
Fara menatap penuh kegetiran saat ini, seraya memberikan semua yang akan Al Fath pasang di badannya, mulai dari loreng khas hijau dan merah dar ahnya, lalu kemudian dibalut dengan rompi anti peluru, tak lupa ia pun menyamarkan wajahnya dengan cat samar berwarna hijau dan hitam.
Spechhles..
Deg-degan...
Sudah benar-benar tremor...
Momen para prajurit di medan perang kini bisa ia rasakan, mencekam...
Fara mengantar Al Fath sampai di lapangan depan kantor batalyon. Para bawahannya pun tak kalah sibuk menenangkan pasangan masing-masing.
Berada di situasi begini, jujur...akhhhh pengen pi pis di celana saking takutnya! Tak ada seorang pun dari mereka yang tak memegang senjata laras panjang, tentu saja yang beratnya tak main-main. Ini tak seperti situasi war dalam game, dimana kita akan beradu adrenalin dalam euforia yang bikin candu. Tapi ini kenyataan yang harus dihadapi oleh keluarga prajurit.
Tatapannya jatuh lalu tertumbuk pada sepasang perwira muda dan sang istri yang sedang hamil tua. Diusapnya perut sang istri yang sejak tadi menangis tanpa henti, inilah pil pahit menjadi pasangan prajurit, mau tak mau, siap tak siap, kita akan dinomor duakan dengan negara.
"Abang janji tetap selamat. Saya sudah masuk bulannya," air mata istri prajurit itu meleleh tanpa ampun.
Al Fath menarik dagu Fara demi mengalihkan perhatian Fara,"Dek, jangan dipikirkan. Memang itulah resiko menikahi abdi negara, harus siap dengan semua kemungkinan yang ada. Harus tegar dan berdiri tanpa sandaran!" Al Fath menyadari tatapan Fara tak pindah dari sana.
"Iya," jawab Fara, lantas ia mendekati anggota kesatuannya itu untuk saling meminjamkan bahu.
"Lepaslah dengan senyuman. Berikan suamimu semangat, kami ada disini untukmu," wanita itu memeluk Fara.
"Ibuuu..." ucapnya tersedu menenggelamkan wajah dan seluruh kesedihannya di dada Fara, padahal ia pun sedang hamil, tapi Fara berusaha untuk jadi yang paling tegar disini.
"Terimakasih bu," balas si perwira, Fara mengangguk.
Kendaraan taktis lapis baja keluar dari sarangnya, truk Reo yang bersiap mengangkut para prajurit ke medan perang. Dan beberapa unit dengan tanda plus merah putih di bahunya membawa tas besar di punggung.
Satu truk penuh pasokan ransum tentara dan amunisi senjata dibawa. Jika sewaktu kecil ia belum pernah melihat tank lapis baja, maka lain halnya dengan sekarang, setiap hari wanita itu melihatnya terparkir bahkan kini ia bisa melihatnya langsung tank baja akan bertempur.
Apakah jumlah musuhnya sebanyak itu? Benak Fara. Siapapun memang tak bisa memprediksi secara tepat, berapa jumlah musuh diluar sana.
Di luar sana, hal yang sama dilakukan oleh angkatan bersenjata udara dan laut.
"Rayyan! Saya dengar batalyon darat dipimpin langsung oleh abangmu?!" Rayyan tersenyum seraya memasang baret ungu dikepalanya.
"Maka jika itu benar, abi dan umi pasti akan bangga, kedua putranya sedang membela negara!" jawabnya.
"Lapor kapten! KRI Prince siap berlayar!!" Rayyan mengangguk, "siap!" ia berlari menuju pangkalan.
"Saya duluan, kekasih sudah menunggu!" selorohnya pada rekan prajurit.
Mata Fara tak pernah lepas dari gerbang batalyon, dimana kendaraan keluar secara ber-urut.
"Selamat bertugas abang," ia mengusapi lembut perutnya yang kian hari bertambah lebar lingkarannya.
Begitupun tatapan Al Fath yang tak lepas dari gerbang batalyon, sampai hilang dari pandangan.
"Ada keluarga yang menungguku pulang dengan selamat," ia mengeratkan pegangannya di senjata yang dipegangnya.
__ADS_1
π Di belantara hutan sana.
Sebuah telepon satelit di tangan ia tutup kembali.
Ia tersenyum smirk memimpin para pasukan separatis asal tanah timur.
"Sa sudah tau cara bertempur mereka e...Kalaupun nanti kita terpukul mundur, tenang saja. Pintu perbatasan akan terbuka tanpa ada berondong peluru dari negri tetangga, kapal sudah menunggu di dekat bibir pantai!"
Denawa, pembalak liar yang baru saja dibebaskan dari penjara secara diam-diam oleh seorang petinggi militer negri kini kembali memimpin saudara satu daerahnya demi menjadi negri bebas dan merdeka tanpa ada di bawah naungan kedaulatan negri pertiwi.
Ia yang apatis dan tak percaya agama, melakukan segala cara demi mendapatkan uang dan kemerdekaan tanah timur menurutnya. Pembalakan liar, menyelundupkan narkoba, menjadi sumber uangnya menyuap para pejabat militer agar memuluskan jalannya, tak sulit baginya menemukan orang lemah iman di atas sana.
