Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
ADA YANG LIAT NGGAK?


__ADS_3

"Ayo! Ayo! Ayo!" Seruan muda-mudi.


Tabuhan meja kayu bergaya retro bersaing dengan suara musik yang semakin malam semakin menggema keras, definisi malam semakin gila. Jiwa muda menggelora, yang haus akan percaya diri dan jati diri.


Al Fath segera berjalan ke arah gerombolan itu bersama Wiryawan, sementara Martinus diintruksikan memantau kondisi, keadaan dan memuluskan jalan mereka pulang jika nanti terjadi tindak kerusuhan.


Dilihatnya si target malah asyik meneguk minuman yang memabukkan, saling berlomba menenggak air yang jelas-jelas dilarang agamanya, entah untuk pembuktian apa yang ia cari. Sikapnya ini jelas mencoreng nama keluarga, dan nama kesatuan. Sebagai anak jendral perilakunya tak patut ditiru generasi penerus bangsa. Harta dan tahta tak menjadikan akhlak seseorang terjamin Al Karimah.


"Flo---ayo Flo! Lu bisa, pasti bisa! Masa anak jendral ngga bisa!" teriakan mereka, sampai urat-urat tenggorokan bermunculan saking histerisnya.


"Flora!! Flora!!"


"Baby!! Baby!!"


Baby menghentak gelas sloki kosong di atas meja dengan kasar dengan berseru penuh kemenangan, "i'm the winner!" katanya jumawa.


"Wohooooo!"


Sementara Flora mendengus kesal, "arghhhh! Gua kalah," gadis itu merengut, lalu berdecak kesal menaruh pan tatnya kasar, seorang pemuda menyarangkan wajahnya di ceruk leher Flora, "no problem sayang, cuma disuruh joget doang kok!" peluknya, anehnya Flora tak risih ataupun menghindar dari si pemuda. Sungguh dunia sudah berada di ujung zaman.


Al Fath menghela nafas tak lepas, karena yang bisa ia hirup hanya aroma alkohol, rokok, dan parfum, ini club elite tak akan mungkin para pengunjungnya bau badan.


Lihatlah di parkiran sana, minimal yang datang bermobil, sekalipun memakai kendaraan roda dua tak ada yang memakai bensin campuran.


Wiryawan mengurut dadanya melihat kelakuan pemuda masa kini.


"Ngeri ndan kelakuan anak jaman sekarang! Ya walaupun masih banyak anak muda yang akhlaknya bagus, tapi sebagian sudah terkontaminasi," bisiknya, Al Fath mengangguk.


"Flo!"


"Bapak bilang kamu harus pulang sekarang!" ucap Al Fath to the point.


Sontak mereka mendongak dari aktivitasnya ke arah si tampan nan tegap ini, "weheyyy, ada om-om tampan nih! Flo, kenalin dong! Ajudan lu ya?!" ucap gadis yang setengah teler di sampingnya, dengan pakaian minim bahan ia tersenyum genit pada Al Fath. Flo tak lebih baik darinya, ia bahkan tersenyum-senyum sendiri melihat Al Fath, "abang kesini mau jemput Flo ya bang, mau bawa Flo ke KUA," kekehnya.


Al Fath menggeleng miris, tangannya meraih pergelangan tangan Flo secara kasar, bukan Flo namun teman-teman prianya yang bereaksi.


"Weits! Santai bos! Cuma ajudan tapi berani sama anak majikan! Flo lagi bareng kita," tangannya menahan tangan Al Fath, Wiryawan ingin bereaksi membantu komandannya, tapi Al Fath belum memberikan aba-aba.


"Diam kamu!" ujar Al Fath dingin.


"Lu ngga tau, gua siapa? Gua orang penting disini, member lama...tuh liat! Sekali gua jentikin jari, mereka pasti datang..."


"Mereka punya senjata," bisiknya memajukan wajah ke arah Al Fath, sangat terlihat Al Fath yang memundurkan wajah karena bau alkohol. Wiryawan sampai mengulum bibirnya, mengasihani si pemuda, ia tak tau siapa yang ia hadapi sekarang. Jangankan pemuda otot ranting macam dia, perompak Somalia saja sekali bidikan hancur beserta kapal-kapalnya oleh si mata elang ini.

__ADS_1


"Kalo gitu urusan kita di luar. Jangan disini!" tantang Al Fath belum melepaskan tangan Flo.


"Ngga bisa bos! Lu nantangin gua?!" ia tertawa merendahkan melirik teman-temannya, yang ia tau ajudan-ajudan Flora biasanya hanya berpangkat prajurit satu atau Koptu yang baru saja lulus akademi.


"Ndan, ijin bicara!" bisik Wiryawan.


Al Fath menoleh, "ya?"


"Di arah sudut jam 11 sama jam 6 mulai terpancing," Al Fath melirik sesuai informasi Wiryawan.


"Flo, buruan honey! Lu joget sekarang buka t shirtnya!" pinta pemuda itu.


"Iya buru Flo! Lu udah kalah!" setuju Baby.


"Joget--joget---joget!!!" seru lainnya.


