Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
CENDRAWASIH ATAU KASUARI


__ADS_3

Tatapan itu sedikit ragu, belum pernah ia merasakan naik si burung besi ini.


Al Fath dibantu Mardiyan menurun-nurunkan koper miliknya dan Fara dari mobil.


"Terimakasih Yan, pak No.." untuk terakhir kalinya ia menyalami Mardiyan dan Yono.


"Siap bang! Hati-hati disana, semoga selamat sampai tujuan. Dan sukses selalu!" keduanya memberikan penghormatan terakhir.


"Bu Fara, selamat mendampingi bang Fath bertugas. Semoga kita bisa bertemu lagi, next time ajak saya ke tempat jajanan yang murah lagi ya bu," kekehnya berseloroh.


Fara tersenyum, "do'ain Fara betah ya om Dian!" Fara menjabat tangan orang yang dulu sempat menjadi ajudan Al Fath.


"Banyakin maen keluar markas om, biar bisa menikmati dunia!" pesannya.


"Siap bu!"


"Ya sudah kalau begitu, kita masuk dulu," pamit Al Fath merangkul Fara dari samping, sementara tumpukan koper mereka di dorong oleh seorang porter/portir dengan troli.


Setelah check in di pasasi/passanger service, Al Fath dan Fara kembali duduk sebentar demi menikmati suasana bandara.


"Gugup? Pengalaman pertama?" tanya Fath, istrinya mengangguk.


"Banget bang! Fara takut muntah," ia tersenyum meringis.


Al Fath membuka penutup botol air minum dan memberikannya pada Fara, "minum dulu, biar ngga oleng," selorohnya menyerahkan botol itu pada istrinya.


"Fara udah oleng dari lahir bang," jawabnya menerima air minum, sejenak alis Fara mengernyit mengingat sesuatu.


"Bang,"


"Ya?"


"Sejak pertama nikah, Fara belum dateng bulan.." keluhnya.


"Sudah kamu cek?" Fara menggeleng, "lupa, belum kepikiran."


"Biasanya tanggal berapa?"


"Emhh, awal bulan kaya gajian."


"Nanti setelah sampai, kita cari apotik," dengan hati yang ikut gugup setengah berbunga-bunga Al Fath tersenyum mengembang, tak pernah jantungnya semendebarkan ini saat menerima keputusan surat tugas sekalipun.


Semoga saja di dalam perut Fara, sudah tumbuh calon penerusnya. Demi mengusir rasa gugup yang melanda Al Fath mengalihkan pikirannya, ada sesuatu hal yang ingin ia tanyakan pada sang istri, namun petugas bandara sudah berulang kali meminta para penumpang penerbangan menuju JayaPoera untuk segera masuk.


Al Fath senantiasa menggandeng Fara masuk ke dalam pesawat dan mencari tempat duduk keduanya.


"Seumur-umur, baru kali ini Fara naik pesawat bang, itupun ikut abang bertugas," akunya.


Diraihnya tangan Fara dalam genggaman lalu mencium hangat nan lembut, "akan abang bawa kamu mengenali negrimu,"


Sorot mata Fara melunak, "makasih." Ia mengeratkan pegangannya di syal milik sang ayah. Pesawat sedikit berguncang saat take off membuat pegangan di tangan Al Fath mengerat dari Fara.


"Take it easy sayang, calm down. Kamu tidur saja, perjalanan cukup lama. Ada kemungkinan nanti kita transit di Makassar dan Biak," jelas Al Fath.


Fara membuka bungkusan permennya, dirasa mulutnya dipenuhi dengan rasa asam dan pahit. Rasa mual itu kembali menyeruak, apakah efek mabuk perjalanan atau yang lain?


"Kenapa dek?" melihat wajah tak mengenakkan Fara.


"Fara mual bang, apa karena mabuk udara ya?" tanya nya. Tapi jika dirasa-rasa sudah beberapa hari ini ia memang sering mual dan muntah.


"Sekarang saja?" tanya nya.


"Udah beberapa hari," gelengnya melanjutkan.


"Kenapa ngga bilang abang?" tanya Fath menginterogasi.


"Ya, Fara kira cuma masuk angin biasa. Atau mungkin asam lambung naik," alibinya.

__ADS_1


Tatapan Al Fath jatuh di perut Fara, terlintas di pikirannya jika sang istri belum datang bulan, "kamu hamil, dek?"


"Ngga tau,"


Senyumnya semakin mengembang, "sesampainya di sana kita cek," Fara mengernyit melihat senyuman lebar Al Fath, ia mengusap lembut wajah Al Fath, "ngga usah senyum gitu bang, jelek!"


"Biarin!" balasnya terkekeh malah menaruh telapak tangan di basah dagunya semakin mendekatkan wajah ke arah Fara.


"Dih, apa-apaan tuh! Masa tentara genit gitu," omel Fara bergidik geli melihat perwira gagah dengan badan tegap bergaya layaknya para girlband, Al Fath tertawa renyah bisa sedikit mengurai rasa tak enak di wajah Fara.


"Amit-amit jabang bayi, jangan sampai mirip abang!" Fara refleks mengusap perutnya.


