Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
IBU DANYON YANG TAK JAIM


__ADS_3

Selepas euforia yang berlebihan barusan, tiba-tiba bu danyon malah diserang rasa mual.


"Huwekk! Oheek--oheek!" ia muntah sampai mengosongkan seisi perutnya.


"Abang buatkan teh manis ya?!" lama-lama tak tega juga melihat Fara yang terus saja memuntahkan isian lambung.


Tok--tok--tok!


"Ck," Al Fath berdecak, masih dengan celana pendeknya ia yang akan membuatkan Fara teh manis menjeda kegiatannya untuk melihat tamu yang datang pagi-pagi.


Pintu terbuka menampilkan senyuman lebar dua orang prajurit bawahan Al Fath.


"Pagi ndan, maaf pagi-pagi sudah mengganggu, saya membawa Sertu Kintan----"


"Abanggggg!!!" teriak Fara dari dalam rumah, Al Fath menoleh, "iya dek, sebentar!"


"Kalian masuk saja dulu, kamu calon asisten yang siap membantu istri saya?" tanya Fath sambil melengos ke dalam, sementara kedua tamu itu duduk di kursi ruang depan.


"Siap, betul ndan! Lapor saya Sertu Kinan, siap mendampingi ibu dalam menjalankan tugas,"


"Abang ih!!" gerutu Fara kesal.


"Iya dek,"


Matanya mengilat, "itu pake celana boxer gitu ke depan! Ngga malu apa ?!" tegur Fara mengeplak lengan Al Fath.


"Lupa dek, sebentar abang bikinin dulu teh manisnya. Udah ngga apa-apa kan? Masih mau muntah?" tanya nya lagi, membawa Fara ke dalam kamar.


"Engga, udah ngga ada yang mau dimuntahinnya," jawab Fara rasional.


Ia mengganti celananya dengan celana olahraga lalu kembali ke dapur untuk membuat teh manis, setelah selesai, ia melayani istrinya, "diminum mumpung masih hangat. Abang ke depan dulu ada tamu," Fara mengangguk seraya menikmati teh manis miliknya.


"Rick, apa disini ada warga yang bisa membantu pekerjaan rumah? Hanya untuk sekedar beres-beres rumah saja," Al Fath duduk di kursi sebrang Frederick.


"Oh, nanti biar saya cari ndan. Biasanya ada warga sekitar kalau tidak, ditanyakan dulu istri-istri prajurit ada yang mau apa tidak?!" balas Frederick.


"Ibu sakit kah ndan?" tanya Kintan buka suara.


"Istri saya sedang kerepotan, sepertinya mengalami morning sickness," jawabnya sampai lupa menawari minuman pada kedua tamunya ini.


"Wahhh! Ibu sedang mengandung?!" seru Kintan.


"Ya, saya mau bawa ibu periksa nanti aga siangan. Saya minta tolong disiapkan mobil Rick," pinta Al Fath.


"Siap ndan! Sekarang?"


"Nanti setelah acara serah terima jabatan saya selesai," jawab Al Fath.


"Baik ndan,"


"Oh iya Rick, bisa tolong carikan sarapan?"


"Bisa ndan, mau apa?" tanya nya.


"Apa saja yang jaraknya dekat," balasnya singkat menyerahkan sejumlah uang dari kantong pribadinya.


"Kalau begitu saya cari sekarang, kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan, saya langsung pamit."


Al Fath mengangguk, dengan segera Frederick keluar dari rumah, untuk mencari sarapan dan menyiapkan apa yang diminta komandannya.


"Kintan, bisa kembali ke mess saja dulu. Nanti kalau istri saya sudah bisa aktif, saya kabari!"


"Siap ndan, kalau begitu saya pamit undur diri juga,"

__ADS_1


Ia kembali ke kamar untuk melihat Fara.


"Abang belum sarapan, Fara belum masak apapun."


"Stok sembako nanti dikirim siang dek, sudah di handle. Untuk sarapan, abang sudah minta tolong Rick mencarikan, mungkin sebentar lagi datang."



Fara berusaha kuat untuk bisa makan, apapun itu yang tersaji di depannya. Ia ingat janjinya saat di depan pejabat kesatuan. Seorang istri prajurit itu mau menerima medan apapun, dibawa kemanapun suami bertugas, setia mendampingi dalam suka dan duka. Tak ada kata manja jauh dari kota ataupun keluarga.



Fara sampai meminta asisten untuk menyetok permen agar rasa mualnya tak terlalu terasa. Dalam kondisi morning sickness begini, meski mendapatkan toleransi dari Al Fath, ia tetap mendampingi Fath mengikuti upacara serah terima jabatan di lapangan batalyon.



Al Fath bahkan sampai menengok beberapa kali, merasakan kegusaran.



"Abang ngga usah nengok terus. Fara ngga apa-apa!" ucapnya sadar akan gelagat suami yang sejak tadi sering mencuri pandang padanya, senyum Al Fath tersungging, ia memang sudah benar memilih wanita tangguhnya. Terlintas di benaknya umi Salwa, jika tau bagaimana reaksinya, sudah dipastikan bumi akan dilanda gempa.



Riuh tepuk tangan mengiringi *sertijab* Al Fath, sepaket dengan tugas batalyon yang kini berada di pundaknya.



