
Syarat dari Fara tak dapat diganggu gugat lagi, tak dapat ditawar-tawar meski sang jendral menawarnya dengan lingerie ataupun ponsel keluaran terbaru. Akhirnya ia mengalah dsngan mengijinkan Al Fath membawa Fara, selama juniornya itu sanggup.
Jendral menatap nyalang ke arah Fara dan Al Fath, dimana Fath sedang memasangkan jaket miliknya ke badan sang istri. Patutlah Al Fath lebih memilih Fara, ada jiwa wanita tangguh di dalamnya, jiwa seorang pemimpin di diri Fara.
"Hm, saya merasa berdosa bang.." gumamnya melihat Fara, gadis itu memang seperti ayahnya. Dulu saat Al Fath menyerahkan persyaratan pengajuan pernikahan ke kantor, ia belum sempat melihat data diri Fara, tapi setelah sekian lama rasa penasaran akan diri Fara mendobrak jiwa intelnya, ia tak menyangka jika ternyata ayah Fara adalah orang yang ia kenal, bahkan sangat ia kenal, meski bukan orang militer. Dia temannya, orang yang mendukungnya mendaftarkan diri sebagai taruna akmil, disaat dunia meninggalkannya.
"Lihatlah anakmu bang, dia sepertimu, meskipun perempuan tapi ia memiliki jiwa tangguh!" gumamnya dalam hati.
"Saya berjanji bang, akan mengusut tuntas apa yang dulu abang alami. Maaf jika selama ini saya terlalu sibuk dengan dunia saya sendiri,"
"Bang, ini ngga salah? Fara udah kaya orang-orangan sawah! Pake jaket di double-double gini?" tanya Fara tak habis pikir dengan keposesifan Al Fath.
"Udara malam dingin, nanti kamu sakit. Besok kan kita berangkat," jawab Al Fath.
"Tetap di dekat abang, jangan kelayapan, kamu suka penasaran sama hal-hal yang berbau membahayakan," tatapnya tajam mewanti-wanti istri nakalnya.
"Siap ndan!" balas Fara mrnghormat dengan tangan yang separuhnya tertutup jaket Al Fath, yang jadi pertanyaan, kenapa Fara ngga punya jaket? Atau pake jaket sendiri, jawabannya it so simple, karena Al Fath mau badan Fara benar-benar terbungkus sempurna seperti bacang.
"Abang tega amat, ini badan Fara kaya karung isi gabah!" dumelnya menggerutu membuat mereka yang melihat ikut tertawa.
Al Fath tak habis pikir dengan isi otak Flora, bisa-bisanya bermain-main di tempat seperti ini, jika gadis itu seorang laki-laki mungkin ia sudah menenggelamkannya di kolam asrama yang airnya hijau pekat mirip slime, tempat biasa para prajurit berlatih, atau kolam ternak lele.
Dua orang ajudan jendral ikut bersama Al Fath dan Fara, mobil mereka keluar dari markas pada pukul 11 lebih 15 menit malam.
"Ndan, mbak Flora suka datang ke club malam yang cukup berkelas di sini. Penjagaannya cukup ketat, tak sembarang orang bisa masuk!" ucap Lettu Wiryawan.
"Gak akan ada yang bakal mengusir kita Wan, jika tak ingin tempat usahanya ditutup!" balas Al Fath, sementara Fara, ia memeluk lengan Al Fath posesif sambil menyenderkan kepalanya lemah, calon ibu komandan ini rupanya sudah setengah tumbang.
Al Fath hanya bisa mengulas senyum getir pada sang istri, ia mengusap sayang kepala Fara. Sebagai bawahan ia terkadang serba salah dalam menolak ataupun menerima tugas yang bersifat pribadi macam ini, terlebih ia sudah memiliki Fara. Beruntung Fara adalah wanita tangguhnya, bukan ia tak kasihan mengajak Fara dalam tugasnya tapi sebisa mungkin ia berusaha menanamkan kepercayaan pada Fara untuk dirinya.
__ADS_1
"Pekerjaan abang bukan kerjaan yang mudah dek, jangan sampai kamu bertindak ceroboh tanpa perintah abang, ngerti?!" tanya nya mendikte sang istri.
"Berasa jadi agen intel aja!" kekeh Fara.
"Kalau kamu ngantuk, tidur saja. Abang tau kekhawatiranmu, dan abang tidak akan pernah menyalahkan, teruslah seperti ini agar abang tau kalau istri abang sangat menyayangi abang," bisiknya. Fara mendongak lalu tersenyum, ia memejamkan matanya di lengan kekar Al Fath, akhirnya ada bahu lelaki yang bisa ia jadikan tempat untuk bersandar.
Fara yang tak terbiasa tidur larut benar-benar pulas tertidur, meskipun ia sudah berusaha keras menahannya tapi tetap saja ia kalah pada rasa kantuk, akhir-akhir ini ia sering merasa kelelahan, bawaannya mengantuk dan malas. Pagi setelah Al Fath pergi, ia pasti akan rebahan, begitupun siangnya.
