Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
EMBER BOCOR TANPA TAMBALAN


__ADS_3

Fara memandang cahaya lampu neon putih yang berpendar di tengah-tengah kamar. Rasanya jarak dari mata hingga ke lampu tak sejauh pandangannya sekarang.


Akan seperti apa tempat tinggalnya nanti?


Akan bagaimana hidupnya nanti?


Hingga suara salam dan sapa Al Fath mengejutkan dirinya, membuat Fara kalang kabut menarik selimut dan mencari pakaian.


"Assalamualaikum umi,"


Lelaki itu!!! Geramnya, kasih aba-aba kek kalo mau video call'an sama orang. Fara tau suaminya itu dingin dan kelewat cuek, tapi mbok ya punya mulut tuh dipake getohhh, bukan cuma dipake buat bikin stempel merah saja. Ngomongin tanda merah, astagfirullah!


"Waalaikumsalam!" jawabnya di layar, suara umi Salwa terdengar begitu jelas disana.


Baju---mana bajuuuuuu! Fara turun dengan melompat dan mendekap selimut. Sungguh heboh, minta dicekek apa gimana sih, punya suami? Lah dia enak tinggal sat-set, sat-set, mana stamina kuat. Apa kabar dengan dirinya yang sudah lemas seperti raga tak bernyawa, lalu kini disentak agar si nyawa kembali masuk ke raga lagi.


"Mana Fara?" dan dengan tak berbudi pekertinya Al Fath membawa layar pipih itu ke arah Fara, sontak Fara menutup bagian bawah dengan selimut sementara ia terduduk di kasur.


Pemandangan pertama yang ditangkap umi Salwa adalah, dahi berkeringat, rambut acak-acakan kaya abis rebutan tulang ayam sama kucing garong plus senyum lebar para pelamar kerja.


"Assalamualaikum umi," salamnya menerima ponsel dengan hati misuh-misuh pada sang suami.


"Kamu sakit?" tanya umi berseru, air mukanya terlihat gurat wajah khawatir.


Fara menggeleng, "engga umi,"


Iya umi! Sakit hatiiii!


"Jaga kondisi ini cuacanya lagi pancaroba, kadang-kadang ngga menentu juga,"


Tiba-tiba Al Fath bergabung duduk bersama Fara berdampingan dengannya, pembicaraan sudah meluber kemana-mana hingga tak terasa sudah hampir sejam mereka mengobrol.


"Umi, abang sama Fara minta ijin sama do'a nya. Jika tak ada aral melintang, beberapa hari ke depan abang akan dipindah tugaskan di perbatasan timur negri.."


"Ha?! Jauhnya?!" seru Umi.


"Mantu umi mau kamu jadiin patok perbatasan apa gimana?!" tanya umi bernada tegas nan heboh.


"Ya engga dong umi,"


"Bilang kek sama pimpinan kamu, masa baru nikah udah ditugasin jauh dari peradaban?" ucapnya tak tanggung-tanggung, Fara hanya bisa menyaksikan ibu dan anak ini berdebat. Sepertinya selalu seperti ini saat Al Fath bertugas di daerah jauh, maka restu dan do'a umi susah turun kaya harga sembako, mesti melewati beberapa perdebatan sengit, definisi do'a ibu itu mahal tiketnya ya begini.


"Dek, tanyain umi merk jaring barusan yang bagus," titah Al Fath, sontak Fara menoleh, "abang udah gila ya?!"


Sampe lebaran mon yet pun ia pantang menanyakan pada mertuanya pasal hal begitu, ia rasa google masih bisa membantunya.


"Nanti Fara tanya mbah aja!"


Al Fath mengangkat alisnya sebelah, "mbah siapa?"


"Mbah google," bisik Fara, karena umi masih dalam sambungan video.




Al Fath memang berpendirian teguh, karena nyatanya ia benar-benar mengawasi Fara membeli baju haram dipakai gadis belum menikah itu.



Label Victoria's secret dengan harga yang lebih mahal daripada uang jajan anak alay setaun itu resmi dibelinya, tepuk tangan! Baru pertama kalinya seumur hidup Fara ia membeli barang mahal hanya untuk dirobek.



"Estimasi pengirimannya kira-kira cukup engga sampai kita mau berangkat ?" tanya Al Fath.



"Udah ambil paling express bang, 3 hari. Kalo mau yang lebih cepet harus pake jin express, kurirnya genderuwo biar cepet, kalo pocong kelamaan loncatnya!" gerutu Fara seraya melipat semua baju dan memasukkannya ke dalam koper.



Al Fath si muka tembok hanya bisa berohria saja sambil menyeruput kopinya.



