
Serbuan dingin malam memeluk mereka, suara bising mesin pesawat dan angin yang terbelah oleh pesawat militer rupanya tak cukup mengganggu istirahat Fara. Sudah pukul 22.00 waktu timur, Al Fath dan Fara kembali masuk ke dalam radar tanah timur, rumah mereka.
Malam yang semakin larut tak mengurungkan niatan Al Fath dan Fara untuk segera sampai di batalyon. Para ajudan dan bawahan menjemput mereka dengan penuh kerinduan.
"Ibu tidur, saya minta sedikit senyap. Dia kelelahan, tolong bawa barang-barang langsung ke dapur Rick," pinta Al Fath.
"Siap ndan!"
Batalyon memutuskan menunda acara perlombaan sampai pimpinan mereka datang.
"Disini memangnya tidak mengadakan lomba Rick?" tanya Al Fath melihat tak ada bekas-bekas kemeriahan di lapang batalyon.
"Belum pak. Wadanyon dan wakil ketua persatuan istri serempak menunda acara perlombaan sampai ibu dan komandan pulang. Kecuali untuk lomba yang membutuhkan waktu lama, sudah dimulai sejak sebelumnya," lapor Frederick.
"Ya sudah kalian boleh kembali, ini sudah larut malam. Maaf saya merepotkan," ujar Al Fath yang memang sudah mulai mengantuk.
"Siap ndan!" mereka pamit undur diri setelah menaruh barang-barang bawaan.
Prittttt! Para peserta lomba bersaing demi mencapai garis finish.
"Abang, Fara mau ikutan lomba itu!" pintanya sudah ingin melesak-melesak saja ke dalam keramaian batalyon.
Al Fath menahannya, "ngga malu emangnya, nggak! Abang ngilu liatnya dek, itu kandungan kamu udah kaya mau pecah gitu!" tunjuk Al Fath pada perut Fara yang memang sudah masuk 7 bulan. Hanya tinggal menunggu 2 bulan lagi Fara akan melahirkan. Fara merengut, mengurungkan niatannya untuk mengikuti perlombaan dan memilih duduk saja menonton batalalyon melakukan perlombaan, padahal euforianya begitu terasa meriah. Sesekali ia tertawa melihat kelucuan yang terjadi diantara lomba.
Fara juga tak segan-segan menyendok makanan tampah yang dibuat ibu-ibu ranting antar kompi dalam perlombaan yang digelar sebagai juri bersama Al Fath dan wadanyon.
"Wah kalo yang masaknya bu Hari dari kompi markas mah emang juara nih rasanya!" Fara kembali menyendok beberapa jenis makanan yang ada di dalam tampah untuk menilai kompi mana yang menang.
"Besok kamu ada *anjangsana* ke distrik perbatasan kan?" tanya Al Fath.
"Iya. Sekalian ijin cuti sama ibu ketua dan yang lain. Biar tugas pelatihan diambil alih batalyon lain dulu," jawab Fara gak terlalu fokus pada pertanyaan, ia malah lebih fokus pada makanan yang sedang di lahapnya.
"Ini nih bentuk sama penyajiannya rapi, cantik!" tunjuk Fara pada tampah kompi senjata.
"Iya bu, saya suka sama hiasan buah merahnya!" balas istri wadanyon.
Batalyon tanah timur tak kalah meriahnya, lomba futsal para prajurit antar kompi, voli ibu-ibu persatuan istri adalah lomba-lomba berkelompok yang diadakan oleh batalyon yang dipimpin Al Fath. Sementara lomba perorangannya begitu banyak.
__ADS_1
Fara menghentikkan langkahnya, ruang geraknya kini sedikit terbatas dan kaku, lebih terasa pegal, berat dan tegang.
Tak jarang ia meminta Al Fath memijitnya untuk sekedar mengurai rasa lelah.
"Periksa lagi kapan, sudah masuk 2 minggu sekali kan?" tanya Al Fath bukan pada Fara tapi Kintan.
"Siap, benar ndan! Jadwal ibu periksa lusa," jawabnya. Boleh saja Al Fath dingin, sibuk dengan pekerjaan tapi perhatian dan pengawasannya terhadap Fara tetap nomor satu.
Bumil cantik itu tengah cekikikan dengan para ibu, pemuda dan gadis di distrik perbatasan. Kehidupan mereka jadi lebih bersemangat setelah kehadiran Fara, seolah membawa angin segar untuk kehidupan mereka yang gersang, terlebih saat melihat kejadian tempo hari di istana negara. Al Fath duduk tak jauh dari Fara bersama para bapak ditemani kopi dan cemilan.
Menurut survei data, sektor pariwisata negri khususnya tanah timur meningkat setelah moment kemerdekaan, resimen pun mendapatkan kabar baik jika pihak kementrian akan mengirimkan hadiah Fara secepatnya dengan menggaet salah satu operator selular ternama bekerja sama dengan Telkom.
