal yang bikin jantung copot.




"Inilah cara Fara mencintai negri Fara," lanjutnya membuat Al Fath terdiam tak bisa membalas lagi perkataan Fara.



"Ini ada apa ribut-ribut?" umi Salwa yang mendengar suara berisik orang tengah berdebat akhirnya muncul.



"Engga ada umi," jawab Al Fath. Lain Al Fath lain pula jawaban Fara, "ini nih umi, abang! Masa Fara sebagai ibu danyon ngga boleh masuk frame!" adunya sewot.



"Loh kok gitu. Masa artis sesungguhnya mesti disembunyikan?!" Fara mengulum bibirnya, setelah ini pasti akan terjadi adegan ibu memarahi anak.



"Ngadu!" desis Al Fath.



"Coba umi liat!" Al Fath menunjukkan video itu, Salwa ikut duduk melantai diantara menantu dan putranya di teras rumah demi menyaksikan. Wajahnya terlihat terkejut,



"Kan?! Umi bisa liat, masa pakaian ngga seno noh gitu mau ditampilkan di depan umum?!"



"Amazing!!!! Ini kamu yang buat? Cantiknya bumil, mantu umi! Semua orang harus tau dong, ini mantu keluarga Ananta, istrinya letnan kolonel Al Fath!"

__ADS_1



Afrian tertawa puas, "mantu mertua sebelas dua belas."



"Kamu salah ngadu Fath!" ia ikut nimbrung, rasanya gatal saja jika tidak ikut nembak.



"Ini orang ngikut nimbrung terus! Sana cepetan punya mantu makanya!" sarkas Salwa.



"Calon mantu udah ada Sal. Cuma emaknya yang terlalu selektif!" jawab Afrian.



"Lusa umi pulang Fath, Fara."



"Kok cepet banget mi?" Fara terlihat sendu, tak mau berpisah dengan ibu mertuanya ini.



"Kita harus cepet balik ke ibukota buat urus masalah ini secepatnya, biar cepet kelar Ra," jelas Afrian.



"Aduhh, umi jadi ngga tega ninggalin mantu umi. Pengennya sih nemenin sampe lahiran, tapi ntar kalo udah lahiran ngga mau pisah dari cucu lagi, gimana ya? Apa umi stay aja disini?" Fara mengangguk cepat namun Al Fath segera meralat.



"Ngga usah repot-repot mi. Biar Fara, Fath saja yang urus. Disini kan juga banyak ibu-ibu kumpulan. Ada asisten rumah tangga juga, kasian Zahra kalo umi disini, belum lagi bisnis umi, abi..."



Afrian mengulum bibirnya, "bilang aja umi-mu bikin tepok jidat Fath," gumamnya.



"Hm, iya sih. Jaga diri baik-baik kalian. Akur-akur, jangan berantem. Kaya umi sama abi!" jumawanya mendapatkan cibiran dari Afrian dan Fath.



"Umi juga hati-hati. Jaga kesehatannya mi," Fara membawa telapak tangan Salwa ke pipinya. Tak tau kenapa ia paling suka begitu pada Salwa, seperti sebuah kenyamanan untuknya.



"Oh iya bang, buah matoa yang ada di belakang deket arena tembak masih lebat kan buahnya?" tanya Fara.



"Kurang tau, memangnya kenapa?" tanya Fath.



"Itu yang itu om Rick! Petikin aja semua buat dibawa ke ibukota!" teriak Fara dari bawah.


Pagi-pagi sekali asrama perwira muda digegerkan dengan ibu danyon yang datang sepaket dengan kaleng bekas kue lebaran mengejutkan sarapan mereka, ia memberikan tugas dadakan yang urgent, bukan berperang atau melawan pemberontak melainkan memetik buah matoa dan buah merah untuk dibawa mertuanya sebagai oleh-oleh.


"Ha-ha-ha! Spechless gue bang! Salwa dapet menantu yang satu darah, sampe kaget liatnya. Berasa liat Salwa dulu, suka bikin geger!" aku Afrian, saat ini mereka tengah melihat dua orang komandan tengah menunjuk-nunjuk buah matoa pada beberapa prajurit yang sedang naik ke atas pohon.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2