
...Tidak ada yang benar-benar setia di dunia ini selain kesetiaan seorang ibu pada anaknya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arjuna bukanlah dalang utama, ia hanya bawahan yang haus akan penghidupan mewah, lupa akan janji setianya pada negara. Tanpa berfikir panjang, jika semua kebusukan sudah pasti akan berbau. Ia gadaikan kesetiaannya terhadap tanah kelahiran demi segepok lembaran kertas.
Ia berlutut. Selalu kata menyesal dan khilaf menjadi kambing hitam dari semuanya. Jika semua kesalahan di dunia cukup dengan kata menyesal dan khilaf, maka hilanglah sisi kebaikan di dunia. Hanya akan menyisakan keegoisan, ketamakan dan kemunafikan.
Ia berdiri dengan kedua lututnya di depan semua komandan.
"Bangun! Kamu perwira, tak pantas bersimpuh di depan yang bukan ibumu!" bentak komandan resimen.
"Semua harus dipertanggung jawabkan Juna, jika kamu kooperatif maka saya yakin semuanya akan lancar, masalah ini haru segera diakhiri, agar tak menimbulkan korban semakin banyak, " ucap Al Fath.
Tak ada kata terucap maupun tetesan air mata, namun ia tak menampik atas tuduhan Al Fath, dengan semua bukti yang sudah jelas tak mungkin ia mengelak.
"Segera saya akan menonaktifkan terduga dan menjegalnya agar tak bisa bepergian kemana-mana," komandan resimen meninggalkan tempat beserta para ajudan.
Arjuna dikawal oleh beberapa prajurit bersenjata menuju markas besar sebelum benar-benar diberikan pada pihak berwajib dan menjadi tawanan khusus negara.
"Papa?" langkahnya gontai.
"Eh, ada apa nih?!" Fara dan ibu-ibu kumpulan terkejut dengan kedatangan Arjuna dikawal demi berpamitan pada sang istri.
"Om, ada apa?!" tanya Fara separuh panik, tapi kecut!! Tak ada yang menjawab.
"Saya bersalah, jaga anak-anak. Saya harus mempertanggung jawabkan kesalahan saya," ucapnya membuat sang istri menangis dalam kebingungan.
"Jangan pergi pa!" para ibu lainnya menahan sang istri berikut Fara yang ikut kebingungan seperti orang yang baru saja bangun tidur lalu di ajak ke tengah hutan, jadinya linglung.
"Ada apa sih?" tanya Fara berbisik pada Kintan.
"Saya kurang tau bu," jawab Kintan.
...----------------...
"Ngga bisa jadi nih!" decaknya mengomel, setelah tau apa yang terjadi.
"Kok tega sih?!"
Brakkk!
Untung saja kopinya tak tumpah, karena Fara menaruh senampan kopi dengan kasar. Al Fath dan yang lain mengerjap cukup terkejut. Dibalik wajah manis Fara, menyimpan singa betina dalam jiwanya. Memang cocok dengan si mata garuda yang gahar.
__ADS_1
"Pantes aja gue curiga, tuh make-up mehong-mehong! Ngga *make sense* tau ngga sama gaji suami! Taunya duit dapet nyolong durian!"
"Gue aja kalah saing! Masa istri danyon pangkat letnan kolonel skin care-nya cuma sari pohaci sama lidah buaya doang?! OMG demi apa cobak?!" ia menggerutu dan menggeram. Apa wanita memang selalu begitu jika kesal? Lain halnya dengan lelaki yang lebih memilih main otot dalam melampiaskan kekesalan, wanita lebih memilih menghabiskan energi marahnya untuk mengoceh.
"Bisa kerenan dikit, itu juga karena dapet kiriman dari mertua sama hantaran kawin!"
"Kira-kira kalo korupsi dana pembangunan negara, dihukum berapa lama ya?! Sebanding ngga ya buat biaya mewah di penjara?!"
Mata Al Fath dan para perwira yang tengah berkumpul malah sibuk memperhatikan Fara yang mendumel sembari membawakan kopi dan kudapan untuk para tamunya, Dilar dan Gentra bahkan sudah tak bisa membendung tawanya melihat istri danyon satu ini gesreknya kebangetan, ekspresinya itu loh! Kaya Marsha\_endah pas bipolarnya fase manik. Ngedumel-dumel ngga jelas sepaket wajah julidnya. Tak sangka pria datar macam Al Fath mendapatkan pasangan yang one hundred percent ekspresif.
"Sepadan lah Ra, bisa buat bolak-balik liburan. Sipir lapas bisa digoyang lah!" setuju Dude mengompori.
"Alamak, satu frekuensi istri kau sama istriku Fath!" ujar Bang Yo.
