Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
ISTRI PERWIRA, NO MENYE-MENYE!


__ADS_3

Mendadak ibu persit satu ini jadi atlit sprinter. Bahkan orang yang kebelet bok3r saja kalah cepat dengannya, ini adalah pertaruhan harga diri. Kostum yang ia pakai sungguh tak sesuai dengan apa yang sedang ia lakukan.


J DAN T


Pengirim : L Brands store


STATUS : EXPRESS


TOTAL HARGA : RP.XX. XXX.XXX,-


BERAT : 1,2 Kg


QTY : 3 PCS


Nama produk : Lingerie Victoria's secrets, 3 pcs.


PENERIMA: FARANISA DANITA


ALAMAT : MARKAS BESAR KOMANDO PASUKAN, BLOK D NO. 63. IBUKOTA.


"Opo iki?! Lingerie tu opo se?" gumam bu Dibyo sambil memegang dan mengocok-ngocok paket kotak berplastik merah. (Apa ini? Lingerie itu apa sih)


"Ibuuu!!!" teriak Fara, calon bu komandan ini mendadak stress karena kecerobohannya sendiri.


Baik itu si kurir maupun bu Dibyo mendongak. Al Fath ikut menyusul Fara karena memang arah rumah mereka melewati rumah bu Dibyo.


"Bu, itu punya Fara!" Fara langsung menyambar paket dari tangan bu Dibyo, dengan nafas terengah.


"Mas, maaf. Saya salah nyantumin nomor!" Fara membungkuk dengan sesekali menyeka keringat dari dahi dan area garis wajah, fiuhhhh! Ampyunnnn, ampir aja!


"Iya mbak, ngga apa-apa. Yang penting sudah sampai tujuan, kalo gitu saya permisi!" kurir itu berlalu dengan motor matic sejuta umat yang membawa sekarung paket lainnya.


"Oh, paket bu Fath. Ko bisa nyasar ke rumah saya to?" si mulut nyinyir bin anyir ini mulai penasaran, barang apa yang dibeli Fara dengan harga fantastis. Bukannya merendahkan, apa Al Fath mengijinkan istrinya itu berfoya-foya, menghamburkan hasil jerih payahnya selama ini bertaruh nyawa hanya untuk berbelanja.


"Iya, maaf. Fara keder, nomor rumahnya ampir sama, kebalik!" jawab Fara, kini ia bisa bernafas lega meski kakinya sakit karena berlari dengan berte lan j4ng kaki. Baru saja Fara menghirup nafas lega, sejurus kemudian si ibu ini malah menjatuhkan harga dirinya di depan Gentra dan bang Yosef.


"Lingerie tu opo to bu Fara?!"


Grrr! Fara mematung di tempatnya di depan Al Fath, matanya menatap Al Fath dengan wajah memelas setengah ingin menangis, bang Yosef dan Gentra mengulum bibirnya,


"Ohhhhhh!" mulut mereka berohria, kemudian berganti menatap Al Fath dan Fara bergantian, rupanya si mata elang yang terkenal karena dingin dan kalemnya kini sudah mulai nakal.


"Ha--ha--ha! Baguslah seleramu Fath, saya kira cupu ternyata..." bang Yosef menepuk pundak Al Fath, Fara berjalan gontai memeluk Al Fath dari depan, menyembunyikan wajahnya di pelukan sang suami tentara, begitupun Al Fath yang mrmbalas memeluknya. Rasanya ia sudah tak memiliki muka di depan kedua teman suaminya itu, lihatlah wajah mengejek mereka. Wajah Fara sudah meleleh seperti patung lilin di jalanan blok D.


Sementara Al Fath, wajahnya ya begitu saja mirip papan triplek, lagipula kenapa harus malu, yang ada.. ia justru ingin ikut tertawa bersama Gentra dan bang Yo.


"Lingerie tuh jala ikan bu," jawab Gentra geli, meski umur masih di bawah Al Fath dan bang Yo, status pun belum menikah tapi ia sudah cukup tau dengan pakaian haram buat gadis.


"Tau saja kamu!" bang Yo menepuk perut liat juniornya yang malah terkekeh.


