
Deburan ombak bersahut-sahutan diantara kilauan air laut yang tersinari bak berlian. Gemerisik pasir pantai berjatuhan dari kaki putih yang te lanj4nk, akhir-akhir ini Fara selalu meminta untuk datang kesini demi menentramkan pikiran dan hati, bersiap menghadapi hal besar yang akan terjadi sebentar lagi. Berubahnya status Fara yang tadinya calon ibu menjadi seorang ibu.
Angin laut pagi ini cukup kencang membawa serta helaian rambut dan dress yang dikenakan bumil satu ini, membuat bentukan perutnya semakin terlihat jelas, begitu besar dan----sudah turun, bagian dada Fara tak terlalu sesak namun ukuran B_H nya bertambah.
Hari ini ia hanya ditemani Marcel dan Kintan, para ajudan setianya yang belum berniat memiliki pendamping.
"Mohon ijin mengganggu bu," Marcel buka suara.
"Ck--dibilangin jangan terlalu formal kalo cuma di depan saya om," tegur Fara, berulang kali ia harus menegur ajudannya itu jika ia tak suka obrolan formal, membuat interaksi jadi kaku.
"Siap salah bu, komandan berpesan jangan terlalu lama di luar batalyon. Beliau juga ada kasih pesan hari ini pulang sedikit terlambat, karena ada kunjungan kerja bersama para danyon lain," ucap Marcel menyampaikan pesan Al Fath.
Fara hanya mendengarnya dengan cuek saja, "Ntan, saya pengen kelapa muda!" ucapnya. Kintan tersenyum usil melihat wajah Marcel yang tak digubris sang atasan. Ia tau Fara paling tak suka diatur-atur begitu.
"Siap bu! Sebentar,"
"Om, tenang aja. Kaya ngga tau saya aja. Maaf ya suami saya terlalu overprotektif bikin kamu pusing," tepuk Fara di pundak ajudannya itu. Justru karena Marcel tau bagaimana Fara, ia selalu mengingatkan pesan sang komandan, hello! Siapa yang tak ingat jika istri komandannya ini bandel, iseng, dan nakal.
"Hehe, ngga apa-apa bu. Komandan terlalu sayang sama ibu, saya salut," jawabnya.
"Komandan juga ada bilang, katanya minggu depan ibu Salwa dan rombongan datang ke batalyon," lanjut Marcel.
"Om Marcel disuruh jemput?" tanya Fara.
"Iya bu, bersama bang Rick."
"Oh, iya. Kalau gitu kita harus beli stok bahan makanan buat minggu depan om. Khawatir saya ngga bisa keluar lagi setelah ini," Fara mengerutkan dahinya merasakan perut yang terasa mules.
Cenat--cenut!! Fara tak begitu mengindahkan rasa itu. Sudah terlampau sering ia merasakan hal itu akhir-akhir ini.
Kintan membawa dua buah kelapa yang sudah dibuka atasnya.
"Asikkk!"
"Om, ransum hasil jarahan Fara semalem mana?" tanya nya pada Marcel, Kintan dan Marcel tertawa tergelak mengingat kejadian semalam.
Flashback on
Fara datang bersama Kintan dan Marcel ke kompi markas, lebih tepatnya gudang ransum.
"Malam bu, ada masalah apa ibu sampai kesini?!" tanya seorang prajurit yang sedang bertugas piket.
"Mau sidak!"
Namun ujung-ujungnya ia malah menjarah beberapa kotak ransum dari sana dengan alasan masa kadaluwarsa yang sebentar lagi akan habis, jelas-jelas tertera disana masa expire-nya masihlah sangat lama. Belum lagi alibi-alibinya yang bilang mau nyicip takut rasanya terlalu pedas untuk ukuran prajurit di medan perang, kan ngga lucu nanti bikin men cret waktu mau nembak musuh. Kintan benar-benar tak dapat lagi menahan tawanya untuk tak meledak. Ada-ada saja istri danyonnya itu.
Marcel mengeluarkan kompor kecil lalu memasakn ransum untuk ketiganya, piknik darurat ala Faranisa.
"Pulang dari sini ke pusat kota dulu om, buat beli stok bahan makanan sama stok alat kebersihan. Sultan Aceh sama sultan Thamrin mau dateng," ucap Fara.
"Siap bu,"
"Ntan tolong ambil yang itu!" pinta Fara di salah satu pusat perbelanjaan. Diantara keramaian kota ia bersimbah keringat. Salah satu kursi di dekat toko ia pilih untuk duduk.
"Ibu kenapa?" tanya Marcel menyadari bahwa atasannya sedang tidak baik-baik saja.
"Enggak om, kok saya sakit perut ya? Apa gara-gara jarah ransum semalem ya, ngga ikhlas apa gimana gitu?!" tuduhnya. Marcel terkekeh, "tak mungkin ibu."
"Ssshhh---minta Kintan cepetan dong om, kok perut saya kaya diobok-obok gini ya?!" ringisnya.
Sesekali rasa sakit itu hilang namun tak lama timbul kembali, membuat Fara memutuskan untuk kembali ke mobil saja dan diam di mobil seraya menunggu Kintan selesai berbelanja.
"Om, anter Fara ke mobil dulu deh. Pengen rebahan!" pintanya, aliran keringat tak dapat dibendung lagi demi menahan rasa sakit yang dirasakan.
__ADS_1
"Siap bu!" Marcel mengantar atasannya kembali ke parkiran.
