
"KOK BISA?!!"
"Ada yang luka? Disakitin bagian mana? Calon cucu umi gimana, periksain!! Orang mana ketua seperatisnya? Dimana rumahnya, biar umi samperin! AL FATH DIMANA??!!!"
"Ra, lu ngga apa-apa kan. Nyak liat berita serem-serem amat. Nyak pengen nyusul elu, Ra.Tiket ke timur berapa," terang saja mereka khawatir, berita yang tersebar jelas menjelaskan bagaimana kondisi para sandera lain yang memang kondisinya lebih buruk darinya.
"Samperin aja bu, jadiin bahan masakan kali aja bisa ganti kluwek!" timpal Umi Salwa kesal.
"Itu si sepratis---spart part---semprotatis--eh..."
"Separatis nyaakk," ralat Fara.
"Iya itu, anak mana?!!! Biar nyak samperin! Mak cincang jadi isian bakwan gantinya udang, kagak tau die, siapa nyak Fatimah?!!!"
Telinganya mungkin sudah bisa disamakan dengan sate ayam sekarang, panas dan mengepulkan asap. Fara bahkan lebih memilih menyimpan ponselnya di dekat tiang peyangga antena yang diberdiri tegak-kan samping ruangan kantor Al Fath.
Disinilah titik dimana sinyal ponsel, dan tv bagus. Entah karena posisinya yang sedikit lebih tinggi atau memang karena batalyon menyediakan alat pemancar tertentu dilengkapi dengan router.
"Nyak--umi, Fara ngga apa-apa. Asli deh! Cuma ada luka-luka sedikit aja, jadi ngga usah khawatir. Abang ada kok, nolongin Fara sama yang lain, malah saat ini masih belum pulang. Insyaallah kita baik-baik aja. Untuk saat ini umi sama nyak belum bisa ke timur, soalnya kondisinya masih belum stabil. Bisa diliat di berita, kelompok separatis yang abang dan kawan-kawan tangkap beberapa ada yang wafat, termasuk pemimpinnya." Jelas Fara dengan nada menenangkan, agar kedua ibunya ini dapat tenang.
"Kamu luka?!!!!" teriak umi. Ooo...Fara salah bicara.
"Coba fotoin, umi ngga tenang ini. Kata siapa ngga bisa ke timur, umi pake jet pribadi kesana! Siapa yang berani larang umi ke sana?! Sini hadepin umi!"
"Kata pemerintah umi," bila sudah mengobrol dengan mertuanya semua dibabat habis mentang-mentang pengusaha.
"Umi mau langsung ngomong sama presiden! Masa mau nengok anak mantu aja ngga boleh, mantu umi di culik separatis kok pada anteng-anteng duduk di kursi sambil cengengesan, malah pada liburan! Mau umi boikot jalan ke Sabang apa gimana?!" emang susah kalo ngomong sama horang hedon, bawaannya jiwa miskin bergejolak minta digaruk, apalah ia yang cuma menantu dan istri prajurit, sementara umi kan sultan di Aceh dan sekitarnya.
"Iya, umi memang powerfull." Jawab Fara, pantas saja suaminya Al Fath sering tak tahan menghadapi uminya, ini to alasannya.
"Udah--udah! Pindah aja ke Aceh!" ujar umi.
Sejam penuh Fara harus mendengarkan ocehan umi dan nyak, sampai kupingnya nyut-nyutan dan berdengung. Bersusah payah ia menenangkan umi dan nyak, padahal seharusnya kedua ibunya ini yang menguatkan Fara disituasi begini. Fara terkikik setelah selesai dengan obrolan panjang, lebih tepatnya setelah ceramah dan serbuan pertanyaan sepaket kekhawatiran kedua orangtua, begitu perhatian mertua juga ibunya.
Ia duduk menatap atap langit diantara pot-pot tanaman yang sengaja di taruh disekitar area ini agar terkesan asri.
"Ekhem," Fara menoleh lalu senyumannya terbit.
"Abang?!" langkah besar Al Fath menghampiri Fara, "abang udah bilang kan jangan keluar rumah? Kok kamu bandel, kamu juga ngga bilang sama Rick mau kemana?!" ia ikut duduk di samping Fara.
"Iya maaf bapak komandan, barusan ditelfon sama pimpinan klan mama-mama tangguh," kekeh Fara.
"Siapa?" alis Al Fath berkerut.
"Sultan dari Sabang, sama ketua geng cobek merah dari ibukota," terang Fara.
"Umi ? Nyak?" Fara mengangguk.