"Oalah, jala ikan! Ko yak mahal sekali, ibu Fath ini mau mancing atau nangkep ikan kah?" bang Yo dan Gentra semakin tertawa sementara Fara semakin dalam menyembunyikan wajahnya, terasa olehnya sang suami bergetar karena ia malah tertawa tanpa suara. Emang dasar bapak-bapak, bukannya malu!!!


"Abang malah ketawa! Padahal Fara udah ngga punya muka tau ngga!" omelnya memukul dada Al Fath dan mendongak demi menyemprot Al Fath. Tangannya mengusap lembut kepala Fara dan kembali memasukkannya ke dalam dekapan.


"Ngapain malu, bang Yo sama Gentra juga ngerti kebutuhan pasangan menikah. Toh bu Dibyo juga ngga tau itu apa," jawabnya santai.


"Bukan mancing ikan bu, tapi mau menjaring kecebong!" jawab Gentra semakin gencar.


"Om Gentra ih! Udah ah skip--skip!! Gara-gara beginian nih, jadi rame!" omel Fara ketus, Fara menjatuhkan sepatunya kemudian memakai kembali sepatu dan memutuskan pergi duluan meninggalkan suaminya bersama para makhluk kurang waras ini, yang dua asik menggoda, dan yang satu keponya kebangetan. Jangan sampai jala ikan jadi bahasan viral besok, ngomong-ngomong, besok kan jadwal keberangkatannya, aman!!! Fara menghembuskan nafas dan mengusap dada.


Mau rame pun ia sudah tak berada disini lagi.


"Kalo gitu saya duluan bang, Tra.." Al Fath pamit menyusul Fara.


"Okelah Fath!"

__ADS_1


"Oke bang,"


Keduanya melanjutkan perjalanan menuju rumah dinas masing-masing.


"Jaring ikan ko ya mahal-mahal banget! Dibuat dari opo to?!" gumam bu Dibyo.


Fara manyun sambil bersidekap di gawang pintu rumah, "abang, Fara malu ih!" Al Fath tertawa kecil melihat istrinya itu.


"Itu kan karena kecerobohan dek Fara sendiri, jangan lupa langsung dicoba!" kedipnya genit berlalu masuk ke dapur dan menyambar handuk.


"Enteng banget laki-laki kalo ngomong!" dumelnya.


"Abang! Fara belum isi air!" teriaknya menyusul.


"Iya, biar abang yang isi."


...----------------...


Tok--tok--tok!


Fara menegakkan kepalanya dari sandaran sofa acara tv yang ditontonnya tak ada yang menarik, "siapa itu bang?"


Al Fath menggeleng, dan mulai bangkit dari duduknya, meninggalkan pekerjaan terakhir di laptop yang sedang dikerjakannya.


"Ngga tau, biar abang liat. Kamu jangan ikut keluar, celana kamu pendek!" Fara memberikan anggukan mengerti, meski ia penasaran.


Ceklek


"Lapor ndan! Maaf mengganggu waktunya sebentar, tapi jendral memanggil abang secara pribadi ke rumahnya sekarang," ujarnya.


"Jendral? Ada apa?" tanya Al Fath, kedua alisnya bertaut, ada apa malam-malam begini pimpinan memanggilnya.


"Saya kurang tau bang, cuma disuruh bapak untuk manggil abang,"


"Siap,"


Al Fath menutup dahulu pintu rumah, dan masuk menyambar jaket hijaunya.


"Abang mau kemana?" tanya Fara ikut terpancing untuk bangun.


"Dek, abang dipanggil sebentar sama pimpinan. Kamu di rumah saja, kunci pintu. Ponsel nyalakan, nanti abang hubungi kalo kamu ketiduran," Fara mengangguk meski hatinya ragu.


"Mau apa sih?! Ya udah hati-hati!"


......................


"Saya atas nama pribadi meminta bantuanmu Al Fath, Flora tidak mau pulang, dia mengancam akan bunuh diri kalau bukan kamu yang menjemput. Memang salah saya yang terlalu memanjakannya, hingga berimbas dengan sifatnya yang manja dan keras kepala," sorot matanya penuh permohonan pada Al Fath sekaligus rasa bersalah dan penyesalan.


Ini yang paling ia tak suka, masalah pribadi dicampur adukkan dengan pekerjaan.