"Ndan, disini tempatnya." Ujar Prada Martinus. Al Fath melihat ke arah luar kaca mobil, dimana berdiri kokoh sebuah bangunan dengan papan nama Luxury club and bar.
Dirasa jaraknya sudah cukup aman Al Fath meminta Prada Martinus untuk menghentikkan laju mobil, "Oke, parkirkan saja mobilnya di sini." Al Fath mulai menggerakkan tangannya dan mencoba melepaskan pelukan Fara, tak tega jika harus membangunkan istrinya yang sudah terlelap itu. Fara begitu pulas tertidur, sampai-sampai gerakan Al Fath saja tak mengganggunya, ia masih asik di alam mimpi.
"Bagaimana ibu, ndan?" tanya Wiryawan mematikan mesin mobil.
"Dek, abang masuk dulu sebentar. Dek Fara tunggu disini dulu, cuma itu tugas kamu," lalu Al Fath menyarangkan kecupannya di kening Fara.
"Ayo masuk, jangan bertindak sebelum saya memberi perintah," ucap Al Fath tegas.
Dari pintu masuk berwarna hitam dan kaca tebal nan gelap, berdiri dua orang berpakaian security sepaket badan tegap kekarnya.
"Masuk pak? Bisa tunjukkan membernya?" tanya mereka tak ada manis-manisnya, memangnya apa yang mereka harapkan, senyum ramah seperti kasir Indomarco?
"Member saya ketinggalan, saya member lama." Jawab Al Fath, kedua prajurit junior itu sebenarnya gemas ingin menunjukkan kartu saktinya, namun Al Fath menahan.
__ADS_1
"Ktp?" pinta si security dengan mata keduanya yang tak lepas menatap Al Fath dari atas hingga bawah. Al Fath mengeluarkan kartu identitas, melainkan identitas gandanya.
"Cek!" pinta si Bruno pada si Martin.
"Clear!" teriaknya.
"Silahkan masuk, maaf mengganggu." ucapnya melunak.
Kedua juniornya ini baru tersadar, tak mungkin pimpinannya meminta seorang Teuku Al Fath jika tempat yang didatangi hanya club malam biasa-biasa saja. Jadi kalimat sang jendral saat mengatakan Flora ingin dijemput Al Fath, adalah sebuah kode untuk seniornya ini jika tempat yang harus didatangi adalah tempat yang cukup beresiko. Beberapa club malam di ibukota bisa dibilang berdiri dan beroperasional secara ilegal, karena ada aktivitas dan bisnis tertentu di dalamnya yang melanggar undang-undang. Dugaan Al Fath ini adalah salah satunya, di belakang bisnis ini pasti ada power seseorang yang membacking.
Mereka hanya tak habis pikir, kenapa bisa...putri seorang jendral masuk ke tempat seperti ini?
Al Fath masuk ke dalam bersama Martinus dan Wiryawan, terdengar suara memakakkan pendengaran dari sudut kanan ruangan, seorang disc jockey tengah mengajak para pengunjung bergoyang di lantai dansa. Aroma-aroma lucknut bercampur baur jadi satu. Al Fath sudah terbiasa dengan tugas seperti ini. Sebagai seorang anggota komando pasukan khusus, menyamar menjadi intel dan melakukan misi rahasia nan senyap adalah hal biasa maka dari itu pada jaman pemerintahan yang lalu, pasukan khusus ini sering disalahgunakan demi kepentingan pribadi.
Sementara sudut kiri terdapat meja bartender penuh dengan rak yang memajang berbagai jenis merk minuman, mulai dari yang termurah hingga mahal, sudah pasti mengandung alkohol. Al fath tau beberapanya, dugaannya benar, club malam ini memang ilegal, di ujung ruangan sebuah pintu berlorong jelas sangat mencolok.
Al Fath berjalan ke arah bartender diikuti kedua juniornya, memesan sesuatu yang lumrah disini meski tak meminumnya.
Mata mereka meneliti setiap inci sudut club and bar yang terkesan gelap, hingga netra hitam Al Fath jatuh tertumbuk di pojokan dekat pintu menuju kamar mandi, meja berisi muda-mudi yang sedang beradu kuat meminum minuman keras dengan bertaruh.
.
.
.
Hay-hay guys! 😚 Sebelum kita masuk ke area berkonflik dan penuh intrik, juga keromantisan, keterharuan dan ter ter lainnya, mimin Sin mau ucapin makasih banyak atas dukungannya sampai di bab ini yeee, atas keikhlasan like, vote, gift, rate dan komentnya. Semoga keikhlasan kalian semua jadi berkah buat kita semua, aamiin 🤲 Semoga kalian sehat-sehat disana ya.
__ADS_1