Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
COLAK COLEK SAMBALADO


__ADS_3

Al Fath berjalan cepat, dengan langkah besar. Dalam hitungan menit cahaya rumahnya sudah terlihat, satu kata dalam benaknya sekarang, rame!


"Assalamualaikum!" salamnya, mereka sontak terdiam dan menoleh.


"Waalaikumsalam. Abang?!" Fara menghentikkan kegiatannya mengaduk adonan di dalam baskom, sementara Taufik memisahkan bawang-bawangan sambil demo masak. Badan tegap Al Fath sontak ditubruk dan hampir oleng. Kintan, Andre, disana ada bu Juna dan beberapa ibu lainnya terkejut dan terkekeh dalam diam, sementara Fara hanya bisa melongo.


"Apa-apaan lu berdua?!" seru Andre. Bukan Fara yang memeluk Al Fath melainkan duo duda kelam, seperti anak yang lama terpisah dari bapaknya.


Al Fath melepaskan pelukan kedua temannya itu, teman satu letting nya dulu hingga beberapa lama dinas di kota kembang.


"Loh ya itu gimana to, bapak komandan digelendotin om-om tentara gitu?" celetuk seorang ibu yang ada bersama Fara, di kala Al Fath tak ada ibu danyon ini memang selalu membuka pintu rumahnya untuk semua warga batalyon untuk menemaninya, ia tak terbiasa hidup kesepian.


"Woy, bininya nih! Ga malu apa?!" Andre menarik kaos kedua temannya ini ke belakang hingga mereka melepaskan pelukan di badan Al Fath.


"Ha-ha-ha, kangen atuh Ndre! Udah lama ngga ketemu si abang, tau-tau udah kawin mau punya anak," tawa Taufik.


"Apa kabar wahai saudaraku?!" Dude kemudian tertawa.


"Baik alhamdulillah," jawab Al Fath.


"Sobat lama akhirnya bisa temu kangen ini mah!" Taufik menepuk-nepuk punggung Al Fath.


"Gagahlah member kita, sudah jadi danyon!"


Fara mengernyit, member? Member boyband kah, gengster kah? Band kesatuan kah?


"Lu berdua masih gitu-gitu aja, masih jomblo!" seru Andre.


"Kaya yang lu udah punya aja Ndre," Taufik dan Dude bertos ria di depan Al Fath sambil cengengesan.


"Ra, ngga cemburu kau?!" Bang Yo mengekor bersama Regan, Dilar dan Gentra, rumah ini semakin ramai saja dengan bapak-bapak kacang ijo, situasi genting macam inilah yang dapat menyatukan mereka. Disaat orang normal pada umumnya mengadakan reuni di waktu senggang sambil liburan dan family gathering, maka mereka sebaliknya, tuntutan profesi yang senantiasa mereka nikmati dan syukuri.


Fara tersenyum menanggapinya, "cemburu banget om!" jawabnya.


"Saya do'akan semoga nanti kalian bisa dapat pasangan secepatnya," balas Al Fath mengurai rasa rindu memandangi Fara, 2 hari tak bertemu baginya seperti 2 tahun, istrinya itu terlihat semakin manis dimata Al Fath.


"AAMIIN!!!!" suara ngebass memenuhi rumah sang komandan.


Ibu-ibu tertawa renyah saat para bujang itu ber-amin ria.


"Aminnya kenceng banget om?!"


"Pesta---pesta lah bang!" seru Gentra.


"Kapan lagi perwira satu letting pada ngumpul?! Siapa tau musuh pada ngacir duluan denger kopassus reunian," lanjut Dilar menambahi.


"Ini mah judulnya pesta bujang!"


"Asiklah! Disini gua jomblo lagi, Gan!" tepuk Yosef di pundak Regan, sontak saja para juniornya tertawa puas, apalagi mengingat moment pamit Yosef pada istrinya yang berakhir dilempar panci layaknya lempar lembing.


"Cari lagi bang, tiap daerah tugas ada satu biar ngga kedinginan!" seloroh Dude.


