
"Assalamualaikum umi," Al Fath sedikit menjauh dari kumpulan prajurit muda aga sedikit di ambang pintu dapur demi menjauhi suara bising mereka.
"Waalaikumsalam,"
"Abang Fath gimana sih?! Ngga kabari umi kalo udah sampai di timur?! Fara mana, aman kan? Mantu umi ngga nangis pengen pulang, atau ngga betah?! Umi nungguin kabar tapi pada ngga inget sama orangtua!" omelan komplit uminya mau tak mau harus ia dengarkan sampai kuping membengkak sebesar kuping gajah, bagaimana ia sampai lupa mengabari uminya sejak kemarin jika mereka sudah berada di tanah bagian timur. Ahh! Ya, karena harap-harap cemas dengan kehamilan Fara.
"Maaf umi, abang lupa."
"Mantu umi mana? Pasti ngga betah, banyak nyamuk, rumahnya jelek kan?! Disana mantu umi bisa makan ngga, bisa jajan ngga?! Jangan sampai nanti pas balik ke kota Fara jadi kurus kering kaya layangan, ketabrak angin langsung terbang!" sampai sebegitunya juragan kopi ini mengkhawatirkan menantu pertamanya, sejak tadi Al Fath dicecar dengan pertanyaan berlebihan si umi terhadap sang istri, lain hal umi yang begitu cemas, lihatlah orang yang sedang dikhawatirkan umi begitupun dirinya, ia malah sedang cekikikan asyik menikmati buah bersama prajurit muda di bawah pohon.
"Alhamdulillah, umi ngga usah khawatir. Fara aman! Dia betah, tuh mantu umi lagi makan buah matoa, jangan khawatir Fara ngga bisa makan, dari tadi dia nyemil terus ngga berenti-berenti. Mungkin bawaan hamil, jadinya seneng makan..."
"Apaaaaa???!!! Hamil?! Fara hamil?!! Umi mau punya cucu?!!" Al Fath sampai menjauhkan ponsel dari telinganya, ia masih mau kupingnya sehat, suara umi melebihi bunyi sonar di kedalaman laut.
"Abiii!!!! Fara hamil bi, umi mau punya cucu!!! Asikkk!" teriaknya di sambungan telfon sana.
"Alhamdulillah, terdengar suara abi Zaky yang mengucap hamdalah.
"Mi--" baru saja Al Fath akan membuka suara, uminya kembali mencecar Al Fath tak habis-habis seakan tidak ada hari lagi untuk menghabiskan semua kalimat yang ada di bumi.
Sejenak dari suara sana terdengar umi yang syok, "haa?! Astagfirullah! Mantu umi lagi hamil, terus kamu bawa ke hutan, disana banyak nyamuk, susah ke mall, susah kemana-mana, kalo abang tugas ke perbatasan siapa yang jaga, kalo dia pengen sesuatu gimana? Disana deket hutan, pasti banyak hewan liar, serangga aneh-aneh!" Al Fath mengerutkan dahi, yang uminya maksud ini belahan bumi bagian mana pake nyebutin serangga aneh-aneh, oke ia akui tempatnya bertugas memang jauh dari pusat kota, dekat hutan, terkadang sinyal jelek, dekat hutan, tapi yang benar saja, maksud serangga aneh-aneh itu semacam apa?
"Umi ngga usah ngaco, disini banyak orang mi, kurang apa lagi. Satu batalyon yang bakal nemenin Fara," jawab Al Fath.
"Umi susul sekarang ya, mau sewa jet! Atau sewa pesawat hercules aja biar bisa angkutin barang-barang kebutuhan Fara selama disana. Bawa Fara ke sini aja bang Fathhh! Umi ngga tega mantu umi kaya si dora the explorer, kemana-mana harus nanya peta, keluar masuk hutan!" akhirnya rengekan umi keluar juga. Al Fath menghela nafas, iya tau! Umi mah horang kaya, mau sewa pesawat jet satu kompi juga ngga jadi masalah.
Al-Fath menggaruk tengkuknya, daripada pusing sendiri, ia memberikan ponsel itu pada Fara.
"Dek, umi telfon!" akhirnya ia punya temandalam menangani umi, bukankah berumah tangga itu saling tolong menolong?
"Hallo, assalamualaikum umi!!" seru Fara menyapa umi. Dan anehnya saat mengobrol dengan Fara, istrinya itu terlihat asik saja tertawa cekikikan. Sejenak dirinya pun diserang rasa khawatir, tak tega melihat Fara seperti tadi pagi, apakah itu akan berlanjut dan sampai kapan? Ia begitu awam masalah kehamilan.
Al Fath disambut dengan pekerjaan segunung, belum lagi surat terlampir dari resimen pusat, untuk para komandan batalyon melakukan kunjungan ke distrik perbatasan. Di tengah-tengah pekerjaannya yang setumpuk mendadak rasa pusing, lemas, dan kembung menyerang.
"Apa masih masalah yang sama?" Arjuna duduk di kursi depan Al Fath.
"Sepertinya, daerah perbatasan memang rawan dengan peredaran narkoba, perekrutan pengedar, infrastruktur wilayah, pendidikan dan tentunya rawan gerakan-gerakan separatis," jelas Al Fath menahan rasa tak enak, apakah ia salah sarapan pagi ini?
