Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
TERENDUS


__ADS_3

Al Fath langsung mengambil laptop miliknya, membuka isi file dari flashdisk yang diberikan oleh komandan lewat Andre, alisnya terangkat dan sorot matanya tak dapat dijabarkan oleh kata, seperti sudah menduga sebelumnya sekaligus terkejut.


"Sudah mengambil keputusan?" tanya Regan dengan alis menukik kritis.


Ia melipat tangannya dan menaruh di belakang kepala dengan masih menatap layar laptop.


"Masih musuh lama, akhirnya sang pelindung sudah menunjukkan tongkat kuasanya lagi."


Patut lah ia seolah berjuang sendiri di timur ini, rupanya diantara para pejuang ada pengkhianat.


"Untuk sementara, saya hanya akan laporan pada komandan resimen, tanpa berkoordinasi dengan batalyon lain, saya menduga ada konspirasi disini."


"Bagaimana menurutmu Juna?" tanya Al Fath mengalihkan pandangannya pada wadanyon.


"Jejak karir saya berasal dari resimen infanteri, bang. Bukan dari pasukan khusus macam abang, dalam tindakan operasi militer perang tentulah ada perlakuan berbeda, bagaimana kalau menggabungkan kekuatan seluruh batalyon bang?" tanya Arjuna.


"Itu tidak memungkinkan Jun, mengingat saat ini ada beberapa hal yang tidak saya percaya."


"Ndre, cewek cantik tuh bawa tuak!" tunjuk Dude pada Andre.


"Ha-ha kamvrett kau," gumam bang Yo, saat Andre refleks melirik, dan melirik kartu terakhir yang dipegang Andre.


"Balak 3 Fik!" seru Dude membocorkan kartu milik Andre.


"Ahhh, si alan! Curang lu!" sewot Andre saat dicurangi Taufik dan Dude.


"Lagian abang percaya aja, mana ada cewek keluyuran jam segini bawa-bawa tuak di batalyon!" sahut Dilar.


Disaat Regan dan Al Fath berfikir, mereka malah sibuk main domino dan saling memiting leher bikin gaduh. Berulang kali Al Fath memanjangkan lehernya ke arah pintu rumah takut jika singa betina terganggu di waktu tidurnya.


Regan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan rekan seperjuangan mereka.


"Apa kiranya rencana abang selanjutnya untuk mengatasi masalah ini," tanya Arjuna, membuat Al Fath melirik Regan.


"Belum tau, sementara tunggu komando dari resimen, mungkin menarik mundur pasukan untuk sementara waktu sampai mereka keluar mencari makan, lalu kita sergap di tengah jalan," Arjuna mengangguk paham.


"Hoammm! Sudah malam bang. Besok kita lanjutkan lagi, mohon ijin undur diri ndan," ujarnya menguap.


"Ya silahkan,"


Arjuna pamit undur diri pada semuanya dan berlalu pergi dari kediaman Al Fath.


"Apa pikiranmu tak salah Fath, dengan orang itu?" tanya Regan.


"Insyaallah saya yakin. Komandan sudah mengirim beberapa bukti konkrit. Tugas saya mencari bukti semua kecurangan dia di tubuh batalyon, termasuk larinya aliran dana suap, Frederick memberikan semua data jumlah kekayaan milik istrinya yang bisa dibilang tak masuk akal."


"Tra! Siap melawan kawan lama?" tanya Al Fath.


"Siap ndan! Bergerak, Senyap, Hancurkan!" seru Gentra.


"Luka kakimu harus dibayar kaki juga Tra," sahut Regan tersenyum smirk.


"Ikut sertakan wadanyonmu patroli Fath, jauhkan dulu duri di dalam tubuh kesatuan!" ujar Bang Yo, yang ternyata mereka semua sudah mencurigai Arjuna dari awal.


"Kita akan bertemu kembali dengan kawan lama bang, siapkan sambutan!" timpal Dilar.


"Ku sambut dengan timah panas nanti pake kembang 7 rupa," balas Yosef.


"Besok biar bang Yo dan Andre saja meninjau lapangan, mendampingi pasukan yang bertugas mengawal disana. Surat permohonan terlampir dari pihak resimen sudah tembus ke panglima, dewan rakyat dan pemerintahan," Al Fath dan Regan bangkit dari duduknya.


