Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
MENURUNKAN EGO


__ADS_3

Alam sedang menunjukkan kuasanya, mungkin ia sudah terlalu lelah menghadapi manusia di bumi. Kejadian longsor ini adalah akibat dari ulah manusia itu sendiri.


Mobil yang ditumpangi para prajurit tak ubahnya seperti wahana banteng rodeo karena melewati jalan rusak, terlempar kesana kemari. Untung saja mereka bukan kapas jadi tak sampai terbang-terbang.


Di depan sana Al Fath melihat, beberapa warga berkumpul ramai mengerubungi longsoran tanah dan bebatuan yang jatuh ke jalanan arteri. Lalu di depannya, jembatan penghubung desa sebrang rusak parah tersapu gulungan air sungai yang ikut meluap membanjiri desa sebrang.


"Permisi pace,"


"Syukurlah bapak dan kawan-kawan datang," ucapnya sudah frustasi.


"Sejak 2 hari hujan turun lebat. Semalam terdengar suara gemuruh di sekitar sini, air sungai juga meluap sangat deras membawa serta sampah dari hulu mengakibatkan banjir bandang di sekitar sini." Jelasnya secara garis besar.


"Ck--ck, rusak!" Gentra bersama Regan turun memeriksa material longsoran.


"Secepatnya kami akan membantu pace,"


"Iya, tolonglah pak. Desa di sebrang sana terkena banjir bandang dan longsor!" ujar seorang lain ikut bergabung.


Frederick terlihat begitu khawatir, pasalnya keluarga besarnya tinggal disana.


Sadar akan kekhawatiran ajudannya, Al Fath menepuk pundak Frederick, "tenang Rick, secepatnya kami akan bertindak!"


Para prajurit turun, membantu para warga dengan alat seadanya untuk sementara demi membersihkan akses jalanan menuju jembatan.


"Jon! Coba tolong buat laporan ke resimen tentang masalah ini,"


"Siap ndan!"


Respon cepat tanggap diberikan, bukan hanya resimen saja yang ikut menangani, ada beberapa tim SAR, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana ) yang ikut berperan, beberapa kendaraan dan alat berat diturunkan untuk membersihkan jalanan. Bencana ini sudah termasuk ke dalam bencana nasional.



"Ya Tuhan!"



Terjangan banjir bandang benar-benar melumpuhkan akses jembatan.



Truk besar dikerahkan dari batalyon untuk mengangkut perahu karet dan obat-obatan melewati aliran sungai yang masih terlihat belum tenang. Airnya begitu keruh membawa serta material dan puing-puing yang hanyut.



"Subhanallah," dari sebrang saja sudah terlihat jika desa itu benar-benar habis tersapu air sungai.



"Bagaimana dengan kita bu? Apa kita juga akan ambil andil?" tanya bu Yadi.


"Ikut!"


"Mohon ijin bicara bu, jika tahun-tahun lalu saat terjadi bencana yang sama di daerah lain, kami biasanya mengirimkan bantuan sembako dan pakaian layak pakai," ucap istri danki kompi markas.


"Kalau begitu jangan kaya kemarin!" jawab Fara santai.


"Lantas bagaimana bu?" dahi Kintan berkerut, ia sudah mulai hafal dengan jalan pikiran atasannya ini yang selalu memiliki cara unik, dan beda dari yang lain.


Kriukk---kriukkk! Suara kunyahan mulut Fara.


"Ngga usah terlalu formal lah Ntan, ini lagi arisan bukan lagi rapat!" ujar Fara, tangannya tak pernah lepas dari mulut toples.


"Yok kocok! Moga-moga hari ini hoki!" tambahnya lagi,


"Yook,--ayokkk! Siapa minggu ini yang menang?!" mereka kembali ke acara utama, dimana nasib keuangan dapur sedikit mereka comot demi sebuah peruntungan.


"Yuk! Kalo menang mau ta belikan wajan baru!"


"Saya kalo menang mau dibelikan baju seragam sekolah anak yang baru!"


Gelas plastik berisi kertas nama diputar, dikocok-kocok dan di balikan. Kemudian dari sebuah lubang keluarlah gulungan kertas nama.


Disanalah sensasi deg-degannya.

__ADS_1


Deg!


Gulungan kertas dibuka, bu Iza melebarkan senyumannya.


"Ibu danyonnnn!!!" Fara melotot saat namanya disebut.


"Bu--ibu menang!!!" Kintan berseru senang mengguncang-guncang lengan Fara.