"Bahh! Ngga kuat kantongku boy buat kasih jajan mereka,"


"Bukannya ngga kuat kantong, itu kira-kira muka abang aman ngga? Jangan-jangan ntar bukan panci lagi yang dilempar ibu, tapi si maung yang lagi parkir cantik di markas komando," ejek Gentra, senang sekali ia mengejek seniornya ini.


"Si-alan, kau kira istriku genderuwo!" ia memiting leher Gentra.


"Komandan mengirim orang-orang gila di satu tempat bukan tanpa sebab kan?" pertanyaan Al Fath yang bernada datar itu lebih tepat disebut pernyataan kamvrett, lantas mereka tertawa membenarkan.


"Ngga ada kata lain yang kerenan dikit gitu bang, selain gila?"


"Allahuakbar!!!!" seru Fara, sontak mereka semua menoleh pada bumil yang tiba-tiba mengucap takbir.


"Ada apa dek?" Al Fath segera mendekat dan menghampiri Fara.


"Cilok Fara!!!" bumil satu ini langsung beranjak.


"Oh iya! Di dapur lagi rebus adonan cilok kan bu?" mereka baru ingat.

__ADS_1


"Om Taufik gimana sih, mentor cilok malah ikutan lupa?!" omel Fara.


"Gua lupa!" Taufik menepuk jidatnya. Setelah mereka asik berkangen-kangen ria, sekarang malah panik memasuki dapur.


Cilok Bandung pake bumbu kacang buatan ibu-ibu yang diajarkan Taufik si master chefnya markas komando kota kembang ditemani bir peletok melengkapi suasana menuju senja, rumah Al Fath mendadak ramai kaya lagi buka kocokan arisan yang isinya om-om berbaju loreng.



Fara memeluk Al Fath dari belakang saat lelaki itu memakai kaosnya, wangi sabun masih menguar kuat di penciumannya.



"Abang ngga kangen Fara?" lelaki itu membalikan badannya.



"Kangen, makanya abang cepat-cepat mandi. Biar bisa peluk kamu," bukan lagi balas memeluk, Al Fath bahkan sudah mengangkat badan Fara hingga membuat perempuan itu melingkarkan kakinya di pinggang dan kedua tangannya di leher Al Fath. kedua tangan Al Fath menahan pan tat Fara, ia juga tak segan meremasnya, "tambah bervolume dek," kekehnya mesum, lelaki manapun baik itu yang rame, urakan, dingin, jika kulitnya sudah nempel dengan kulit istri sudsh dipastikan seketika berubah jadi mesum.



"Bilang aja tambah gendut!" manyun Fara, Al Fath tertawa renyah.



"Itu kapan member geng duda kelam datang ke rumah?" tanya Al Fath menyatukan kening keduanya, suhu tubuh sisa guyuran air dingin kini mendadak berubah panas.



"Duda kelam?" alis Fara terangkat.



"Iya. Andre, Dude, Taufik...sering gagal dalam percintaan, statusnya sih bujang tapi hatinya udah sekuat duda karena sering ditinggal kekasih hati pas lagi sayang-sayangnya. Bukan sekali dua kali, kelam banget masa lalunya..auranya ngalahin aura duda... Duda aja lebih laku sama gadis, dek!" kekeh Al Fath, Fara menyemburkan tawanya, "abang salah satu membernya?" Al Fath ragu antara mengangguk atau tidak, pasalnya ia tidak merasa sering putus cinta, tapi kalau sering berkumpul dengan para jajaran cowok gamon sih iya, "bisa dibilanh iya dan tidak dek,"



Mereka lalu kembali saling menatap dalam




"Berarti abang harus mandi lagi, Fara belum isya bang,"



"Kalau perlu, abang mandi seharian!" tantangnya.



"Kalo gitu kamu isya dulu, sebelum sy4h watt nya naik," Al Fath melepaskan Fara yang merosot turun.



"Tapi di luar---" tunjuk Fara, masalahnya di luar para anggota om-om loreng jomblo lovers kedinginan hanya berteman bir pletok sedang menunggu si empunya rumah untuk bergabung.



"Mereka bisa nunggu sebentar, barang satu atau dua celup!" Fara tertawa terbahak, rupanya si kulkas ngga datar-datar amat.



