
Fara kembali duduk, bahkan kini Al Fath pun kena imbasnya, Fara menggidikkan bahu tanda ia tak ingin disentuh. Al Fath menghela nafas, nasib anak buah ya begini..kena imbasnya, benaknya, Al Fath sampai menggaruk tengkuknya tak gatal, bagaimana nasib juniornya nanti jika emosi Fara tak segera dipulihkan. Ngomong-ngomong soal junior, apakah di perut Fara sudah ada junior-nya yang berkembang?
🌟 19.00 Wib
Rekan mahasiswa kembali panik, saat didapati beberapa aparat memakai pakaian serba gelap di sekitaran area utama, dan beberapa sniper (penembak jitu) di atas gedung yang masih dibangun.
"Bang---bang-- buruan cari tempat aman, situasi belum aman!" Wicak melihat pergerakan gelap dan lantas menarik Harris dengan kuat, meninggalkan temannya yang sudah tak bernyawa, begitupun Heru dan mahasiswa lainnya, mereka kembali berlari masuk ke dalam ruang kuliah, ruang ormawa, ataupun tempat-tempat yang aman untuk bersembunyi, bahkan mushola.
Wicak dan Harris berlari ke arah mushola kampus, dan melakukan aksi tiarap di dekat mimbar dengan segera memadamkan lampu ruangan.
"Jika hantu rimba sudah beraksi, maka tak akan ada yang selamat meski hanya menyembulkan kepala barang satu centi saja," Fara menoleh ke arah Al Fath, yang juga memandangnya.
"Itu semua udah berlalu dek, ngga mungkin abang melakukan itu." Al Fath mengusap pipi basah Fara. Bukan itu yang Fara pikirkan, begitu bahaya-nya kah pasukan ini sampai-sampai ditakuti oleh siapapun lawan. Begitulah Al Fath bekerja di luar sana....
Situasi kembali mereda, para mahasiswa mulai berani keluar ruangan.
Harris melongokkan kepalanya, "Cak, aman!" dari matanya ia bisa melihat seorang dekan tengah melakukan obrolan dengan pimpinan komando aparat. Dan akhirnya dapat disepakati para mahasiswa dapat keluar dan pulang ke rumah masing-masing dengan cara keluar secara sedikit demi sedikit (per 5 orang).
Mata Harris menatap nyalang penuh kegetiran, tragedi memilukan yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup. Keduanya pulang, menatap jalanan yang biasa ia lewati jika hendak dan pulang dari kampus, berubah menjadi arena perang. Bukan ini yang ia dan teman-temannya mau. Mereka hanya ingin dunia tampak ramah, negara yang sejahtera nan makmur. Teman-teman yang menjadi korban mulai dievakuasi ke rumah sakit.
"Bang, gua bikinin mie!" tawar Wicak.
"Gua ngga laper Cak," jawabnya lesu masuk ke dalam kamar. Sebelum akhirnya tak keluar lagi sampai subuh menjelang.
Keesokan harinya kabar memilukan itu sampai di telinga seluruh pelosok negri, pertumpahan da rah antara sesama saudara pecah di tanah ibukota, keadaan negri malah semakin kacau balau, terjadi kejahatan dimana-mana.
Tragedi mall Klender, yang menewaskan ratusan orang terpanggang hidup-hidup, penjarahan, pembu nuh4n, pelanggaran hak 4sazi manusia. Tahun terburuk dalam sejarah negri.
Harris berdiri bersama ratusan teman-teman mahasiswa memberi penghormatan terakhir pada keempat pahlawan reformasi.
Buntut panjang yang terjadi di berbagai kota di seluruh sudut negri membuat bulu kuduk bergidik ngeri, terutama terhadap satu 3t niz.
Malam itu Wicak tertunduk lesu di teras depan kost-kost'an, sementara Harris baru saja pulang dari acara tahlilan teman kampusnya.
