Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
SEMOGA ALLAH MEMBUKAKAN MATA HATI


__ADS_3

Al Fath tertawa, "kalo gitu kita cobain!" ajaknya.


"Masih sore abang, mandi dulu gih! Tapi airnya harus dikerek dulu dari sumur," suruh Fara.


Al Fath meraih cangkir dan meminun teh dari dalamnya, "teh ini manis, tapi teteh-teteh di depan abang lebih manis lagi," ucap Al Fath seraya menyeruput teh dan menatap Fara dalam waktu bersamaan.


Fara tergelak mendengarnya, "abang belajar gombal dari Rayyan ya?"


"Bukan, dari Taufik. Taufik kan dari kota kembang," jawab Al Fath.


"Jadi selama ini kamu sama ibu kerek air dulu buat ambil air?" tanya Al Fath, Fara mengiyakan.


"Banyaknya Fara sih bang, kasian kalo 'nyak, ngga bisa banyak-banyak ambil air, encok. Kan di rumah ini ngga ada laki-laki sejak bapak ngga ada," katanya tersenyum.


Al Fath menghembuskan nafasnya berat, "istri abang ini terlalu tangguh, mungkin kalau abang ngga minta kamu untuk jadi istri, kamu ngga akan butuh laki-laki buat menyanggah hidupmu, abang baru sadar---selama ini abang yang butuh kamu, bukan kamu yang butuh abang, terimakasih...adek sudah mau menerima abang." Terakhir, sentuhan kecupan ia sarangkan di kening dan perut Fara.



Al Fath membuka celana panjangnya, mengganti dengan celana pendek selutut, menampakkan bulu kaki diantara kaki kekarnya, sexy....gleuk! Dicondongkannya kepala ke lubang sumur demi melihat kedalaman, lalu ia menurunkan ember dengan tali demi mengambil air dari dalamnya.



"Ini berat untuk ukuran perempuan loh dek, apalagi ibu!" ucap Al Fath dari kamar mandi, sementara Fara kembali ke dapur memasak makan malam untuk mereka dibantu nyak.



"Sebelum pulang nanti, ingatkan abang untuk beli mesin pompa air, biar ibu ngga usah ambil air pake ember gini lagi," ucap Al Fath lalu menutup pintu kamar mandi.



"Ah, udah biasa Fath. Nyak udah biasa pake beginian, ngga usah repot-repot!" tolak nyak.



"Jangan ditolak bu, biar ibu ngga susah kalo mau ambil air. Takut licin lantainya," jawab Al Fath.



Malam ini kampung begitu meriah dan ramai, sepertinya kelompok Karang Taruna desa sedang mengadakan perlombaan dan panggung di lapang dekat rumah Fara. Jangankan kampung Fara, satu negara kini disibukkan dengan acara menyambut hari kemerdekaan negara. Suara musik dangdut koplo dan pop menggema sampai larut menemani para panitia kemerdekaan menyiapkan perlombaan untuk esok. Jalanan kampung mendadak seperti arena karnaval dengan adanya bendera merah putih yang terbuat dari kertas wajik ditempel di sepanjang langit-langit gang. Setiap rumah mengibarkan bendera negara di setiap halaman rumahnya. Suara musik bersahut-sahutan dengan denting mangkok tukang bakso. Bumil itu langsung menaruh piring berisi tahu, tempe, telur demi mengejar tukang bakso.



"Abang Dimin!!!" teriaknya di teras rumah.



"Neng Fara!" pria paruh baya dengan topi coklatnya menoleh.



"Apa kabar neng, aduhhh meni *pangling* sekarang mah! Ck, ck udah lagi hamil lagi, semoga lancar neng,"



"Aamiin bang, Fara bikinin kaya biasa ya, pengen pake bakso yang cincang---"



Al Fath keluar dari kamar mandi, ia celingukan tak melihat istrinya di dapur.



"Bu, Fara mana?" tanya nya pada nyak yang melintas.

__ADS_1



"Noh, Para berentiin si Dimin si depan.Tukang bakso Path, ke depan dah, nyak juga mau ambil mangkok," jawabnya terkadang masih tak bisa fasih menyebutkan F.



"Oh, bakso?!" tanya Al Fath memastikan. Istrinya itu apa dia lupa pesan dokter?! Tadi pagi sarapan dengan umi hampir semuanya berkuah santan dan berlemak, lalu sekarang?



Al Fath melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah, dari sana sayup-sayup terdengar suara cekikikan bukan hanya satu, dua orang saja melainkan seperti gerombolan.



Ternyata benar saja, anak-anak Karang Taruna yang asalnya sedang berada di lapang kini mendadak berkumpul di depan rumah Fara sambil menyantap bakso bersama si bumil satu ini. Bukan Fara jika sendirian, ia seakan diciptakan Tuhan untuk selalu hidup bergerombol macam ikan sarden.



"Dek," panggil Al Fath, seketika semua menoleh ke belakang termasuk bang Dimin. Sebenarnya yang berjuluk adek disini ada berapa? Apa bang Dimin pun masih bisa disebut adek sampai-sampai ia ikut menoleh.



"Abang, sini bang!"



"Oy cuy, kenalin ini suami mpok!"