"Takut digedor bang, nanti pintunya roboh,"



"Main gercep aja dek, jangan berisik kalau ngga mau kena ejek!" rupanya ada rasa gengsi juga di diri Al Fath diejek kawan-kawannya.


__ADS_1


Plak!


Dude menggeplak lengannya dari nyamuk-nyamuk nakal.


"Dimana lah si Al Fath? Mandi kok lama kaliii?!" bang Yo sudah menghabiskan bir 2 gelas, sampai kembung dan hampir panas perutnya.


"Ahh, paling colak-colek sambalado dulu sama ibu buat bekal," ujar Gentra mengocok dadu miliknya, sambil berselimut sarung kotak-kotak berlogo kingkong duduk.


"Kamvrettt, ngga usah ngomongin itu lah! Sudah 4 hari aku puasa, belum sempat minta bekal! Masih harus menunggu 2 bulan," pengakuan bang Yo diantara para juniornya. Ia selalu jadi bulan-bulanan para prajurit gesrek ini.


"Yahhh! Ngenes amat bang. Karatan dong," tawa Dilar, menjalankan pion miliknya.


"Solo karir aja bang--solo!" usul Andre, menikmati buah matoa yang masih tersisa di pohon dan tadi sore mereka babat habis dengan memanjat.


"Mati tuh diinjek Gentra!" tunjuk Regan memperhatikan papan ludo yang tengah dimainkan.


"Apa pula kau injak-injak senior!" ujar Yosef tak terima salah satu pionnya diinjak Gentra.


"Kalo ludo ngga ada senior junior bang, semuanya adil!"


"Baru satu keluar, udah harus masuk kandang lagi!" ejek Dilar.


"Jiahahahahaha!" tawa mereka menggelegar.


Al Fath keluar dari rumah memakai celana olahraga hijau dengan kaos putih yang mencetak abs-nya, perhatian mereka jatuh pada rambut yang bersinar di bawah lampu neon teras pertanda masih basah, ditambah wangi sabun batang yang menguar membuat mereka tersenyum lebar, ia bergabung duduk melantai di teras yang sudah digelar tikar.


"Tuh kan apa gua bilang!" imbuh Gentra.


"Apanya Tra?" tanya Al Fath kebingungan lalu duduk diantara mereka.


"Lu anak kecil serba tau Tra, suhu!" sahut Taufik.


"Anal kecil kurang aj ar?!" balas Bang Yo mendesis.


Dari arah kejauhan Frederick berjalan cepat membawa sebundel map.


"Lapor ndan, mohon ijin menyerahkan data yang abang minta," lapornya.


"Terimakasih Rick, mau ikut gabung?!" ajak Al Fath.


"Makasih ndan, tapi saya harus kembali."


"Oke,"


"Hey boy! Sini--sini!!" bang Yo meminta Frederick mendekat.


"Siap bang!" ia mendekat.


"Nih buat kau! Siapa tau kau juga jomblo dan butuh kehangatan!" ucapnya menyerahkan bir yang tersisa setengah botol.


"Senior akhlakless!" cibir Regan terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, setidaknya berada diantara unit ini membuat rasa rindu pada keluarga teralihkan.


"Terimakasih bang," angguk Frederick.


"Sudah saya duga!" angguk Al Fath membuka file.


"Oh ya Fath, ada titipan khusus dari komandan markas," Andre menyerahkan barang titipan itu pada Al Fath.


Kedua alianya berkerut, "flashdisk," batinnya.


"Makasih Ndre,"


Memang benar kata Al Fath, komandan tak mungkin mengirimkan mereka tanpa sebab. Termasuk Regan, yang dulu pernah menjadi unit Gultor (penanggulangan teror) dimana semua yang berhubungan dengan unit ini dirahasiakan, bahkan pasangan pun tak diperkenankan mengetahui jika prajurit itu ada di dalam unit gultor, sebelum akhirnya Regan dipindah tugaskan bersama unit 2 dan baru-baru ini bersama tim San dha.


.


.


Note:

__ADS_1


*Bir pletok : minuman dari godokan/rebusan bermacam rempah-rempah.


__ADS_2