__ADS_1
Pria bersongkok itu duduk di samping Wicak, "kenapa? Ngga biasanya ngelamun? Ortu ngga kasih duit jajan?" tanya nya mencibir, langit malam itu terlalu indah untuk jiwa yang gundah.
"Keluarga ngga ijinin jadi aparat bang, sejak kejadian kemarin. Keluarga menentang keras gua daftar akmil!" Harris menoleh menyimak.
"Terus? Lu mau berenti gitu aja, buat yakinin mereka? Gua sempet ngga suka, sempet marah, tapi tidak semua tak memiliki hati nurani, mereka pun hanya menjalankan tugas sebagai penertib, hanya ingin dunia damai," jawabnya bijak menatap langit malam.
"Gua ngga punya duit bang, ortu ngga akan kasih, apalagi kalo buat daftar akmil, ngga mau nanggung kalo gua butuh apa-apa nantinya,"
Harris tersenyum mengejek, "jadi segini doang niat lu buat ngejar cita-cita? Mana Wicaksono yang gua kenal! Yang katanya mau menggenggam dunia meski pake celana melorot?!"
Wicak tersenyum kecut, "celananya udah gua buang!" katanya seraya menghisap batang rokok di sela-sela jarinya.
"Lu buang bareng mimpi lu?" Hanya helaan nafas lelah yang menjadi jawaban Wicak.
"Lu ngga usah khawatir masalah itu, kita cari sama-sama. Gua bantuin! Bangun! Ngga usah kaya orang yang masa depannya suram, kita mahasiswa...masa depan kita ngga suram-suram amat!" ajak Harris memantik semangat Wicak.
Semenjak hari itu, Harris dan Wicak melakukan apa saja demi menghasilkan uang untuk persiapan Wicak mengikuti seleksi dan berlanjut akmil.
"Bang!!! Gua lolos!" Harris tersenyum seraya menerima pelukan Wicak.
"Makasih banyak bang! Lu memang gak ada ikatan darah, tapi lu adalah orang paling sehati sama gua!" serunya terharu.
"Gua cuma minta lu janji, jadilah perwira yang amanah. Jangan lupakan hati nurani, A-ma--nah!"
"Pasti! Gua tunggu abang duduk di kursi wakil rakyat! Kita rubah dunia jadi lebih baik," keduanya saling berpegang teguh.
Fara meluruh seketika, sambil terisak.
"Saya sempat melihat data diri kamu, maaf kalau saya lancang mencari tau tentang kamu. Kamu betul menolak beasiswa S2 di kampus TriMandraguna?" tanya jendral Wicaksono pada Fara
"Ya," jawabnya singkat, bahkan kini Al Fath menoleh tak percaya.
__ADS_1
"Bang Harris..." ia mendengus tertawa, "sifat seenaknya nempel di Fara..." lanjut jendral.
"Ayahmu...begitu peduli, menyayangi tanah kelahirannya, negaranya. Bukan mereka yang harus jadi pelampiasan amarah, tapi sifat serakah manusia yang harus kamu ku tuk! Teruskan cita-cita ayahmu Ra, oh iya! Tentang kasus bang Harris, kita usut sampai tuntas. Hari itu...saya sedang bertugas di timur negri benar-benar tugas perang selama 2 bulan, bahkan saya meninggalkan istri dan Flora. Itu adalah salah satu moment paling buruk yang pernah terjadi di hidup saya. Tak ada disaat bang Harris membutuhkan, belum sempat kami mewujudkan cita-cita kami," terlihat mata jendral Wicak berkaca-kaca, ia bahkan sudah mengusap setengah menekan ujung mata dengan telunjuk dan jempolnya.
"Saya selalu ditugaskan ke daerah-daerah berkonflik. Sampai saat bang Harris menikah pun saya tak hadir, begitupun bang Harris yang tak bisa hadir karena saya menikah di Born n3o."