"Loh, kok jangan mirip abang. Kan abang yang buat?!"


"Ya kalo bentukannya kaya yang tadi, Fara ngga mau!" serunya.


"Ya engga gitu juga dek, pasti gagah kaya abi'nya!" jawabnya jumawa.


Fara masih tertidur, padahal pesawat sudah masuk kawasan udara kota Makassar, Al Fath mengusap lembut kepala Fara, membuat Fara tersadar dari tidurnya.


"Udah nyampe ya bang?" tanya nya mengatur intensitas cahaya yang masuk ke dalam retina.


"Transit di Makassar, udah sampe Sultan Hasan."


Kembali mereka turun untuk sekedar istirahat sambil menunggu keberangkatan lanjutan, Fath dan Fara benar-benar menikmati pemindahan tugas ini, anggap saja honeymoon sambil bekerja.


Kini mereka sudah sampai di Biak dengan menempuh perjalanan sekitar 2 jam lebih, keduanya sudah memasuki daerah timur negri, keduanya kembali *transit* disana, hingga akhirnya melanjutkan perjalanan ke Sentani.



Al Fath menunjuk kaca jendela pesawat, "dek liat!" Fara tersenyum lebar, maha karya Tuhan yang patut ia syukuri.



"Inilah yang selama kami pertahankan dan jaga kedaulatannya. Keindahan tanah pertiwi dari semua serangan luar maupun dalam. Kekayaan yang harus dinikmati oleh anak cucu kita kelak, dek!"



Sesampainya pesawat di landasan, begitu beruntungnya Fara dan Fath, kedatangan rombongan pesawat kali ini mendapatkan sambutan dari pihak bandara. Segerombol orang dengan dengan pakaian adat serta alat musik khas tanah timur menyambut kedatangan mereka, senyum ramah mereka mengalungkan rangkaian bunga di leher beberapa penumpang termasuk Al Fath.



Fara tertawa manis, "lucu banget ya Allah!" gemasnya nan menatap kagum. Fara memotret moment manis ini dengan kamera milik Al Fath. Diam-diam ternyata bapak perwira ini senang dengan seni fotografi, pantas saja dalam laptopnya, Fara banyak menemukan foto artistik keindahan alam negri.



"Klop banget deh, abang suka fotografi. Fara seneng desain grafis. Kapan-kapan bikin project!" gumamnya.



"Hobby yang terpendam," balasnya berbisik, dan mengajak Fara untuk masuk ke dalam bandara.



Bahkan sampai di bandara pun, Fara tetap takjub melihat ke sekeliling bandara, hamparan bukit dan gunung masih megah berdiri seolah sedang memperlihatkan betapa negri ini gagah nan elok.



Al Fath memeluknya dari belakang dan mencium pucuk kepala Fara, "kamu akan mencintai negrimu sendiri, dek. Beserta orang di dalamnya," sejurus kemudian Fara mengernyit, kata ambigu Al Fath membuatnya terheran.



"Maksudnya orang-orang?" ia berbalik badan.



Al Fath menggeleng, "orang."

__ADS_1



"Kalo orang satu bang," jawabnya.



"Iya, karena abang hanya akan menginjinkan kamu mencintai satu orang. Yaitu abang,"



Fara tertawa mendengar gombalan kerupuknya, "ceritanya mau gombal?"



"Engga, memang kenyataan."



Fara melunturkan senyumannya, "serem amat pak."



Sebuah mobil dinas berplat merah menjemput mereka di bandara, "sore ndan!"



Baru saja melihat warna selain loreng, sekarang Fara harus kembali dihadapkan dengan warna kebangaan suaminya itu lagi.



"Sore,"



"Selamat datang di tanah timur ndan, batalyon sudah menunggu kedatangan komandan dan ibu," hormatnya.



"Terimakasih..."



"Saya lettu Frederick, ndan."



"Oke, Rick. Nanti sebelum ke batalyon kita singgah ke apotik dulu, istri saya mau membeli sesuatu.."



"Siap ndan, mari saya bantu!" pintanya meraih koper-koper Al Fath dan Fara, memasukkannya ke dalam mobil.



"Abang gercep banget," dumel Fara di dalam mobil.


"Abang penasaran, disitu udah ada bibit abang yang jadi belum? Biar nanti abang siram setiap hari, tumbuhan aja kalo ngga disiram tiap hari mati sebelum berkembang," jawabnya menunjuk perut Fara dengan kerlingan matanya.


"Ngga gitu juga konsepnya bang! Kalo disiram tiap hari disini, nanti bibitnya jadi kaya cendrawasih atau kasuari engga?" tanya Fara membalas selorohan Al Fath.


"Oh yang jelas mau cendrawasih atau kasuari tapi dia tangguh kaya papahnya!"


Frederick mendengar selorohan sepasang pimpinan baru batalyonnya ini sedikit kebingungan, apakah keduanya akan beternak kasuari di batalyon nanti, mungkin mulai sekarang ia harus mencari peternak burung agar tak kesulitan nantinya saat danyon meminta membeli burung ciri khas timur negri ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2