
Al Fath menyuapinya dengan telaten, mungkin ini kali pertama Al Fath menyuapi Fara. Padahal biasanya kebalikannya.
"Udah bang cukup. Fara malah mau muntah," ucapnya. Mungkin hanya beberapa suapan saja Fara makan.
"Rick, Kintan, Marcel--kalian istirahat saja. Sudah jam 5, biar ibu saya yang jaga," ucap Al Fath.
"Siap ndan! Jika ada apa-apa hubungi saja. Kami cuma singgah di kantin untuk ngopi," jawab Frederick.
"Ya," balas Al Fath.
Bersamaan ketiganya yang menghilang di pintu, dokter Margareth masuk bersama seorang suster, menampilkan senyuman hangat untuk pasien kuat satu ini.
"Saya tau istri prajurit pasti kuat-kuat! Buktinya, untuk pertama kali merasakan persalinan, ibu tak banyak bertingkah dan mengeluh."
"Boleh saya cek bukaan bu?" Fara mengangguk lemah, itu artinya Fara akan merasakan kembali jemari sang dokter memasuki miliknya.
Baru Fara akan beranjak menuju ranjang, sesuatu terjadi begitu cepat.
Sejumlah cairan bening meleleh deras dari pangkal pa ha Fara, membuat Al Fath ikut terkejut.
Shyurrrrr----
Cairan itu mengalir hingga membasahi lantai tempat Fara berpijak, rintihan Fara berubah menjadi ejanan kecil.
"Woah, belum kita cek. Tapi bayinya sudah menunjukkan tanda ingin keluar. Suster--siapkan ruangan!"
"Bapak, boleh dibantu membawa ibu menuju ruang tindakan?" Al Fath mengangguk, ia masih terkejut dengan cairan yang keluar dari pangkal pa ha Fara.
"Dok, shhhhh---" Fara mendesis tak tertahan lagi.
"Jangan mengejan sebelum aba-aba dari saya bu,"
"Tapi ini udah ngga kuat, pengen keluar," rintihnya semakin kencang mendesis.
Al Fath dilanda kebingungan tak tau harus bagaimana atau melakukan apa, selain dari mendorong Fara di kursi roda menuju ruang tindakan. Beberapa pengunjung yang melihat itu, sudah dapat menebak jika Fara akan melahirkan.
"Sebentar ya bu," mereka masuk ke dalam ruangan tindakan.
Kain bersih di bentangkan di atas ranjang sebagai alas lahir.
"Boleh dibuka celana da l4mnya?" ia bahkan tak sungkan berjongkok membukakan lapisan terakhir bawah Fara, jakunnya sampai naik turun melihat itu, memang benar makhluk yang paling dimuliakan adalah seorang ibu.
"Dibantu naik pak," pinta dokter Margareth.
Dengan sekali hentakan Al Fath menggendong Fara ke atas ranjang.
Suster sibuk menyiapkan peralatan, sementara dokter Margareth kini sudah memakai sarung tangannya, "sudah terlihat posisi kepala si bayi, semuanya sudah siap. Ibu dengarkan saya, saat saya bilang dorong, maka ibu dorong dengan kuat. Tidak usah sampai mengeluarkan teriakan, usahakan posisi pan tat jangan sampai terangkat. Agar robekan tidak melebar kemana-mana,"
"Tekan posisi tumit kaki menempel dekat pan tat,"
"Oke---siap? Kalau sudah mules tak tertahankan, kasih saya aba-aba," pintanya pada Fara.
"Dok---"
"Siap, dorong!"
"Hhhh---" percobaan pertama gagal, padahal Fara sudah mendorong sekuat tenaga, ia memang tak memiliki pengalaman.
"Tidak apa-apa ibu, coba dorong lebih kuat lagi,"
Satu dorongan saja, seperti daya hidup Fara tersedot separuhnya, memang dahsyat proses persalinan, suster dan dokter mengusap-usap sembari memberikan dorongan lembut di perut Fara, hanya berselang 1 menit Fara kembali dilanda sakit, "dok--shhhh!"
"Siap, dorong lagi!"
__ADS_1
"Hhhhhh----" yang Fara rasakan adalah rasa sakit seperti puluhan silet sedang menyayat bagian bawahnya.
"Ayo ibu, itu kepala bayi sudah terlihat," tapi kekuatan Fara melemah kembali.
"Dek, sayang-nya abang. Abang yakin dek Fara pasti kuat!" Al Fath mengecupi kening, mata dan pipi Fara tanpa menghiraukan rasa malu di depan dokter dan suster. Melihat kesulitan Fara, dokter Margareth mengusulkan perubahan posisi.
"Bapak bisa bantu ibu, boleh ibu di dekap saja pak, kita rubah posisinya agar lebih memudahkan bayi keluar terbantu gaya gravitasi dan dorongan ibu sendiri, biar memperpendek jarak si dedeknya," Al Fath mengangkat badan Fara untuk setengah duduk dengan dekapan Al Fath sebagai kekuatan tambahan untuk Fara. Aroma tubuh lelaki ini menjadi aroma penyemangat untuknya.
"Ditahan saja pak lutut ibu," pinta dokter.
"Dok, shhhh---"
"Siap,"
"Ayo dek, berjuang bersama--kamu dan anak kita pasti bisa, abang sayang kamu sama anak kita---" kecupnya di pipi Fara.
"Dorong!" pinta dokter.
