Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
RASA RINDU KEMBALI MEMELUK


__ADS_3

Al Fath memijit tengkuk Fara, sontak muntahnya Fara menjadi atensi tersendiri untuk yang lain.


"Bang, ibu kenapa?" tanya Nandi.


"Wan--Wan, minta air putih cobak!" perintah Al Fath, Wiryawan langsung bergegas masuk kembali ke dalam dan mengambil air mineral dari dalam club tadi.


"Ini ndan," ia menyodorkan sebotol air mineral yang ada manis-manisnya kaya si othor.


"Kamu masuk angin ini, udara malam emang ngga baik, ini juga udah jam 1 dini hari. Besok siang kita harus sudah berangkat dek, baiknya nanti diperiksakan dulu ke dokter," kalimat panjang Al Fath dalam seminggu terakhir ini pada Fara.


"Iya," jawabnya cukup singkat untuk ukuran mulut Fara, wajahnya mendadak pucat, entah vampir macam apa yang sering menyedot daya hidup perempuan ini.


"Abang, Fara capeklah pengen pulang," pintanya.


Di sepanjang jalan tak ada kata terucap lagi dari bibir Fara, ia hanya tergolek lemas bersandar pada lengan kokoh suaminya dan menatap lemah isi mobil, dimana Flora berada di kursi tengah sudah tertidur pulas, disampingnya ada Martinus berjaga dengan memalingkan wajahnya keluar jendela samping, sebab kini Flora begitu menantang jiwa seorang laki-laki dengan pakaian minim bahannya, t shirt pendek se-udel dan celana jeans yang sobek di lutut dan paha.


"Om Tinus," panggil Fara. Martinus sontak menoleh ke belakang, begitupun Al Fath.


"Maafin Fara ya, udah lempar batu sembunyi tangan," ujarnya merasa bersalah, seperti orang sekarat yang tak ada peluang hidup, sungguh lebay menantu umi Salwa ini, kesambet apa istrinya ini tak ada angin tak ada hujan meminta maaf pada Martinus.


"Siap, saya yang salah bu!" ujarnya kaku. Kini giliran ia mendongak pada Al Fath di tengah guncangan mobil yang sedang melaju, "abang," wajahnya minta dikasihani.


"Ya?"


"Hukuman om Martinus jangan ditambahin, dia ngga salah. Fara yang salah, Fara yang bikin pengunjung bar pada ngacir!" jujurnya.


"Tapi jangan dihukummmm! Fara lagi ngga enak badan ini!" rengeknya.


"Abang tau," jawabnya singkat. Fara dan Martinus terlihat mengangkat alisnya.


"Karyawan bar yang bilang ada perempuan yang nyariin suami tentaranya, dan bilang pengunjung pada ngacir gara-gara itu. Abang cuma mau ngetes kejujuran sama keberanian kamu," balasnya.


"Asem," gerutu Fara, "kalo tau, ngapain juga barusan mesti ngaku!"


Al Fath mengulum bibirnya, "adek bilang apa?"


"MasyaAllah, abang ganteng banget! Fara bersyukur punya suami kaya abang, apalagi kalo pemaaf sama istri, gantengnya berkali-kali lipat," bohongnya merayu. Disaat tak enak badan pun ada saja ulahnya.


Semua berakhir kembali ke Makkopas, "Fath, terimakasih untuk tugas terakhir kamu disini. Oh iya, besok sebelum keberangkatan kalian. Ijinkan saya mengundang kamu dan Fara sarapan pagi bersama di rumah,"


"Siap ndan! Kalau begitu saya minta ijin bawa istri ke rumah dinas berhubung hari sudah sangat larut," jawabnya Al Fath memberi laporan setelah Flora dibawa masuk ke dalam. Moment yang jarang terjadi, jendral menepuk-nepuk pundak Al Fath seraya melemparkan senyuman hangat, lalu ia kembali masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ijin ndan, saya antar ke rumah menggunakan mobil?" ujar Martinus.


"Boleh Nus, kalau tidak merepotkan."


"Siap tidak ndan, kasian bu Fara."


Fara memang sudah tertidur pulas dalam balutan jaket berlapis milik Al Fath, bukan hanya kendaraan saja yang berlapis baja, rupanya badan Fara pun mendapatkan perlindungan berlapis dari Al Fath, dengan sekali hentakan ia menggendong Fara masuk ke dalam rumah lalu meletakkannya di kasur.


"Abang, Fara pengen yang asem-asem. Lidah Fara ko berasa pait ya abis muntah," gumamannya dengan mata terpejam. Al Fath yang tidak mengerti menganggap itu hanyalah racauan Fara dalam mimpinya. Ia menguap dan memutuskan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum menyusul Fara ke alam mimpi.


...----------------...


Fara sudah rapi dengan atasan blouse dan celana bahannya. Jika biasanya dulu ia urakan, maka sekarang ia harus menjaga sikap juga penampilannya di depan bawahan Al Fath, menikahi seorang letnan kolonel membawa dampak yang cukup signifikan untuknya, dalam bertutur kata, dan berpenampilan, ia masih sedang berusaha merubah sikapnya yang mungkin terkadang sulit dikendalikan, sifat itu sudah mendarah daging di pribadi seorang manusia, sementara sikap adalah bentuk tindakan yang masih bisa dikontrol oleh diri sendiri.