"Tapi saya tak punya hak untuk membawa Flora pulang. Jika masalah pribadi begini saya harus meminta ijin pada istri saya ndan, maaf!" bagaimanapun tindakannya ini harus sepengetahuan Fara, ia tak mau Fara kecewa jika tak tau.


"Saya mengerti, bawalah istrimu kesini. Biar saya yang meminta ijinnya secara langsung." Pintanya.




Disini Fara berada, duduk di sofa empuk tapi tak terasa nyaman untuknya, sungguh tugas Al Fath kali ini bikin hati ngebul. Muka gileeee! Apa ngga ada tentara lain gitu yang kurang kerjaan buat jemput tuh cewek manja? Ribet amat, nyuruh pulang mesti sama laki orang. Kalo mau, jemput saja pake tank baja! Biar geger satu ibukota, bukan cuma satu club malam.



Fara menutup mulutnya yang menguap, diliriknya jam di dinding yang sudah pukul 11 malam.


__ADS_1


"Dengan segala kerendahan hati, saya atas nama ayah Flora meminta ijin Al Fath bisa menjemput Flora pulang," ijin sang jendral. Fara mengalihkan pandangannya pada istri pimpinan sekaligus ibu ketua kumpulan berwajah khawatir, Fara memaklumi reaksi itu pasti terjadi pada setiap ibu jika anaknya tak mau pulang dan lebih memilih mabuk-mabukan di club malam.



Dipandangnya wajah datar Al Fath yang tegang, "Fara ijinin," ucapnya.



"Tapi Fara ikut," lanjutnya membuat Al Fath, bapak pimpinan dan sang istri sontak melihatnya.



"Ini sudah malam dek,"



"Dan ini bukan jam kerja abang, ngga baik pria menikah menjemput seorang gadis sendirian?! Fara istri abang, kemanapun abang pergi Fara ikut!" teguhnya, jangan lupakan Fara adalah wanita yang teguh pendirian.



"Abang ngga ijinin kamu keluar malam, ini waktu tidurmu." Al Fatb meraih tangan Fara.



"Dan ini juga waktu tidur abang, besok kita berangkat kan?" tegas Fara, selama ini Fara tak pernah mendebat jika memang perintah dan tugas itu berasal dari kesatuan, pergi ke lubang buaya pun Fara tak pernah sekalipun mendebat, tapi kali ini tugasnya sangat riskan dengan fitnah dan terlalu sensitif, bukan Al Fath yang ia khawatirkan, melainkan Flora sendirilah yang menurutnya adalah ancaman mutlak.



"Dek," bujuk Al Fath, ia hanya tak mau istrinya ikut direpotkan dengan masalah seperti ini, tapi sorot mata Fara tak jua melunak.



Jendral beserta istri saling pandang penuh arti, berharap Fara akan mengijinkan.



"Saya akan meminta beberapa ajudan untuk menemani Al Fath bila perlu," tawaran jendral pada Fara.



"Saya tak pernah mendebat atau melarang jika tugas ini dari kesatuan. Kemanapun saya ijinkan dan do'akan apalagi menyangkut keselamatan negara, karena memang sudah menjadi pekerjaan suami saya sebagai seorang prajurit. Maaf jika saya lancang, tapi tugas ini sudah diluar pekerjaan suami saya dan di luar waktu bekerjanya."



Fara tak peduli siapa dia, selama ia benar maka Fara akan melawan. Bukan berarti ia lancang atau kurang ajar pada seorang pimpinan besar markas komando pasukan khusus, tapi semua ada prosedur dan aturannya, suaminya bukanlah ajudan sang putri yang senantiasa jadi baby sitter Flora. Perjuangan dan pendidikan yang ditempuh Al Fath selama ini bukan untuk memomong seorang gadis, melainkan untuk membela negara tempatnya berpijak, bukankah begitu?



Fara adalah wanita kritis nan cerdas. Jadi jika ia memberikan ijin begitu saja sambil berderai air mata dan hati panas, sepanas bara api, maka anggapan itu ia patahkan hari ini.



"Jangan buat pandangan Fara pada hukum dan pemerintahan jadi tercoreng lagi bang," ancamnya dengan tatapan tajam, yang secara tak langsung meminta Al Fath memilihnya atau Flora. Ia adalah seorang istri perwira, harus tegas, pintar, dan kuat, teguh pendirian.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2