"Hhhhh, eurghhhhh!" Fara mengejan kuat hingga tak sengaja mengeluarkan geraman
Wushhh---sesosok kepala mungil sampai kedua pundak kecilnya muncul dari lubang lahir, dokter Margareth membalikkan posisinya, dengan sendirinya si mungil meluncur keluar dari dalam membawa serta saluran plasenta.
Inilah kebesaran sang Maha Pencipta, Al Fath benar-benar bertekuk lutut lemas di depan Fara, "alhamdulillah!" jarang sekali, bahkan ia lupa kapan terakhir menangis, ia menitikkan air matanya melihat makhluk kecil tanpa dosa menangis kencang di hadapannya.
"Selamat pak, jagoannya sudah lahir ke dunia, dengan berat 3400 gram dan panjang 50 cm."
Tak henti-hentinya Al Fath mengucap syukur, sementara Fara, wanita yang baru resmi menjadi seorang ibu itu tak kuasa menahan lelah.
Terdengar lantunan adzan berkumandang di tanah timur dari mulut seorang danyon. Suaranya bergetar demi mengadzani sang buah hati, pikirannya melayang saat beberapa bulan yang lalu.
"Kamu mau nagih cendol sama aku?"
"Cendol kali ini saya yang bayar, next time kamu!"
"Saya benci negara, benci sistem pemerintahannya, benci sama aparat!" kilatan kebencian di mata Fara bahkan masih jelas diingatan Al Fath hingga kini.
"Ijinkan saya merubah cara pandang kamu. Kamu perempuan baik, cantik dan pintar. Semua kriteria idaman saya ada di kamu,"
"Jadilah istri saya,"
"Nggak!"
"Faranisa, sekali lagi saya bertanya maukah kamu jadi istri saya?"
"Kasih saya waktu untuk berfikir dan bertanya pada nyak."
"Saya terima nikah dan kawinnya Faranisa----"
"Abang jangan pergi!"
"Hati-hati di jalan. Inget, sekarang ada Fara yang nunggu abang disini."
"Berjanjilah abang akan selalu selamat, Fara sayang abang."
"Apapun saya pertaruhkan, sekalipun sumpah setia di ujung senapan."
"Abang sayang kalian berdua,"
Dan semua peristiwa yang terekam 10 bulan ini, semua kejadian senang, sedih, haru, mencekam, konyol tersimpan rapi di ingatan Al Fath.
"Inilah cara Fara mencintai negri Fara sendiri. Tugas Fara adalah mendampingi abang bertugas, kemanapun dan kapanpun."
"Hey boy," ia menyentuhkan punggung telunjuknya di pipi gembil, dan selembut sutra itu. Bayi lelaki itu berkulit putih seperti Fara namun secara keseluruhan Al Fath punya. Ia sampai terkekeh dibuatnya, "ngga salah sampai ranjang patah, ini jiplakan abi--"
__ADS_1
Dokter membawanya agar menempel di dada Fara, membiarkan bayi itu melakukan inisiasi menyusu dini (IMD).
Bayi sang mata garuda kini menggeliat, sedikit demi sedikit tangan mungilnya terbuka menyentuh dada Fara, mulutnya terbuka mengeluarkan lidah kecil hingga membuat Fara menangis haru.
"Abang dia jilatin dada Fara, sama kaya kebiasaan bapaknya!" tawa Fara ditertawai Al Fath. Si bayi dengan rambut hitam legam itu mulai mencari-cari sumber kehidupannya.
"Dia pasti nyari sesuatu yang nikmat, dek. Sama kaya abang!" pengakuan mesum si danyon membuat suster yang mendengarnya terkekeh.
"Nikmatnya dia, sama nikmatnya versi abang beda!" sarkas Fara.
"Eh, dia mulai marah tuh bang, kesel dia-nya!" seru Fara melihat bayi-nya mulai mendengus kesal.
"Sama kaya abi-nya kalo marah suka kaya gitu ekspresinya!" keduanya memperolok sang bayi. Saat wajahnya terlihat begitu dekat, Fara mengerutkan alisnya, "kok mukanya mirip abang semua? Fara-nya mana?! Kan investasi terbesar dari Fara!" ujarnya tak terima.
Dokter dan suster yang tengah mengurusi sisa persalinan tak bisa menahan tawanya.
"Putihnya seperti ibu, selebihnya seperti bapak--" tawa geli sang dokter membuat Fara manyun.
Keluarga besar Ananta dan tanah timur kedatangan satu lagi anggota keluarga barunya, si kecil Teuku Bumi Sagara.
"Ahhhh ya Allah! Lucuuuuu!" seru umi. Kini mereka sedang tersambung dalam panggilan video ber-grup. Ada nyak, umi, Zahra, dan Rayyan.
"Alhamdulillah!" ucap syukur mereka.
"Tenang Saga! Ada uncle Ray disini yang bakal ajarin semua kebaikan di dunia!" ujarnya di layar sana.
"Huuu! Kebaikan apaan! Yang ada angkara murka! Ancur dunia militer kedatangan yang kaya bang Ray satu lagi!" sarkas Zahra.
"Ya Allah, uluhh--uluhhh cucu umi lucu banget. Pengen nyubit!"
"Ra, jiplakan bapaknya yee! Elu-nya mana Ra?" tanya Nyak. Fara semakin manyun saat Nyak pun menyadari hal itu.
"Iya ya, kaya abang Fath banget!" seru Zahra.
"Bang, lu tega bang. Masa istri abang ngga dikasih kemiripan di wajah Sagara?!" tawa Rayyan.
"Abiii!!! Pokoknya ngga mau tau! Besok umi harus udah terbang ke timur, mau liat Sagara, bii!!!" teriaknya.
.
.
.
__ADS_1