"Hmm, jadi hanya tinggal menunggu waktu saja, sampai masalah ini disorot media massa,"


Regan menepuk Al Fath, "benar. Masalah lama yang tak kunjung usai,"


"Mau kemana bang?" tanya Dilar.


"Kamu kira saya malaikat yang tak butuh istirahat?!" seru Regan sewot. Mereka bubar setelah hari semakin larut.


"Mimpi indah bang!" imbuh Dude.


"Be go, istri bang Regan ibu Fani lah! Masa iya mimpiin si Indah?!" timpal Andre.


"Lu yang be go Ndre!"


Al Fath menatap kepergian rekan-rekan seperjuangannya hilang di gelap malam.


Berulang kali Al Fath melihat file yang terpampang di layar laptopnya, sesekali mengalihkan pandangan pada Fara, rupanya masalah ini ada keterikatan. Seketika gemuruh amarah melingkupi dirinya.


"Apa yang akan kamu lakukan, jika kebenaran terungkap dek?" gumamnya pada Fara yang sama sekali tak terganggu tidurnya.


Pagi sekali Fara sudah bangun, jika dulu ia terbiasa bangun siang, semenjak menikah dengan Al Fath kebiasaan itu luntur dan tergantikan.


__ADS_1


Al Fath melirik beberapa dus coklat besar di sudut dapurnya, yang 3 hari sebelumnya tak ada disana.



"Itu kotak apa dek?" tunjuk Al Fath, Fara ikut menoleh.



"Kotak kiriman umi,"



"Umi?" tanya nya memastikan.



"Umi ngirim apa?" di sela-sela makannya Al Fath semakin penasaran.



"Banyak! Mulai dari susu ibu hamil, bahan-bahan makanan kering, vitamin, kopi, sampe alat make up dan perawatan wajah umi kirim, umi juga kirim dress bumil bang..." jelasnya.



"MasyaAllah," kagetnya.



"Abang larang umi datang kesini ya? Umi ngadu!" Fara menaruh nasi di piring Al Fath.



"Iya, disini sedang tidak aman. Nanti kalau situasinya sudah aman terkendali, abang ijinkan," jawabnya menerima semua bentuk pengabdian Fara padanya.



Latihan para prajurit di gen jot sedemikian kerasnya. Kemampuan menembak, bertempur jarak dekat, ataupun penyelamatan dan survival diinstrukturi oleh para senior kopassus.


Sementara ibu-ibu sendiri sibuk menyiapkan kegiatannya. Bu Arjuna menggelar semua peralatan make up mahalnya, Fara bukan tak tau beberapa merk ternama dunia yang biasa dipakai oleh make up artis.


"Bu wadanyon ini, memang cocok jadi make up artis!" puji beberapa istri prajurit di kumpulan.


"Ah, biasa saja bu! Ini saya beli kalau dekat pusat kota. Itupun kalau suami saya bisa bertugas keluar. Kalau tidak minta dibelikam oleh saudara di luar pulau lalu nanti dipaketkan kesini," aku-nya.


"Benar asli bu, memang lumayan mahal harganya! Bisa sampai angka jutaan," Fara mengangguk-angguk melirik Kintan seolah bertanya emang gaji wadanyon berpangkat kapten berapa? Apa mereka tak makan sebulan kah?! Bahasa hati nurani perempuannya bertelepati pada Kintan.


"Untuk urusan make up kita andalkan bu Juna," ucap Fara final.


"Siap bu!"


"Untuk nanti pengambilan videonya kita ambil tempat-tempat wisata alam saja yang memang akan dikenalkan."


"Mohon ijin bertanya bu, apa ramai-ramai?" tanya seorang istri danki.


"Engga rame-rame juga. Nanti dikira mau tawuran. Setiap sesi dan tempat hanya beberapa ibu saja," balasnya.


"Bu, mohon ijin memberitahu."


Fara menoleh, "iya Ntan?"


"Pertemuan dengan ibu ketua kesatuan, minggu depan."


"Oh iya, saya sampai lupa Ntan! Boleh deh dijadwalkan, ingatkan saya lagi nanti ya,"



Arjuna bersama bang Yosef dan Andre kini melesat menuju lapangan. Sementara Al Fath berada di batalyonnya, beberapa mobil dinas masuk ke area batalyon, beberapa perwira menyambut dengan hangat kunjungan darurat dari para komandan batalyon lain dan komandan resimen.



