Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
DIALAH SI TAMU ISTIMEWA


__ADS_3

Fara melihat sungai yang begitu luas nan coklat tak ubahnya seperti kopi susu. Pantas saja sebagian desa sampai diluluh lantahkan, ukuran sungai ini cukup besar, terbayang olehnya jika air sebegitu banyaknya tumpah ruah membawa serta material dan puing-puing.


Suara mesin yang ditempel di perahu karet ikut menghanyutkan pikiran Fara, dapat ia lihat di ujung sana beberapa orang tengah memandang ke arahnya, senyumnya tersungging saat melihat sosok tegap seseorang yang paling mencolok, semakin dekat jarak semakin terlihat pula ujung sana, Fara semakin tersipu malu. Lelaki yang berhasil membuatnya selalu gugup juga deg-degan tengah menatap mengamatinya seolah mengawasi.


Fara tampak cantik nan anggun dengan dress hijau lumut dan blazer seragam kesatuannya. Sebuah pin kesatuan tertempel di kerah blazer membawa sebuah wibawa di dirinya dan rambut yang ia gelung lalu dijepit rapi.


Jangan tanyakan kemana seragam kesatuan miliknya, kenapa ia yang paling berbeda sementara yang lain berseragam sama, jawabannya adalah karena ukuran badan juga perutnya. Al Fath segera menghampiri meski perahu itu belum terparkir sempurna. Ia mengulurkan tangannya membantu tamu penting itu turun, bahkan dengan posesifnya, ia merangkul Fara. Pemandangan ini sontak membuat mereka yang baru mengenal Al Fath terkejut, karena nyatanya sang letnan kolonel sudah memiliki pendamping, dan wanita cantik yang sedang mengandung itu adalah istri si bapak danyon.


"Dek, kenapa ngga bilang mau kesini?" Al Fath langsung menembaknya dengan pertanyaan.


"Faranisa Danita beserta persatuan istri kartika batalyon XXXXXX hadir ndan," jawabnya formal.


"Selamat datang Nusantara 1!" kekeh Dilar membungkuk sambil tertawa.


Fara tertawa, "ambyar njirr! Engap lah jalan tegap, takut kepeleset ee ayam," ia memang tak berbakat jadi wanita-wanita dengan gaya sekelas ibu-ibu dewan yang terhormat, kata bar-bar dan konyol selalu membayangi.


"Ha-ha-ha somplak! Awalnya udah bener formal, kesininya malah bar-bar lagi," tawa Andre.


"Udah paling bener jadi Faranisa yang bar-bar dan gesrek, Ra!" kekeh Regan.


"Bu Far!!!!" seru Dilar membuat gerakan ingin memeluk wanita hamil ini, namun langsung terhenti saat si suami menarik kerah seragam Dilar dan menghempasnya begitu saja.


"Jawab dulu pertanyaan abang," desaknya.


"Iya abang, kan barusan Fara udah bilang. Emang abang ngga denger?" alis Al Fath malah menukik tajam membuat Fara tertawa, "santai bang bro! Iya maaf, biar surprise!" balasnya enteng.


"Kaget kan?!" tanya Fara.


Dude terkikik, "ampun ini kalo udah datang. Ngga bisa ngga rame!"


"Bu Far, bawa apa?" tanya Dilar menunjuk ke arah belakang dimana perahu-perahu mengangkut barang bawaan Fara bersama Gentra dan Yosef yang mengawal.


"Itu bantuan! Dari persatuan istri batalyon, dari Sultan Aceh, sama dari hamba Allah yang paling sexyy!" desisnya di kalimat terakhir.


"Ha-ha-ha saravvv! Ayolah ke tenda!" ajak Andre dan Taufik. Al Fath manyun, wajahnya tak bersahabat melihat banyak yang menyambut dan merindukan Fara, bukan warga melainkan teman-temannya.


"Mari ibu-ibu," ajak Regan, kedatangab mereka disambut pula oleh pimpinan tim rescue.


"Dek," panggilnya.


"Iya abang?!" belum Al Fath bicara Fara sudah sibuk mengatur barang bawaan bersama ibu-ibu persatuan lainnya, merasa dikacangin Al Fath memilih duduk memperhatikan Fara, "om, bisa tolong nanti yang itu pelan-pelan nuruninnya! Nah kalo yang hampers itu bisa disatuin aja sama ini!"


Timbul rasa cemburu di hati saat Fara lebih memilih membongkar barang bawaan ketimbang dirinya.

__ADS_1


"Bu, bapak!" bisik Kintan, bagusnya sang ajudan menyadari aura kelam komandan batalyonnya.


"Biarinnnn, biar ngambek!" balas Fara terkekeh. Emang dasar istri jahara.


Betapa berdenyut hati Fara saat melihat beberapa rumah di pinggiran sungai nampak berantakan karena sapuan banjir. Belum lagi rumah-rumah yang berada di bawah kaki bukit, hampir semua tertanam sempurna seperti pohon oleh batuan dan tanah yang terkikis air hujan, sementara untuk mengangkat material tanah, para prajurit dibantu tim rescue dan SAR baru bisa melakukannya secara manual melibatkan an jing pelacak demi menemukan warga yang hilang. Kendaraan dan alat berat belum bisa menjangkau daerah ini mengingat tak adanya akses jalan.


"Ibu Fara," sapa ketua badan rescue, sontak Fara menoleh.


"Saya Kuswoyo, dari badan rescue negara," ia mengulurkan tangannya, Fara menyambut dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, tau akan sorotan si mata garuda begitu terasa sampai relung hati. Suami tentaranya itu kini tengah menatap intens penuh ketajaman siap menerkam.


