Sumpah Setia Di Ujung Senapan

Sumpah Setia Di Ujung Senapan
KEHEBOHAN PAGI HARI


__ADS_3

"Siap salah ndan!" ucapnya tegas.


"Mohon ijin mengganggu, bu Fara ada pesan dari batalyon!" Fara dan Al Fath saling melirik dengan raut wajah kebingungan.


"Fara?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Siap, benar bu!"


Fara menerima telfon di tenda pimpinan komando prajurit.


"Bu!!! Batalyon kitorang dapat penghargaan dari resimen!!" heboh sekertaris ranting.


"Penghargaan apa?" alis Fara terangkat sebelah.


"Video ucapan dirgahayu kiriman batalyon kitorang dijadikan perwakilan ucapan selamat ke istana kepresidenan!"


Fara membuka mata selebar dompet sultan, "ah yang bener?" ia melirik Al Fath, ingat betul dengan scene dirinya.


"Ada apa dek?" tanya Al Fath.


"Anu bang---"


"Video kiriman ibu-ibu kartika batalyon kita dapet penghargaan, dipilih buat perwakilan ucapan dirgahayu ke istana kepresidenan, yeeee!!!" seru Fara tanpa merasa bersalah, berharap Al Fath amnesia.


Daripada menunggu Al Fath lekas sadar Fara berusaha menghindar dengan beralasan, "Fara mau kasih tau dulu ibu-ibu kumpulan lain ya bang!!" ucapnya berniat ambil langkah seribu keluar tenda.


"Tunggu!" Fara langsung berhenti di gawang tenda, seketika degupan jantungnya serasa terhenti.


"Kapan videonya dikirim, soalnya dirgahayu masih ada waktu sebulan?"


Fara menoleh, "emhhh--ngga tau, nanti Fara tanyain deh!"


"Kalau waktunya masih sempat, edit videonya lagi." Fara membuang nafas lelah, "iya abang," jawabnya lesu. Ia benar-benar tak rela jika kemolekan Fara jadi konsumsi satu negara, bahkan tidak menutup kemungkinan satu dunia bisa melihatnya.



Sedikit demi sedikit tanah timur pulih dari kesakitannya, desa yang sudah kembali dibangun bersama-sama kini kembali hidup, jembatan darurat telah dibuat secara bergotong royong. Untuk selanjutnya menunggu bantuan dari pemerintah setempat.



Fara mulai menge-pack satu persatu kardus oleh-oleh untuk *squad hot momy* di ibukota.



Pagi ini langit begitu biru dengan goresan awan putih menjadi corak keindahan tersendiri.



Ia begitu syok saat melihat pantulan badannya di depan cermin, saat melihat dagunya kini terdapat lipatan, dan pa hanya semakin bohayyy.



"Ngga bisa jadi nih! Nanti berkurang saingan Gigi Hadid!" ucapnya bergumam melihat bentukan badannya, menurut Fara dirinya lebih mirip lontong isi daging Fir'aun!



Fara memutuskan untuk melakukan jogging setiap paginya bareng om-om kacang ijo biar sekalian nyelam sambil minum air.



"Beuhh susah!" jika dulu ia begitu gesit dalam hal apapun, kini untuk memasang sepatu dan membuat simpul saja ia kepayahan berjongkok.



"Kayanya gua kualat ngatain mpok Ayu dulu! Sekarang gua ngerasain hamil gimana?! Ternyata begitu syulittt!" omelnya mengggerutu, belum lagi gerakan aktif si jabang bayi di dalam sana.



Fara memulai langkahnya dari rumah menuju lapangan. Benar kata orang-orang, baru beberapa meter saja ia sudah banjir keringat, payah! Padahal ia ingat betul pesan dokter, olahraga itu penting demi persiapan kelahiran.



"Pagi bu!" sapa hampir seluruh prajurit yang berpapasan, disini tak ada yang tak mengenal Fara.



"Pagi!" jawab Fara di sela-sela sisa nafasnya yang sudah senin-kamis.

__ADS_1



Langkah Fara memelan, "aduh capek! Ngga ada tukang baso apa ya di timur! Rasanya udah lama ngga makan baso!" oceh-nya. Cukup ramai untuk ukuran hari senin, terang saja mereka tengah berlatih fisik, dan beraktifitas.



"Selamat pagi bu," kembali ia harus membalas sapaan para bawahan Al Fath.



Langkah Fara membawanya ke arah gudang dimana kendaraan taktis terparkir rapi, kebetulan sekali disana ada Regan dan bang Yo yang sedang piket.