Fara kembali melihat isian lemari, hanya tinggal tersisa baju 3 pasang saja dan sisanya sudah masuk koper. Begitupun barang lainnya, dalam waktu tak kurang dari 5 hari mungkin ia akan menjadi warga perbatasan, seperti yang biasa ia lihat dulu di acara-acara tv, bukan lagi warga ibukota. Ia dengan segala kekurangannya mendadak harus menjadi ibu danyon dimana semua tanggung jawab kesatuan nanti akan dilimpahkan padanya juga .


__ADS_1


"Kaya terdampar di satu pulau yang kita ngga tau dimana, dan mesti ngapain."



Fara menerima semua ucapan *selamat mendampingi bapak bertugas*, dari para istri tentara sebagai ucapan pamit mereka padanya.



Ia mengangguk-angguk manis saja saat ibu komandan memberikan beberapa pesan dan kiat-kiatnya di tempat baru nanti mengetahui jika nanti Fara yang pasti akan menjadi ketuanya, meskipun tak tau masuk di otaknya atau tidak. Se sore itu Fara berjalan bersama teh Gina, mbak Nasya, Susi, dan bu Fani, menikmati udara yang mulai sejuk dan menguarkan aroma senja. Ini mungkin akan jadi hadirnya dalam keikutsertaan pertemuan di ranting ini.



"Selamat ya Fara, nanti disana jadi ketua ranting," kekeh teh Gina, sementara Fara sendiri hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah, tanggung jawab besar sudah menunggunya di luar sana.



"Kok ibu komandan malah manyun?" tawa bu Fani seperti menggodanya.



"Bu, kira-kira nanti Fara bakalan ngacauin ngga disana?" tanya Fara menghentikkan langkahnya, membuat mereka ikut terhenti.



"Pasti!" balas Nasya dan Susi sambil tertawa renyah.



"Pasti bakalan bikin gebrakan yang bagus maksudnya, tetep semangat Ra!" Nasya mengusap pundak yang tertutup seragam hijau, memberikan support system untuk Fara.



"Yang semangat bu komandan," cubit teh Gina di pipi chubbynya.



"Teh, rasanya naik pesawat terbang gimana sih?! Ko Fara takut muntah ya," tanya nya, sejenak keempatnya terdiam tapi sedetik kemudian mereka tertawa sampai-sampai para bapak yang sedang berlatih di lapang sana ikut menoleh.



"Bu komandan takut naik pesawat rupanya!"




"Ngga apa-apa kok Ra, biasa aja." Jawab Susi yang sudah ikut melanglangbuana mendampingi suami bertugas.



Ponsel Fara bergetar, melihat sambungan telfon dari nomor tak dikenal setelah sebelumnya ia memberikan pesan.



Seketika matanya membola, "dimana mas?!"



(..)



"Udah di rumah?" alisnya berkerut, membuat keempat istri lain ikut penasaran.



(..)



"Hah?! Yang ada sepeda anak?"



"Ya udah mas tunggu sebentar saya kesana!"



Fara segera meneliti kembali pesanannya, "mamposss, salah kasih alamat!" paniknya.

__ADS_1



"Bu Fan, rumah nomor 63 rumah siapa?" tanya Fara.



"Kenapa emang?" tanya teh Gina.



"Fara lagi pesen barang, salah nyantumin nomor rumah!"



"Kalo ngga salah rumahnya bu Dibyo deh," jawab mbak Nasya.



"Cilaka 12!!" Fara bergegas berlari, bahkan ia sampai menanggalkan sepatu pantofelnya dan lebih memilih menentengnya di udara.



"Kenapa Ra?"



Dengan kecepatan maksimal Fara berlari, untung saja rok seragam hijau itu pendek meskipun bermodel span.



"Itu Fara kan Fath?" tunjuk bang Yosef.



Al Fath mengedarkan matanya ke arah telunjuk bang Yosef, mereka baru saja selesai melakukan latihan tembak sore ini.



"Iya bang," ia ikut mengerutkan dahinya melihat Fara berlari layaknya dikejar setan.



"Dek!"



Fara menoleh saat suara yang ia kenali memanggil, ia berhenti dengan nafas terengah-engah.



"Abang!!! Fara salah nulis alamat, barang Fara dikirim ke rumah bu Dibyo!" rengeknya.



"Astagfirullah dek--dek," ia hanya bisa menggelengkan kepala atas kecerobohan istrinya.



"Fara nyusulin dulu kurirnya!" teriak Fara kembali berlari, berharap bu Dibyo belum datang, jangan sampai bu Dibyo menerima paketnya dan membaca jenid barang, bukan apa-apa, mulutnya itu loh....ember bocor tanpa tambalan.



"Barang apa bang?" tanya Gentra kepo.



"Bocah ngga usah tau, dosa!" jawab Al Fath.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2