Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
DAGELAN RANSUM


__ADS_3

Air mata itu mengalir begitu saja dari pelupuk mata. Tentara unit kesehatan sampai mengernyitkan dahi, bukan karena ingin buang air tapi ia merasakan hal aneh antara tak enak hati, khawatir dan kebingungan dengan ibu danyon satu ini, tak ada yang mencolek tak ada yang menghina tapi ia justru menangis semakin kencang.


Isakan tangis lolos dari mulut Fara, membuat ia akhirnya berani buka suara, "apa sesakit itu bu, lukanya?" ia melirik dan menyalahkan alkohol di tangan, kenapa etanol itu harus terasa perih saat di sapukan di luka.


Fara menggeleng, "om...tolong jawab jujur!" pintanya dengan sorot mata sayu seperti orang yang sudah dapat tiket antrian ke liang lahat besok.


"Iya bu?" ia menghentikkan gerakan jarinya membersihkan luka robek di ujung mulut Fara akibat tamparan salah satu anggota Denawa memakai ujung senapan, lalu beralih membersihkan luka lebam juga goresan di lengan dan kaki bumil itu. Sayang sekali, kaki mulus Fara kini terdapat luka robekan karena diseret paksa saat Fara sedang dalam posisi berlutut.


"Fara bau ngga sih? Soalnya sore tadi Fara ngga sengaja pipis di celana," aku-nya menangis tersedu-sedu.


Kintan dan Marcel yang sama-sama tengah mendapatkan pengobatan tak bisa untuk tak tertawa, meski kondisi mereka lebih mengkhawatirkan.


"Mohon ijin bicara bu, ibu tetap wangi!" jawab Kintan menoleh pada Fara, atasannya ini benar-benar minta diketekin orang utan, bikin perut kencang saja. Mbok ya kalo nanya tuh yang logis dan pantas sedikit gituhhh, ini di hutan loh ngga ada orang yang bakalan ngejekin karena bau...


"Jangan boong kamu Ntan, saya tau kamu bilang kaya gitu cuma buat nyenengin saya doang! Tau ngga jantung saya udah pamitan minta hanyut di sungai tadi bareng ikan! Liat kamu sama om Marcel disiksa gitu. Kamu tau ngga Fara sampe nazar mau tobat kalo selamet gara-gara di sandera!" Mereka yang ada disana bukan lagi mengulum bibirnya, tobat? Tobat dari kesalahan yang mana?


"Terus kenapa tadi ibu ngga bilang saya kalo jantungnya hanyut?!" tanya Kintan meladeni kelakar Fara.


"Kamu pikir saya berani?! Mana si Denawa kalo ngomong mulutnya bau!" jangan salahkan Fara buka-bukaan dan ghibahin orang yang sudah meninggal, karena pada kenyataannya ia tak tau akan fakta itu.


"Sukses banget bikin selera makan saya ilang, heran deh..berapa lama sih ngga gosok gigi?!" adunya lagi.


"Mbok ya kalo mau nyulik tuh rapihan dikit kek, mandi, sisiran, pake parfum gitu! Ngga percaya deh, orang kaya gitu jadi bos kayu...dari segi penampilan aja mirip odgj. Kan enak kalo diculiknya sama yang ganteng plus wangi, seenggaknya ngga rugi-rugi amat lah!" Marcel tertawa di tengah erangan kesakitannya. Baru kali ini ada sandera nawar penculik, jika saja tadi Marcel dan Kintan tidak mewanti-wanti ibu danyonnya ini, mereka mungkin sudah dikubur hidup-hidup oleh Denawa karena mengatainya bau, dekil dan jelek.


"Sudah bu--sudah! Perut saya sakit," mohon Marcel.


"Om Marcel apa sih, orang saya lagi ceri---awww!" saat alkohol menyapu bagian luka yang cukup besar menganga, refleks tangannya memukul tentara yang sedang mengobati luka Fara.


"Maaf bu," ucapnya.


Al Fath kembali dengan berlari, ia begitu khawatir dengan keadaan Fara, terakhir kali ia meninggalkan istrinya itu sedang bergetar hebat karena ketakutan. Dilihatnya, calon ibu dari anaknya itu sedang mengomel-ngomel pada prajurit kesehatan dan kedua ajudannya, itu artinya Fara sudah baik-baik saja.


"Dek," ia berjongkok membuka helmnya di tanah.


"Sudah bu," prajurit kesehatan itu pergi dari depan Fara dan melakukan tugasnya yang lain. Al Fath menatap sejenak wajah istri yang dirindukannya. Lalu ia memeluk Fara, menumpahkan semua rasa khawatir, panik, dan takut kehilangan. Suasana yang semula penuh canda mendadak haru saat Al Fath mendekap Fara begitu erat. Rasa terharu itu menyeruak, rasa sayang tumpah saat itu juga.

__ADS_1


Al Fath mengurai pelukan dan menangkup wajah istri tercinta demi melihat luka-luka yang Fara dapatkan.


"Maafin abang ngga bisa jaga kamu. Dedek?" Fara menggeleng, "Insyaallah Fara sama dedek ngga apa-apa---" ia lantas melirik Marcel dan Kintan.


