Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
SUPPORTER BOLA


__ADS_3

"Abang udah abang--- jangan banyak-banyak! Fara malu!" keluhnya menahan glenyer aneh menggelikan yang terjadi bila tidur bersama Al Fath setiap malam-nya.


Tak perlu menghukumnya di POM seperti prajurit yang melanggar kode etik apalagi hukuman terpidana kasus maling hape. Pada dasarnya semua orang itu sama, tak mau malu..begitupun Fara.


Mulutnya memanyun panjang sampai danau Sentani, matanya mendelik tajam bak pisau belati yang siap menusuk orang di depannya, "abang tuh apa-apaan sih! Hari ini kan Fara mau ngerjain project batalyon, masa mau keluar lehernya gini! Kaya abis di garukin macan!" ia mendumel.


"Bilang aja abis berantem sama singa gagah!" balas Al Fath datar.


"Ngga masuk akal!" desisnya mencomot keripik.


"Mau yang masuk akal? Alesan aja alergi udang, abis kerokan, bekas di gigit nyamuk, semut..." imbuhnya memberikan option dengan menghitung jari.


"Mana ada! Udangnya punya gigi, nyamuk kepalanya gede, semutnya semut jejadian!" tukas Fara tetap mendebat.


"Nah itu adek tau kalo berbohong bikin malu diri sendiri, soalnya orang-orang tidak bo*doh untuk kamu bohongi..."


"Ya udah bilang aja karena dicium abang!" dengan santainya pria itu melanjutkan ucapannya, seperti kata malu tak ada dalam kamus besarnya.


Fara mencebik, "idih! Ngga tau malu!"


"Coba abang tanya, kenapa abang harus malu? Apa abang ngelakuin dosa, malu mana sama pimpinan yang udah tau salah tapi malah umpanin bawahannya yang ngga tau apa-apa?" ia mencondongkan wajah ke arah depan muka Fara, baru kali ini Fara skakmat tak dapat menjawab.


"Iya Fara salah," jawabnya.


"Paling ibu-ibu bilang, duhhh--pak komandan tergila-gila sama ibu," imbuh Al Fath menirukan gaya bicara netizen yang julid. Fara mendorong jidat Al Fath pelan agar lelaki itu mundur.


"Karena itu, Fara malu! Rahasia dapur kok diumbar-umbar!"


"Namanya juga hukuman, ngga ada yang ngga bikin malu---"


Akhirnya mau tak mau, Fara keluar dengan tanda cinta pak danyon di lehernya. Tanda itu melintang berjejer di sisi kiri dan kanan sepanjang-panjang satu ruas jari bukan hanya 1 tapi ada 4, katanya biar adil kanan kiri ngga berat sebelah.


Tak ada benda yang bisa menutupi, karena Fara tak pernah memiliki syal ataupun kain selendang selain kain merah putih bapaknya, tidak kepikiran juga pindahan harus bawa-bawa barang itu, alhasil ia harus menerima kenyataan jika ia akan menjadi bahan gosip satu batalyon selama beberapa waktu.


Senyum geli tak pernah luntur dari ibu-ibu ranting saat pertemuan. Fokus utama mereka selalu jatuh pada leher Fara.


Sadar akan pandangan berlebih mereka padanya, Fara angkat bicara, "abaikan leher saya yang abis dicium gorilla jantan di masa kawin, fokus ke masalah pembuatan video," ucapan Fara memantik tawa ibu-ibu.


"Saking cintanya ya bu,"


"Lagi mesra-mesranya bu, wajar---"


"Abang, argghh! Awas aja!" benaknya.


"Besok pagi-pagi jangan lupa ya bu! Sesuai agenda kita, mulai sekarang dijadwalkan tiap hari minggu itu kita senam! Jangan cuma bapak-bapak aja yang sehat, tapi istri-istri juga harus!"


"Siap bu!!"


Fara berjalan ke arah suaminya berada, dimana lelaki itu bersama prajurit lainnya sedang memasang kain putih yang akan dijadikan layar tancap demi nobar pertandingan sepak bola di lahan kosong dekat kantor.


Melihat Fara menghampiri, Al Fath menghentikan aktivitasnya jadi mandor para bawahan.


"Sudah selesai pertemuannya?" Fara mengangguk.