Fara kembali melihat pantulan dirinya di depan cermin sampai sepasang tangan melingkar dari belakang, "that lagak jantóng hate abang!" (cantiknya jantung hati abang)


Fara berbalik, "bang, Fara takut naik pesawat," ada gurat kegelisahan di wajah Fara.


"Istri prajurit ngga boleh takut apapun. Ada tangan abang yang akan memegang tangan adiak,"


"Awak cinto adiak," (aku cinta kamu/dek)


Fara menyemburkan tawanya, mendorong pelan jidat Al Fath, "gua kagak ngerti ntong!" keduanya kini tertawa bersama. Yang satu orang Aceh dengan bahasa terkadang keminang-minangan yang satu betawi tulen, lalu nanti anaknya jadi apa? Jadi ayam tangkap dipakein semur jengkol dimakannya pake nasi uduk sama kerak telor.


"Kirani sama Zidan jangan nakal ya, Insyaallah kalo nanti kak Fara ada waktu. Om abang juga bisa libur, kita ke Jakarta!" si bocah elsa ini menangis di pelukan Fara, mengingat Fara-lah mentor paling absurd dalam hal melakukan aksi-aksi menyenangkan.


"Janji ya?!" gadis itu menunjukkan kelingkingnya di udara, meminta Fara mengucap janji, Fara menoleh sekejap pada Al Fath, sampai Al Fath mengangguk.


"Janji,"


"Om abang janji ya, nanti kesini lagi. Bawa dedek yang ada di perut kak Fara," baik Fara, Al Fath, maupun bu Fani cukup terkejut dengan ucapan Kirani.


"Diaminkan saja," balas Al Fath, mereka mengangguk bergumam amin.


Ngomong-ngomong Fara jadi kepikiran dengan ucapan Kirani, semenjak menikah dengan Al Fath ia memang belum kedatangan tamu bulanan, itu artinya sudah satu bulan lebih.


Setelah drama melow seperti kontestan yang tereliminasi, Al Fath dan Fara melanjutkan langkahnya menuju rumah jendral, mereka diburu waktu penerbangan.


Langkah masuk keduanya disambut hangat oleh pimpinan markas besar ini, untuk pertama kalinya Fara merasakan kehangatan dari pasangan suami istri dihadapannya ini.


"Jam berapa berangkat?" tanya nya basa-basi.

__ADS_1


"Jam 9 ndan," jawab Al Fath, ia kemudian melirik jam di tangan.


"Kalo gitu masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum kalian menempuh perjalanan ke bandara, pake pengawalan saja biar cepat. Nanti saya hubungi kenalan dikepolisian!" ujarnya enteng.


"Sar! Hubungi pak Joko, bilang kalo pukul setengah 9 kita butuh patwal dari Makko ke arah bandara!" pintanya pada sang ajudan. Fara melongo dibuatnya, seumur-umur ia belum pernah merasakan dikawal langsung layaknya jenazah yang akan dikuburkan.


"Siap ndan!"


"Silahkan, silahkan! Dimakan seadanya ya!" ibu ketua ikut menyambut mereka di meja makan.


Langsung to the point, jendral tak ingin banyak membuang waktu mereka.


"Fara," panggilnya, Fara mendongak saat tengah sibuk mengabsen satu persatu menu sarapan di depannya yang terkesan mewah baginya, ingat saja dulu saat bersama 'nyak, satu meja makan ini mungkin adalah menu makannya satu minggu, seharian full hanya satu menu yang ada di meja makan, pagi bersama kacang merah, siang pun begitu, saat makan malam menjelang, 'nyak kembali menghangatkan kacang merah sebelum habis dan menghitam layaknya lumpur ya belum dibuang.


"Apa kabar ibu kamu?" Fara awalnya tak mengerti dengan topik yang akan dibahas sang jendral.


"Alhamdulillah baik," balasnya, ia tersenyum, Fara mengikuti Al Fath menyendok nasi beserta lauknya.


"Sekarang ibu kamu sama siapa?" tanya nya lagi.


"Tinggal sendiri, tenang aja pak. Ibu saya strong, tangguh, banyak tetangga yang sayang juga. InsyaAllah saya ninggalinnya ngga terlalu khawatir,"


"InsyaAllah saya tetap memantau ibu mertua saya, ndan!" tambah Al Fath.


"Alhamdulillah, ibu kamu mungkin tangguh atas didikan ayahmu begitupun kamu, bang Harris memang sosok hangat namun kuat!" ucapnya menatap Fara nyalang, sontak Fara langsung mematung di tempatnya dengan bibir yang penuh nasi, ia belum sempat menelan kunyahan sarapannya, tapi dada sudah sesak saja.


"Bapak tau ayah saya?" tanya Fara, Al Fath pun ikut penasaran sama halnya dengan Fara.


"Bang Harris adalah satu-satunya orang yang membuat saya bisa sampai menjadi seperti sekarang. Beliau adalah sahabat karib saya..."


"Mendiang adalah satu-satunya orang yang percaya jika suatu hari saya akan duduk diatas kursi kepemimpinan aparat,"


Deg!


Bukan lagi terkejut, Fara menyimpan sendoknya, lalu meneguk minum dengan susah payah. Luka lama kembali naik ke permukaan, rasa rindu itu kembali menyergap.


"Kisah itu bermula saat mimpi kedua pemuda saling bertemu! Di awal masa pemerintahan orde baru,"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2