"Berterima kasihlah sama om Marcel dan Kintan, bang. Kalau bukan karena mereka, mungkin abang ngga akan bisa ketemu Fara lagi,"


"Marcel,"


"Siap ndan!"


"Kintan,"


"Siap ndan!"


"Saya atas nama pribadi dan keluarga, mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, karena pengabdian kalian yang begitu tinggi terhadap saya dan istri juga kesatuan."


"Sama-sama ndan, sudah menjdi tugas saya!" jawab keduanya.


"Ya Allah dek," Al Fath mengusap lembut pipi Fara yang memerah sepaket luka robekan di sudut bibir.


"Jadi anak abang belum makan dek?" dan yang lebih menakjubkan komandannya ini menimpali ocehan Fara.


"Belum," dikata ini hutan mall, sesantai itu bilang ingin makan.


"Sat!" panggil Al Fath.


"Siap ndan,"


"Coba kamu keluarkan ransum, dan kompor!"


"Siap ndan!" prajurit itu mendekat dengan tas besar di punggungnya, lalu berjongkok. Ia mulai mengeluarkan satu persatu barang dari kantong ajaib doraemonnya, hanya bedanya kantong ini berwarna hijau loreng dan dibawa di punggung Satria.


Kompor lapangan di taruh di tanah, lalu parafin dinyalakan.


"Wawww! Keren--keren!" Fara mengangguk kampungan. Al Fath terkekeh melihat wajah menggemaskan Fara, sepertinya diculik dan dibawa ke hutan tak akan membuat Fara trauma, buktinya kini ia asik-asik saja melihat demo masak Satria.

__ADS_1


Satria mengeluarkan satu persatu makanan khas tentara itu, berupa makanan kalengan mirip-mirip kaleng kornet seukuran kotak makan pada umumnya namun gepeng, warnanya hijau dengan logo kesatuan tanpa gambar apapun lagi dengan tulisan warning, 'khusus tentara negara, dilarang memperjualbelikan.'


Tiba-tiba Fara tertawa saat membaca saran penyajian yang tertera di kaleng, "demi kenyamanan sebaiknya dipanaskan. Kok kenyamanan sih bang, kenapa ngga kenikmatan atau kelezatan. Kalo kenyamanan kan kesannya kaya aku sama kamuuuu!" tawanya.


"Ngaco!" Al Fath menjiwir hidung Fara, Satria melirik sambil mesem-mesem sendiri. Kaya obat nyamuk diantara pasangan kekasih, jadi pengen gerogotin batang pohon saking ngenesnya.


"Witwiwwww---ibu memang paling bisa!" seru Kintan.


"T2SP---nasi tumis daging cincang," alisnya bertaut demi menegaskan bacaan, Fara kemudian mengambil yang lainnya, "yang ini nasi ayam asam manis," ia mengangguk-angguk.


"Nasi ikan masak habang---nasi ikan saos tomat." Seperti emak-emak kalo lagi milih-milih barang belanjaan di supermarket, mesti diliatin satu-satu secara detail, dibolak-dibalik terlebih pas bandrol harganya.


"Wah! Patut dicoba!" ujarnya melanjutkan.


"Mau yang mana bu?" tanya Satria.


"Karena Fara belum pernah coba semua, boleh deh semua satu-satu..." bukan hanya Al Fath dan Satria melainkan mereka yang ada di sekelilingnya menyemburkan tawa. Satria meraih satu persatu kaleng lalu membukanya sedikit agar tak menggelembung dan meledak, membuat aroma dari ransum itu menguar terbawa angin malam.


"Dek, kasih yang lain makan juga, masa kamu semua." Tegur Al Fath, dikira ini restoran pake pesan semua rasa, ini hutan Fara...lagi perang loh! Astagfirullah! Bukan warteg punya nenek.


"Fara juga mau coba yang itu bang!" tunjuknya pada pack bertuliskan ransum tentara TB-1, itu adalah kudapan berisi biskuitnya para prajurit dengan nutrisi dan kalori yang sudah di sesuaikan tanpa tambahan topping atau pemanis.


"Ha-ha-ha! Bu Fara, kalo yang itu enaknya dicelup pake FD-3 tuh, sereal susu ada yang rasa coklat, strawberry, vanilla," tawa Gentra malah mengompori bumil yang tengah kelaparan, ternyata mereka datang bergabung mencium aroma ransum yang dipanaskan oleh Satria membawa serta Regan yang di papah Dude dan Taufik.


"Kalo semua sandera kaya Fara, pendampingan psikolog engga dibutuhin disini Fath," ucap Regan.


"Kalo semua sandera kaya Fara, prajurit auto ngga makan!" sahut Andre terkikik, memang ampun istri letkol satu ini.


"Loh! Om Regan?! Ya Allah om, kenapa?!" seru Fara terkejut melihat tubuh Regan yang sudah dipapah dengan berte lanj4ng dada dan bagian punggungnya dilapisi perban.


"Kecium granat, Ra!" katanya ikut duduk bersama. Tidak semua anggota bergabung, mereka tegap menjalankan prosedur formal dengan memberlakukan penjagaan ketat demi kewaspadaan takutnya musuh masih tersisa.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2