"Mereka liat berita bang,"
"Terus mereka bilang apa?" tanya Al Fath, Fara berkacak pinggang, "Mana Al Fath?!" Fara dan Al Fath tertawa.
"Umi kalo marah serem ya bang, bawa-bawa status sama kekayaan, apalah Fara yang cuma istri prajurit," Al Fath mengacak rambut Fara, "maafin umi abang ya dek, umi memang gitu."
"Ngga apa-apa bang, justru Fara bersyukur banget punya mertua kaya umi."
"Alhamdulillah. Pulang yuk, abang rindu!"
"Gendong?!" Al Fath membawa Fara dalam gendongannya seraya berjalan menuju rumah.
__ADS_1
"Abang jam berapa nyampe sini?"
"Baru aja. Datang ke rumah yang nyambut malah mama Kristi sama Frederick. Istri abang ngga ada di rumah, nanya Rick malah ngga tau, jangan bikin abang khawatir dek,"
"Iya maaf. Selamat datang abang! Udah disambut kan?!" serunya.
"Abang mau di sambut di ranjang, pake 'si hitam," alisnya naik turun, Fara merotasi bola matanya.
"Dedek mau ketemu abi, iya kan dek?" monolog si pria dingin ini.
Fara dan Al Fath menghadiri acara serah terima jenazah para personel prajurit dan para separatis yang gugur di medan perang. Ada beberapa prajurit dari batalyonnya.
Fara mengusap lembut dua melati di pundak pakaian PDH yang dikenakan Al Fath, lambang dua melati kebangaan yang diraih dengan tak mudah.
"Masih sakit?" Al Fath menyentuh luka di sudut bibir Fara yang setengahnya tersapu lipstick dengan warna nude.
"Dikit," jawabnya.
Cup!
"Lekas sembuh sayang,"
"Lebih keren lagi kalo telanjang dek," balasnya membuat Fara mencebik dan memukul dadanya.
"Mulutnya iniiiii," Fara mencomot mulut Al Fath membuat pria itu tertawa.
Tok--tok--tok.
"Itu kayanya om Rick udah siapin mobilnya deh bang," terdengar oleh keduanya mama Kristi membukakan pintu untuk Frederick.
"Ya udah kalo gitu, abang keluar dulu."
"Iya, Fara cuma mau ambil tas aja."
__ADS_1
Moment kali ini terasa begitu syahdu dan haru, terlebih lagi diselimuti duka, diantara rasa bahagia karena ketentraman dan kedamaian kembali di dapat di tanah timur mereka harus kehilangan beberapa anggota prajurit, sungguh perjuangan mereka tak dapat diukur dengan sebuah gelar *Anumerta*.
Disini para perwira, pimpinan, junior, senior berkumpul jadi satu. Berbaris rapi melakukan penghormatan terakhirnya pada mereka yang terhormat.
Beberapa peti mati berselimutkan pelukan bendera, seolah ibu pertiwi tengah memeluk mereka untuk terakhir kalinya.
Deretan istri yang tak kuasa menahan tangis bersandarkan bahu keluarga dan kesatuan, menjadi fokus utama Fara, sebagai sesama istri prajurit ia dapat merasakan itu.
"Hormat senjata!"
Dorr!
Pelepasan tembakan tanpa peluru sebagai tanda pelepasan para ksatria negara yang telah gugur. Tanpa sadar air mata Fara ikut meluruh, "Fara ngga pernah mau ada di posisi itu bang, kalaupun nantinya abang gugur. Fara ngga akan pernah ada disitu buat lepasin abang," ucapan Fara membuat Al Fath menoleh diantara posisi hormatnya.
Derap langkah serempak menggetarkan tanah berpijak seiring diangkatnya peti mati satu persatu.
\# *Betapa hatikku takkan pilu, telah gugur pahlawanku*.
*Betapa hatiku tak akan sedih, hamba ditinggal sendiri*.
*Siapakah kini pelipur lara, nan setia dan perwira*.
*Siapakah kini pahlawan hati, pembela bangsa sejati*.
🌟 *Telah gugur pahlawanku, tunai sudah janji bakti*.
*Gugur satu tumbuh seribu, tanah air jaya sakti*.
*Gugur bungaku di taman bakti, di haribaan pertiwi*.
*Harum semerbak menambahkan sari, tanah air jaya sakti*.
.
.
.
Note :
*Anumerta : Penghargaan yang diberikan kepada anggota Angkatan bersenjata, yang dianggap berjasa kepada negara sesudah orangnya meninggal.
__ADS_1