Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
JAGOAN KECIL


__ADS_3

Tenda dan posko sengaja didirikan jauh di atas bukit yang kontur tanahnya sedikit lebih kuat, padat dan kokoh. Letak desa ini memanglah di kaki bukit dan samping sungai. Disaat air sungai meluap membawa serta material dan puing-puing dari hulu ia tumpah menyapu pula sebagian desa yang letaknya dekat dengan sungai, sementara bagi rumah yang letaknya tepat di kaki bukit harus menerima takdir terkubur hidup-hidup oleh longsoran tanah. Para prajurit dan tim rescue sampai harus membuka jalur lain agar dapat sampai ke desa tersebut.


"Status medan bagaimana?" tanya Al Fath lewat sambungan telfon.


"Lancar!"


"Oke!"


Beberapa lembaga, instansi maupun perusahaan mengirimkan tim relawan dan voulenteer untuk membantu warga desa. Kini kondisi desa itu seperti desa terkucilkan karena memang akses jalanan yang lumpuh total. Jembatan itu adalah satu-satunya jalan menuju desa, padahal warga desa itu terdiri dari hampir 10 RW.


"Dek! Abang ijin 2 hari berada disana tanpa pulang ya," ijinnya pada Fara. Fara hanya mengulas senyuman, sejak awal menerima lamaran Al Fath, ia sudah tau resiko menikahi seorang prajurit adalah diduakan dengan negara.


"Iya bang!" jawabnya mantap, kini selalu ada rasa bangga yang Fara rasakan, setelah melewati hari-hari bersama Al Fath.


"Tapi hari ini abang jadi anterin Fara periksa kandungan dulu kan?" teriak Fara yang menyimpan piring kotor ke wastafel.


"Jadi," balasnya singkat. Al Fath menyempatkan dirinya mengantar Fara untuk memeriksakan kehamilannya terlebih dahulu.


Derap langkah sepatu delta diantara lorong rumah sakit bukanlah pemandangan asing, namun jarang terjadi. Langkah keduanya diikuti Kintan dan Marcel di belakang Fara sebagai ajudan setia. Bumil yang kian hari makin menggemaskan ini melingkarkan tangannya di lengan Al Fath.


Bukan Fara melainkan Al Fath yang secara langsung mendaftarkan nama Fara,


"Atas nama siapa bu?" tanya suster melihat siluet kehadiran seorang pasien datang di depan mejanya.


"Faranisa Danita," jawabnya, sontak sang suster mendongak demi mendengar suara bass, rasanya tak ada ibu-ibu dengan suara mirip deheman genderuwo.


"Eh pak-- maaf saya kira ibu," kekehnya, ia tersenyum melihat bapak tentara tampan menghampiri, manis sekali---dibalik gagah seragam lorengnya ia mau-maunya mengantar sampai mendaftarkan sang istri periksa.


"Boleh minta buku pink-nya pak?" pinta si suster.


"Dek, bukunya mana?" pinta Al Fath menoleh ke belakang dimana bumil itu duduk di kursi sambil menyalakan sebuah kipas kecil berwarna biru ke arah wajahnya.


"Oh iya, ini!" serahnya.


"Ditunggu ya pak, nanti nama ibu dipanggil," balasnya setelah menerima buku.


Kehadiran bapak komandan dengan postur tubuh tegap nan garang diantara para bumil ini menjadi pemandangan lucu, Marcel dan Kintan saja bahkan sampai mengulum bibirnya, dimana komandan mereka duduk bersama ibu-ibu berperut buncit.


"Abang, Fara kebelet pipis. Tolong pegangin dulu ya tas Fara!" karena tak tahan dan buru-buru, Fara langsung saja mengalungkan tasnya di leher Al Fath sepaket dengan kipas kecil berwarna biru ke tangan Al Fath. Kintan dan Marcel saling lirik tak kuasa ingin meledakkan tawa.


Fara kembali dari kamar mandi, dilihatnya pemandangan yang menggelitik ginjal itu, ia tertawa kecil melihat wajah sangar Al Fath berkalungkan tas selempang hitam berpita dan kipas mini berwarna biru langit.


"Abang tahan!" katanya meminta Al Fath untuk diam.


"Kenapa dek?" Fara tak menjawab, ia justru lebih memilih merogoh tas yang menggantung di leher Al Fath dan mencari ponsel miliknya.


"Tahan!" ia membidik lensa kamera ke arah Al Fath.


"Say cisss!" ucapnya.


Jepret!


"Dek!" tegur Al Fath menurunkan tas Fara dan kipas mini milik istrinya itu.


"Pffttt!" Marcel dan Kintan sudah memalingkan wajah ke lain arah agar tak tertawa.


"Bagus! Ini mau Fara jadiin wallpaper hape!" ujarnya terkekeh.


"Hapus dek, emang foto abang ngga ada yang lain yang lebih normal gitu?" tanya Al Fath.


"Kalo yang normal, yang keren mah banyak--saking semuanya keren jadinya ngerasa itu mah terlalu biasa! Fara pengen sesuatu yang beda! Jarang-jarang kan abang begini, besok-besok Fara minta abang cosplay sailormoon," jawabnya begitu antusias. What?! Gilak saja cosplay sailormoon, badan kekar plus sangar begini disebut sailormoon, yang ada popeye the sailor.

__ADS_1


"Ngga usah mulai aneh-aneh kamu, dek."


"Nyonya Faranisa Danita," panggil suster.


"Ah, iya!"


"Kalian tunggu disini saja!" pinta Al Fath berdiri menemani Fara masuk ke dalam.


"Boleh ditimbang dulu bu berat badannya," pinta perawat. Fara melirik-lirik Al Fath, berbicara tentang berat badan kenapa ia merasa semakin hari badannya semakin menyerupai gajah.