"Selamat siang ndan!"



Mereka masuk ke dalam ruangan kantor secara tertutup.



"Masalah sudah cukup berlarut-larut. Kejadian baku tembak dan pemberhentian pembangunan infrastruktur pun masuk ke dalam media cetak dan elektronik. Sudah kadung ramai,"



Al Fath menyerahkan beberapa bukti konspirasi dan identitas para pemberontak gerakan separatis.

__ADS_1



Mereka sedikit terhenyak terlebih komandan besar, "saya tak menyangka dan belum percaya. Tapi lebih baik saya berjaga-jaga dan mencegah sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Lakukan sesuai SOP operasi perang militer," pintanya duduk dengan tegap, sederet bintang dan tanda kehormatan tertempel rapi tak terbantahkan di pakaian kebesarannya.



"Mohon ijin bicara ndan, area tempur dekat dengan batas negara. Bukan tidak mungkin mereka sudah memprediksikan ini sebelumnya, untuk pelarian. Dengan kata lain, bisa saja dari pihak negara tetangga pun ada duri dalam tubuh kemiliteran negara sebagai backingan mereka?"



"Saya sudah mengirimkan surat pada panglima dan beliau menanggapinya dengan respon positif dan cepat tanggap. Masalah ini sudah menjadi masalah negara bahkan dunia, maka lampiran surat sudah terkirim pada negara tetangga. Tenang saja, angkatan udara dan laut siap tempur hanya tinggal menunggu komando," jelasnya.



Tombol merah sudah dinyalakan, hanya tinggal eksekusi saja.



Mobil yang membawa Andre dan juga bang Yo telah kembali.



"Ada apa ini bang?" tanya Arjuna.



"Sepertinya kunjungan mendadak dari seluruh batalyon di timur," senyum miring Andre. Arjuna ikut masuk bergabung dengan para komandan besar.



"Kapten Arjuna, bisa duduk sebentar!" pinta Al Fath.



"Siap komandan!" ia duduk dengan terhormat diantara para atasan.



"Di depan komandan batalyon mu dan juga para jajaran komando kesatuan tanah timur. Saya menonaktifkan jabatanmu sebagai wadanyon untuk sementara waktu!"



Ia cukup terkejut dengan keputusan ini, "mohon ijin bicara ndan! Apa alasannya?" ia mengerutkan dahi tak percaya, selama ini ia bertugas dengan sepenuh hati.



"br3nk sek pake nanya," dengus Yosef yang mendengar dari luar ruangan.



Al Fath melempar kasar semua kertas bukti rekening gemuk milik istrinya, begitupun akfivitas mencurigakan Arjuna yang beberapa kali tertangkap basah, setelah menggali informasi dari ajudannya oleh Frederick dan kawan-kawan.



"Kamu menerima suap sebagai informan seseorang yang sudah tak disini."



"Ulangi sampai menit ke 3!" teriak Taufik pada ajudan Arjuna yang tengah diinterogasi.


"Saya acungi jempol pengabdianmu pada komandanmu! Prajurit negri yang loyalitas, lebih baik mati ketimbang bicara pada musuh."


Langkah sepatu besar dan beratnya ini menghampiri prajurit yang sedang berada di kolam asrama, "Tapi ingat! Saya juga prajurit yang mengabdi pada negara!!! Dan saya tidak akan membiarkan siapapun berkhianat pada negara saya!!!!


"3 menit, bicara atau tidak?!!!" bentaknya di depan wajah si prajurit.


"Siap, tidak komandan!" jawabnya masih tahan.


"Bagus! Masuk!!!"


Kepalanya mulai hilang di air kehijauan.


"Mau sampe kapan dia begitu bang?" tanya Dilar.


"Sampai dia bicara semuanya tak ada lagi yang disembunyikan, ini bukan penyiksaan komunis. Karena apa yang saya lakukan adalah bentuk latihan fisik untuknya,"


.


.


Note :


*Konspirasi : kesepakatan dua orang atau lebih untuk melakukan kejahatan di suatu waktu di masa depan.

__ADS_1


__ADS_2