"Bisa bikin konspirasi tuh bang," setuju Gentra.
"Dosanya dunia akhirat dek," cebik Al Fath mengambil setiap cangkir kopi dan menaruh di depan tamunya masing-masing.
"Ngga apa-apa Ra, dosa istri ditanggung suami kok!" sahut Taufik menimpali, dan pecahlah tawa mereka semua. Ujung-ujungnya Al Fath juga yang kena.
"Ya udah deh Fara masuk, mau nyusun dulu program! Siapa tau kan presiden liat, terus kasih Fara bonus, liburan gitu ke Raja Ampat!" oceh perempuan itu kembali ke ruang tengah untuk menyimpan nampannya lalu mulai berkutat dengan laptopnya.
"Nah, denger kan Fath! Wanita memang begitu, ngomel-ngomel ngga jelas, ujung-ujungnya lubangin brangkas gaji!" keluh dan curahan hati Bang Yo, ditertawai yang lain.
"Curhat bang? Atau ngeluh?" ejek Dilar.
"Sekali lagi kau cakap ku berondong kau pake kaliber 12!" sarkas Bang Yo, mereka malah tergelak.
"Bukan tidak mungkin kabar kapten Arjuna ditangkap diketahui oleh Kolonel Pamungkas, secepatnya kita harus bertindak!"
"Bagaimana dengan ajudan Arjuna?"
"Sudah diserahkan bersama Arjuna barusan. Bagaimana dengan istrinya, Fath?" tanya Regan menyesap kopi Gayo buatan Fara yang dikirim langsung dari Aceh.
__ADS_1
"Sampai surat perintah turun dari pusat biarkan saja beliau disini, toh kapten Arjuna belum ditentukan jadi tersangka masih anggota kesatuan."
"Bang Pam. Tak sangka aku...awalnya kupikir beliau adalah prajurit teladan yang harus ku contoh, tapi rupanya materi mampu membutakan matanya," Bang Yo meredup kecewa mengingat Pamungkas adalah teman satu lettingnya dulu, sama-sama berjuang dari nol hingga keduanya dipisahkan oleh daerah penugasan.
"Namanya juga manusia bang, disodorin duit berkoper-koper siapa yang ngga silau?!" sela Andre.
"Iya, dan cara dia mencuci uangnya dengan membeli sejumlah properti, saham, dan beberapa bidang tanah, termasuk...." Al Fath menahan ucapannya, seketika rasa sakit hati menyeruak dari lubuk hatinya, menatap lurus penuh kegetiran.
"Termasuk apa bang?" tanya Gentra mewakili rasa penasaran yang lain.
🌟 Flashback on
"Dek, memangnya tanah bapak yang direbut paksa itu dimana?" tanya Al Fath saat di mobil menuju bandara.
"Daerah Thamrin bang, strategis buat usaha," Fara masih menghapus jejak-jejak air matanya dengan tissue.
"Terus saudara bapak yang rebut paksa itu siapa? Sampe menalsukan surat tanah?"
"Cang Bulloh, kakaknya bapak. Dia asisten rumah seorang petinggi markas kaya om Wicak, eh..engga deh pangkatnya kalo ngga salah dibawahnya! Setau Fara sih majikannya itu yang beli tanah di Thamrin dalam nominal lumayan, ya...namanya juga orang kampung bang, ditawarin uang segambreng apapun halal dilakukan,"
"Kejadiannya kapan?"
"Udah lama banget bang, ngga usah bahas itu lah bang, Fara udah sesek nih!" Al Fath mengusap lembut kepala Fara menularkan ketenangan dan perlindungan seperti mengatakan i'm here!
"Termasuk sebidang tanah di kawasan Thamrin," jawab Al Fath datar, mereka berohria karena tak tau menau.
Frederick berlari ke arah rumah Al Fath, "mohon ijin menyela ndan!" hormatnya.
Sontak saja mereka mendongak dan menghentikan ajang cemal-cemil itu, melihat wajah gak biasa Frederick raut wajah semuanya ikut serius.
"Ya, ada apa?"
"Laporan dari perbatasan, pergerakan kelompok separatis semakin aktif. Seorang anggota kesatuan tertembak,"
"Ya. Rick---segera kumpulkan unit 4 dan 5ndari kompi kesehatan, 1 regu dari kompi bantuan. Dan hubungi batalyon XXXXXX, untuk segera mengirimkan detasemen anti terornya,"
"Siap ndan! Segera laksanakan!"
"Kita bergerak sekarang," ucap Al Fath menatap satu persatu temannya.
"Siap ndan!"
"5 Menit! Berkumpul di lapangan!" sekumpulan perwira itu memecah dan keluar dari rumah Al Fath.
.
__ADS_1
.
.