
60 menit, cukup bagi mereka sekedar merehatkan otot kaki yang lelah.
Strategi disusun oleh Regan dan Bang Yo, sementara Al Fath sejak tadi hatinya begitu gelisah.
"Fath," tepuk Bang Yo di pundaknya.
"Berangkat sekarang bang?" tanya Al Fath.
"Tentramkan dulu hati kau, jangan sampai nanti tak fokus!" Al Fath mengangguk paham, memasang kembali helm dan kacamata infrared-nya.
Mereka berjalan setengah berlari, menyamai serigala malam. Bergerak cepat namun hati-hati. Tak jarang mereka menemukan ranjau yang ditanam di tanah.
Telunjuknya memutar demi meminta pasukan membentuk formasi mengitari lokasi.
Grombyang!!!!
"Bangun!!! Enak saja tidur," Fara bersama sandera lain terjengkat kaget, bahkan ketiga lainnya bersembunyi di pojokan ruangan.
"Ini akibatnya jadi warga negara yang baik! Kalian kami tindas!" teriak mereka, si gondrong menyeret Marcel dengan tanpa perikemanusiaan. Kintan pun dijambak oleh satu orang lainnya hingga meringis.
"Mace!" Senyumnya jahat pada Fara. Matanya seketika membola saat selembar kain berwarna merah dan putih dipaksa masuk ke dalam mulut Fara.
"Emmmpphh!" Fara bahkan mendadak mual, ia ditarik dan dibawa keluar ruangan.
Denawa sengaja menyalakan api unggun di depan gudang itu. Mendorong Fara beserta sandera lain agar berada di tengah-tengah, tak tau untuk apa. Apa mereka akan ditembaki satu persatu?
Badannya bergetar hebat tak berani menoleh, jika memang ini ajalnya maka terimalah taubatnya.
Ia mendongak, langit malam ini terlalu indah untuk kondisinya saat ini.
Bendera negara dibakar tepat di atas api unggun membuat perlawanan kecil dari Kintan, Marcel, dan pak pol, sementara Fara dan yang lain hanya bisa menangis.
Sudah tak peduli bagaimana tampilannya sekarang, ia hanya ingin pulang.
"Di depan sana bang," bahasa intuisi Dilar.
DEG!!!
Langkah mereka terhenti, terlebih Al Fath. Seketika jiwanya luruh saat dengan jelas Fara di depan sana.
"Fara?!"
"Bu Fara,"
"Astaga,"
"Astagfirullah!"
"Kureung aja!!! Se- tan!" umpat Al Fath. (Kurang aj ar!!!)
"Siapa yang mau duluan mencoba timah panas sa, apakah mace?" dengan sombongnya Denawa mendongakkan dagu Fara dengan mon cong senjata yang sudah menggugurkan beberapa prajurit. Fara memejam pasrah.
"Apakah mace sekarang bisu? Kemana orang pintar yang mengajak orang untuk sukses?!" teriaknya di depan Fara.
Bo*doh, Udah tau mulut gue disumpel. Fara mendelik menatap Denawa.
Al Fath bereaksi, "jangan gegabah. Dia tau kita disini sekarang," tahan Regan.
"Oh ha-ha-ha! Sa lupa, mulut ibu sa sumpal dengan kain kotor!" tawanya gilak membuat Fara jijik.
Ditariknya kain itu membuat Fara terbatuk-batuk.
__ADS_1
"Jangan sentuh saya!" Denawa dan kawan-kawan malah tertawa mengejek sambil menekankan mon cong senjata di kepala Fara.
"Sombongnya mace! Sudah mau mati juga masih saja sombong," decihnya.
"Adakah pesan terakhir mace? Sa yakin jika disana akan ada yang mendengar," jawabnya mendekatkan wajah pada Fara, sontak saja wanita ini menjauh.
"B4dji ng4n!" desis Fara.
"Bu," geleng Marcel dan Kintan.
"Apa?!!!"
Plakkk!!!
"Kurang aj ar!"
Fara langsung terhuyung dan jatuh di tanah, beberapa senjata laras panjang mengarah ke kepalanya.
"Hey mace! Katakan, kamu tidak cinta negrimu!"
Fara diam seribu bahasa, di ujung sana Al Fath sudah bergemuruh. Denawa sudah membangunkan singa lapar.
"KATAKAN!!" bentaknya.
"Saya---- saya---"
"Saya--saya, ayolah mace!!!" gerutu yang lain.
"Ha, bakar sekalian bendera negrimu. Dan ciumi bendera kami!!!" anggota lainnya seolah memperolok Fara disana, dengan mendorong-dorongnya.
Fara menatap mereka satu persatu, "saya--- hafalkan satu persatu wajah kalian. Semoga membusuk di penjara!!"
Wajah mereka seketika berubah murka, tapi belum akan menembak Fara, hujan tembakan sudah melesat melintasi mereka.
Beberapa langsung tumbang, sementara Denawa kocar-kacir menunduk mencari tempat berlindung.