Para pemuda dan paruh baya yang sudah lama terlatih berjejer menenteng senjata dan amunisi peluru. Hanya kaos-kaos lusuh yang menjadi seragam kebesaran mereka, menutupi otot bisep yang sudah terbentuk akibat latihan fisik tak kalah keras dari prajurit negara kedaulatan.
Para istri dan anak-anak setia berlindung, dan bersiap migrasi jika diperlukan.
"Berjuang demi kebebasan!!!" teriak Denawa membakar semangat para kaum pria separatis.
Berita sudah tersebar, baik di media cetak ataupun elektronik. Operasi militer ini menjadi sorotan dunia, para jurnalis dan reporter berita berbondong-bondong mendatangi tanah timur demi bisa meliput pertempuran meski di batas zona aman. Kota mendadak seperti kota mati, mencekam. Bukan karena pemerintah yang mengeluarkan perintah bagi warga timur untuk tak beraktivitas. Karena kenyataannya pemerintah hanya membatasi zona tempur saja. Tapi ketakutan sebagai manusia akan sesuatu berbau anarkis memaksa mereka memilih safe at home. Mobil-mobil militer bergerak di jalur menuju zona tempur.
"Abi!!! Ini kenapa abang sama Fara susah banget dihubunginya?!" Umi dan Zahra selalu setia duduk di depan televisi demi memantau anggota keluarganya yang berada di medan perang.
Berkali-kali ia menghubungi menantunya, karena sudah dipastikan Al Fath tak akan dapat memegang ponsel disaat begini.
"Coba lagi!"
"Rayyan ada hubungi adek?" tanya Zaky turun dari lantai atas.
"Semalem bang, katanya minta do'anya dilancarkan segala urusannya," jika sudah begini Salwa hanya bisa mengelus dadanya, ini adalah pilihan kedua putranya untuk berbakti pada negara.
Bukan hanya umi Salwa saja, di ibukota sana 'nyak Fatimah berkali-kali menghubungi Fara. Bahkan ia sampai meminjam tangga, demi mendapatkan sinyal terbaik.
"Ra, 'nyak cuma bisa do'ain lu sama Fath. Ya Allah, lindungi anak-mantu gue, mana lagi hamil lagi elu Ra..." gumamnya dengan hati yang tak tentu rasa.
"Yu! Ini kenape nyang jawab mpok-mpok mulu bukan si Fara?!" teriak 'nyak.
"Apa katanye nyak?" tanya Ayu melilitkan handuk di rambutnya.
__ADS_1
"Nomor yang anda hubungi berada di luar jaringan, emang si Fara kagak di batalyon apa gimane?! Lama-lama gua samperin juga nih perempuan yang ngomong! Masa dia tau anak gua dimana, lah gua nyak-nya kagak tau!" omelnya.
"Itu operator nyak! Itu artinya hape si Fara ngga ada sinyal!"
Al Fath tengah mengatur strategi bersama para perwira lainnya. Dalam satu peleton selalu terselip prajurit kesehatan demi menjaga mereka di medan tempur.
"Batalyon infanteri XXXXXXX siap menerima komando!"
Beberapa komandan batalyon datang melapor, mobil pasukan amfibi digunakan untuk melewati medan bersungai dangkal dan sedikit terjal.
"Regu Kucing hitam sudah sejak semalam memulai pengintaian!"
"Medan cukup banyak yang terjal dan berbatu, sekitar 15 km dari sini sungai cukup dalam!"
"Regu Jalak udara berhasil melakukan penyisiran udara, prajurit bisa diturunkan di km 30, dengan jarak mendarat 200 kaki diatas tanah!"
"Komando saya ambil alih disini," seorang jendral turun tangan mengatur strategi perang.
"Unit XXX, menyusup bersama komando cadangan dari km 30, melakukan penyisiran zona merah. Berikan laporan segera, sementara peleton lain menyusul dengan kendaraan amfibi,"
"Siap laksanakan!"
Al Fath dan detasemennya bersiap masuk ke dalam helikopter serbu Apache.
Suara baling-baling dan angin yang dihasilkan menyapu pendengaran juga penglihatan, langkah gagah para perwira bersenjata menaiki armada yang dimiliki negara ini seiring dengan do'a yang dilantunkan.
.
.
__ADS_1
.
Hay guys, bertele-tele ngga sih? *Udah sii min, perang mah perang aja dorr--dorr gitu langsung capcus beresss, hamil lahiran, bertingkah konyol yang bikin ngakak*. Maaf ya, tapi memang mimin ingin menulis sebuah goresan tinta yang memang sesuai dengan ekspektasi otak mimin tentang novel kemiliteran. Tidak sama dengan novel dengan genre sama pada umumnya?! Yup! Memang, karena mimin sin rada absurd alias aneh, emang kepingin bikin yang tidak hanya mengusung keromantisan dan ketawa tiwinya saja, kalo pengen romantis-romantisan mah baca aja gombalan receh aa Rama dan si mboy hehehe promoπ, atau pengen ngakak..tonton aja stand up comedy. Tapi disini mimin memang benar-benar bikin karya real asam, manis, ketirnya kehidupan prajurit bersama pasangan. Memperlihatkan kegagahan mereka πππ seperti beberapa film yang menginspirasi karya ini. Maka tunggu kejutan di part-part selanjutnya.