Fara duduk di bangku coklat dekat ruang kantor Al Fath, cuaca hari ini cukup terik menyengat, Al Fath mendekat, ia tak segan untuk berjongkok di depan Fara, menggenggam kedua tangannya hangat.



"Masih mual?" Fara menggeleng.




"Terimakasih sudah menjadi wanita kuat untuk abang," Fara tersenyum, "abang udah ngomong yang ke berapa kalinya ini selama hampir dua bulan kita nikah?" keduanya tersenyum dalam diam.



"Lapor ndan, mobil sudah siap!" suara Frederick membuat keduanya menoleh.



"Iya, terimakasih!"



Al Fath membawa Fara bersama Frederick dan Kintan ke rumah sakit.



Setelah kepastian di dapat, Al Fath semakin mengembangkan senyuman penuh makna, meski tak seheboh kebanyakan orang pada umumnya. Namun rona haru bahagia jelas terpancar dari wajahnya, di usia yang sudah kelewat matang ini akhirnya Allah dengan kuasanya memberikan Al Fath sebuah keluarga kecil untuk ia lindungi dan bimbing, meskipun alat usg belum bisa mendeteksi keberadaan si kecil' karena usianya yang masih sangat muda.



"Ngga boleh terlalu capek! Jangan melakukan pekerjaan berat! Asupan nutrisi harus tercukupi! Vitamin dan obat tambah darah jangan sampai terlewat!" suara bass nan tegasnya masih terdengar meskipun lelaki itu berjalan diantara angin siang.



"Catat itu Kintan!" liriknya pada ajudan Fara.

__ADS_1



"Iya ndan, siap!"



Baik Kintan, Fara maupun Frederick sampai dibuat terhenyak oleh perintah dan ucapan Al Fath, seperti camaba yang sedang di ospek. Atau mirip para prajurit yang akan pergi berperang dan sedang di beri komando oleh sang jendral.



"Abang tuh lagi ngasih tau apa lagi ngospek orang? Fara aja sampe kaget loh!" omelnya berhenti melangkah dan melepaskan lilitan tangan dari lengan Al Fath, yang masih terbalut pdh hijaunya.



"Ngga ada itu senam-senam heboh sampe jingkrak-jingkrak, ngga ada naik-naik atau benerin apa-apa sendiri. Makan kamu harus teratur dan tercukupi gizinya! Ngga boleh ngeyel, curi-curi makan mie pake rawit!" ia menekankan kalimat terakhirnya, karena sejak datang ke tanah timur ini, Fara sudah menyetok mie instan untuk dirinya sendiri.



Hoaaammmzz! Cerewetnya...ck-- benak Fara kembali berjalan yang kini berdampingan dengan Kintan dan Frederick, ia tak biasa berjalan di depan orang lain meskipun kini statusnya istri seorang komandan, bagi Fara status bukanlah ajang untuknya merasa berada di atas orang lain. Baginya semua sama, tak ada atasan tak ada bawahan. Saking khidmatnya mendengarkan setiap poin-poin perintah Al Fath, mereka tak sadar sudah memasuki halaman rumah.



"Iya," jawabnya singkat, padat dan jelas. Bukan Fara namanya jika manut-manut tanpa ada tingkah nyeleneh. Bibir boleh saja menanggapi ucapan Al Fath, tapi matanya kini sudah jelalatan menatap sebuah pohon depan rumahnya yang terlihat berbuah lebat nan memanjakan mata.



"Eh om Rick, Kintan..itu buah apa ya namanya, kok baru liat?!" tunjuknya pada kedua ajudan ini, membiarkan Al Fath bicara sendiri di depan mereka.



"Ya bu? Oh, itu buah matoa bu," Fara mengerutkan dahinya.



"Wahhh, matoa di depan rumah komandan sudah berbuah lebat, rupanya!" seru Frederick berbinar melihat buah-buah kecil sebesar telur puyuh dengan warna kulit buah hijau kekuningan bagi yang masih mentah namun disini kebanyakan yang sudah matang berwarna coklat kemerahan.



"Ibu tau tidak, kalo pohon matoa di depan rumah komandan adalah pohon matoa yang paling lebat buahnya ketimbang pohon-pohon lain di batalyon sini, mana manis-manis pula bu, segar!" pengakuan Frederick.



"Lebih enak pakai sirup bang Rick," tambah Kintan, Fara semakin berbinar, kerongkongannya seketika mendamba buah yang sedang digosipkan oleh kedua ajudannya ini.



"Wahhh, masa?!" mata Fara berbinar, rupanya disini yang suka manjat-memanjat pohon buah milik orang bukan hanya dirinya saja. Para prajurit muda batalyon ini pun satu frekuensi.



"Kalo gitu om Rick, kumpulin anak-anak batalyon, kita panen matoa, selesai jam bekerja kamu!" bisik Fara.



"Siap bu!" ujarnya menghormat setengah berbisik. Frederick dan Kintan terkekeh dengan sikap konyol ibu danyon mereka, selama menjadi prajurit baru kali ini ia mendapatkan ibu danyon seperti Fara yang terkesan urakan, gampang akrab, dan tak jaim.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2