"Aaaahhhh! Menang nih?" tanya Fara tak percaya, pasalnya nama danyon memberikannya hoki, untuk pertama kalinya ia mengikuti acara yang berjuluk arisan, rupanya seperti ini rasanya, ko asik ya?! Yang ngga asik pas bayarnya.


"Asik!! Traktiran nih bu!" ucap Kintan.


"Boleh! Saya traktir semua tapi bisa bantu saya?" tanya Fara.


"Beneran bu?" tanya mereka.


"Bener!" angguk Fara. Jika ibu-ibu lain sudah membuat rencana untuk uang arisannya berbeda dengan Fara, ia tak memiliki apapun yang ingin ia beli atau butuhkan. Mau apa lagi memangnya, wong semua kebutuhannya sudah Al Fath penuhi dan cukupi.


"Mau ta beliin apa bu?" tanya bu Yadi menaik turunkan alisnya.


Fara tersenyum penuh arti.




Al Fath hanya pulang untuk beristirahat sejenak sambil mengganti pakaiannya sekalian melihat istri nakalnya.


"Assalamualaikum,"



"Waalaikumsalam,"



Setelah seharian dari kemarin tak pulang, akhirnya yang ditunggu-tunggu pulang juga.




Fara menyambut Al Fath dengan secangkir kopi, makanan panas dan pakaian bersih.



"Parah banget ya longsornya bang?" tanya Fara.



"Desanya diterjang banjir bandang dan longsor dek. Sementara akses jalan dan jembatan tertutup longsor," ia membuka satu persatu pakaian kotor dan menaruhnya di lantai begitu saja.



"Ya Allah, terus itu gimana warganya?"



"Barusan pas abang tinggal sedang melakukan penyisiran, pengecekan dan masih membantu membuka akses jalan. Tentara kesatuan beserta BNPB& BPBD, juga tim SAR membuat tenda dan posko darurat."



"Yang lain masih disana, kita gantian pulang untuk berganti pakaian."



"Terus komando siapa yang ambil alih?" tanya Fara.



"Untuk tentara kesatuan abang serahkan pada bang Yo sementara," jawab Al Fath.


__ADS_1


"Ya udah, abang mandi dulu terus makan. Langsung istirahat deh," pinta Fara.



Wanita itu menyiapkan piring di meja, sementara Al Fath mandi. Hanya berselang 10 menit pintu kamar mandi terbuka, tercium aroma sabun maskulin milik Al Fath.



"Bang, kalau kondisi memungkinkan Fara pengen kesana." Al Fath menghentikan gosokan handuk di kepalanya.



"Mau apa?"



"Masa mau dangdutan. Ya mau liat dong kondisinya. Fara denger keluarga om Rick tinggal disana ya?" Al Fath mengangguk.



"Gimana kondisinya?"



"Abang belum tau, karena sejauh ini seharian kemarin abang dan kawan-kawan baru bisa membuka akses jalan menuju desa."



"Hem, nanti kalo kondisinya sudah memungkinkan Fara mau ikut kesana."



Al Fath menghirup nafas cukup dalam, "iya." Ia membungkuk demi menyamakan tinggi dengan perut Fara, "kamu kuat kan boy? Umi mu ngga bisa diem di rumah?" tanya nya bermonolog dengan perut Fara, tanpa di duga interaksi itu membuat si janin bergerak di dalam sana.



"Aduh!" ringis Fara, lalu keduanya tertawa renyah.



"Anak abang udah dikasih susu?" tanya nya.



"Udah dong! Tiap pagi sama malam, besok jadwal Fara periksa bang!"



"Abang temani," tukas Al Fath cepat.



"Bang--" Fara menunduk bingung, ia memainkan kedua telunjuknya.



"Kenapa?" Al Fath memasang tampang serius. Ia bukan tidak tau jika istrinya ini memanggil begini dengan reaksi memainkan telunjuk itu artinya ia telah berbuat dosa.



"Untuk masalah video itu---- kalau memang ngga ada ijin abang, Fara batalin aja," ucapnya, terlihat jelas raut wajah kecewa Fara. Al Fath berusaha menurunkan egonya sekarang, jika dengan menghembuskan nafas ia bisa tenang mungkin sekarang ia sedang mencobanya, "hanya untuk kali ini saja! Abang ijinkan," Fara langsung mendongak tak percaya, "beneran?!"



"Ya."



Senyumnya merekah, "abang mau makan sama apa? Sini Fara ambilin!"



Al Fath sangat tau bagaimana proses pembuatan video itu, tak mungkin juga dibatalkan karena waktunya yang sudah mepet untuk kembali mengerjakan proses editing, Fara bahkan sampai bergadang demi sebuah maha karya untuk negri versinya.

__ADS_1


__ADS_2