__ADS_1
Juna menyesap rokoknya panjang, dan mengepulkan asap di udara lalu menyeruak di penciuman Al Fath "beberapa kali anggota menerima laporan dari distrik perbatasan, ada gerakan anarkis dari kelompok separatis pada pekerja konstruksi jalan, sehingga kami mengirimkan satu peleton dari kompi senjata, satu regu kesehatan dari kompi markas dan satu regu dari kompi bantuan," jelasnya melaporkan.
"Selama tak ada masalah berarti, teruskan pengawalan secara berkala dan bergantian. Biar nanti saya bicarakan saat pertemuan. Bagaimana mandat lanjutan dari pusat?" Al Fath menggelengkan kepalanya demi mengusir rasa tak nyaman di lambung, kepala dan tenggorokan, ia memeriksa seluruh kertas laporan di mejanya mencoba mengalihkan semua rasa itu. Dari tahun ke tahun memang masalah di perbatasan selalu berkutat di circle ini.
"Apa kunjungan besok sama ibu?" tanya Juna, Al Fath mengangguk, "sekaligus perkenalan saya dan istri pada komandan batayon lain juga komandan resimen," jawabnya sedikit menelan saliva hingga terbatuk.
"Huwekk!"
"Ndan!" Arjuna terjengkat dari duduknya dan membantu sang atasan.
Agenda pertemuan para istri prajurit hari ini adalah perkenalan ketua persatuan dan para anggota, membahas program kerja dan kegiatan sosial setahun ke depan.
"Disini ngga ada jadwal olahraga gitu? Gimana ibu-ibu mau sehat?" tanya nya pada para ketua ranting kompi.
"Pernah diusulkan bu, namun belum terealisasi," jawab seorang istri ketua kompi.
"Nah disini bapak-bapak sering kerja bakti. Terus ibu-ibunya ngapain? Cuma liatin doang, atau masak-masak doang? Harus ada kegiatan yang berfaedah buat ibu-ibunya," omelnya.
"Maaf, kalau sama saya ngga usah sungkan bu-ibu...silahkan keluarkan pendapat selama itu ngga bikin kantong kas jebol atau merugikan para anggota."
Tok--tok--tok
Seorang berbaju loreng mengetuk pintu ruangan pertemuan,
"Bu, maaf menggangu!" Fara dan Kintan saling pandang dengan tatapan heran.
"Om Frederick?" tanya Fara, wajah prajurit ini begitu gusar, bingung harus menjelaskan apa. Fara berjalan mendekati ajudan suaminya itu.
"Kenapa om?"
__ADS_1
"Bapak sakit bu,"
"Ha?!" Fara cukup terkejut dengan laporan Frederick, rasanya beberapa jam yang lalu Al Fath baik-baik saja.
"Sekarang bapak masih di klinik," jawabnya.
"Oh, nanti saya kesana. Mau tutup dulu pertemuan!" ujar Fara cepat.
"Baik bu,"
Dengan langkah besar Fara mengikuti kemana arah Frederick berjalan, melewati beberapa ruangan asrama, dan gudang perkompian, hingga sampai di sebuah bangunan kesehatan batalyon.
"Abang?" tak percaya jika lelaki tangguh ini tengah duduk di kursi pasien, meskipun badan masih terlihat tegap, tapi wajahnya sedikit lusuh nan kuyu. Kapan ia melihat Al Fath begini??? Jawabannya belum pernah!
Seorang dokter militer berkata sambil tersenyum geli, "komandan kita yang hebat ini terkena couvade syndrom," kekehnya.
Al Fath mendesis melihat si dokter, "saya baik-baik saja, To!"
"Kalo baik-baik aja, kamu tidak akan berakhir disini Fath," tawanya.
"Ini Fara kan?" Fara yang sudah tak berjarak dengan Al Fath mengangguk.
"Kenalkan saya Dr. Tito, sahabat beliau sejak dari Aceh sampai masuk pendidikan dan sekarang bertemu lagi disini, akhirnya saya tau Fath, kalau setangguh-tangguhnya perwira koppasus tetap saja tumbang saat istri hamil!" ia tertawa puas. Fara tak bisa tak ikut tertawa, "ini loh yang sesumbar mau kasih 100 juta,"
.
.
.
Note :
Karena mimin bukan dari orang kemiliteran, dan awam akan hal itu, suka pusing kalo ada satuan jumlah maka kita sama-sama belajar ya guys ๐ bagi yang sama seperti mimin.
Batalyon : terdiri dari dua sampai 6 kompi dan batalyon merupakan bagian dari sebuah resimen.
Kompi : terdiri dari 3 atau 4 peleton.
Peleton : terdiri dari 30 sampai 50 orang personel.
Regu : Terdiri dari minimal 20 orang personel.
__ADS_1
Couvade syndrom : Syndrom ini pernah mimin jelaskan sedikit di karya gadis nakalnya om dokter yee si gale gale pong๐ yaitu kehamilan simpatik, terjadi pada pasangan pria pada wanita hamil, hal ini dapat membuat si calon ayah mengalami mual, muntah, kembung, sembelit, mudah marah, sakit perut dan kram, nyeri ulu hati. Disebabkan meningkatnya hormon prolaktin dan kortisol.