
Agenda Fara hari ini adalah menandatangani berkas-berkas dan serah terima sertifikat tanah milik ayahnya.
Ia mengusap penuh haru sebundel kertas dalam map yang mengesahkan hak paten jika tanah itu adalah memang betul milik sang ayah. Tangannya sampai bergetar demi menerima surat keputusan itu.
"Nyak!!"
"Fara! Ya Allah anak gua udah buncit, sehat lu Ra?!" tak ada rasa rindu yang teramat melebihi rindu Fara dan nyak saat ini.
"Ya Allah, lu makin cantik, makin gendut Ra. Alhamdulillah lu keurus disana, pikiran gua--lu makan sama apaan disana Ra, susah beras, susah terasi ma ikan asin! Takut anak nyak kurus, tapi sekarang malah segede buntelan kentut!" kembali nyak menciumi putrinya ini. Al Fath mengulum bibirnya demi melihat wajah menggelembung Fara.
"Cucu gua ini, semoga ntar gedenya ngga jadi pemalesan kaya emaknya dulu," elusnya di perut Fara, ucapan lebih pada bentuk curahan hati seorang ibu.
Al Fath, umi dan Zaky terkekeh melihat interaksi ini.
"Makasih pak Jaki, bu Salwa, Path--" ucapnya dengan ucapan kental lidah orang kampung.
"Nyak, itu lidah bisa dijepret dulu pake karet engga. F nyak bukan P, Z nyak bukan J,"
Pletak!
Mereka meringis saat nyak Fatimah mengetuk kepala Fara.
"Lidah, lidah nyak! Terserah nyak mau manggil apa,"
"Eh, Ra. Orang kampung pada nanyain elu! Kapan lu nginep di rumah bareng Path, nyak udah koar-koar aja mantu komandan ganteng mau mondok!"
Fara melirik Al Fath meminta jawaban, "boleh! Hari ini," jawabnya. Salwa ingin bersuara namun ditahan Zaky yang menggeleng hingga membuat Salwa mengurungkan niatannya, Fara dan Al Fath memang bukan milik Salwa seorang, keduanya masih memiliki seorang ibu lain.
"Umi, malam ini Fara sama abang mau nginep di rumah nyak," Fara tau Salwa bagaimana, ia hanya ingin mertuanya itu merasa dihargai dan mengijinkan mereka tanpa ada rasa cemburu.
"Ya boleh dong! Masa ngga boleh, bu Fatimah kan ibunya mantu umi, ibunya Fath juga sekarang," jawab Salwa bijaksana.
Fara tak menyangka kasus Denawa menyeret sejumlah petinggi termasuk kolonel Pamungkas, kapten Arjuna, beberapa anggota dewan, hakim, juga jaksa. Saat pembacaan barang bukti aset milik para tersangka, ada terselip LUXURY CLUB AND BAR di asset gelap milik hakim.
Al Fath tersenyum, feelingnya dan jendral Wicak benar jika club dan bar itu memiliki backingan.
Fara beserta Al Fath dan nyak, berbeda arah laju mobil dengan umi, abi, dan om Afrian.
Al Fath masih menunggu 'nyak yang turun dari mobil demi meminta ijin memarkirkan mobil di salah satu rumah yang memiliki garasi cukup besar. Maklum lah rumah 'nyak masuk ke dalam gang tikus, tak memungkinkan untuk mobil masuk, apalagi parkir.
"Berarti nanti, kamu harus mulai memikirkan bangun rumah di tanah yang di Thamrin itu, biar kalo nanti kita ke rumah nyak bisa parkirin mobil, bikin garasi!" ujar Al Fath di dalam mobil pada Fara.
"Duit darimana bang, kerjaan nyak aja cuma jualan kue-kue basah. Tanah di Thamrin udah sepakat ngga akan pernah dijual. Tadi umi juga bilang jangan sampai dijual, soalnya potensi bisnisnya besar. Oh iya, itu kan udah didirikan bangunan disana, terus gimana statusnya bang? Sengketa kah?" tanya Fara.
Al Fath mengangguk, "iya. Om Afrian sekarang lagi nemuin yang punya cafe, barber shop, resto sama laundry yang ada di sana. Tanah yang mereka sewa itu milik kamu sama nyak. Terserah kalian mau dibangun rumah, usaha, atau memang tetep mau disewakan," jelas Al Fath.