"Eh, ada bang tentara!" beberapanya memang sudah tau Al Fath, karena merupakan tetangga Fara.



"Je," sapa Al Fath, pria itu bergabung saat Jeki menyingkir dari samping Fara dan memilih berjongkok ria bersama teman yang lain sambil menikmati semangkok bakso. Tak ada makan malam di restoran mewah, atau liburan ke hawaii. Fara dan Al Fath malah tertawa bersama anak-anak Karang Taruna hingga jarum jam di dinding menunjuk ke angka 21.30 Wib.




"Iya dah, udah ngantuk juga Je. Lu semua jangan begadang kemaleman, kesian engkong Somat tuh, udah tua berisik!" jawab Fara.



"Dek," Al Fath menaik turunkan alisnya.



"Apa tuh?" kening Fara berkerut.



"Kita uji kekuatan, seberapa kuat ranjang kamu!" Fara menyemburkan tawanya.



"Kalo bobrok lebih malu bang, disini padat penduduk loh! Satu rame, kedengeran semua," bisik Fara.



"Ya ngga apa-apa, tantangan buat abang. Anggap aja bukan cuma lawan musuh, tapi nengok anak juga harus mode senyap!" balasnya mulai mendekati Fara, menempelkan badannya dan memulai meng ges3k-ges3k bagian tertentu demi memulai petualangan cinta yang baru, sepertinya akan asyik mencobanya dengan mode senyap, menjadi tantangan tersendiri.


__ADS_1


Baru saja Al Fath menggerakan badannya agar lebih menempel suara decitan ranjang tak mau kalah nyaring.



Krekekkk---



Ha-ha-ha! Bukannya suasana romantis nan syahdu yang tercipta tapi jatuhnya malah kaya suara perasaan yang lagi patah hati.



"Citttt, Cricit---"



Sesekali suaranya berdecit ngilu mirip cicitan dompet di akhir bulan yang menjerit minta diisi sama dollar. Fara kembali tertawa geli, Al Fath akhirnya menyerah dengan suara berisik yang ditimbulkan ranjang Fara. Ia kesal, dengan sekali angkat, Al Fath mengangkat kasur busa itu ke bawah ranjang.



"Udah lah dek, abang nengok dedeknya di bawah aja!" gerutunya, Fara semakin tergelak melihat kepasrahan suami tangguhnya.



"Nyerah nih? Abang tuh emang ngga cocok dikasih posisi yang enak, cocoknya jadi kaum rebahan di lantai!" jawab Fara.



Malam ini begitu panas, "udah bang, mules ke Fara-nya!" rintih Fara. Semakin besar kandungan maka resiko Braxton hicks (kontraksi palsu) semakin besar dan sering.


Al Fath menghentikan aksinya, tak tega. "Masih mules?" ia mengelus perut Fara yang menegang.


"Sedikit,"


"Kok bisa?!"


"Mana Fara tau,"


"Besok selepas upacara kita ke dokter," titah Al Fath.


"Ngga usah lah bang, malu!" jawab Fara menguap, ia lelah dan ngantuk saat ini.


"Mau abang kompres?" tanya nya.


"Ngga usah. Udah ngga mules lagi, Fara ngantuk bang!"


"Ya udah, adek istirahat. Besok harus bangun pagi," Al Fath menyelimuti Fara dan memberikan usapan lembut di perutnya berharap Fara dan sang janin nyaman.


******


Al Fath tersenyum puas. Umi memang tak pernah salah dan selalu tau isi pikiran anak-anaknya. Ia selalu siap sedia dalam hal sepele namun penting macam ini. Sejak tau alasan kedatangan keduanya ke ibukota adalah untuk menghadiri upacara kenegaraan, umi langsung menyiapkan make up artis beserta pakaian yang cocok untuk keduanya pakai.


Dan kali ini umi mengikuti saran abi, mengirimkan pakaian adat jawa tertutup sepaket dengan jilbab dan tusuk konde simple demi melengkapi penampilan Fara.


Kebaya hitam dan samping jarik coklat tua menjadi outfit Fara hari ini. Tak ada high heels melainkan flatshoes nyaman yang dipakai oleh bumil menantunya.


Dandanan simple namun cahaya bumil Fara mampu menyempurnakan penampilannya dari segi manapun. Jilbab senada dengan warna kebaya hitam tersemat sempurna oleh tusuk konde simple berwarna gold, juga bros cantik di dadanya.


Sementara Al Fath menolak memakai pakaian adat, ia lebih memilih memakai baju kebanggan PDH hijau lengkap dengan sederet lencana tanda kehormatan.


Senyumnya mengembang terukir melihat Fara untuk pertama kalinya selain saat menikah memakai jilbab.


"Umi tau caranya menyamarkan cahaya bumil. Karena ini cuma milik abang. Kamu tambah cantik berkali-kali lipat pake jilbab, dek. Semoga nanti Allah membukakan mata hati kamu untuk berjilbab," bisik Al Fath.

__ADS_1


"Aamiin, insyaallah bang."


"Ya Allah, Bang Ris---kalo abang masih disini, abang pasti bangga dan seneng liat Fara sekarang bang," gumam nyak, segaris gurat kesedihan, terharu, dan bahagia bercampur aduk jadi satu.


__ADS_2