
Semua bahan sudah siap di edit. Ini waktunya Fara serius, Al Fath mengijinkannya untuk menggunakan fasilitas batalyon dengan catatan Fara mengerjakan project itu di ruangannya.
Beberapa email data masuk dan sudah Fara terima dari Rio.
Susu bumil rasa coklat, keripik, kue lontar, dan buah-buahan jadi amunisi otak dan matanya bekerja, jika sedang begini maka Fara adalah wanita serius tanpa ingin diganggu oleh siapapun.
Kedua telinga yang disumpal headset demi bisa fokus dengan satu layar ponsel penuh komunikasinya dengan Rio, ada Al Fath disana mengawasi Fara sambil bekerja. Fara memang bersungguh-sungguh hingga menghabiskan waktunya beberapa hari di ruangan kantor Al Fath.
"Ra, gua istirahat dulu lah. Semalem gua lanjut sendiri. Ngantuk gua!" ucap Rio dari sambungan telfon.
"Oke!" Rio mematikan panggilan video dan Fara melanjutkan pekerjaannya.
"Makan dulu," Al Fath menarik headset dari kuping Fara, ia duduk di sampingnya membawa sekotak makan siang, jika sudah bekerja Fara selalu lupa waktu.
"Eh--iya bang, ntar dulu-- tanggung!" balasnya tanpa melihat Al Fath. Al Fath tak suka dibantah, ia menghentikan tangan Fara, menutup laptop di depannya dengan wajah serius.
"Dek, kamu ingat abang tidak suka dibantah? Ada nyawa di dalam sini?" ucap Al Fath dengan nada tegas menyentuh dan mengusap perut Fara, perempuan itu tau Al Fath sedang tidak ingin bercanda, ia tak berani mendebat jika sudah seperti ini.
"Iya bang," Fara menjeda aktivitasnya dan memilih mengambil alih kotak siang dari atas meja.
Nyutt!
Fara dan Al Fath saling melirik dengan mata membelalak, "kerasa ngga bang?"
"Jagoan abang lagi belajar lari!" jawabnya, kedua manusia ini tertawa kecil dengan perasaan bahagia. Memang betul, buah hati selalu menjadi pengobat diantara rasa sakit dan lelah. Menjadi pelerai diantara dua emosi yang memuncak.
"Mau kaya abi-nya ngejar musuh, terus belajar nembak!" ucap Al Fath berandai-andai cita-cita sang anak nantinya.
Bibir Fara langsung mengerucut, "engga ah! Ngga boleh, abang suka ngada-ngada!" Fara menepis tangan Al Fath di perutnya.
"Anak Fara bukan mau jadi tentara kaya abinya, mau kaya abba-nya! Pengusaha!"
"Perwira dek,"
"Pengusaha!"
"Perwira!"
"Pengusaha abang!" keduanya malah kembali bertengkar perihal itu.
__ADS_1
"Anak abang udah pernah masuk hutan, ketemu separatis, buang air di sungai, tidur di bawah pohon. Anak abang terlalu tangguh buat jadi bussinesman yang kerjanya cuma duduk di kursi belakang komputer." Debatnya tak mau kalah.
"Fara ngga akan kasih," tukasnya datar.
"Biar dia jadi apapun yang dia mau.." Al Fath mengambil jalan tengah, Fara mengangguk setuju.
"Tapi abang akan mengarahkan--" kekehnya.
"Dih! Kalo gitu sama aja!" sungutnya berapi-api.
"Kerjaan kamu sudah selesai?" tanya Al Fath saat Fara mulai membuka bekal makan siang yang dibawa dari rumah.
"Dikit lagi, masih banyak waktu kok buat kasiin. Masih ada waktu buat finishing!" ia menyendok makan siang dan melahapnya, tak lupa bergantian menyuapi Al Fath. Definisi makan sekotak bertiga.
"Ini bagian abang," ia menyisihkan 1/3 bagian makan siang.
"Dan ini bagian Fara sama dedek," sisanya 2/3 bagian miliknya. Al Fath terkikik, "emhhh gembulnya istri abang!"
"Dek,"
"Hm?"
"Oke!" Fara membuat gerakan mengunci mulut dan hanya khusyuk memakan sisa makanannya.
Al Fath mengambil laptop batalyon dan mengambil sebuah flashdisk yang telah di copy paste isinya sementara yang asli menjadi barang bukti kasus Denawa, kolonel Pamungkas, dan Arjuna di pengadilan.
Fara mengerutkan dahinya namun tak cukup bandel untuk bertanya.
Al Fath mengarahkan laptop itu pada Fara dan mulai menampilkan satu persatu file.