"Menurut abang bagusnya gimana?" tanya Fara.
"Menurut abang, bagusnya dibangun usaha. Buat investasi masa depan, buat biaya nyak juga biar ngga harus capek-capek jualan kue lagi. Saat abang nanti pensiun, kita tinggal menikmati masa tua tanpa harus dipusingkan dengan masalah finansial," jawabnya mengusap pipi Fara, jiwa bisnis Zaky dan Salwa mengalir deras di dalam da rah Al Fath.
"Hm, kayanya nyak ngga bakalan mau deh. Abang tau nggak, uang yang sering abang kirim buat 'nyak ngga pernah 'nyak pake. Paling kepake cuma pas kepepet ngga enak badan aja, katanya buat tabungan haji," terang Fara.
"Nyak mau naik haji?" tanya Fath menaikkan alisnya sebelah, Fara mengangguk.
"Abang coba daftarkan tahun depan ya, siapa tau masih ada kuotanya."
"Ha?! Emang bisa gitu?"
Al Fath menghubungi seorang kerabat abi Zaky yang bekerja di Ditjen PHU (Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah) Kementrian Agama.
Nyak sudah kembali, saat Al Fath masih melakukan panggilannya.
"Nyok Fath, Ra-- boleh tuh nginep barang sehari!"
"Suttt!" Fara menaruh telunjuknya di depan mulut.
"Ngapa? Lagi telponan yak? Oh!" nyak langsung menurunkan nada suaranya.
"Nyak, beli obat nyamuk dulu deh. Ntar malem kagak bisa tidur kalo banyak nyamuk!" Fara turun dari mobil.
"Ayok dah! Biar ketemu sekalian sama Cing Dena!" ajak nyak, Fara meminta ijin pada Al Fath yang mendapat anggukan.
Saat kembali Al Fath rupanya sudah selesai dengan panggilannya.
__ADS_1
"Fath, diparkir aja disono! Di garasi," ujar nyak, Al Fath mengiyakan memasukkan mobil dinas ke dalam garasi salah seorang tetangga.
Ketiganya berjalan bersama menuju rumah nyak seraya mengobrol, terlihat kentara perbedaan postur badan Al Fath yang paling tegap, besar dan tinggi ketimbang Fara dan nyak, ketiganya menikmati sore hari di perkampungan padat nan ramai, gang-gang tikus terkadang dipenuhi anak-anak bermain dan para ibu yang bercengkrama dengan sesama tetangga lain sekedar menikmati sisa hari.
"Nyak! Ra!" teriak beberapa tetangga termasuk mpok Ayu menyambut Fara.
"Mpok!!! Cinggg!! Aaaa!" mereka berteriak histeris.
"Allahuakbar, adek gua udah buncit aja! Berapa bulan Ra, masyaAllah, gusti!" peluk mereka.
"Maju 7 mpok, cing!"
"Yeee, mpok Fara balik oyyy!" teriak anak-anak tetangganya berlarian menyambut Fara, gadis dewasa yang di usia 22 tahunnya masih sering bermain kelereng bersama anak-anak kampung di lapang milik pak Haji.
"Mpok!!! Udah jadi bini tentara sombong, ngga pernah main gundu/kelereng lagi kesini. Ngga pernah balik-balik!" ujar Ardan anak dari mpok Ayu.
"Anak mpok nih kalo ngomong, kalo gua bisa lipet lu di koper, bakalan gua lipet Dan, namanya juga tugas negara mana bisa balik seenak jidat!" jawab Fara pada mpok Ayu.
"Mpok, gimana enak ngga jadi bini tentara?! Zam-zam kepingin lah jadi tentara biar bisa nembak musuh, kaya kemarin di berita!" sahut lainnya membuat Al Fath melebarkan senyumnya, kebanyakan cita-cita anak kecil adalah mengidolakan para aparat tanpa tau apa yang mereka lalui selama menjadi prajurit.
"Asikkkk! Zam mau jadi tentara, biar bisa naik tank baja! Naik mobil yang bisa nembakin rudal sama naik helikopter!" serunya heboh.
"Sandi juga ah! Mau jadi tentara!"