"Ntan! Cepat, ibu sepertinya sakit!" pinta Marcel panik di sambungan telfon.
"Oh iya bang, tapi bisa bantu saya membawa belanjaan ibu, bang? Soalnya cukup banyak?!" Kintan segera membayar dengan uang yang sudah Fara berikan.
"Bu, saya tinggal sebentar disini. Untuk membawa barang belanjaan," ijin Marcel, Fara mengangguk tanpa menjawab, mulutnya sibuk mendesis.
Apakah ini sudah waktunya? Bukankah masih ada waktu 10 hari lagi untuk melahirkan dari HPL.
"Aduh! Lama banget, pada kemana sih, pada pacaran kali nih orang!" omelnya, baru 5 menit Marcel meninggalkannya.
Kedua ajudan itu bergegas mengambil langkah besar demi menyusul Fara.
"Ibu! Ya Tuhan!" seru Kintan, demi melihat Fara yang sudah pucat dan banjir keringat.
"Ntan, tolong anter saya ke dokter," ucap Fara sedikit kesusahan menahan sakit yang mendera di perut bagian bawahnya.
"Saya hubungi komandan, bu?" tanya Marcel.
Dengan kemahiran Marcel, ia melajukan mobil seperti pembalap formula 1, untuk ukuran ajudan dedikasinya sudah tak diragukan lagi.
"Saya bantu bu," Kintan membantu dengan memapah Faranisa keluar dari mobil, rupanya wanita ini sejak tadi hanya bisa meringis menahan sakit, dengan tangannya mencengkram lengan loreng Kintan.
"Ntan maaf ya, saya melampiaskan rasa sakit saya di baju kamu. Nanti kalo sampai sobek, saya minta abang ganti!" ucap Fara masih sempat-sempatnya memikirkan baju Kintan.
"Ngga apa-apa bu, jangan terlalu dipikirkan! Apa ibu mau melahirkan sekarang?" tanya nya berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang nampak ramai seperti biasanya.
"Saya ngga tau, tapi sepertinya iya--" jawab Fara, merasakan berbagai gejala yang ia rasakan saat ini, sesuai dengan penjelasan dokter kandungan saat ia memeriksakan kandungan sebulan yang lalu.
Kintan dan Marcel dapat melihat sosok Fara yang berbeda di saat ini. Atasannya ini begitu kalem, tenang, dan bijak, tak seperti hari-hari biasa yang selalu petakilan, manja, dan heboh. Sifat aslinya yang ternyata lebih dewasa keluar di saat moment moment serius seperti saat ini dan saat ia disandera Denawa dulu.
Jarak yang sebenarnya dekat terasa begitu jauh untuk Fara, mengingat kakinya sudah terasa pegal, dan bergetar. Seperti ini rupanya perjuangan untuk menjadi seorang ibu, *Fara sayang nyak sama umi*.
Fara bahkan tak segan mencengkram bahu Marcel sambil memejamkan mata saat kontraksi yang menyakitkan datang menyerang seperti ratusan belati menusuk dan mengoyak tepat di rahimnya. Marcel sampai meneguk salivanya sulit, manakala netranya jatuh pada cengkraman tangan Fara yang bergetar saking kuatnya.
"Mau saya gendong bu?" ijinnya pada Fara, tak tega melihat ibu danyonnya menderita kesakitan.
__ADS_1
Fara menggeleng, "ngga usah om, insyaallah saya masih kuat!"
Hembusan nafas lega menguar dari mulut Marcel saat melihat pintu dokter kandungan yang biasa di datangi Fara setiap bulannya.
"Bu Fara," sapa dokter perempuan bernama Margareth, dokter yang menangani Fara sejak ia memeriksakan kandungannya pertama kali.
"Sudah terasa?" tanya nya, Fara hanya bisa mengulas senyuman getir.
"Mari kita cek, jika melihat dari tampilan ibu sekarang---saya tebak sudah masuk bukaan," tebaknya, ia berkarir menjadi dokter kandungan sudah 10 tahun di rumah sakit ini.
"Mau ikut atau---" tanya dokter Margareth pada Kintan, sontak ajudannya itu langsung menjawab, "menunggu! Saya menunggu saja di luar dok," bukan ia takut darah atau luka, tapi rasanya tak tega saja melihat Fara kesakitan. Padahal cepat atau lambat pun ia akan mengalaminya.
"Dok, bisakah nanti saya meminta status bu Fara segera?"
"Bisa,"
"Mari bu, masuk!"
Fara dibantu untuk naik ke atas ranjang, "boleh saya buka celananya?" tanya dokter, Fara mengangguk ia sudah pasrah dengan rasa sakit itu.
Dokter memintanya menekuk kedua lutut, "ibu, boleh tekuk lututnya?"
"Iya, seperti itu! Bagus!"
"Tarik nafasnya dalam, rilekskan saja. Saat jari saya masuk , ibu bisa lemaskan saja dan tarik nafas dalam," pintanya.
Fara mengerti, dan hanya anggukan yang ia berikan.
Cengkraman tangannya kuat di dress yang ia pakai demi menahan serangan rasa sakit saat dokter memasukkan jarinya yang terbalut sarung tangan karet.
"Iya bagus," pujinya.
"Sudah bukaan 4," segumpal bercak merah diantara cairan bening menjadi penanda bahwa Fara sudah memasuki fase persalinan.
.
.
.
__ADS_1