Fara melepaskan flatshoes dari kaki lalu naik ke atas timbangan, Fara cukup terkejut dengan kenaikan berat badannya yang cukup signifikan.


"Ha?!! Sus, ini timbangannya ngga rusak kan? Masa selisih dari bulan kemaren sampe 3 kilo sih?! Emang saya seberat itu ya?! Perasaan makan saya ngga banyak, dosa saya juga kayanya udah ngga sebanyak yang lalu-lalu deh!" sewotnya, Al Fath melipat bibirnya mengakui kejujuran si timbangan.


"Perasaan kamu dek, orang yang liat kamu ngemil sampe begah sendiri," gumaman Al Fath begitu pelan seolah mencibir Fara.


Suster itu mengulum bibir, "ini timbangannya tidak rusak bu, malah masih baru."


"Dek, bilang aja alhamdulillah. Kan bagus itu tandanya kamu sehat," bukannya setuju ia malah memelototi Al Fath.


"Sehat atau gendut ?!" serunya memukul lengan Al Fath. Kenapa masalah begini begitu enteng di mata lelaki.


"Ngga usah heboh gitu dek, baru juga 3 kilo belum sampai 15 kilo," balasnya. Fara berdesis turun dari timbangan dengan sengaja ia menginjak kaki Al Fath, tentu saja tak begitu kentara terasa karena sepatu delta yang dipakai akan melindungi si penggunanya. Dokter yang mendengar keributan ikut berkomentar, "masih wajar bu, ngga apa-apa. Kalau berat badan ibu bertambah, itu artinya asupan nutrisi buat janin juga terpenuhi," jawab dokter.


"Boleh berbaring ibu," pinta seorang dokter perempuan ramah.


"Wah, periksa kali ini dianter suami ya?!" basa basinya.


"Iya, kebetulan belum pergi tugas."


Fara berbaring diatas ranjang pasien, ditariknya selimut belang oleh seorang perawat demi menutupi tubuh bagian bawah Fara. Dokter menarik dress hijau navy milik Fara hingga menampakkan perut yang sudah membuncit, dan pusar yang terdorong hingga memperpendek jarak lubang pusarnya. Terkadang Fara pun merasa mulai sesak karena ukuran janinnya yang membesar menekan tulang rusuk.


"22 minggu ya bu, hmm--kita lihat sudah sebesar apa aku?" gumam si dokter bermonolog tersenyum gemas.


"Waw! Beratku sudah 457 gram ayah, bunda. Cukup besar ya padahal ukuran normal 453 gram...kalau disamakan kira-kira sebesar buah pepaya, nih--- wajahnya udah keliatan..." si dokter mengarahkan kursor anak panah di layar dan alatnya pada setiap bagian organ bayi. Terlihat jelas Al Fath begitu khusyuk mendengar penjelasan dan sesekali tersenyum melihat buah cintanya.


"Aduh lucunya aku, ayah--bunda! Ini alisnya, kelopak mata, idungnya mancung ya...kaya siapa nih?! Bibir mungil ini---owhhh dia lagi berdecak nih! Momen langka," Fara ikut terkekeh melihatnya.


"Ini laki-laki atau perempuan?" tanya Al Fath.


"Coba kita lihat?!" dokter mengalihkan alatnya.


"Ha-ha, selamat ayah!! Aku adalah jagoan kecilmu!" ucap dokter.


"Cowok bang!" gumam Fara mendongak melihat Al Fath.


"Iya dek, jagoan abang!"


"Jagoan Fara, bang! Abang yang cetak itu!" tanpa sadar ucapnya saking excited melihat hasil dari jerih payahnya.


"Air ketuban aman, denyut jantung oke! Berat badan cukup, posisi nya juga masih banyak kemungkinan untuk berputar."


"Ada keluhan apa sampai usia segini?" tanya dokter mengakhiri sesi usg nya dan memotret momen-momen si janin.


Fara menggeleng, "cuma mulai sesak aja, sering pegal pinggang."


"Normal bun, dijaga postur tubuh dengan posisi yang benar ya saat duduk maupun berdiri. Kalau perlu duduk bisa pake bantalan punggung, pakai alas kaki yang nyaman tapi kuat." Fara mengangguk.



__ADS_1


Istri wadanyon mengumpulkan kas keanggotaan dari bendahara.



"Totalnya 2 juta bu." Tentulah bukan jumlah besar untuk warga satu kampung.



"Begini saja, biar semua kebagian--dimasak saja disini lalu dibuatkan makan siang biarpun sedikit tapi semuanya bisa merasakan?!"



"Boleh bu, bisa--bisa!" jawab istri wadanyon.



"Diatur-atur saja bu, kalau nanti uangnya kurang bisa bilang ke saya," titah Fara.



"Siap bu, kalau begitu saya mohon ijin undur diri."



"Silahkan,"



Fara mengambil uang arisan miliknya tempo hari yang masih utuh dari dompet.



"Kintan!" panggilnya.



"Siap bu?!"



"Tadi om Yosef ada titip pesan ngga buat saya?" tanya Fara.



"Oh iya ada bu, jumlah anak sekolah ada sekitar 200 anak. Dengan jenjang usia berbeda-beda," jelas Kintan membaca laporan yang Yosef berikan.



"Oke! Siang ini temani saya ke pusat kota sebentar," Pinta Fara.



"Siap bu!"



"Mohon ijin bertanya, mau kemana kita bu?" tanya Marcel, ia diminta Fara untuk mengantar dirinya ke pusat kota.



"Pusat kota om, Fara ada mau beli sesuatu."

__ADS_1



Tak mau bertanya lagi dan mencampuri urusan atasannya Marcel segera menyalakan mesin mobil.


__ADS_2