"Sampai sekarang saya belum bisa terima jika kematian bang Harris hanya karena sakit di dalam bui. Saya percaya jika bang Harris adalah orang paling baik!" ia mulai tersulut emosi, tak terima sang sahabat dizolimi seperti ini.
"Selama beberapa tahun ini, saya menyelidiki kasusnya, ada kejanggalan menurut saya...tapi saya belum cukup bukti, saksi, dan terutama bukan ahli waris, tak ada ikatan kekeluargaan dengan mendiang untuk kembali menaikkan kasusnya ke pengadilan," ia menaruh kedua siku diatas meja menopang dagunya.
"Jadi maksud komandan?" tanya Al Fath mewakili pertanyaan Fara.
"Ya, hukuman penjara mertuamu itu seperti sebuah permainan lawan bersama kej4ksa4n, ada seseorang yang ikut berperan. Entah untuk keuntungan apa," jawab jendral memijit pangkal hidungnya masih merasa buntu.
"Tanah," balas Fara,ia menyeka jejak-jejak air matanya.
"Makasih bapak sudah mau menceritakan kisah muda ayah saya. Bapak juga sudah berniat menyelidiki kasus ayah saya, tapi untuk hal lebih lanjut saya harus bicara dulu sama ibu saya, baiknya bagaimana," jawab Fara tegas.
Jendral Wicak mengangguk paham, "baik kalo begitu, kapanpun kamu dan ibumu butuh saya, saya siap membantu! Saya sudah berjanji Fara, untuk mengusut tuntas kasus ini. Jika sudah menemukan titik terang, maka akan saya kabari. Dalam hal ini kamulah yang berhak melaporkan kasus ini, membuka kembali kasus dan menangkap pelakunya,"
Sarapan pagi berakhir mengharu biru, apalagi saat jendral Wicak menyerahkan sesuatu pada Fara.
"Ini, sudah saatnya saya kembalikan!" sebuah syal berwarna merah dan putih berbordirkan nama Harris masih tersimpan rapi, bersih dan wangi di simpan jendral Wicak di atas meja, lalu ia mendorongnya ke depan Fara, membuat seketika air mata itu luruh kembali.
Tangannya begitu bergetar meraih benda milik sang ayah.
"Yang sabar Fara," ucap ibu ketua.
Diusapnya bordiran hitam bertuliskan Harris, "bapak," ia mendekap syal itu dan menjatuhkan kepala di bahu Al Fath.
Dadanya penuh dan disesaki kerinduan mendalam, hingga seorang aparat berbaju loreng, ajudan sang jendral masuk melapor.
"Lapor ndan! Mobil patwal sudah menunggu di depan !"
Fara dan Al Fath menoleh ke belakang.
Sepasang suami istri ini tersenyum penuh kehangatan, "selamat bertugas Fath, Fara...semoga dimanapun kalian berada, tetap ada dalam lindungan Allah," ia menjabat tangan Fath dan mengusap lembut pundak Fara.
Ia menatap Fara penuh kasih, "apa saya boleh memeluk Harris untuk yang terakhir kalinya?" Fara tersenyum sambil terisak membiarkan sang jendral memeluknya layaknya sang ayah.
"Makasih,"
"Ayah kamu orang hebat, Fara!"
"Jaga anak saya, Fath!" pintanya pada Al Fath, pria itu mengangguk.
Keduanya melangkah menjauh dari ruangan itu dengan saling berpegangan tangan.
Tangan Fara digenggaman tangan besar Al Fath, "sudah siapkah adek berjuang bersama abang?" tanya Al Fath, Fara mengangguk sambil melemparkan senyuman manis.
"Siap abang," tawanya renyah, keduanya memasuki mobil dinas, di belakang sebuah mobil pengawalan.
Sirine dibunyikan, kendaraan mereka membelah macetnya ibukota menuju bandara.
"Good bye ibukota, see you again!" Fara melirik ke arah belakang, dimana pintu masuk bandara semakin menjauh.
.
.
.
__ADS_1