"Om Regan! bang Yo!" panggil Fara. Padahal jika ditarik fakta, Yosef lebih tua ketimbang Regan, tapi ia sudah nyaman dengan panggilan itu.



"Ra," Regan menghentikkan goresan tinta di papan dada.



"Olahraga kau, Ra?" tanya bang Yo.



"Bukan bang, ngejar maling! Iyalah bang, ngga liat nih stelan orang mau du gem?!" balasnya berkelakar.



"Ha-ha, kau ini!"



"Bang, om--nanti sebelum balik, ke rumah dulu deh! Fara ada oleh-oleh kecil buat keluarga di rumah!" ucapnya.



"Wahh, repotin Ra. Makasih deh," jawab keduanya.




"Kapan-kapan lah kau main, nanti kalau Fath ditugaskan kembali ke ibukota," ucap Yosef mengusap kepala Fara, ia menganggap Fara sudah seperti adiknya sendiri.



"Bang Yo sama om Regan ngapain disini? Ko masih tugas?" tanya nya celingukan melihat pintu gudang terbuka lebar, menampakkan kendaraan-kendaraan taktis perang, kemudian ia tanpa permisi nyelonong masuk. Baru kepikiran, selama beberapa bulan disini, ia belum pernah masuk dan melihat-lihat kesini.



"Tugas tetap tugas Ra, sampai surat perintah turun ya masih kerja." Mereka mengekor melanjutkan pekerjaan.



"Fara baru sadar loh! Selama disini belum pernah masuk sini," ujarnya melihat penuh tatapan kagum.



"Bahh-- memangnya Al Fath tak pernah ajak kau kesini?" tanya Bang Yo.



Fara menggeleng, "belum."



"Bang! Dipanggil komandan!" teriak Dude pada bang Yo.



"Oke! Siap, meluncur!" Bang Yo menaruh papan dada miliknya di atas kap sebuah mobil.



"Gan! Ra, saya ke ruangan Fath dulu!" pamitnya, diangguki Fara dan Regan.

__ADS_1



Fara menyentuh dan meraba salah satu kendaraan lapis baja ringan, yang mirip dengan mobil yang dulu Al Fath kendarai saat di Makko pada peragaan alutsista.



"Naik aja Ra! Itu ngga terkunci pintunya," tawaran Regan tanpa melihat Fara dan lebih memilih meneruskan mendata alutsista, membuat Fara cukup antusias.



Fara cukup terpana melihat mobil perang ini, aura perang terasa nyata baginya, seolah ia adalah prajurit yang hendak ikut ke medan perang.



"Ini tuh suka dipanasin mesinnya atau engga om?" tanya Fara, melihat kunci menggantung di sana, itu artinya mobil ini baru saja dinyalakan.



"Kadang-kadang," jawab Regan.



"Sebentar Ra, saya ke toilet dulu! Titip sebentar," pintanya.



"Oke!"



Dengan usilnya Fara yang penasaran memutar kunci mobil membuat mobil itu menyala membuat mobil bergetar hidup dan menjatuhkan papan dada milik bang Yo, maksud hati melihat benda yang jatuh dari kaca jendela mobil ia malah tak sengaja menginjak pedal gas.



"Brummm!"



"Loh--loh, waduhhh!" paniknya saat mobil itu melaju keluar garasi gudang.



"Woyyyyy! Awassss!!!!" teriak Fara, sontak para prajurit yang sedang berlari pagi di depan gudang berhamburan tak karuan seperti koloni semut yang di siram air, berhamburan tak tentu arah. Padahal untuk apa ia berteriak, apalah guna klakson di dalam mobil dan pedal rem, otaknya mendadak kosong akibat panik.



"Astaga Fara!!!!" teriak Bang Yo yang berjalan bersama Fath menuju gudang alutsista, begitupun Regan yang baru saja kembali dari toilet.



"Abangggg!!! Ini gimana matiinnya?!"



"Allahuakbar!!!" Al Fath berlari mengejar mobil yang Fara kendarai.



"Gan kejar Gan!!!" teriak Bang Yo malah menyemangati Regan, padahal posisinya, ia yang lebih dekat jika berlari.



"Dek! Injak pedal rem!" teriak Al Fath.



"Yang mana?!!" balas Fara melongokkan kepalanya ke bawah, pedal gas sudah ia lepas namun mobil masih tetap melaju karena jalan yang melandai.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2