"Terima kasih mace untuk semua yang sudah mace berikan untuk kitorang, untuk tanah timur," seorang ibu memakaikan kain tradisional hasil karya distriknya di leher Fara. Angin sepoi-sepoi siang ini membawa serta rasa bangga di diri mereka.
"Sa do'akan persalinan mace lancar dan selamat," lanjutnya mengusap perut Fara yang semakin membesar.
"Aamiin, yang saya lakukan tak ada apa-apanya dengan apa yang sudah kam beri untuk sa, rasa keleluargaan. Sa tak bisa menjamin kehidupan semua orang yang ada disini atau memberikan materi, tapi semoga hal kecil yang sa lakukan dapat bermanfaat untuk para pemuda disini, untuk kualitas hidup ke depannya, mama."
"Mace," beberapa gadis disini sampai menyalami dan memeluk Fara.
"Mohon ijin ndan!" ujar Marcel menyela kegiatan mereka, membuat Al Fath melirik Marcel.
"Iya?"
"Ada tamu di batalyon dari fraksi partai ingin jumpa dengan komandan dan ibu khususnya," bisik Marcel. Al Fath mengangguk mengerti, "ya. Saya sampaikan dulu sama istri,"
"Sebentar pace," ijin Al Fath beranjak dari duduknya.
"Dek," panggilnya. Fara menoleh bersama para ibu dan pemuda disana.
"Ada yang ingin bertemu di batalyon," bisik Al Fath.
Beberapa orang dengan gender berbeda kini duduk memenuhi kantor Al Fath.
Al Fath tak pernah pergi dari samping Fara, keduanya selalu bersama. Setiap orang yang menemui Fara harus melewati ijinnya terlebih dahulu, semenjak moment kemerdekaan tak sedikit nomor-nomor yang menyerbu ponsel Fara entah untuk menawarinya pekerjaan, bekerja sama, bahkan sekedar ingin mengenalnya, hingga kini ponselnya itu terpaksa di tawan Al Fath demi kebaikannya.
Tak jarang artikel di media online atau cetak mengulas nama, data diri dan siapa sosok Fara.
▪》*Sosok ibu danyon cantik, yang berprestasi*.
▪》*Maha karya Faranisa mampu menggemparkan negri dan dunia, presiden tersenyum lebar melihat video buatannya*.
▪》*Request'an hadiah Faranisa menyentil para anggota dewan*.
__ADS_1
▪》*Inilah 10 fakta mengejutkan ibu persit cantik dari tanah timur*.
▪》*Sosok istri prajurit cantik, berlian dari tanah timur*.
Semua itu adalah sebagian judul dari sekian banyak judul artikel di sosial media maupun portal berita yang menyorot Fara.
Al Fath bahkan tak segan menutup akses bagi siapapun yang mengacak-acak kehidupan privasinya, karena tak jarang ia menerima laporan bahwa kehidupan privasinya kini mulai dijamah orang lain. Bukan hanya kehidupan Fara dan Al Fath saja, nyak Fatimah sampai menelfon jika kampung dan rumahnya acap kali didatangi oleh wartawan berita.
Kopi dan air nira dingin tersaji di atas meja, sepaket dengan kue lontar dan keripik keladi.
Fara mengulas senyuman manisnya mendengar niatan para tamu yang datang ke batalyon, ia melirik Al Fath yang berada gagah di sampingnya dengan baju loreng kebanggaan.
"Silahkan dinikmati," pinta Al Fath pada tamunya.
"Terimakasih letnan," jawab mereka.
"Saya sangat berterima kasih dan menghormati sebesar-besarnya atas pinangan bapak dan ibu, itu artinya di mata khalayak saya adalah figure yang baik, tapi maaf beribu maaf, saya hanya perempuan biasa dengan banyak kekurangan, tak memiliki basic untuk masuk ke dalam sistem pemerintahan. Saya hanya *stranger from nowhere* yang mampir menyampaikan pesan dan memberikan hadiah untuk negri, tanpa memiliki niatan untuk bergelut di dalam sistem pemerintahan. Biarlah saya mencintai negri saya dengan cara saya sendiri, mendampingi letnan kolonel Al Fath, suami saya sebagai prajurit negara dari sini bersama para warga timur. Tugas saya disini masih banyak, terutama terhadap keluarga. Bagaimana saya bisa menjalankan amanah masyarakat, jika tugas saya saja sebagai seorang istri harus saya lalaikan, benar to?" Jelas Fara menolak pinangan fraksi partai untuk membawanya melenggang ke senayan. Mereka tersenyum, sungguh disayangkan sosok santun, dengan segudang prestasi dan kemampuan ini menolak tawaran mereka.
.
.
.
.
Note :
\* Anjangsana : kunjungan untuk melepas rasa rindu, silaturahmi.
__ADS_1
\* Stranger from nowhere : Orang asing yang entah datang dari mana.