"Ini bukti keterkaitan Arjuna dan Kolonel Pamungkas akan kasus Denawa, mereka menerima suap cukup besar dan melakukan pencucian uang terhadap beberapa asset. Salah satunya----" Al Fath mengklik asset milik kolonel Pamungkas atas tanah di Thamrin.
"Dan penipuan/pemalsuan sertifikat kepemilikan tanah melibatkan hakim juga jaksa yang menangani kasus---" Al Fath berat menjelaskannya saat melihat mata Fara yang sudah berkaca-kaca, ia yakin jika istrinya sudah paham tanpa harus ia menjelaskan.
"Bapak sempat melaporkan pemalsuan itu tapi hakim yang disuap kolonel Pamungkas beserta saudara bapak memutar balikkan fakta dan menjerat bapak dengan tuduhan pencemaran nama baik," lanjut Al Fath. Fara menghirup nafas dalam-dalam mengalihkan pandangannya dari wajah Al Fath dan mengipasi matanya yang sudah memanas mulai mengabur.
"Sekarang kasus itu kembali muncul ke permukaan, karena abang meminta ibu melaporkan kembali tindakan pemalsuan sertifikat tanah. Hanya saja, bapak sudah tiada dan yang tersisa tinggal---"
"Ahli warisnya, Fara.." lanjut Fara, Al Fath mengangguk.
__ADS_1
"Apa yang harus Fara lakuin bang?" tanya nya. Al Fath meraih lalu membawa tangan Fara dalam genggamannya, "cuma perlu tanda tangan diatas materai surat kuasa. Semua sudah abang urus dibantu om Afrian yang mendampingi ibu,"
"Hanya itu yang bisa abang lakukan buatmu, ibu, dan almarhum bapak. Semua berhak mendapatkan keadilan, kebenaran pasti akan terkuak, mungkin inilah saatnya. Maaf abang telat hadir, bapak keburu ngga ada."
Fara langsung meringsek masuk ke dada dan memeluk Al Fath, "makasih banyak!" tangisnya terisak.
"Sama-sama sayang," Al Fath mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya dengan berkali-kali mengecup pucuk kepala Fara.
"Jika kamu sudah siap menandatangani berkas dan surat kuasa maka kami akan siap mengawal kalian di pengadilan demi nama baik bapak, dan hak yang telah direbut paksa."
"Fara siap!" ia menghapus air mata di pipinya.
"Oke, abang akan kabari om Afrian agar secepatnya datang kesini," jawab Al Fath ikut mengusap sisa-sisa air mata Fara.
"Apa, abi sama umi---"
"Tau! Mereka tau. Sebelum abang bicara banyak dengan om Afrian, abang sudah terlebih dahulu menghubungi mereka. Mereka lebih paham dengan masalah seperti ini, Adek tau betapa murkanya umi? Bahkan umi-lah yang bolak-balik ibukota-Sabang demi bisa mengobrol langsung dengan ibu tentang masalah ini." Jelas Al Fath, Fara semakin menangis betapa mertuanya itu sangat menyayanginya.
"Fara ngga tau harus bilang apa sama umi sama keluarga abang," isaknya sesenggukan.
"Cukup bilang terimakasih sayang!" keduanya dikejutkan dengan suara seorang perempuan yang terdengar begitu jelas dari ambang pintu ruangan.
"Umi?!!!"
"Haduhhhh! Umi-nya bapak komandan batalyon datang kok ngga ada sambutan sih?! Pimpinan batalyonnya payah nih! Seenggaknya karpet merah gitu, atau tebar bunga atau kalo engga biasanya kalo datang ke timur suka ada tarian selamat datang kaya di tempat wisata atau bandara! Sultan datang nih!" perempuan itu masuk bersama dua orang lelaki paruh baya.
"Om Afrian, pak Samuel?!" ucap Al Fath, ia cukup terkejut pasalnya belum memberikan kabar pada Afrian untuk datang ke batalyon.
"Fath, apa kabar?!" mereka berjabat tangan lalu dipersilahkan duduk.
"Ohhh ya Allah! Liat Yan! Mantu Salwa nih udah buncit, bentar lagi Salwa mau jadi nenek! Ko gue tua banget ya?!" hebohnya.
"Udah pantes Bang Za aja udah aki-aki, Sal!" balas Afrian.
"Mau sampe kapan kalian biarin kasus ini?! Mau ngomong aja lama amat kamu Fath, keenakan buat si pelaku! Enak aja, udah dzolimin besan umi masih ongkang-ongkang kaki! Umi kawal sampe semuanya beres!" cerocos umi.
.
.
__ADS_1
.