"Oh, maaf." gumamnya, ia menarik kembali tangan kanan.


"Faranisa," kenalnya tanpa embel-embel ketua persatuan istri atau status istri Al Fath, sengaja ia lakukan demi melihat si mata garuda itu marah memang seusil itu Faranisa.


Fara berbicara sebagai seorang yang berpendidikan dan bertata krama saat ini, jauh dari sifat aslinya. Hal itu justru membuat kecantikan seorang Fara begitu terpancar kuat darinya. Beberapa orang yang belum mengenal Fara, begitu antusias melihat wanita hamil cantik yang meluangkan waktunya demi alasan kemanusiaan, hingga mereka penasaran siapakah gerangan Fara?


"Clarise! Tau ngga! Orang-orang pada heboh ngomongin perempuan yang barusan datang, tau ngga siapa?!" hebohnya menggoyang-goyangkan lengan Clarise.


"Tau," jawabnya ketus.


"Istri pak danyon ganteng! Pantes sih yang satu ganteng yang satu cantik, keliatan banget inner beauty-nya keluar, best!" pujinya, semakin membuat wajah Clarise merengut, ia meloloskan nafas lelah, "iya...udah cantik, tajir, dapet suami ganteng. Definisi hidup sempurna, cewek beruntung!"


Mereka yang diluar, tak pernah tau seperti apa hidup Fara. Yang mereka nilai adalah casing luarnya, tanpa tau perjuangan dan pahitnya hidup yang dijalani Fara.


"Bang Fath kenapa?" tanya Dilar, mata mereka mengikuti kemana arah Al Fath berjalan, saat pandangan mereka tertumbuk pada sekumpulan orang yang sedang berkeliling, meledaklah tawa mereka.


"Alamak!!! Cemburu rupanya dia!" ujar bang Yo.


"Haduhhhh, ampun! Barusan so so an duduk ngga peduli. Sekarang liat bini ditemenin orang baru kerasa," tawa Dude.


"Orang pendiem gitu, kalo cemburu kaya bocah lagi ngambek karena sirik!" tawa Gentra.


"Bang Re, kalo cemburu sama bu Fani gimana bang?" tanya Taufik.


Ia menggeleng, gengsi bagi pria mengakui kecemburuannya, "saya ngga pernah cemburu, cemburu itu cuma ngabisin energi!" jawabnya.


"Uuuu!" seru Andre, Gentra dan Dilar.


"Iya, ngga pernah cemburu. Ngapain cemburu ngabisin energi, mendingan langsung ditembak ya bang?! Senyap, lumpuhkan!" sahut Gentra ditertawai yang lain.


"Ck, cemburu buat orang muda!" timpal bang Yo.


"Iya kalo orangtua macam abang mah udah naik level, bunuh-bunuhan!" mereka tak hentinya mencibir anggota yang sudah menikah.

__ADS_1


Saat tengah mengikuti penjelasan pak Kuswoyo, tiba-tiba saja tangannya diraih Al Fath tanpa berkata, Fara sampai menoleh dan mendongak pada Al Fath.


"Takut kamu hilang, nanti abang repot carinya!" tukas Al Fath seakan sudah tau apa yang akan diucapkan Fara.


Ia tersenyum geli, "Fara ngga nanya bang," balasnya dikekehi oleh Marcel dan Kintan tanpa suara.


"Ekhem," Al Fath berdehem mengusir rasa malu.


Bidikan kamera beberapa relawan menyorot pasangan yang begitu menarik atensi ini.


Fara menyerahkan ratusan kotak makan siang 4 sehat 5 sempurna pada badan rescue, perwakilan dari aparat dan perwakilan dari warga desa korban bencana, sebagai bentuk dokumentasi dan laporan.


"Terimakasih bu, semoga bantuan ini berkah untuk ibu dan rekan-rekan persatuan istri."


"Oh iya pak, selain amanah dari rekan-rekan persatuan istri, saya mewakili keluarga Ananta ingin menyalurkan bantuan yang tidak seberapa, semoga dapat diterima." Al Fath menarik sebelah alisnya, kenapa ia tak tau jika keluarganya menitipkan sesuatu pada Fara.


"Abi sama umi?" bisik Al Fath.


"Bukan cumi abi sama umi bang, ada bantuan dari om Afrian sama tante Acha, Rayyan sama Zahra juga, nyak juga ikut sumbang. Kemarin abi sama umi telfon abang, tapi abang ngga angkat katanya, mereka tau abang lagi sibuk. Jadi mereka minta Fara yang wakilin," Al Fath mengangguk paham, kini jika ia sibuk akan ada Fara yang mewakili posisinya diantara keluarga.


Fara menghampiri sekelompok anak-anak yang sedang bermain. Meski kondisi tengah dilanda bencana, wajah anak-anak dimanapun mereka berada memang selalu membuat siapa saja merasa ikut senang sekaligus mencelos.


"Hallo! Mace boleh gabung?!" tanya nya, anak-anak itu sontak langsung terdiam, ada yang malu-malu dan kabur, ada yang masih diam tanpa kata, dan ada pula yang berani menjawab.


"Boleh mace," cicitnya, mereka tertawa malu-malu.


"Wawww! Kamu berani jawab, mace kasih hadiah deh, mau?!"


Anak-anak jika mendengar kata hadiah tidak ada yang tak mau.


"Mauuu!"


"Kintan, tolong dibawa !" pintanya, Al Fath kembali dibuat bengong dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Om Marcel, tolong dong bawain InFocus mini punya Fara!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2