
Tidak semua diantara mereka memilih mati ketimbang masuk bui. Mungkin pemahaman separatis yang di doktrin belum begitu masuk ke jiwa, sehingga banyak pula pemuda yang mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Al Fath dan kawan-kawan bukanlah malaikat maut, mereka bukan pula hakim dan algojo yang memutus hukuman bagi mereka. Prajurit negara adalah seorang aparat yang bertugas menjaga perdamaian dan ketentraman negara dengan segenap hati. Tugas mereka bukan untuk membantai bagi siapapun warga negara yang memohon pengampunan, dibalik kekarnya tubuh, dan garangnya pembawaan.. mereka adalah makhluk berhati.
Pertahanan musuh berhasil diruntuhkan, para kelompok separatis dipaksa mundur dari berbagai arah, kelompok Denawa tersudutkan.
"Wa! Zona barat hancur," lapor kaki tangannya, komando cadangan membawa tank baja melewati medan tanah merah berbatu melancarkan setiap meriamnya memukul mundur pasukan separatis dari sisi Barat.
"Si-al!! Tarik mundur, pasang ranjau darat!" ia menyesap lintingan tembakau miliknya hanya beberapa sesapan saja dan menggerusnya di tanah dengan sepatu beratnya, ia lantas mengambil telepon satelit di saku celana. Penampilan lusuh dan lengket dengan keringat, meski rambutnya tak gondrong, cenderung rapi dan terurus.
"Bawa orang kampung menuju bibir pantai menelusuri sungai! Sudah tak memungkinkan, sa salah perhitungan!"
Bukan ia yang salah perhitungan, melainkan kekuatan kesatuan tentara negara yang kian hari semakin kuat, dan itu yang luput dari perhitungannya.
Berkali-kali Denawa menggertakkan giginya saat panggilan pada seseorang tak diangkat.
🌟 Di lain tempat, "silahkan masuk komandan," pasukan bersenjata menggiringnya menjadi tahanan markas sementara sampai penyelidikan berakhir dan keputusan di dapat. Panggilan masuk dan keluar semua diawasi oleh pihak kesatuan begitupun pengeluaran dan pemasukan.
Penghianat adalah musuh bersama.
"Waa!" seseorang berlari hanya beralas kaki sepatu dokmar lusuh, pemuda dengan perawakan tak terlalu tegap itu membawa senapan.
"Ada apa?!"
"Ada sedikit kendala di perbatasan. Perjalanan kapal tersendat oleh tentara angkatan laut!"
"Si@@lllll!"
"Bagaimana kerjamu komandaaannn!" teriaknya kesal manjambak rambut sendiri lalu menghentak tanah dengan daun kering berserakan.
Di perairan ARA foeru, perlawanan tak kalah sengit dilakukan pasukan Denawa.
Dommm! Suara dentuman meriam silih berganti menghujani lautan negri.
"Tembak!!" teriak Rayyan.
Deummm!
Gerombolan ikan seketika berenang menghindar, berpuluh-puluh kilo peluru meriam berjatuhan memenuhi laut. Deburan air laut berbuih silih berlarian demi diterjang moncong kapal.
"Angkat tangan dan menyerahlah!" suaranya dari pengeras suara pada kapal beridentitaskan kapal negri tetangga tanpa bendera.
__ADS_1
Belum menyerah mereka membalasnya dengan serbuan peluru dari senapan.
Angkatan udara tak kalah hebatnya, mereka mengirimkan pesawat jet juga heli perangnya di langit timur negri.
"Skadron 1 dan 2 unit elang melesat, membelah langit pusat kota menuju belantara timur negri, ganti!" lapor pilot pada pusat.
Warga satu negri bahkan bisa melihat melalui liputan televisi, dimana langit timur begitu ramai dengan jejak-jejak prajurit angkatan udara yang bermanuver membelah langit kebiruan. Begitu hebatnya prajurit negri, kini mereka berdiri tegap nan gagah membela kedaulatan dengan segala jiwa dan raga.
"Target ditemukan, siap tembak." Mereka memborbardir dengan tembakan yang menusuk ke arah pertahanan kelompok separatis meski terhalang atap hijau pepohonan dilanjutkan ke arah laut Ara foeru, suara tembakan membelah dan menusuk lautan mengalahkan suara hati.
Jangan pernah kau ukur kekuatan persatuan dengan hitungan jari, jika tak ingin hancur lebur.
Merasa sudah tak ada harapan Denawa memencet tombol terakhirnya.
"Lakukan sekarang!" ia mencengkram telepon satelitnya, lalu bersiap berhadapan langsung dengan para prajurit negara.