"Abang mulai besok, setiap hari minggu Fara mau pinjem lapangan batalyon buat kegiatan rutin istri prajurit."


"Ya pake aja, kegiatan apa memangnya?" tanya Al Fath.


"Olahraga, biar istri prajurit disini sehat-sehat, bugar, tambah kompak!"


"Senam? Kamu jadi instrukturnya?" Al Fath mulai siaga 1.


"Cuma sekali, buat ajarin doang. Buat seterusnya kita bergilir. Mumpung kandungan Fara masih kecil," ia mengusap perut yang masih menyembul kecil.

__ADS_1


"Cuma sekali! Ngga ada lebih dari itu!" si posesif telah kembali.


"Iya, ck-" Fara mencebik seraya tersenyum jahat, biar kebakar sekalian! Tanggung udah diposesifin ini kok.


"Abang lagi buat apa, mau ada acara?" tanya Fara.


"Iya, rencananya mau nobar sepak bola." Fara berohria, matanya masih menatap kain putih seukuran 3×4 meter yang tengah dibentangkan dan dipasang oleh beberapa prajurit muda, juga tenda agar tak kehujanan, mengingat bulan ini sudah masuk musim penghujan.


"Kapan?" tanya Fara.


"Nanti malam."




Sesama perantau, hidup satu batalyon memanglah harus memupuk kebersamaan. Fara tersenyum melihat betapa rukunnya kehidupan disini, rasa cinta itu perlahan tumbuh subur di hatinya.



Para prajurit gagah tetaplah manusia biasa, warga biasa jika tidak sedang bertugas. Satu persatu warga batalyon duduk melantai di karpet tipis yang sudah digelar tadi siang.



"Boy! Coba kau nyalakan proyektornya!" pinta bang Yo, seorang prajurit muda menggeser-geser posisi proyektor agar pas di layar putih.



Suasana sudah riuh meskipun acara yang ditampilkan masihlah iklan komersiil.



"Adek yakin ngga mau pergi bareng?" tanya Al Fath sudah bersiap untuk nobar.




"Bu Fara!" teriak beberapa istri prajurit di luar rumah, keduanya menoleh ke arah pintu luar.



"Tuh kan bang, Fara mah banyak cs-nya!" senyumnya lebar.



"Ya udah abang duluan kalo gitu," pamitnya duluan.



"Iya,"



Al Fath keluar dari rumah, dan menemukan 3 istri prajurit sudah ada di depan rumah lengkap dengan membawa kresek dan toples mirip tetangga kampung pas mau hajatan.



"Pak," angguk mereka sopan.



"Ibu masih di dalam, masuk saja ibu-ibu. Saya duluan," pamit Al Fath.

__ADS_1



"Iya pak, silahkan."



Jika dulu mereka begitu sungkan dan segan pada ibu danyon, namun dengan Fara yang terbilang *down to earth*, mereka begitu nyaman.



"Eh, udah siap. Yuk!" Fara keluar dengan tangan menenteng kresek juga termos.



"Sini bu, biar sama saya saja!"



"Bu Marta gimana?"



"Bareng bu Joko, mungkin sebentar lagi..." jawab seorang lainnya.



"Bu!" teriak mereka, Fara tersenyum.



"Nih! Mumpung udah ngumpul. Nih atributnya!"



Acara pertandingan bola sudah akan dimulai, terlihat dari layar putih nan besar itu para pemain nasional sudah menyanyikan lagu kebangsaan.



Al Fath celingukan mencari keberadaan istrinya, sudah 15 menit sejak kehadirannya disini, tapi Fara juga para istri prajurit yang tadi bertandang ke rumah belum terlihat batang hidungnya.



Disaat kebingungannya Al Fath dikejutkan dengan suara Gentra yang tertawa sambil bertepuk tangan.



"Bukan main ibu danyon!!! Ibuuu aku padamu!" teriaknya.



*Plak*!



Seketika kepalanya digeplak Al Fath, teman-teman Al Fath terkekeh.



Fara hadir bersama istri prajurit lain bukan hanya membawa bekal cemilan dan termos kopi, melainkan bersama atribut suporter bola yang akan menonton langsung di stadion. Pipi yang ditempeli stiker bendera negara kepala diikat kain merah putih dan botol bekas.



"Allahuakbar!" Al Fath menepuk jidatnya.

__ADS_1


__ADS_2