"Abang sayang minggir ya, Flo mau tunjukkin sama abang, kalo Flo lebih segalanya dari Faranisa, liat keseksian Flo!" Flora berusaha menepis tangan Al Fath untuk membuka t shirt nya, namun tak bisa, karena cengkraman Al Fath di tangannya begitu kuat.


"Woy! Ngga denger apa bebebs gue bilang, lepasin tangannya dia kalah taruhan!" seru teman perempuan lainnya. Tapi Al Fath tak mendengar, "ikut pulang atau saya pelintir tangan kamu?" ancam Al Fath mulai memutar pergelangan tangan Flora.


"Woy!!! Bang!!!" teriak si pemuda bernama Bryan itu meminta bantuan. Beberapa orang bertubuh cukup tegap membuat gerakan seperti mengeluarkan sesuatu dari pinggangnya.


Situasi mulai panas, sementara di luar, gerakan-gerakan kecil tangan Fara menyentuh jaket Al Fath, tangannya meraba tak ada badan tegap yang tadi ia tempeli, matanya seketika membuka.


"Loh, abang mana? Ini kok sepi?" ia celingukan melihat keadaan sekitar, rasanya ia tadi sedang berada di dalam buaian dari akar pohon dihiasi bunga-bunga ditemani pangeran bule sambil nyemil kue cucur. Tapi sekarang kenapa ia malah berada di dalam mobil tak berpenghuni?


Perlahan ia memungut kesadarannya yang masih tercecer di udara.


"Abang kemana? Ini udah nyampe kah, kok Fara ditinggal?!" ia bertanya menggumam.


Fara menggeser badan dan membuka pintu mobil yang ternyata tak dikunci. Udara malam mulai menyerbu dan mencolek Fara, tapi sayangnya tubuh Fara tak sampai merasakan dinginnya malam karena jaket yang dipasang Al Fath di badannya. Matanya langsung menatap bangunan dua lantai di depannya, tanpa ada penjagaan, kedua security itu ternyata ikut masuk ke dalam saat seseorang dari dalam sana memberitahu telah terjadi keributan di dalam.


"LUXURY CLUB AND BAR"


Fara mendengus kesal, "ngga bisa jadi nih! Fara ditinggal dong!" ia masuk ke dalam club.


Pertama kalinya ia masuk ke dalam club malam adalah pendengarannya yang terganggu oleh suara bising, percampuran aroma menusuk hidung membuat dirinya merasa mual.


"Huwekk," ia menahan mulutnya.


"Ini rupanya bau neraka," gumamnya pelan. Baginya sudah tak aneh pakaian dan pasangan bercumbu begini, ia hidup di tengah masyarakat ibukota sudah tentu sering menemukan pemandangan seperti mereka.


Tapi yang jadi pertanyaan dimana suaminya? Rasa cemburu mendadak muncul ke permukaan, "mau enak-enakan sama cewek ini mah!" geram Fara menghentak masuk.

__ADS_1


"Bu Fara, ibu ngapain disini? Saya cari ibu di mobil tapi ibu tak ada, komandan berpesan ibu tetap di mobil bersama saya," tegur Martinus dengan wajah panik.


"Om Martinus, abang mana?!" tanya nya sengak.


"Komandan sedang...." ia garuk-garuk kepala tak gatal.


Fara memelotot dan memukul dada Martinus, "abang mana?!!" galaknya, ia lebih takut marahnya Fara ketimbang kuntilanak.


"Om Martinus ngomong !!!!" teriak Fara.


"Maaf bu, komandan hanya mengatakan saya harus jaga ibu di mobil, sampai beliau kembali." Jawabnya, kesal dan tak puas atas jawaban junior suaminya, Fara mengambil inisiatif.


Ia berjalan ke arah disc jockey yang masih asyik memainkan alat disc'nya, membelah lautan manusia yang berjoget ria dimabukkan suasana.


"Awas minggir!!!" the power of emak-emaknya keluar saat ini, ia mendorong orang yang menghalangi jalan nya secara kasar.


"Joget-joget, udah tua ngga inget umur!" omelnya pada seorang bapak paruh baya yang lincah berjoget bersama seorang perempuan muda.


"Ngaji pak! Ke masjid! Umur segini rawan dipanggil Allah!" omelnya.


"Aduh mama'e!" Martinus bingung harus berbuat apa, sudah kesekian kalinya ia menggaruk kepalanya tak gatal.


Dengan sengaja dan kasar Fara mematikan tombol power mesin penghasil musik beat itu, menghentikan paksa suasana panas, sontak si dj menggeram tak terima.


"Woy mbak!"


Para pengunjung melihat ke arah dimana Fara berada, "Wohooooo!!!!" sorakan kecewa membahana disini.


"Sorry mau ikut ngasih pengumuman bentar! Kalo ngga dimatiin berisik!" ujarnya tanpa berdosa.


Fara mengambil salah satu kursi disana dan naik ke atasnya, "misi!!! Assalamualaikum!!! Woy, gua mau numpang nanya, ada yang liat laki gua ngga?! Dia tentara barusan masuk sini mau..." belum Fara mengutarakan niatannya, beberapa pengunjung sudah berhamburan keluar.


Sementara di ruangan lain,


Plak!!!!


Gov lok!!!!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2