Anggota separatis yang tersebar di kota berhasil membuat suasana kacau, membuat teror seisi kota. Warga sipil berada di jalanan berlarian tak tentu arah mencari tempat berlindung. Pasukan aparat berbaju coklat sontak dikerahkan demi melawan para pemberontak.
"Ada apa ini om Marcel?" tanya Fara, hari ini Fara hendak menuju resimen menemui ibu ketua kesatuan.
Marcel mengernyit namun kemudian ia paham situasinya, "mohon ijin membawa ibu kembali ke batalyon," ucapnya.
Kintan ikut menengok panik, "bu, apapun yang terjadi, ibu jangan pernah bertindak gegabah! Kami akan segera membawa ibu kembali ke batalyon," ucap Kintan.
"Ada apa sih ini?!" tanya Fara mulai panik.
Kintan dan Marcel segera mengambil senjata milik mereka membuat Fara tersentak kaget. Apakah ia sedang berada ditengah huru-hara?
Melihat celah jalan, Marcel dengan segera tancap gas membelokkan mobil untuk kembali ke batalyon.
Mata Fara membola saat laju mobilnya terhenti dan menampilkan sederet pria bersenjata yang siap menembakkan pelurunya ke arah mobil Fara, ia lupa jika mobil yang dikendarainya begitu mencolok karena mobil dinas milik batalyon.
Dorrr!
"Ahhhh!" Fara berlindung di dekap Kintan.
Bruummmm!!!! Marcel menginjak pedal gas mundur namun mobil terus saja diberondong dengan peluru, saking paniknya Marcel sampai melaju seperti orang mabuk hingga membuat mobil menabrak kendaraan dibelakangnya.
Mereka berlari mengejar, meminta pengendara turun.
__ADS_1
"Om!" Tahan Fara.
"Bagi saya mati bukan masalah besar bu, sejak memutuskan masuk ke dunia ini. Saya memang sudah tau resikonya,"
"ENGGAK! Ngga harus gitu akhirnya, militer bukan tempat setor nyawa!!!" tolak Fara, ia memutuskan untuk membuka pintu dan keluar.
"Bu!!!" tahan Kintan dan Marcel.
"Jika mereka tak menghargai perempuan maka mereka tak menghargai ibu mereka!"
"Saya lebih baik ditembak, daripada harus membiarkan ibu menyerahkan diri!" ujar Kintan dan Marcel, ini bukan film sinema dramatik, atau laga bollywood dimana pemeran protagonis dapat dengan mudah melawan penjahat meskipun hal mustahil mereka lakukan seperti melayang dan melemparkan mobil.
"Terimakasih, kita keluar sama-sama!"
Mereka turun, meski tau bagaimana akhirnya Marcel berjalan dengan gagah di depan kedua wanita itu.
Marcel mengacungkan senjata ke arah mereka begitupun sebaliknya.
"Dorrr!"
Seperti mimpi, tubuh sersan muda itu terhuyung di depan Fara dan Kintan karena kaki bagian pa hanya yang ditembak.
"Om!!" Fara benar-benar tremor dibuatnya, ia dan Kintan langsung menangkap badan besar itu, tapi tak lama, karena para anggota itu menarik tangan Fara juga Kintan secara kasar.
"Lepasin br3nk s3k!!!"
"Bangun!!!" senjata milik Kintan dan Marcel direbut.
Kintan sempat berusaha melawan, menggunakan kemampuannya. Tapi memang tak bisa dipungkiri kekuatan 5 orang lelaki bukanlah tandingannya sehebat-hebatnya mereka. Dalam suasana campur aduk, terlebih ketakutan yang memuncak Fara hanya bisa terisak dalam diam, tubuh Marcel ikut diseret, meski bercucuran da rah.
"Saya tidak akan meninggalkan ibu, sampai da rah terakhir..." ucap sersan muda itu, menggetarkan hati Fara.
Ia melirik ke arah samping dimana ajudan wanitanya dalam kondisi yang tak lebih menguntungkan, Kintan sudah babak belur dengan luka lebam di seputar wajahnya, Fara melihat Kintan ditendang di area perut dan dada.
Fara menunduk, "abang bisakah abang denger Fara sekarang, kali ini Fara ngerasa takut..." di tengah kekacauan pusat kota mereka diseret paksa.
.
.
__ADS_1
.
Pinjem dulu Fara nya sebentar yeee, kalo Fara ngga ngikut ke hutan kagak rame ntar, ngga ada yang konyol 😜😜