"Ibu, tiarap bu!!!" Marcel dan Kintan meraih Fara membawanya tiarap di tanah, meskipun gak menekan di bagian perut, begitupun yang lain.
Dari balik kegelapan hutan, keluar beberapa berbaju loreng dengan senjata kebangaan mereka memborbardir kawasan.
Fara sampai menangis dibuatnya, rupanya Allah masih menyayanginya sampai saat ini.
"Area clear!"
Seseorang berbadan tegap langsung berlari menghambur meraih Fara, seketika badannya merasa melayang terangkat. Dapat ia rasakan aroma tubuh si loreng satu ini, "abang..."
"Phoenix aman!" bahasa mereka tak dapat Fara mengerti.
Masih ada balasan tembakan dari pihak Denawa.
Al Fath membawa Fara ke arah belakang pepohonan bersama sandera lain. Tubuhnya bergetar menangis, "abang disini sayang," peluknya menangkup kedua wajah Fara dan mengecup keningnya.
"Adek disini, abang harus kembali!" baru saja Fara merasakan hangatnya pelukan Al Fath, pria itu kembali berlari menjauh. Di balik pepohonan ia dapat melihat aksi mendebarkan film-film aksi yang dulu pernah ditontonnya bersama Al Fath secara langsung.
Mereka dikejutkan dengan suara ledakan keras di sisi barat daya, sinar merah terpancar di celah-celah pepohonan, asap hitam mengepul di atas langit hutan timur.
"Pasokan logistik clear," terdengar dari alat komunikasi seorang tim yang menjaga para sandera.
Tim kesehatan memeriksa setiap sandera termasuk Fara, "mohon ijin memeriksa bu," Fara benar-benar sudah tak bisa bicara apapun sekarang ia hanya mengangguk cepat.
Rupanya perlawanan Denawa masih kuat, mereka bahkan tak segan-segan melemparkan granat ke arah para prajurit, tapi sayangnya para prajurit sudah terlatih dan hafal medan.
__ADS_1
Fara menunduk hormat pada setiap pejuang yang bertempur, hatinya telah luluh oleh perjuangan mereka.
Baku tembak dan perlawanan cukup lama terjadi, Denawa berlari menuju tempat dimana heli yang disewanya berada, namun heli itu sudah diamankan oleh prajurit.
"Si--al!!" umpatnya berlari ke lain arah, ia terpaksa menyusuri sungai demi mencapai titik perbatasan negri.
"Kemanapun kamu lari saya akan mengejarmu seperti bayangan!" Al Fath berlari tak kalah cepat, sudah terlalu banyak kejahatan Denawa, banyak nyawa melayang demi ambisi gelapnya.
Dari jarak yang cukup lumayan jauh, Al Fath menarik pelatuk senjata kesayangannya. Membidik Denawa yang berlari layaknya seorang pemburu membidik rusa.
Dorrr!
Tembakan melesat sepersekian detik, menyarangkan timah panas di kakinya.
Senyum miring tersungging dari tim Al Fath, "mau main-main dengan si mata garuda-nya kesatuan."
"Wa, berlindung Wa..." mereka menarik pemimpinnya ke balik semak dan bebatuan.
Terlambat! Jika sudah berurusan dengan Al Fath maka habislah. Terlihat jelas kilatan kemarahan di mata Al Fath saat ini, tangisan Fara tadi menjadi bayangannya yang akan selalu membekas.
Tak ada ampun bagi mereka, tanpa banyak kata mereka melesatkan peluru berkalibernya.
"Wa, bagaimana ini?!" peluh mengucur deras diantara badan yang sudah bergetar.
Denawa mengerang, "argghhh," ia menekan luka yang sedari tadi mengucurkan da rah lalu ia merobek ujung kaos dan membalutnya.
Nafasnya memburu, tangannya terulur meraih granat terakhir, menarik pelatuknya dan melempar ke arah tim San dha.
"Awas!"
Duarrrr!
Seketika semua berhamburan terlempar, "Anj#%@$!&"
"Bang Re!"
Regan meringis mana kala badannya terkena daya ledak di bagian punggung.
Bucek mendekat, "tahan bang!" Regan meringis, luka bakar cukup serius di tubuh bagian belakang.
"B@nk sadh!" umpat bang Yo.
Taufik dan Dude membantu Bucek mengurus Regan sementara yang lain berburu mangsa terakhir mereka.
Dengan sekali tarikan nafas, Al Fath dan kawan-kawan berdiri tegap menarik pelatuk senapan ke arah sama.
Dorrrr!
Denawa tumbang diatas tanah timur seketika, disinilah akhir perjalanannya. Dia menatap langit malam timur negri yang indah, "sa hanya ingin kami seperti yang lain. Dapat merasakan indahnya hidup," ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Innalillahi....."
Al Fath membuka kacamata infra rednya, menurunkan senjata dan menghembuskan nafas lelah.
Sementara Gentra dan Dilar sudah bersorak, "gua udah kangen soto!"
.
.
.
__ADS_1
Special buat kalian hari ini kukasih triple ya 🤗, makasih sudah ikut bertegang-tegang ria.