"Belajar dulu yang bener!" ucap nyak.
"Hilih pada mau jadi tentara, kagak ada gitu yang mau jadi sarjana desain grafis kaya gua?" omel Fara sewot.
"Kagak ah! Mpok Fara aja ngapain, kerjaannya kesana-kesini ngga jelas, malah ujungnya dagang panci. Ngga bisa jajan! Tiap hari dimarahin nyak Fatimah pula sampe dilempar sendal jepit!" tawa mereka ditertawai semua yang ada disana termasuk Al Fath.
"Si-@lan lu ntong!" desis Fara.
"Pak komandan," senyum mpok Ayu dibalas senyuman Al Fath.
"Aduhhh, Ra! Laki lu ganteng banget saaloh!" gumam mpok Ayu pada Fara, membuat Fara tertawa, "bungkus mpok!"
__ADS_1
"Ra, mampir-mampir lah ke rumah ! Ncing bikinin kue cucur, Kata nyak lu, hari ini lu ada balik kesini, makanya gua bikinin!" ujarnya. Inilah para tetangga yang statusnya orang lain bagi Fara, tapi rasa persaudaraan mereka mengalahkan hubungan da rah.
"Makasih ncing! Nanti Fara mampir," Fara memeluk tetangga rasa saudara.
"Udeh, anak ma mantu gua mau istirahat dulu dah! Ntar ke rumah kalo masih mau ngobrol!"
Al Fath masih belum berhenti tertawa mengingat ucapan polos anak-anak tadi yang mengatakan jika Fara kere dan pengangguran dengan cara mereka sendiri.
"Abang apa-apan sih ketawa terus! Ngerasa kehina nih!" sewot Fara. Mereka masuk ke dalam rumah yang keadaannya masih sama, hanya saja sudah lebih rapi dari terakhir kalinya Fara tinggal disini, semua yang bocor dan banyak tambalan sudah dirapikan.
Al Fath sedikit menunduk masuk ke dalam rumah, karena kepalanya pas sekali di batas gawang pintu masuk.
Kursi lusuh yang sama dengan kursi yang pernah Al Fath duduki saat dulu melamar Fara bersama keluarganya, ia duduk dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah yang tak begitu luas.
"Istirahat dah. Nyak ganti baju dulu! Ra, bikinin Fath minum dulu!" pinta nyak masuk ke dalam kamarnya.
"Iyak! Ahhh, nih rumah masih sama-sama aja nyak! Kirain udah jadi rumah gedong!" kelakarnya ikut masuk ke dapur.
"Abang kalo mau ganti baju masuk kamar Fara aja, awas salah masuk kamar nyak!" teriak Fara dari belakang.
"Iya," jawab Al Fath, ia beranjak dan membuka handle pintu yang hampir berkarat dimana Fara dulu sering tidur. Sejak menikah dengan Fara, ia belum pernah tau dengan keadaan kamar istri nakalnya ini.
Ranjang kayu sedikit usang dengan kasur busa nomor 2 rapi dan dingin seperti tak pernah ditiduri. Meja belajar tak kalah tua dari ranjang dan lemari kayu dengan cermin di depannya menjadi pemandangan selanjutnya. Ia mengulas senyum saat melihat wajah cantik nan manis Fara terpampang di dinding saat wisuda dengan kebaya peach sedang memakai toga dan memegang sertifikat didampingi nyak.
Sebuah poster kata-kata motivasi di sudut kanan depan kasur. Mungkin tujuannya agar kata-kata itu dilihatnya saat pertama kali bangun tidur, menjadi penyemangat harinya. Dua buah bingkai foto berisi foto Fara kecil yang centil di acara ulang tahun yang dikolasekan dengan foto saat Fara SMA, tampak cantik namun tomboy. Dan yang satu lagi pria paruh baya dengan kemeja tahun 90'an, Al Fath tebak itu adalah ayahnya.
"Bang," Fara membuka pintu kamar yang terbuka sedikit dengan membawa secangkir teh manis.
"Disini ngga bawa kopi Gayo, adanya teh manis." Fara menaruh cangkir kopi di atas meja belajar dan duduk diatas sisi ranjang samping Al Fath.
"Yang ini ngga akan roboh, Fara jamin!" kekehnya.
.
.
.
__ADS_1
.